
Firman berpikir sejenak, tampak aneh memandang Zafian yang begitu tergesa-gesa dan akhirnya menghilang dari pandangan.
"Ada apa dengan Zafian" lirih terdengar Firman berbicara dengan dirinya sendiri, lalu segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Mansion.
Terus berjalan menuju sebuah kamar dimana dirinya akan memeriksa keadaan istri dari sahabatnya, dan rupanya disana ada Aftan dan Evan yang sedang berjaga.
Setelah mengucap salam, Firman segera masuk, kedua orang itu langsung berdiri dan menyambutnya dengan hangat, mempersilahkan Firman melakukan tugasnya.
"Bagaimana?" Tanya Aftan.
Sejenak Firman terdiam, sungguh berat mengatakan hal sesungguhnya, "keadaan Afita semakin melemah, apa tindakan kalian tidak membawa pengaruh apapun?" Tanya Firman sedikit ragu.
Aftan menarik napas panjang, begitu juga dengan Evan yang nampak semakin cemas.
"Ini tidak bisa di biarkan" ucap Evan.
Disaat yang sama, masuklah Ailina, sorot mata biru nan mempesona membuat Firman terkesiap sesaat, lalu berusaha menyadarkan diri.
"Bagaimana hasil pemeriksaan anda dokter?" Tanya Ailina.
"Seperti yang kamu beritahukan, kondisi Afita semakin lemah" sahut Aftan.
"Kita harus cepat mengatasi hal ini" suara Alex tiba-tiba menyahut dari belakang, lalu kemudian di susul dengan Reyna di sampingnya.
Sejenak Reyna memandang sekitar, merasa aneh dengan tidak adanya Zafian di samping Afita. "Dimana Zafian?" Tanya Reyna sambil mengedarkan pandangannya.
"Aku melihatnya berlari keluar tadi, dan_" Firman menghentikan ucapannya saat pintu terbuka dengan kasar.
BRAK
Pintu terbuka, dan hampir semuanya terkejut di buatnya.
"Maaf Tuan Alex, saya melihat Tuan Zafian berlari dan meninggalkan pesan ini" ucap salah satu anak buah Alex sambil menunjukkan pesan Zafian yang disampaikan lewat handphone salah satu pengawalnya.
"Sh-it!, Kita kejar Zafian!" Teriak Alex segera berlari dengan cepat.
"Dad tunggu, ada apa?!' teriak Aftan ikut berlari di belakang nya dengan pertanyaan yang tidak sempat di jawab.
"Oh my God, ada apa lagi ini?" Tanya Evan tak kalah cepat segera menghilang begitu saja.
Sementara Firman hanya melongo, menatap mata indah untuk mencari jawaban tak berani, apalagi bertanya ke seorang wanita mommy dari Afita, tentu saja Firman harus berpikir dua kali, hingga akhirnya untuk sementara terdiam.
Ailina langsung keluar bersama dengan Reyna yang terlihat begitu cemas luar biasa.
"Aku berharap Zafian tidak akan lepas kendali, dia bisa_, tidak!" Ucap Reyna saking khawatir nya dan berpikir sesuatu yang menakutkan akan terjadi.
"Semoga saja kak Zafian bisa mengontrol diri, atau_"
"Akan terjadi pembantaian masal.., astagfirullah, tidak, jangan sampai itu terjadi" sahut Reyna memohon kepada yang Maha Kuasa untuk terhindar dari musibah yang mengerikan.
Ailina nampak begitu cemas, kini jalan satu-satunya adalah meminta bantuan kedua orang tuanya, dirinya segera berkonsentrasi dan berusaha untuk melakukan kontak batin dengan Mommy nya.
Sementara itu, Alex yang sudah semobil dengan Aftan dan Evan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Katakan ada apa Dad?" Tanya Aftan tak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
"Zafian akan membawa wanita itu untuk kesembuhan Afita, yang aku takutkan, justru Zafian akan melakukan lebih dari itu" ucap Alex.
"Oh my God, Kenapa Zafian sampai tau akan hal ini, apa dia juga tau akan kekuatan hitamnya?" Tanya Aftan menduga-duga .
"Aku belum memberitahu dia apapun, kemungkinan dia mendengar pembicaraanku bersama Ailina tadi" sahut Alex nampak khawatir.
"Soal apa?" Tanya Evan masih belum paham.
"Si-al!, dan itu artinya Kak Zafian bisa saja melakukan hal yang mengerikan dengan kekuatannya saat tidak bisa mengontrolnya" sahut Evan yang mempunyai pemikiran yang sama.
*
*
Dan beberapa saat lalu, Naura yang baru saja tiba di Mansion di kejutkan dengan kedatangan Anita yang tergopoh-gopoh, lalu kemudian menarik Naura dengan paksa.
"Ikut Bunda" ucap Anita yang sudah menyambar pergelangan tangan Naura.
Anita meminta kunci mobil ke salah satu penjaga dan memberikan ke Naura yang masih bingung dengan apa yang telah di perbuat Anita.
"Bun, kita mau kemana?" Tanya Naura di tengah kebingungannya.
"Ikuti mobil Zafian, cepat Nau!"
"Apa?!" Naura terkejut, lalu segera menghidupi mobil dan mengejar keberadaan mobil Zafian.
Masih beruntung Naura mampu mengejarnya, karena di siang itu memang jalanan cukup ramai, hingga laju kendaraan Zafian masih bisa tertahan.
"Ada apa sebenarnya Bun?" Tanya Naura masih penasaran di tengah konsentrasinya mengemudikan mobil untuk tetap tak ketinggalan mengikuti mobil Zafian.
"Bunda juga tidak paham, hanya tadi, melihat Zafian begitu emosi dan pergi, bunda takut terjadi sesuatu dengannya" jawab Anita.
"Baiklah, sebaiknya bunda tenanglah, kita sudah berada di dekatnya saat ini, kita ikuti Tuan Zafian sampai dimana nanti" ucap Naura terus mengikuti.
Zafian masih konsentrasi penuh mengemudikan mobilnya, lalu segera menerima panggilan dari handphonenya, rupanya anak buah yang ditugaskan untuk melacak keberadaan musuhnya sudah mengirimkan posisi terkini saat ini.
"Bagus, aku akan segera datang dan menghabisi kalian!" Ucap lirih Zafian sambil mengeratkan rahangnya.
Dan tak lama kemudian, mobil Zafian memasuki hutan belantara, rupanya rute yang di tunjukkan mengarah ke sebuah tempat megah yang berada di tempat sepi dan tersembunyi.
Zafian segera turun, mengamati sekitar sejenak, dan kemudian melangkah begitu saja.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita menghubungi yang lainnya, saya khawatir akan_"
"Pergilah, Aku sendiri yang akan menyelesaikan, dan aku pastikan wanita itu akan aku seret untuk menyembuhkan istriku, hidup atau mati" ucap Zafian penuh dengan emosi.
Satu pengawal itu pun akhirnya mengikuti langkah Zafian, tidak ingin meninggalkan sang tuan menghadapi bahaya sendirian, hingga dengan langkah tanpa ada ketakutan sedikit pun Zafian sudah mendekati pintu utama rumah megah yang tertutup rapat.
Tampak beberapa penjaga segera menghadang langkahnya, namun dengan kekuatan tenaga dalamnya, Zafian mengibaskan tangan dan membuat mereka terbakar dan berlarian untuk menyelamatkan diri.
"Aku hanya menginginkan wanita itu, Keluar sekarang juga atau aku akan membakar semuanya!" Teriak Zafian dengan lantang.
Beberapa penjaga dan pengawal rumah itu segera merapat kan barisan di depan pintu utama, mereka bersiap mencegah Zafian untuk menerobos masuk ke dalam rumah, tanpa mereka sadari, Zafian sudah bersiap dengan serangan yang mematikan.
Seringai mengerikan kini menghiasi bibir Zafian, bahkan seorang pengawalnya merasakan bahwa Zafian sangat berbeda dari biasanya.
"Tuan, Tolong kendalikan diri" ucap pengawalnya, namun sepertinya Zafian sudah tidak peduli.
Zafian melompat, menyerang langsung dengan tenaga dalam kobaran api yang menyelimuti dirinya, semua dia lumpuhkan tanpa ada lagi rasa kasihan, luka hati yang terlalu dalam saat mendapati kenyataan bahwa istrinya tengah tak berdaya, membuatnya begitu gelap mata.
"Jangan salahkan aku, jika kalian semua harus mati!" Teriak Zafian penuh dendam dan amarah.
"Aku beri kesempatan, keluarlah wanita JALLANG!" teriak Zafian sekali lagi.
Apakah yang akan terjadi?, Yuk kasih dulu Author VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.