
Bukannya berhenti, Zafian malah mendekatkan dirinya dan melu-mat bibir Afita dengan tubuh masih terkunci bersandar di tembok tangga menuju lantai atas.
Sekejab Afita terhanyut dalam arus hangat percinntaan yang dilakukan suaminya, hingga kemudian perlahan Zafian melepaskan istrinya dengan tersenyum.
"Basah" bisik Zafian.
Afita terkejut, mengatur nafasnya, lalu melepaskan tangan suaminya yang tanpa sadar sudah berada di bagian bawahnya, berlari dengan wajah yang merah, Afita menggeleng tak percaya hingga dirinya harus kembali masuk untuk mengguyur seluruh tubuhnya.
"Buka yang!" Terdengar teriakan Zafian.
"Tidak, tunggu sampai aku selesai!" Sahut Afita yang tentu saja tau maksud hati suaminya.
"Tapi aku ingin menikmati mandi bersama dengan istri tercintaku saat ini!" Jawab Zafian sengaja menjahili.
"Jangan harap, ini sudah hampir petang, kamu pasti ingin membuatku berteriak jika mandi bersama!" Sahut Afita.
Terdengar tawa Zafian di luar sana, sedang Afita melanjutkan kembali, hingga tak lama kemudian selesai dan segera keluar untuk berganti dengan Zafian.
Terlihat sang Bunda sedang duduk di teras depan sambil menikmati malam dengan segelas teh hangat dan cemilan di atas meja, Zafian melihat hal itu, lalu ikut duduk bersebelahan dengan Anita.
"Sedang menikmati malam sendirian Bun?" Tanya Zafian.
"Malam yang dingin, tapi begitu tenang" sahut sang Bunda.
"Iya, apa ada yang Bunda pikirkan?" Tanya Zafian.
"Kalian" jawab Anita.
"Kami baik-baik saja Bun, jangan khawatir" ucap Zafian.
"Afita, dia wanita hebat dari kelurga Nugraha, sebuah keluarga yang_, tidak bisa Bunda bayangkan seperti apa, mereka semua mempunyai kekuatan yang tak terkira" sahut Anita.
"Iya, Zafian juga tau, lalu, apa yang Bunda khawatirkan?"
"Semakin tinggi Nilai seseorang, jangan lupa, semakin besar ujian dan tanggung jawab yang ada di pundaknya, dan Bunda sangat sadar, bahaya setiap saat mengintai kalian, Zaf jaga Afita baik-baik" ucap Anita begitu tampak khawatir dari tatapan matanya.
"Jangan khawatir Bun, kami akan saling membantu satu sama lain" suara seseorang mengejutkan keduanya.
"Afita" ucap Sang Bunda, lalu tersenyum menyambut kedatangannya. "Maaf, Bunda hanya khawatir saja" lanjut Anita.
"Terimakasih, Bunda mengkhawatirkan kami, kasih sayang Bunda akan menguatkan kami menghadapi apapun, sepertinya Mommy sudah berbicara sesuatu dengan Bunda, apa benar dugaanku?" Tanya Afita yang kini sudah duduk disamping Anita.
"Benarkah itu Bun?" Sahut Zafian.
"Rupanya Bunda tidak bisa menyembunyikan apapun dari kalian" jawab Anita.
"Wah, pasti Mommy merayu Bunda untuk pindah ke Jakarta kan?" Ucap Afita lagi.
Lagi-lagi Anita di buat terpana dengan jalan pikiran Afita yang rupanya selalu sejalan dengan Mommy nya.
"Yah begitulah.." jawab Anita pada akhirnya.
Afita tersenyum, begitulah sang Mommy saat merasakan ada sesuatu yang akan terjadi, begitu khawatir dan ingin melindungi semuanya.
"Jangan khawatir Bun, kita bisa tetap tinggal disini, sudah banyak yang melindungi, bahkan Daddy juga mengirim pengawal khusus nya datang ke sini" ucap Afita menenangkan sang Bunda.
"Iya, Bunda tau, terimakasih, keluarga Nugraha benar-benar memperhatikan keluarga kita, maaf kalau harus merepotkan kalian, seandainya saja_" Anita langsung terdiam tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa Bun, ayolah, jangan bersedih, kita akan selalu bersama melalui semuanya, dalam keadaan sesulit apapun" Zafian segera memeluk Anita.
"Bunda hanya teringat masa lalu, jantung bunda rasanya hampir lepas, saat ayahmu meninggalkan kita begitu saja, tanpa apapun dan dalam keadaan kita yang sangat terpuruk, apalagi kamu dalam kondisi_" ucap Anita meneteskan air mata dalam pelukan sang putra.
"Sudahlah Bun, jangan lagi mengingat kejadian itu, yang paling penting aku sekarang ini sudah bahagia, tidak terjadi apapun denganku lagi" sahut Zafian memotong pembicaraan sang Bunda.
Sesaat Afita terkejut dengan perbincangan keduanya, nampak ada sesuatu yang masih belum Afita mengerti dari apa yang sedang di bicarakan saat ini.
"Bunda jangan bersedih lagi, kami selalu ada untuk Bunda, dan kami buka orang-orang yang lemah, pasti bisa menghadapi semuanya" sahut Afita kini ikut memeluk Anita.
"Terimakasih sayang, jangan pernah meninggalkan Zafian dalam keadaan apapun, hanya kamu dan keluarga Nugraha yang Bunda percaya" ucap Anita.
"Tentu saja Bun, kita juga sudah menjadi keluarga Nugraha saat Bunda memaksaku menikahi wanita ini" sahut Zafian.
Plak.
Afita langsung memukul Zafian.
"Tentu saja aku menyesal, kenapa tidak dari dulu aku langsung menikahi mu yang" sahut Zafian sambil terkekeh.
Afita ikut mendengus kesal akan candaan suaminya, namun juga merasa senang dengan hasil akhir ucapnya.
Disela-sela gurauan yang menambah kebahagiaan di malam itu, tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara panggilan dari handphone Zafian.
"Benarkah, Sh-it!, Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?!" Seru zafian dengan suara kerasnya.
"Baiklah, pastikan dia mendapat perawatan yang terbaik, aku akan menjenguknya besok" ucap Zafian lagi, lalu segera menutup handphonenya.
Berjalan sedikit gontai, Zafian kembali duduk di dekat Anita.
"Ada apa Zaf?" Tanya Anita merasakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Semua bukti yang aku kirimkan untuk yang terakhir kalinya lenyap" jawab Zafian.
"Apa?!" Suara terkejut dari Anita dan Afita hampir bersamaan.
"Bagaimana itu terjadi?" Tanya Afita ditengah keterkejutannya.
"Anak buahku yang aku beri tugas mengantar bukti-bukti i ke pengadilan baru saja di temukan, kini ada di ICU, tidak sadarkan diri dengan luka yang cukup parah" sahut Zafian.
Anita sangat terkejut, jelas sekali ini perbuatan dari pihak Edric Ricardo, tapi tidak pernah disangka kalau sampai berani sejauh ini melakukan tindakan yang keji.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Afita tampak cemas.
"Soal bukti, masih ada salinannya, hanya saja_"
"Apa?' tanya Afita tampak penasaran.
"Dia yang aku beri tugas menyimpan ditempat yang aman, dan aku tidak tau pasti itu dimana"
"What?!, Oh my God, jadi pengawal kita yang Coma itu yang menyimpan semuanya, lalu kita harus mencarinya dimana?" Sahut Afita lagi.
"Tenanglah yang, semua masih berusaha mencari kembali, semoga saja dia menyimpannya ditempat yang masih bisa di temukan" ucap Zafian.
Anita seketika merasa lemas, mendengar masalah bukannya terselesaikan malah bertambah rumit.
"Siapa yang melakukan ini, apa tidak bisa anak buah mu yang lain mendeteksi?" Tanya Anita.
"Aku tidak tau Bun, mereka bahkan tidak menemukan jejak apapun di lokasi kejadian, begitu juga pihak yang berwajib masih kebingungan" ucap Zafian.
Afita duduk terdiam, mengusap wajahnya beberapa kali, berusaha menenangkan dirinya karena merasakan sesuatu yang begitu kuat seolah sedang mendekat.
"Aku akan masuk ke kamar Bun, sudah malam, sebaiknya kita lanjutkan besok saja perbincangan ini" ucap Afita lalu segera beranjak dengan sebelumnya memeluk sang Bunda untuk berpamit.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang, istirahat kan tubuh dan pikiranmu dengan baik" ucap Anita memberi nasehat.
Afita tersenyum dan mengangguk, lalu kemudian dibarengi Zafian melangkah naik ke tangga dan menuju kamar pribadinya untuk beristirahat.
"Ada apa yang?" Tanya Zafian.
"Tidak ada" ucap Afita masih menyembunyikan apa yang dirasakannya saat ini, semua dilakukan agar Zafian bisa beristirahat dulu dengan tenang malam ini.
"Kita istirahat dulu, besok aka kita cari jalan keluar yang tebaik dengan batuan semuanya" zafian membawa Afita dalam pelukannya untuk beristirahat.
Kurang lebih tiga jam kemudian, tepat tengah malam Afita terbangun, kembali merasakan sebuah kekuatan yang sepertinya berada dekat di sekitarnya, perlahan beranjak dari tempat tidur berharap suaminya tidak sampai terbangun akan gerakannya.
Kini Afita berhasil turun dari tempat tidurnya, bergerak cepat namun perlahan mengintip dari korden jendela kamarnya, dan Branta saja, ada bayangan yang nampak terlintas oleh pandangan matanya.
"Siapa itu, Sia-lan, gerakannya begitu cepat" batin Afita, lalu membuka jendela dan ikut melesat keluar dengan gerakan ringan tubuhnya.
Berusaha untuk bersembunyi menunggu bayangan itu nampak kembali, dan benar saja, Afita melihat dan segera menyerang dengan cepat, namun diluar dugaan, bayangan itu bisa menghindari dan kini tepat di depannya.
"Siapa kamu?" Ucapan Afita yang kini tengah berdiri diatas genting Mansion bersama dengan sosok hitam di depannya.
Bukannya menjawab, justru seseorang itu langsung menyerang dengan kecepatan gerakan yang luar biasa, sejenak Afita terkejut dan langsung menghindari dengan cepat, lalu mengerutkan kening seolah mengenali gerakannya.
"Tunggu, kau_!"
Ada yang bisa menebak kira-kira siapa?Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA juga ya.
Bersambung.