
Masih terdiam sambil menikmati cemilan dimalam hari, Afita sengaja fokus ke acara televisi sambil berbaring santai menikmati salad buah tanpa memperdulikan zafian yang mondar-mandir didepannya untuk mencari perhatian.
"Ck, mengganggu sekali" ucap Afita lirih dan sebal dengan kelakuan suaminya yang sering menutupi pandangannya untuk menikmati acara televisi.
Bukannya diam dan menyingkir, Zafian justru dengan sengaja lebih lama berdiri di depan layar Tv, hingga akhirnya membuat sang istri berteriak kesal.
"Yang.., minggir!" Teriak Afita, tampak sekali mood-nya tidak bersahabat.
Zafian tersenyum membelakangi Afita, masih berdiri di sana, seolah tidak mendengarkan apa yang diucapkan istrinya.
"Menyebalkan!" Afita mendengus lalu beranjak dari tempat tidurnya sbil.emmbawa salad di tangannya.
Namun tentu saja Zafian tidak membiarkan hal itu terjadi, menghadang langkah istrinya dan terus berjalan maju hingga Afita mundur dan punggungnya menempuh ke teman tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Apa yang kau lakukan yang?!" Teriak Afita merasa kesal dan gugup.
"Menjinakkan singa betina yang sedang marah" ucap lirih Zafian dengan senyuman penuh maksud.
"Jangan macam-macam, aku gak mood" sahut Afita dengan egonya.
"Oh ya, kita lihat saja" Zafian menyeringai, membuat Afita bergidik ngeri, takut dengan aksi nekad apa yang selanjutkan akan dilakukan suaminya, dan beberapa detik kemudian_
"Brak!"
"Hemmh.."
Zafian langsung melancarkan aksinya, mendorong tubuh Afita dan menghimpitnya, lalu meraup bibir sang istri dengan cepat dan tepat.
Afita sempat memberontak sesaat, namun kelihaian Zafian dalam memberikan sentuhan, membuat keadaan menjadi seperti yang diinginkan.
Zafian merasa senang dan menang, melanjutkan kembali lumattan yang semakin membuat Afita tidak bisa menolak sama sekali, lidah pun saling membelit dan bermain bersama.
Gerakan tangan Zafian mulai mengikuti insting, bergerak perlahan menyusuri sedikit demi sedikit kulit yang terasa menghangat, hingga pilihan di jatuhkan pada kedua aset istrinya yang begitu terasa kenyal dan menyenangkan untuk terus di rasakan.
"Yang.. emhh.." suara merdu yang ditunggu mulai terdengar, begitu indah dan membuat pikiran Zafian selaras dengan has-ratnya yang mulai timbul.
Tidak bisa dikatakan lagi apa yang tengah terjadi dengan Afita, tubuhnya bergerak menyesuaikannya diri, merasakan kenikmatan yang memenuhi rasa ingin terus melayang karena sentuhan sang suami.
Satu persatu kain yang menempel tergeletak dilantai tak beraturan, hingga kini keduanya sudah polos tanpa apapun yang menghalangi.
"Aku ingin bekerja sedikit keras" ucap Afita sambil mendessah berusaha menahan dulu rasa yang meluap di dalam dirinya.
"Lakukan apa yang kamu mau sayang" sahut Zafian masih terus melanjutkan kecupan dan usapan tangan yang kadang meremas di beberapa bagian tubuh istrinya.
Afita mendorong Zafian hingga tergeletak di lantai yang beralaskan karpet tebal dan empuk dilantai kamarnya, selanjutnya Afita mendominasi dan kini berada di atas tubuh Zafian untuk beraksi.
Zafian membicarakan istrinya melakukan apapun, hingga dirinya harus menahan dengan kuat has-ratnya saat Afita mengecup seluruh kulit mulai dada, perut, hingga bagian bawah yang berdekatan dengan sang pusaka.
"Ough.. yang.." ucap lirih Zafian menahan sesuatu.
Afita segera bersiap, memasukkan milik Zafian perlahan menembus bagian bawahnya.
"Ohhh" dessahan panjang di seketika muncul dari bibir Afita.
Rasa nikmat yang luar biasa disaat sang pusaka telah bersarang dalam tubuhnya, membuat Afita semakin keras menggerakkan tubuhnya hingga sang pusaka lebih cepat keluar masuk ke dalam miliknya.
"Ini sangat nikma.. sshh.." desis Zafian jud terdengar, menandakan bahwa miliknya tengah di manjakan oleh Afita.
Gerakan pingggul Afita semakin bertambah kencang saat tubuhnya menginginkan lebih, hingga kemudian_
"Akh!, yang.. aku keluar"
"Lepaskan yang.."sahut Zafian, dan kemudian memeluk tubuh sang istri yang sudah penuh dengan keringat.
Sejenak Zafian mengusap lembut punggung Afita yang tengah mengatur nafasnya setelah pelepasan.
"Sudah siap ronde berikutnya?" Tanya Zafian lirih tepat di telinga sang istri.
"Hem" sahut Afita mengizinkan.
Sang pusaka perlahan kembali bersarang, Zafian mengangkat kaki Afita dan menaruhnya di bahunya, sang pusaka semakin mudah beraksi, keluar masuk dengan tempo cepat dan kadang lambat.
Milik Afita selalu sempit dirasakan oleh Zafian, memberikan pijatan hangat dan kuat saat pusaka bersarang di dalamnya.
"Oh, yes sayang, ini sangat nikmat" ucap lirih Zafian masih terus beraksi.
Hingga detik berikut, Zafian sudah tidak bisa bertahan lagi.
"Aaah.." ucap Zafian melakukan pelepasan, dan tak lama disusul oleh Afita yang ikut berteriak saat mencapai puncaknya.
Dan berikutnya, keduanya segera beristirahat dalam dekapan diatas tempat tidur yang terasa nyaman.
*
*
Keesokan pagi yang sangat cerah cenderung panas, Afita sudah berada di ruangan kerjanya, tak lama kemudian keluar ruangan bersama dengan Naura sang sekretaris.
"Sepertinya kolega kita ini orang yang lumayan penting " ucap Afita yang kini tengah berjalan menuju sebuah ruangan meeting di dalam gedung hotelnya.
Sesuai yang diperkirakan, tak berapa lama Afita datang dan masuk kedalam ruangan, dan ternyata seseorang sudah menunggu keddatangannya, lalu keduanya saling bertemu pandang.
Rapat persetujuan soal kontrak yang akhirnya sepakati, semuanya nampak begitu gamblang soal pembagian hasil yang diberikan.
"Saya rasa, ini semua sudah lebih dari cukup" Ucap Naura yang sudah membereskan berkas-berkas nya.
"Terimakasih Bu" ucap Kolega bisnis yang kini tengah tersenyum, merasa sangat puas dengan kontrak kerjasama yang sudah dilakukan.
"Sama-sama, saya minta tolong berkas yang masih kurang segera di tandatangani" ucap Afita.
"Baiklah akan saya tunggu!" Ucap salah satu kolega bisnisnya.
Naura merasa aneh dengan mereka, kesepakatan begitu cepat mereka setujui, bahkan tidak ada perdebatan sama sekali, seolah mereka cukup nurut akan kemauan dari pihak sang bosnya.
"Kenapa, tanya Afita"
"Tidak ada nona, hanya saja, mereka sepertinya terlalu terburu-buru menyetujui kontrak yang kita ajukan"
"Mungkin mereka merasa cocok dengan kerjasama yang kita lakukan" sahut Afita.
"Semoga saja begitu nona, aku selalu berdoa yang terbaik untuk urusan pekerjaan kita" ucap Naura yang masih terus berjalan mendampingi.
Sementara itu, diruang meeting yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya, terlihat dua orang yang tengah menunggu cetak kontrak kerjasama, mereka saling pandang dan tersenyum, seolah puas akan sesuatu.
"Jangan tersenyum terlalu lebar, kita harus bersikap profesional, seperti yang diinginkan" ucap salah satu dari mereka.
"Hem, dan rahasia kita akan tetap terjaga, sampai sang bos mengatakan Semuanya " ucap lirih dari salah satunya.
Tak lama kemudian, apa yang ingin segera di tandatangani oleh mereka akhirnya datang juga.
Setelah itu mereka segera undur diri, masih berada di area parkir, tiba-tiba saja salah satu kolega terdengar suara handphonenya berbunyi.
"Iya Tuan, semua sudah terlaksana dengan baik, sesuai yang anda perintah tahukan"
"Bagus, sebentar lagi aku akan ketemu dengannya, ingat, rahasiakan semua ini dengan baik, apa bisa di mengerti?
"Iya Tuan.. "
Klek
Handphone akhirnya terputus, mengakhiri semua percakapan dan kini seseorang tengah tertawa senang.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.
Bersambung.