ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 43



Afita terperanjat dan segera berdiri, sementara Zafian kini bersujud tepat di kaki sang istri.


"Aku mohon, maafkan aku" ucap Zafian sekali lagi.


"Berdirilah Zaf, jangan seperti ini" sahut Afita dengan cepat meraih lengan Zafian untuk menariknya berdiri.


"Tidak, aku akan tetap bersujud memohon padamu, sampai kau memaafkan ku" ucap Zafian tanpa mau merubah posisinya.


Afita semakin bingung, ditambah dengan suara pintu yang tiba-tiba saja terbuka dan masuk sosok Aftan sang kakak dengan wajah sedikit terkejut namun tetap meneruskan langkahnya.


"Zaf, ayolah, jangan begini, ada kak Aftan, aku tidak_"


"Kalian ini kenapa, siapa yang harusnya sujud ke siapa?, Ada ada saja" sahut Aftan yang tetap berlalu seolah tidak perduli.


Dan Zafian masih tetap duduk bersimpuh di depan kaki Afita.


"Ck, baiklah aku memaafkan mu, cepat berdiri, aku takut ada yang melihat lagi Zaf!" Ucap lirih Afita sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat lagi.


Zafian tersenyum bahagia, segera bangkit dan memeluk erat Afita begitu saja.


"Zaf apa yang kau lakukan!" Teriak Afita tertahan.


"Terimakasih sayang, terimakasih" sahut Zafian dan langsung menyambar bibir Afita.


"Mmhh, Zaf, hentikan.."


"Tidak akan"


"Mmhh, Zaf.."


"Ehem, masih ada kamar pribadi, disini tempat umum!" Ucap seseorang membuat keduanya terkejut dan segera melepaskan luma-tan bibirnya.


"Maaf kak" segera Zafian tersenyum aneh merasa tidak enak hati.


"Sepertinya ada sesuatu yang seru di sini?" Ucap Reyna yang baru saja turun dan sebenarnya juga melihat adegan live sang putri dengan pasangannya.


"Ck, kalian, jangan mengotori mataku lagi, dasar!" Sahut Aftan lalu pergi ke belakang.


Sementara Reyna hanya mengerlingkan mata dan tertawa, lalu segera pergi meninggalkan mereka menyusul Aftan yang rupanya menyusul sang Daddy yang ada di taman belakang.


Kini Aftan kembali menatap wajah ayu sang istri yang selalu membuat hatinya berdesir, Zafian mendekat kembali.


"Jangan macam-macam, maluku belum hilang dengan apa yang kamu lakukan barusan Zaf!" Ucap Afita mundur menjaga jarak dengan Zafian.


Terdengar suara tawa dari Zafian, melihat tingkah Afita yang waspada akan dirinya.


"Kita suami istri, itu hal yang wajar Af"


"Ish, kau ini, tapi juga tidak di sini"


"Jadi maksudnya, kamu ingin di lanjut di kamar?"


"Zaf!"


"Hahaha.. jangan berteriak sekarang, belum waktunya" ucap Zafian sengaja membuat Afita makin melototkan matanya memberikan peringatan.


Afita langsung meninggalkan Zafian dengan cepat sebelum terjadi hal-hal yang aneh kembali, masuk ke dalam kamar sambil membawa koper suaminya.


Begitu juga dengan Zafian yang senyumnya terus mengembang, mengekor di belakang sang istri seolah takut untuk berpisah kembali.


"Wow, kamar yang megah dan mewah" ucap Zafian setelah mengamati sekeliling.


"Biasa saja, kamar kita di Mansion mu juga tak kalah mewah" sahut Afita yang kini meletakkan koper suaminya.


Mendengar Afita menyebut kamar kita entah dengan sadar atau tidak, membuat Zafian tersenyum, rasa haru dan bahagia merayap memenuhi hatinya.


"Alhamdulillah, lain kali jangan membuat kamar kita hanya menjadi kamarku saja ya" sahut Zafian kini telah duduk di pinggir tempat tidur.


"Maksud nya?" Tanya Afita merasa aneh.


Zafian menarik tubuh Afita hingga kini Afita berdiri di dalam rangkulan sang suami.


"Maksud nya, jangan pernah lagi pergi meninggalkan ku" ucap Zafian dengan lembut dan kini menyandarkan kepalanya di perut Afita yang ada di depannya.


Afita terkejut dengan apa yang di rasakannya, pelukan posesif dan juga sentuhan wajah Zafian yang mengenai perutnya menciptakan sensasi yang luar biasa bagi Afita, begitu hangat, indah dalam desiran hati yang membuat tubuhnya meremang seketika.


Sementara Zafian tengah menikmati apa yang dirasa sangat begitu tenang saat ini, hingga suara perut sang istri membuatnya terusik.


"Belum makan?" Tanya Zafian masih memegangi pinggang sang istri dengan posesif.


"Hem, pengen makan" ucap Afita dengan wajah lucunya.


"Ayo" ucap Zafian melepaskan sang istri dan menggandeng tangannya.


Afita berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya, masih tidak enak hati juga kepergok salah satu anggota keluarganya, namun tidak dengan Zafian yang malah mengeratkan genggamannya hingga Afita akhirnya menyerah dan mengikuti langkah sang suami.


Zafian melintasi beberapa ruangan, dikira menuju ke dapur, justru Afita dikejutkan dengan apa yang dilakukan Zafian.


"Kita mau kemana?" Tanya Afita heran saat Zafian terus melangkah keluar melewati pintu utama.


"Apa?, Tidak usah Zaf, aku keburu lapar banget" ucap Afita yang membuat Zafian segera menghentikan langkahnya.


"Okey, ikut aku" Zafian segera menarik tangan Afita yang masih erat digenggamnya.


"What!"


Dan Afita Terkejut saat mau tidak mau terseret mesra di tangan suaminya.


Kini Zafian sudah berada di dapur atas petunjuk salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan melewatinya saat itu, dan Afita hanya terperangah melihat bagaimana Zafian dengan lihai membuat makan siang untuk mengisi perutnya yang makin keroncongan.


"Siap Tuan Putri, silahkan di cicipi, semoga sesuai selera anda" ucap Zafian dengan satu kedipan mata genitnya.


"Wow, ternyata Zafian Al Faradz sangat mengerikan" sahut Afita yang masih kaget dengan sikap suaminya yang baru dia tau.


Satu sendok soup sayur dan jamur sudah berada di sendok Afita siap masuk ke dalam mulutnya, dan_


Hap


"Kakak..!"


Teriak Afita kesal, karena ternyata sambaran Aftan lebih cepat dan telah merebut dengan sempurna makanan yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya.


"Hem, lezat, thanks Zafian!"


Teriak Aftan sambil tertawa dan pergi begitu saja sambil mencubit pipi adik tercinta dengan sengaja.


"Akh!, Kak!, Dasar!" Teriak Afita makin kesal.


Zafian hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, begitu manja seperti anak kecil saat menerima perlakukan usil namun juga hangat dari kakaknya.


"Sakit?" Tanya Zafian.


Afita mengangguk, sambil menggosok pipinya yang memerah, Zafian segera mendekat lalu menempelkan telapak tangannya dengan usapan lembut.


"Sudah, tidak apa-apa" ucap Zafian begitu memanjakan istrinya.


Afita masih merenggut, Zafian makin tersenyum melihat kelucuan wajah istrinya, perlahan mendekatkan lagi makanan yang telah di hidangkan.


"Aku suapi"


"Ha, nggak usah Zaf, aku bisa sendiri" ucap Afita terkejut saat Zafian sudah siap sendok berisi makanan yang sudah berada di depan bibirnya.


Afita segera merebut sendok Zafian, dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, menit berikutnya semua hidangan sudah ludes masuk ke dalam perut Afita.


"Wah, lezat, thanks Zaf" ucap Afita di suapan terakhir.


Zafian tersenyum, lalu menghabiskan makanan yang ada di piringnya sendiri setelah memastikan Afita kenyang.


"Sebaiknya kamu beristirahat dulu Zaf, masih jam 3 sore" ucap Afita saat melihat Zafian menguap beberapa kali setelah menyelesaikan makannya.


"Hem, bisa menemaniku?" Ucap Zafian.


Afita tidak menjawab, hanya beranjak lalu kemudian menuju ke kamarnya, begitu juga dengan Zafian yang bersemangat mengikuti langkah Afita, hampir sampai di pintu.


Blar


Terdengar suara keras berikutnya disertai dengan guncangan kecil yang bisa dirasakan oleh Zafian.


"Afita!" Teriak Zafian langsung menyambar tubuh istrinya membawa masuk ke dalam kamar hingga berguling.


Afita terkejut, beruntung masih bisa mengontrol tubuhnya untuk tidak melakukan perlawanan.


"Apa yang kau lakukan Zaf!" Teriak Afita yang tertindih tubuh Zafian.


"Sepertinya ada gempa, apa kamu tidak merasakannya?" Ucap Zafian dengan wajah panik.


"What!?"


Tentu saja Afita terkejut dan ingin tertawa dengan apa yang di pikirkan oleh suaminya, karena dia tau kalau getaran yang terjadi adalah efek dari salah satu anggota keluarganya yang mungkin saja melatih fisik dan tenaga dalamnya.


"Kenapa?" Tanya Zafian merasakan ekspresi wajah sang istri yang aneh.


"Tidak ada" sahut Afita masih berusaha menahan tawanya.


"Sini dulu, kenapa sepertinya kamu ingin tertawa?"


"Nggak Zaf, aku hanya kaget saja, minggir, aku mau bangun" ucap Afita berusaha bangkit namun di tahan oleh tubuh Zafian yang makin menindih di atasnya.


"Oh ya, tapi sepertinya_" sahut Zafian yang kini sedikit menyibak hijab Afita.


"Apa yang kau lakukan, Zaf?!" Teriak Afita tertahan.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.