
Firman menganggap Naura terlalu menutup dirinya, sedangkan Firman sudah tidak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja dan menganggap Naura hanya teman biasa, hingga kemudian Firman memilih untuk menjauh dari Naura karena dianggap itulah yang terbaik.
Beberapa kali Firman dulu sudah menyatakan perasaannya, tapi Naura selalu menghindar dengan mengalihkan pembicaraan, dan menurut Firman itu menunjukkan sebuah penolakan secara halus, ditambah dengan seringnya Naura mengatakan sangat bahagia hanya dengan berteman saja.
"Apa hari ini kamu sibuk Naura?" Tanya Afita.
"Tidak kak, seperti biasanya, aku bisa beristirahat 2 hari dalam sepekan" jawab Naura yang memang mempunyai 5 hari kerja saja di perusahaan.
"Oh syukurlah, aku ada kepentingan keluar negeri menemani Zafian, bisakah aku meminta tolong padamu untuk menjaga Fian?, Kamu tau sendiri kan Bunda sedang ada bersama dengan Reno, aku tidak ingin mengganggunya" ucap Afita.
"Tentu saja kak, dengan senang hati, serahkan saja padaku" jawab Naura dengan senyum indahnya.
Afita mengucapkan terimakasih dan segera pergi untuk berkemas, sementara Naura bertugas membujuk Fian dengan memberikan pengertian yang tidak sulit untuk dilakukan.
Berakhir dengan Naura yang sedang bermain seru dengan Sang keponakan, hingga membuat dirinya begitu kehausan setelah banyak bergerak.
"Aunty, aku haus sekali" teriak Fian.
"Siap Pangeran, Aunty akan mengambilkan minuman dulu, tunggu disini ya?!' seru Naura yang kini sudah berjalan cepat menuju dapur.
Ketika sampai disana, Naura hampir melompat karen kaget melihat Firman yang berada di depan kulkas dan sedang mengambil air dingin.
"My God _!" Naura memegang dadanya sendiri untuk menenangkan jantungnya yang berdebar karena terkejut melihat Firman.
Dan hal itu membuat gelas yang berisi air dingin di tangan Firman tumpah di bajunya sendiri karena tersenggol Naura yang tak disengaja.
"Ma maaf, ku tidak sengaja" Ucap Naura salah tingkah dan langsung menggunakan hijab panjangnya untuk mengusap air yang membasahi baju Firman.
Firman terdiam dan tak beraksi apapun, sementara Naura masih terlihat panik karena melihat tatapan Firman yang begitu tak ramah sama sekali.
Hingga kemudian, tangan Firman memegang tangan Naura dan berakhir dengan kedua pasang mata itu saling memandang.
"Tidak usah repot-repot peduli padaku" ucap Firman yang kemudian melepaskan tangan Naura dan pergi begitu saja meninggalkan Naura yang masih nampak kebingungan.
Naura menghela nafas, lalu memutuskan pandangan saat Firman sudah tak nampak lagi.
"Apa aku terlalu menyakitinya dulu?, Ataukah dokter Firman sudah memiliki kekasih hingga sikapnya begitu dingin dan menghindari ku?" Batin Naura terlihat mendung diwajahnya.
Naura mengambil sebuah lap untuk membersihkan air yang tertumpah di lantai, lalu dikejutkan dengan kedatangan Afita.
"Apa yang terjadi Naura?"
"Aku tidak sengaja menumpahkan air dilantai kak"
"Biarkan bibi yang membersihkannya, dimana Fian?" Tanya Afita yang kini sudah berpakaian rapi siap untuk pergi.
"Ada di taman belakang kak, biarkan aku yang membawanya kemari, sekalian memberikan air minumnya"
"Okey"
Naura segera bergegas ketempat Fian Sabil membawa botol minuman, setelah memastikan keponakannya sudah tidak kehausan, segera mengajaknya kembali ke dalam Mansion.
Fian cukup bersikap manis dan tak membuat keributan saat Afita dan Zafian berpamitan, sementara Naura beberapa kali mencuri pandang ke arah Firman yang telah siap mengantar Sahabatnya.
"Bajumu kenapa?" Tanya Zafian terheran.
"Ketumpahan air minum tadi" jawab Firman singkat dan melirik Naura sekejab.
"Kau seperti anak kecil saja" sahut Zafian.
Naura masih terdiam, merasa bersalah dengan baju Firman yang nampak basah lebih tepatnya, hingga suara Afita mengejutkannya.
"Aku menitipkan kalian ke Dokter Firman" ucap Afita.
"Apa?!" Sahut spontan Naura yang terkejut.
"Iya, mungkin Firman akan mengunjungi kalian untuk memastikan keadaan aman" ucap Zafian.
"Itu kalau tidak ada yang keberatan" sahut Firman tampak cuek.
"Oh, i iya kak" jawab Naura sambil menoleh ke Afita.
Keberangkatan Afita dan Zafian diantar oleh Firman sampai ke Bandara.
*
*
Naura cukup kelelahan menemani Fian bermain sampai jam Satu siang, hingga pangeran tampan itu akhirnya tertidur cukup pulas.
Untuk menyamankan perasaannya, Naura berniat berjalan-jalan sebentar mencari Es Cream kesukaannya di mini market terdekat, setelah menitipkan Fian ke Asisten rumah tangga, Naura segera bergegas pergi.
"Maaf Nona" ucap Naura.
"Oh, sial" ucap wanita itu merasa kesal sambil mengambil barangnya yang jatuh.
Naura langsung membantu karena merasa bersalah.
"Tidak usah Nona, lain kali hati-hati lah saat berjalan" ucap wanita itu.
Naura terdiam, lalu sekali lagi mengucapkan permintaan maafnya, wanita itu pun hanya menatapnya sejenak dan pergi menaiki mobilnya kembali.
Naura melanjutkan langkahnya, merasa hari ini begitu berat dan ada saja kejadian yang tak diinginkan, tubuhnya merasa lemas hingga kemudian membuka es cream dan memakannya di kursi santai yang disediakan oleh minimarket di dekat pintu masuk.
"Heh, kenapa hari ini begitu berat aku rasakan ya?" Gumam Naura sambil memakan es cream dan memainkan kakinya.
Tanpa terasa hal itu membuatnya melamun kemana-mana, hingga saat seseorang berdiri di sana tak disadarinya sama sekali.
"Mau sampai kapan kamu melamun disini?" Suara seseorang membuat Naura segera memutuskan lamunannya.
"Dokter Firman?" Naura terkejut dan melebarkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depannya.
"Dimana Fian?" Tanya Firman.
"Ha, Fian, oh iya, Fian, aku permisi dulu" ucap Naura yang nampak gugup dan tak tau apa yang harus dilakukan, hingga jurus melarikan diri di keluarkan.
Firman segera memegang tangan Naura sebelum sempat menghindar.
"Mau kemana?"
"Aku, mau pulang, Fian aku tinggal sendirian" jawab Naura berusaha melepaskan pegangan tangan Firman.
"Ikut aku"
"Kemana?" Tanya Naura.
"Tentu saja ke Mansion, biar lebih cepat"
"Oh iya, eh tidak, aku jalan kaki saja" ucap Naura.
"Lama, ikut aku" sahut Firman sudah menyambar lengan Naura dan membawa masuk ke dalam mobilnya.
Keduanya nampak terdiam, hingga tak lama kemudian sampai di halaman Mansion dan terlihat Firman mengerutkan kening melihat ada mobil yang dikenalnya sudah terparkir.
"Sepertinya ada tamu?" Ucap lirih Naura mengamati.
"Hem, dia temanku" sahut Firman terus melangkahkan kaki tanpa menunggu Naura yang terhenti karena terkejut dengan penjelasannya.
Naura hanya menghela nafas panjang, lalu melanjutkan langkahnya, dan sampai di pintu utama, Naura mengucap salam, terdengar jawaban dari Firman dan satu teman wanitanya yang membuat Naura terkejut.
"Kita bertemu lagi rupanya?" Ucap wanita itu yang sikapnya terlihat sangat berbeda sekali saat terjadi insiden di depan minimarket tadi.
"Oh iya Nona, maaf tadi aku tidak sengaja menabrak mu" sahut Naura lalu bersalaman dan mengucapkan nama masing-masing.
"Aku dokter Ana, partner setia Dokter Firman" ucap Wanita itu.
Naura sedikit tidak nyaman dengan kata Partner setia yang seolah sengaja ditunjukan.
"Oh, saya Adik dari pemilik Mansion ini" balas Naura dengan sengaja.
Tentu saja Ana di buat kaget dengan pernyataan Naura, Karena siapa yang tak mengenal Milyarder muda ternama Zafian Al Faradz.
"Maksudnya adik tuan Zafian?" Tanya Ana seolah tak percaya sambil memandang Firman dan berharap bisa ikut memastikan.
"Lebih tepatnya_" jawab Naura
"Dia adik istri Zafian" sahut Firman.
"What?!, Nona Afita dari keluarga NUGRAHA?" Ana semakin di buat lebih kaget lagi.
"Begitulah" Sahut Firman.
"Saya hanya_"
"Bisakah aku minta tolong untuk diambilkan air minum Naura?" Sahut Firman lagi-lagi memotong pembicaraan Naura yang ingin menjelaskan kalau dirinya hanya adik angkat saja.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Yuk segera Mampir ke channel YouTube : SINHO Channel/ SINHO NOVEL untuk mendapat cerita-cerita seru di sana.
Bersambung.