ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 125



Hari yang begitu indah, karena Afita kini berjalan berkeliling kota di temani oleh Raka, bahkan Naura tak henti berdendang bersama dengan Fian yang tersenyum senang.


"Saatnya kita mengantarkan Aunty Naura terapi" ucap Afita.


"Siap Mommy, Semangat Aunty!" Teriak Fian dengan nada yang lucu.


"Siap Pangeran kecil" sahut Naura dengan tawa lebarnya.


Raka tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Fian, begitu terlihat sok dewasa dan membuat gemas orang di sekitarnya.


Tiba di Rumah Sakit tempat Naura telah mendaftar paket terapi kelumpuhan kakinya.


Segera Afita membantu mendorong kursi roda Naura.


"Sebaiknya biarkan Aku membawa Fian, jangan ikut masuk ke dalam, aku khawatir banyak penyakit di sana dan itu bisa menularkan ke Fian" ucap Raka yang kini sudah menggendong putra Afita di punggungnya.


"Asik!" Teriak Fian dan kini sudah di bawa oleh Raka ke taman bermain yang letaknya tak jauh dari sana.


Sementara itu Afita melanjutkan lagi langkahnya bersama naura menuju ruangan untuk melakukan terapi yang sudah di jadwalkan.


Berakhir dengan duduk di kursi antrian, terlihat Naura tengah kebingungan mencari sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Afita.


"Kak, Kartu terapi tertinggal di mobil Sepertinya, bagaimana ini?" Tanya Naura terlihat mulai panik.


"Apa?, Coba di cari lagi" sahut Afita ikut membantu Naura.


Dan sepertinya memang tidak bisa ditemukan didalam tasnya, "Ya sudah, biar aku yang mengambilnya, kebetulan kunci mobil aku yang bawa" ucap Afita akhirnya bergegas meninggalkan tempat menuju ke pintu keluar.


Menuju pintu lif yang mulai terbuka, Afita segera masuk menekan tombol dan menatap lurus ke depan sebelum pintu lif akhirnya tertutup kembali, dan disaat itulah tanpa di duga seperti ada yang memanggil namanya, Afita sempat menoleh kesamping dan mengedarkan pandangan, namun pintu lif itu akhirnya tertutup dengan rapat.


"Apa perasanku saja ya?" Batin Afita, lalu kemudian tak menghiraukan lagi.


Sementara itu, di tempat yang tak jauh dari sana, seorang laki-laki setengah berlari, mengejar pintu lif yang akhirnya tertutup dan tak mungkin untuk di buka lagi.


"Oh sh-it!, Itu pasti Afita, aku yakin!" Ucapnya dengan perasan yang masih panik dan berjalan mondar mandir.


"Maaf Dokter, masih ada lif yang lain, anda tidak harus menunggu di sini" salah satu petugas keamanan memberitahukan.


"Oh, iya pak, maaf" sang dokter baru menyadari dan terpaksa pergi setelah melihat jam di mana waktu pertemuan anggota dewan hampir di mulai.


*


*


Naura masih tenang di tempat duduknya, sejenak dirinya tersenyum, ada sebagian ingatan yang membuatnya merasa lucu.


"Operasi wajahku dulu lumayan juga, aku terlihat lebih cantik, tapi tetap merasa aneh" batin Naura yang masih menatap pantulan wajahnya dari pintu kaca ruang terapi yang masih tertutup.


Tak lama kemudian, nampak Afita sudah berjalan ke arahnya, duduk perlahan mendampingi dirinya kembali.


"Sorry kak, siang-siang begini harus membuatmu berolah raga" ucap Naura.


"Lumayan, bisa menguras lemak-lemak yang tidak di perlukan" sahut Afita dengan tersenyum simpul.


Naura ikut tertawa kecil, selalu suka saat melihat senyuman wanita yang ada di depannya.


"Kak Afita sangat cantik"


"Pujian mu lumayan juga, bisa sedikit mengurangi lelahku saat ini" sahut Afita.


Hahaha


Keduanya tertawa bahagia dengan sedikit candaan sebelum akhirnya nama Naura di panggil untuk masuk ke dalam ruangan.


Afita mengantarkan sampai di pintu, karena Naura kini harus menjalani proses terapi itu bersama dengan ahli yang sudah siap membantunya.


Tampak berbeda ruangan itu bagi Naura, terlihat sekali semua tertata dengan rapi, bahkan beberapa dekorasi ruangan tampak baru dan berubah, membuat suasana di ruangan itu semakin menyenangkan dan membuat betah.


"Sepertinya telah mengalami perubahan, ruangannya semakin nyaman" ucap Naura.


"Iya Nona, maklum ada kunjungan dari pusat, dan kami harus merombak beberapa ruangan untuk meningkatkan performa Rumah Sakit" sahut seorang pegawai yang sudah membantu Naura untuk berdiri dan berjalan perlahan.


"Oh, jadi begitu" ucap Naura.


Tak lama kemudian, beberapa orang tampak tergesa-gesa, memberi tahu kepada semua yang bertugas bahwa akan ada kunjungan ke ruangan terapi beberapa saat lagi.


"Ada apa?" Tanya Naura.


"Tenang Nona, kami hanya bersiap ada atasan yang akan menuju ke ruangan ini"


Naura hanya mengangguk, lalu kembali melatih kakinya, dan beberapa detik kemudian, masuklah seseorang dengan langkah penuh wibawa melihat sekeliling, sementara semua pegawai seketika memberi hormat padanya.


"Jadi ini ruang Terapi?" Sebuah suara yang seperti tak asing di telinga Naura.


Seketika Naura menoleh, namun keterbatasan ingatannya tak mampu untuk mengingat apapun lagi.


"Sepertinya suara laki-laki itu tak asing bagiku, tapi siapa, apa mungkin hanya perasanku saja" batin Naura.


Kemudian jantungnya semakin berdetak kencang, saat laki-laki yang diperhatikannya menoleh dan menuju ke arahnya.


"Soal, kenapa jantungku berdetak kencang?" Ucap Naura yang semakin bingung dengan dirinya sendiri.


"Apa kabar Nona?" Ucap laki-laki itu.


"Saya, Alhamdulillah baik Dokter" jawaban Naura biasa saja, namun memberikan reaksi yang luar biasa pada laki-laki yang kini ada di depannya.


Tatapan mata sang Dokter tertahan di sana, seolah ingin mencari tau lebih dalam lagi ke dalam bola mata Naura, hingga salah satu pegawai yang ada disana menyadarkan sang dokter kembali.


"Maaf Dokter Firman, apa ada yang bisa kami bantu lagi?"


Firman masih terdiam, lekat menatap mata wanita yang ada di depannya, dan entah mengapa sepertinya suara itu begitu membiusnya.


"Maaf, siapa nama anda?" Tanya Firman dengan wajahnya yang begitu penasaran.


"Saya?" Sahut Naura dengan menunjuk dirinya sendiri.


Belum sempat Firman meresponnya, rupanya direktur Rumah Sakit sudah telanjur datang dan membuat Firman mau tidak mau harus menyambut dan berakhir dengan perbincangan.


Sementara Naura hanya menghela nafas panjang, tak lama kemudian menyudahi Terapi yang sudah pada batas waktunya, lalu segera keluar menuju ke ruang istirahat yang ada di luar.


"Sudah selesai?" Tanya Afita.


"Iya kak, kita bisa pergi sekarang" sahut Naura.


"Oke, Fian pasti sudah menunggu" ucap Afita, laku segera mendorong kursi roda Naura menuju pintu lif yang masih tertutup rapat.


Sementara Firman begitu tak tenang, percakapan dengan direktur rumah sakit kini begitu cepat, dan satu tujuan Firman saat ini, adalah menyelesaikan rasa penasarannya.


"Bisakah saya melihat data pribadi pasien yang tadi terapi?" Tanya Firman.


Aneh memang tatapan mereka semua, seolah menyiratkan tanda tanya besar disana, namun permintaan seorang perwakilan dari pusat seperti Dokter Firman tentu saja tak bisa di biarkan begitu saja.


Hingga satu buah Asip sudah diambilkan, Firman perlahan membuka dan menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.


"Benarkah ini?" Tanya Firman dalam hati dan terus membuka satu persatu isi Arsip yang sudah ada dalam tangannya.


Jangan lupa VOTE di hari Senin ini ya.


Bersambung.