
Afita telah tiba di rumahnya, di saat yang sama Raja sedang berjalan hendak menutup pintu yang masih terbuka.
"Afita?" Ucap Raka setelah menjawab salam.
"Paman?, Apa Fian baik-baik saja?" Tanya Afita tampak cemas.
"Iya, memangnya kenapa?" Sahut Raka.
"Tidak ada Paman, syukur lah kalau begitu" Afita segera menuju kamar sang anak telah tertidur pulas.
"Syukurlah" ucap Afita lagi, lalu kemudian menutup pintu kamar Fian kembali.
Ketika Afita hendak pergi masuk ke dalam kamarnya sendiri, Raja menghampiri.
"Tunggu, kamu dari mana saja sampai pulang larut malam seperti ini?" Tanya Raka penasaran.
"Maaf paman, nanti aku ceritakan lagi, aku membersihkan badan dulu" jawab Afita.
Raka mengangguk, melanjutkan langkah untuk menutup pintu karena sudah menunjukkan jam sembilan malam.
Naura ikut keluar dari kamar setelah melihat Fian yang sudah tertidur dengan pulas.
"Kak Afita sudah pulang paman?" Tanya Naura.
"Hem, baru saja" sahut Raka yang kini duduk di kursi tengah sambil menghidupkan laptop untuk mengontrol perkembangan perusahaannya.
Tak lama kemudian, Afita sudah keluar menuju ke dapur, rasa lapar di perutnya sangat terasa, hingga akhirnya mengisi perut dengan sisa makan malam yang masih ada.
Naura hanya mengamati apa yang di lakukan oleh Afita, begitu juga dengan Raka yang sempat beberapa kali melihat Afita yang kini dengan tenang sedang menyantap makanannya.
Setelah itu, Afita segera bergabung di ruang tengah untuk menyapa Raka dan juga Naura.
"Maaf aku pulang terlambat" ucap Afita.
"Dan sepertinya kakak begitu kelaparan, memangnya dari mana saja sampai tidak sempat makan?" Tanya Naura.
"Aku bertemu Zafian" ucap Afita dengan serius menatap Raka.
DEG.
Sejenak semuanya terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"Tunggu, maksud kakak, Tuan Zafian?" Sahut Naura yang nampak begitu terkejut.
Begitu juga dengan Raka yang seketika menghentikan pekerjaannya, menutup laptop perlahan, lalu menatap Afita dengan Serius.
"Kalian berbincang?" Tanya Raka.
"Heh" Afita menghela nafas, "lebih tepatnya Zafian membawaku dengan paksa Paman" lanjut Afita.
"Apa?!" Seru Naura dan Raka bersamaan.
Kemudian Afita menceritakan kronologis pertemuan hingga akhirnya Zafian membawa Afita dengan Paksa karena tidak ingin kehilangan lagi.
"Sebaiknya aku segera mencari tempat yang aman untuk Fian, itu yang terpenting saat ini" ucap Raka.
"Iya paman, dan satu lagi, aku tidak menceritakan keberadaan Fian, takut Zafian akan berbuat nekad dan tak bisa mengendalikan dirinya" sahut Afita.
Tentu saja Naura masih bingung dengan perbincangan dua orang di depannya yang sangat tidak bisa dimengerti olehnya.
"Tunggu, apa ada yang tidak aku ketahui Kak?" Tanya Naura.
Raka menatap mata Afita, seolah menyiratkan kata bahwa sebaiknya Naura bisa di beri tahu mulai sekarang, mengingat keadaan sangat membahayakan bagi Fian.
"Begini Nau, Fian punya kekuatan supranatural yang dimiliki dari gen kedua orang tuanya" ucap Afita.
"Astaga, kenapa kak Afita tidak memberi tahuku, tapi bukankah itu sesuatu yang baik?" Tanya Sofia.
"Apa?!, Maksudnya kekuatan yang membahayakan bagaimana kak?" Tanya Naura yang semakin tak mengerti.
"Tenaga supranatural Fian di dominasi oleh kekuatan hitam" Jelas Afita lagi.
DEG
Naura langsung di buat melongo oleh penjelasan Afita yang baru saja didengarnya, dan kembali Afita menceritakan semuanya hingga membuat Naura semakin terkejut.
"Lalu, kita harus bagaimana?" Tanya Naura yang kini ikut bingung dengan keadaan Fian, bocah yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Aku akan membawa Fian sementara waktu, dia sudah terbiasa denganku, dan kau Afita, sebaiknya selesaikan masalah dengan Zafian, aku yakin dia akan mengerti, sebelum semuanya akan terlambat" sahut Raka dengan serius.
"Tapi Paman, aku takut Zafian tidak mempercayai ku, dan dia berbuat nekad dengan tetap mencari Fian yang akhirnya akan membahayakan banyak orang" sahut Afita yang terus terang masih trauma akan kisah masa lalu.
"Semua terserah padamu, ikuti kata hatimu, Zafian pasti mengerti, dan tentang Naura, aku berharap kau juga menceritakan semuanya, mungkin dengan begitu ingatannya akan pulih kembali" ucap Raka.
"Tentangku, ingatanku, ada apa denganku kak?" Sahut Naura yang kini semakin penasaran.
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskan sekarang Naura, karena_"
"Aku akan pergi malam ini juga dengan Fian, dia akan menjadi urusanku, aku yakin sekali Zafian sudah melacak mu dan itu bukan hal sulit dilakukan saat ini" sahut Raka merasa tidak ada waktu lagi untuk segera pergi.
Semua segera bersiap, untuk menghilangkan jejak, tentu saja Afita dan Naura tidak bisa ikut dengan Raka dan juga Fian, bahkan untuk menjaga kemungkinan yang terjadi, Raka sengaja tidak memberi tahukan keberadaannya untuk sementara waktu.
Malam itu juga, Afita harus merelakan jauh dari sang putra tercinta, Fian yang sudah di berikan penjelasan yang masuk ke logikanya segera mengangguk patuh, Raka dan Afita juga merasa lega, hingga kepergian keduanya tidak begitu dramatis seperti yang di bayangkan.
Menjelang pagi, Afita masih belum juga bisa tertidur dengan benar, merasa dadanya begitu sesak mengingat perpisahan yang terlalu cepat dengan putra satu-satunya.
"Kak, apa kakak baik-baik saja?" Tanya Naura.
"Hem, aku tidak apa-apa" sahut Afita.
"Kuatkan hatimu kak, dan aku akan selalu ada di sampingmu, maaf kalau dengan keterbatasan ku kak Afita kadang malah kerepotan" ucap Naura.
"Tentu saja tidak, justru aku yang selalu merasa berdosa padamu, semua musibah yang kamu alami adalah karena keluargaku" sahut Afita dengan menggenggam tangan Naura.
"Maksud kakak?" Tanya Naura yang terkejut dengan penuturan Afita.
"Maaf,aku akan berkata jujur padamu, ada waktu satu jam sebelum aku berangkat, dan aku harap kau tidak membenciku setelah aku beritahukan semuanya" ucap Afita.
"Baik, katakan saja kak"
Afita menghela nafas panjang, lalu kemudian perlahan menceritakan rentetan kejadian di asa lalu yang mengakibatkan Naura lumpuh sampai sekarang, sontak Naura terkejut, lalu memegangi kepalanya yang terasa pusing karena berusaha untuk mengingat semuanya.
"Jangan paksa dirimu, untuk itulah aku minta maaf padamu Naura, maafkan aku tidak bisa menjagamu dan justru keluargaku sendiri yang mencelakai mu" ucap Afita.
"Kak, aku tidak akan berusaha untuk mengingat semuanya, tapi aku tau, Tuan Zafian tidak senagaja melakukan hal itu bukan?" Tanya Naura.
Afita hanya tersenyum, teringat cerita bagaimana banyaknya orang yang terbu-nuh oleh aksi Zafian saat itu,
"Sekali lagi maafkan aku Naura" ucap lirih Afita lagi.
Naura memeluk Afita, keduanya menangis seolah menumpahkan semua beban hati dan pikiran selama ini.
Namun tak lama kemudian , tiba-tiba saja sebuah suara yang tak asing mengucapkan salam sebelum akhirnya memanggil sebuah nama.
Afita terkejut, segera menghapus air mata dan merapikan kembali makeup di wajahnya, lalu kemudian berjalan untuk membuka pintu perlahan.
Ceklek
Kini kedua mata itu bertatapan dengan dalam, dan segera Afita memutuskan pandangan dengan menghela nafas panjang.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.