ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 66



Naura yang sudah masuk sambil menunjuk-nunjuk handphone di tangannya segera melesat membawa ke pemilik aslinya.


"Siapa?" Tanya Afita penasaran, saat Naura sudah membawa handphone miliknya yang tertinggal di ruangan Naura sedari pagi.


"Mommy anda Nona" sahut Naura dengan tatapan yang sulit di artikan.


"What?" Afita mau tak mau harus beralih menerima panggilan Reyna.


"Yes Mom?" Ucap Afita.


"Mommy tidak mau tau, selesaikan masalahmu segera, jangan sampai membawa-bawa nama keluarga, kita harus menyembunyikan identitas, bahaya ada dimana-mana sayang, lagian kenapa juga kamu berpelukan mesra seperti itu dengan laki-laki selain suamimu, jangan menambah masalah saja!" Omelan sang mommy terdengar jelas dalam telinga.


"Oh my God, Mom?, Dia adalah Ethan, Come on" sahut Afita memberikan pengertian.


"What!, Ethan?" Ucap Reyna terkejut.


"Iya Mom, mangkanya dengarkan dulu penjelasan ku, dan Zafian juga sudah mengusut masalah ini, sekarang keadaan sudah bisa dikendalikan, Mommy tenang saja" Afita menjelaskan.


"Benarkah?, Syukurlah kalau begitu, jangan sampai aku dan Daddy mu harus ikut campur, karena di saat itu terjadi, kalian harus pindah ke Jakarta, mengerti?" Ucap Reyna.


"Siap Mom, akan segera aku bereskan" jawab Afita.


Zafian masih terdiam, sedangkan Naura sudah berpamitan sejak tadi, masih mendengarkan apa yang di perbincangkan sang istri, zafian di kejutkan dengan sebuah pesan dari anak buahnya yang sudah menemukan dalang kekacauan yang timbul saat ini.


Segera Zafian menepi, tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang berbincang.


"Apa kau yakin?" Tanya Zafian dalam telepon.


"Iya Tuan, semua bukti ada pada saya saat ini, mungkin perlu saya kirim sekarang juga pada anda?"


"Okay, kirim sekarang" sahut Zafian, lalu kemudian menutup kembali handphone nya, terlihat Afita juga baru saja menyelesaikan perbincangan dengan Mommy nya.


"Ada apa?" Tanya Afita saat suaminya semakin dekat.


"Aku menemukan siapa yang membuat kekacauan ini"


"Oh ya, siapa?" Tanya Afita penasaran.


"Eliza, tinggal sedikit lagi semua bukti ada di tanganku, dan saat itu, kita akan menghadapinya bersama-sama " ucap Zafian dengan tatapan menembus jendela kaca yang ada di depannya, sungguh sebenarnya dirinya tidak pernah menyangka masalah dengan mantannya akan sejauh ini.


*


Sementara itu di sebuah Mansion terlihat seorang wanita tertawa dengan keras, rupanya Eliza sedang menikmati kesenangan hatinya karena telah berhasil membuat sebuah berita yang mengguncang ketenangan Afita.


"Rasakan kau wanita Bre-ng-sek!" Umpatnya ditengah-tengah rasa marahnya.


Namun di sebuah Rumah Sakit, Edric tampak cemas melihat apa yang telah di perbuat oleh anaknya.


"Jadi ini benar perbuatan Eliza?" Tanya Edric kepada salah satu anak buahnya saat melihat berita tentang Afita.


"Benar Tuan"


"Sh-it!, Anak itu benar-benar ceroboh, aku sudah menyuruhnya untuk menjauh sementara waktu dari Zafian dan istrinya, tapi apa yang dilakukan, dia malah mencari masalah sebesar ini"


"Lalu, apa yang harus saya lakukan Tuan?"


"Apa kalian belum bisa menghubungi anak laki-laki ku?" Tanya Edric.


"Belum tuan, namun ada pengawal khusus yang sudah di perintahkan untuk menuju ke sini, dan Tuan muda akan datang menyusul setelah urusannya selesai"


"Hem, bagus, setidaknya aku sedikit tenang, pastikan keselamatan Eliza, dan siapkan pasukan hukum untuk melindunginya, aku yakin sebentar lagi Zafian tidak akan tinggal diam"


"Baik Tuan, dan yang saya dengar, Tuan Zafian sudah berhasil mencari bukti keterlibatan Nona Eliza akan kasus istrinya"


"Oh ya, secepat ini?, Rupanya anak itu sudah berubah menjadi singa, cengkeraman pengaruhnya semakin kuat, tapi sayang, dia berani membangkang, dan bahkan menyerang ku, dia harus segera dilenyapkan"


"Maksud Tuan?" Tanya sang pengawal yang terkejut akan perkataan majikannya, pasalnya yang dia tau, Zafian adalah salah satu orang kesayangannya dari dulu.


Tidak ada jawaban dari Edric yang masih terbaring karena luka-luka di tubuhnya yang belum pulih, dan kemudian menyuruh anak buahnya untuk segera keluar dan melakukan tugas yang diberikan.


**


Bukti sudah didapatkan oleh Zafian, dirinya segera ingin bertemu dan memberikan pelajaran kepada Eliza yang sudah berani mengumbar berita tidak benar dan membahayakan identitas istrinya.


Berjalan masuk di sebuah Apartemen milik Eliza, menahan geram dan emosi di wajah Zafian, dan akhirnya kini dirinya sudah berada di depan Eliza yang tengah santai menyambutnya.


"Tidak usah menghinaku, bagaimana dengan kelakuan mu sendiri" sahut zafian, lalu melemparkannya sesuatu.


Brak


Beberapa bukti foto dan data-data keterlibatan Eliza akan berita yang disebarkan tergeletak diatas meja, Eliza terkejut, tidak menyangka kalau dirinya akan terlacak secepat ini oleh Zafian, bahkan dia masih ingin menikmati kesengsaraan Afita menghadapi berita yang masih menyudutkannya.


"Jangan kau kira aku akan mundur untuk menghancurkan istrimu, dia sudah berani menyentuh papaku, dan itu tidak akan pernah aku lupakan, dia harus membayar mahal!" Teriak Eliza.


"Bagus, akhirnya kau mengakui semuanya, sebentar lagi kita akan bertemu di pengadilan, aku pastikan kau akan menyesal sudah berani mengusik istriku" ucap Zafian bersiap pergi, namun apa yang dilakukan oleh Eliza sangat mengejutkan.


"Jangan macam-macam Eliza, pakai kembali bajumu dan buka pintunya!" Teriak Zafian.


"Kenapa hem, apa kau mulai merasakan sesuatu, bukankah kau dulu sangat suka menyentuh kulitku?"


"Kau benar-benar wanita yang menji-jikan dan tidak tau malu!" Ucap Zafian semakin mundur, menekan handphone dan menyambungkan ke nomor kontak istrinya, tanpa di ketahui oleh Eliza yang masih terus maju.


Pantang bagi Zafian untuk menyakiti wanita secara fisik, dan itu membuatnya menahan diri dan terus menghindari Eliza, hingga kemudian terdengar suara bel Apartemen berbunyi.


Terlihat Zafian begitu lega, berharap yang datang adalah Afita, sementara Eliza memakai kembali bajunya dan mengumpat, lalu pergi ke arah pintu untuk melihat siapa yang telah menganggunya.


Niat hati ingin mengintip siapa yang ada didepan pintunya saat ini, namun dirinya terkejut dan hampir saja terjengkang saat pintunya terbuka dengan keras dan mengenai tubuhnya.


"Kau_!" Ucap Eliza terkejut dengan sosok yang ada didepannya saat ini.


"Sorry, aku sedikit terlambat datang kesini, dan aku mendengar kau sudah membuat ulah dengan suamiku, jadi_, jangan salahkan aku kalau aku terpaksa mendobrak pintu mu"


Tak lama kemudian datang beberapa pengawal di belakang Afita.


"Jangan sampai kami menghancurkan tempat ini juga" teriak Zafian memperingatkan.


"Mundur! Biarkan mereka pergi!" Teriak Eliza dengan senyum miringnya, kembali berdiri dan melangkah masuk melewati Zafian begitu saja.


Ada sedikit rasa aneh akan tatapan Eliza dimata Zafian, bahkan terlihat sekilas seringai yang tidak bisa di mengerti.


"Kita pergi dari sini sayang" ucap Zafian.


Afita menyambut gandengan tangan suaminya, ikut berbalik dan keluar dari Apartemen Eliza, dan kembali ke tempat kerja masing-masing adalah tujuannya.


"Aku akan naik mobil bersama dengan Naura" ucap Afita berhenti sejenak.


"Kenapa tidak ikut bersamaku?" Tanya Zafian.


"Ada yang harus aku kerjakan, aku lanjut bertemu dengan klien yang, untuk saat ini membangun kepercayaan sangat penting, mengingat kabar tentang diriku yang sangat kacau karena ulah wanita itu" ucap Afita.


"Aku tau, pergilah dan hati-hati, aku pastikan masalahmu akan segera terselesaikan sayang, jangan khawatir" sahut Zafian, disambut dengan senyuman.


"Soal Eliza sudah bisa ditangani bukan, atau aku harus ikut membantu?" Tanya Afita memastikan.


"Tidak perlu sayang, pergilah" jawab Zafian.


Lalu kemudian keduanya berpisah, Zafian bersama dengan sopir dan satu pengawalnya, sedangkan Afita pergi bersama dengan Naura.


Dalam perjalanan semua masih nampak tenang, hingga kemudian sopir Zafian merasakan sesuatu, beberapa kali menginjak rem untuk mengurangi kecepatan, tapi nyatanya tidak berpengaruh apa-apa, laju mobil masih tetap sama bahkan di belokkan begitu kencang terasa.


"Ada apa?" Tanya Zafian merasa terkejut.


"Maaf pak, sepertinya rem mobil kita blong"


"Apa?!" Sahut Zafian cepat.


Detik selanjutnya semua tampak panik, sementara laju mobil bertambah kencang di jalan menurun, pengawalnya sempat kebingungan bagaimana harus melindungi zafian.


Tidak mungkin untuk melompat dalam kecepatan sekarang ini, itu sama saja dengan bunuh diri, ketiganya hampir berteriak bersama, pasrah akan apa yang terjadi karena semua begitu cepat, hingga kemudian dikejutkan dengan sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.


Terlihat Seseorang mengeluarkan pancaran cahaya putih dan menyilaukan dari salah satu tangannya, berada tepat di depan mobil Zafian yang kini sudah tertahan lajunya.


"Ya Tuhan, apa itu!" Teriak sang sopir dengan mata terbelalak.


Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA juga ya. (Hari ini Update 2 kali)


Bersambung.