
Naura baru saja memasuki pintu lift, dan dikejutkan dengan sosok yang kini sudah tersenyum senang.
"Kak Afita?" Tanya Naura.
"Hai sayang, kita bertemu lagi, kejutan untukmu" ucap seorang wanita yang sudah menarik tangan Naura untuk segera masuk.
"Kejutan?" tanya Naura masih bingung.
"Yes"
"Maksud kak Afita?"
"Aku bekerjasama dengan perusahaan mertuamu" sahut Afita.
"Oh my God, terimakasih kak, dan itu artinya kita akan sering bertemu?" tanya Naura begitu senang.
"Mungkin saja, hari ini ada rapat bukan?, aku sengaja datang untuk menambah sahamku juga, aku yakin dengan kemampuanmu perusahaan ini akan semakin berkembang pesat" ucap Afita.
"Sekali lagi terimakasih kasih kak, perusahaan kita memang saat ini sangat membutuhkan partner kerja" jawab Naura.
"Aku tau dan sudah beberapa hari lalu kami memikirkan hal itu, kamu akan dikejutkan lagi dengan kedatangan seseorang nanti" Ucap Afita.
"Maksud kakak, akan ada lagi perusahan yang akan bergaung dengan perusahaan ini?" tanya Naura.
"Hem"
"Boleh aku tau?" Tanya Naura penasaran.
"Itu kejutan, nanti kau akan tau sendiri, sayang sepertinya dia belum datang, dan mungkin akan sedikit terlambat" jawab Afita.
lalu Naura dan Afita keluar dari pintu lift menuju ruang rapat yang pintunya masih terbuka lebar, memasuki ruangan nampak beberapa orang yang hadir di sana.
Naura menyiapkan semua keperluan yang akan disampaikan dalam rapat penting para pemilik perusahaan lain yang melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja.
Tak lama kemudian datang sosok wanita yang membuat Naura sangat terkejut.
"Bu Farah?" Ucap Naura.
"Rupanya hari ini banyak sekali kejutan untukmu Naura" ucap Afita yang tersenyum di sampingnya.
"Kakak tahu akan kedatangan Ibu Farah?" tanya Naura.
"Kalau yang ini sungguh aku tidak tahu sama sekali" jawab Afita.
"Oh my_, sebagai menantu aku bahkan tidak tahu apa-apa, Bagaimana ini kak?" tanya Naura nampak cemas.
Afita tertawa, melihat Naura yang nampak panik dengan dirinya sendiri, "Hei sudahlah, mungkin tante Farah sengaja melakukan hal itu untuk membuat kejutan untukmu" ucap Afita.
"Tapi Kak, bukankah aku seharusnya menyambut kedatangannya" jawab Naura.
Naura masih belum keluar dari zona terkejut karena kedatangan Ibu mertuanya, kini dirinya melongo melihat seorang laki-laki memasuki ruangan itu dan menuju di samping afita.
"Surprise!" Ucapan seseorang itu membuat Naura seketika mengedipkan matanya.
"Kenapa kak Reno ada di sini?"
"Ck, seharusnya kamu senang melihatku, bukannya malah bertanya seperti itu" jawab Reno.
"Oh maaf Kak, tapi apa yang kakak lakukan di sini, jangan bilang hanya ingin menggangguku saja"
Reno tertawa dan tentu saja mengagetkan orang-orang yang sudah ada disana, hingga kemudian Afita memukul lengannya dan membuatnya terdiam.
"Ups, Sorry_" ucap Reno.
"Ini kejutan yang aku maksud Naura" ucap Afita memberitahu.
"Jadi_, kak Reno juga ikut bergabung di perusahaan ini?" tanya Naura memastikan.
"Tentu saja, prospek perusahaan sangat menjanjikan, sedikit memanfaatkan keluarga sendiri untuk meraih banyak keuntungan tidak salah bukan?" jawab Reno.
"Ck, kau ini!" Sahut Afita.
"Terima kasih semuanya, Aku sangat senang ada Kak Afita dan juga Kak Reno di perusahaan ini" ucap Naura dengan senang.
"Tapi ingat, kau harus bekerja keras, jangan sampai perusahaan tidak mendatangkan keuntungan apapun bagi kita" ucap Reno.
Afita pun ikut tersenyum, Naura menatap Afita dengan sangat bahagia begitu juga dengan Reno yang kini ikut merasa lega karena kontrak kerjasamanya mendapat sambutan yang baik dari pemilik perusahaan yang tak lain adalah ibu dari Firman.
Rapat pun segera berlangsung, Farah tidak sempat menyapa Naura secara dekat, ditakutkan akan ada perbincangan yang tidak mengenakkan kalau sampai memperlakukan Naura lebih dari biasanya.
Selesai melakukan meeting, Farah tidak membiarkan Afita dan Reno pergi begitu saja.
"Ayo silakan masuk" ucapan setelah membuka ruang kerjanya.
"Terima kasih Tante" ucap Afita sekaligus mewakili Reno.
Naura pun ikut bergegas masuk dan menyerahkan beberapa berkas dari hasil meeting yang baru saja dilakukan.
"Maaf Bu ini hasil dari meeting tadi" ucap Naura dengan hormat.
"Jangan memanggilku dengan formal kalau tidak ada siapapun di sekitar kita sayang, apa kamu lupa kalau aku Mommy dari suamimu?" Ucap Farah sambil tersenyum.
"Ma-maaf Mom" jawab Naura kemudian terlihat Afita dan Reno juga tersenyum.
"Kemarilah duduk di dekatku, Aku ingin memelukmu dan berterima kasih karena mau menerima Firman sebagai suamimu" ucap Farah.
Tentu saja Naura terkejut mendengar perkataan Ibu mertuanya, dirinya bisa merasakan betapa Farah sangat menyayanginya.
"Maaf Mom, seharusnya saya yang berterima kasih, karena Mommy dan keluarga bisa menerima saya yang hanya_"
"Kamu adalah keluargaku sama berharganya dengan keberadaan Firman, dan aku tidak mau mendengar lagi kamu merasa rendah diri di hadapan kami, melihatmu bisa membahagiakan Firman bagi kami suatu berkah yang tidak bisa dibayar dengan apapun" sahut Farah sebelum Naura melanjutkan ucapannya.
Berakhir dengan perbincangan, di ruang itu lebih terasa dengan keluarga sendiri, karena sebenarnya apa yang terjadi memang demikian.
"Aku ingin menjadikan Naura direktur kedua, Bagaimana pendapat kalian?" Ucap Farah dan tentu saja membuat Naura sangat terkejut.
"Tapi Mom, ini terlalu cepat, dan saya masih beberapa bulan bekerja di perusahaan ini, apa nantinya tidak akan menimbulkan masalah, saya merasa tidak enak hati dengan yang lain" jawab Naura.
"Aku rasa itu tidak masalah sayang, kemampuanmu dan juga pendidikanmu yang sangat tinggi sudah menjadikanku alasan kuat untuk melakukan hal itu" ucap parah.
"Aku rasa hal itu cukup masuk akal, melihat bagaimana pengalaman kerjamu dulu bersama dengan Afita, aku yakin kamu mampu dan untuk saat ini hal itu adalah jalan terbaik, bukankah tante Farah tidak akan menetap di sini?" Tanya Reno.
"Dan tentunya hal itu membuat kondisi perusahaan tidak kondusif jika tidak ada orang yang ditunjuk untuk menggantikan tante Farah" ucap avita.
"Itu yang aku khawatirkan" jawab parah.
"Tapi bukannya Mommy sudah mengangkat seseorang untuk menggantikan kedudukan selama tidak ada di sini?" Naura mengingatkan.
"Aku tahu, dan tentu saja Mommy tidak akan mengganti jabatan itu, hanya saja kamu tetap menggantikanku di perusahaan ini saat aku tidak ada, berharap bisa mengontrol semuanya tanpa harus aku kerepotan di sana" ucap Farah menjelaskan maksudnya.
"Kalau memang demikian, saya setuju dengan pendapat tante Farah, Naura adalah orang yang tepat untuk hal itu, karena saya sangat tahu bagaimana kerjanya waktu dulu bersamaku tante" sahut Afita memberikan pendapatnya.
"Syukurlah kalau begitu, aku bisa bernafas dengan lega, aku juga berpesan padamu sayang, hati-hatilah kemanapun kamu pergi, karena pesta pernikahan kalian tiga minggu lagi akan digelar" ucap suara sambil tersenyum bahagia.
"Secepat itu Mom?, Bukankah yang terakhir saya dengar dipersiapkan satu atau dua bulan lagi?" tanya Naura terkejut.
"Itu terlalu lama, yang aku takutkan perutmu sudah membesar saat pernikahan kalian jika terus di tunda, aku tahu betul Bagaimana firman ingin memakanmu setiap hari" sahut Reno tanpa basa basi.
"Kak Reno!" Naura merasa kesal bercampur malu akan perbuatan Reno.
Sementara Farah dan Afita saling pandang lalu kemudian ikut tertawa.
"Tidak masalah sayang, kamu aku izinkan untuk menambah anggota keluarga Hamid sebanyak mungkin" lalu memeluk Naura dengan erat.
"Beruntung sekali kamu Nau, dan aku berharap akan segera mendapatkan mertua seperti tante Farah" ucap Reno.
"Lalu kau akan mengerjai istrimu sampai hamil berulang kali itu maksudmu?" sahut Afita.
"Tentu saja"
PLAK
"Sh-it!!, Kenapa kau memukulku Afita?!" Teriak Reno sambil mengusap pelan lengannya yang terasa panas.
"Perkataanmu seolah Wanita hanya pencetak keturunan saja, kamu pikir tidak ada resiko yang ditanggung jika perempuan melahirkan banyak anak tanpa harus diperhitungkan?, dasar" sahut Afita.
Kini berganti Farah dan Naura yang tertawa melihat kelakuan dua orang yang ada di depannya.