
Masih dengan tatapan tajam dan rasa penasaran, baik Aftan maupun Evan menunggu penjelasan wanita muda yang ada didepannya.
Ailina menarik nafas dalam, lalu memejamkan mata sejenak. "Ada yang tumbuh dalam rahim kak Afita, anggota keluarga baru kita, namun dia sangat lemah saat ini"
Aftan seketika terduduk lemas, sementara Evan menggeleng tak percaya kalau Afita harus mengalami hal ini.
"Lalu apa yang akan terjadi?" Tanya Evan mengantisipasi.
"Aku tidak tau pasti kak, Janin ini bisa bertahan atau tidak, hanya saja_"
"Apa?" Sahut Aftan masih dengan wajah cemasnya.
"Semakin dia lemah, kekuatan tenaga dalam sangat dia butuhkan untuk membuatnya bertahan" sahut Afita.
"Jadi, semakin dia menyerap tenaga dalam kita dengan kuat, itu pertanda dia sedang dalam kondisi sangat lemah?" Tanya Evan.
"Seperti itulah" jawab Ailina.
"Dan bisa di pastikan dia saat ini dalam keadaan berbahaya bukan, Janin ini sedang berada di antara hidup dan mati" ucap Aftan sambil membungkus muka dengan kedua telapak Tangannya.
"Tidak!"
Suara teriakan di balik pintu mengagetkan ketiganya, rupanya Bunda Anita baru saja sampai dan mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Bunda?" Ucap Ailina menatap nanar.
"Aku mohon, kalian adalah orang-orang istimewa, selamatkan cucuku, aku mohon" bunda langsung ambruk dan bersimpuh.
"Apa yang bunda lakukan?!" Ailina sangat terkejut dan langsung membantu Anita untuk berdiri dan duduk di sisinya.
"Selamat kan mereka" ucap Anita lirih dan masih tidak bisa menahan tangisnya.
"Bunda tenanglah, kami akan melakukan yang terbaik" ucap Evan sambil mengusap punggung Anita untuk menenangkan.
Sambil memikirkan apa yang harus dilakukan, baik Aftan, Evan dan Ailina bergantian memberikan tenaga dalam untuk memperkuat kondisi tubuh Afita.
Sementara itu, Naura terduduk di sofa tengah, tak sengaja mendengar semua cerita yang mengalir begitu saja, sungguh dia merasakan sakit dengan kondisi Afita saat ini.
Menangis dan berdoa untuk keselamatan Afita dan sang bayi, dilakukan oleh Naura dengan hati terdalamnya, "Aku sudah kehilangan ibuku, aku mohon ya Allah, selamatkan mereka berdua" ucapnya lirih dalam tangisnya.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Seseorang yang mengagetkan Naura.
"Dokter,?" Ucap Naura setelah menoleh dan menyadari ada Firman sudah berdiri di belakangnya.
Brug
Seolah menemukan tempat untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak melihat keadaan Afita, Naura langsung menghempaskan tubuhnya di dada bidang Firman.
Sang Dokter terkejut sesaat, lalu merasakan tubuh Naura sedikit terguncang dalam tangisan, tangan yang semula berdiam akhirnya bergerak dengan sendirinya untuk merengkuh dan mengusap perlahan di punggung Naura untuk memberikan ketenangan.
"Apa yang terjadi, aku lihat di kamar utama ada beberapa orang selain Bunda, ada apa?, Siapa mereka?" Tanya Firman dengan pikiran yang sungguh tak tenang.
"Saya tidak tau, mereka datang kapan, setiba kita disini dan saat dokter membersihkan diri, kami melewati kamar dan tidak sengaja mendengar apa yang mereka bicarakan" Naura mulai memberikan penjelasan.
"Tunggu, mereka?, Siapa?" Tanya Firman makin penasaran.
"Saudara Nona Afita, yang aku kenal hanya tuan Aftan kakaknya, satu wanita dan laki-laki yang aku tidak mengenal sama sekali juga ada di sana, mereka mengatakannya keadaan Nona Afita sedang_" penjelasan Naura terpotong dengan Isak tangis yang semakin menjadi.
Tentu saja Firman semakin bingung, lalu mengajak Naura untuk duduk kembali, memberikan minum air putih agar Naura lebih tenang, dan sesuai yang di harapkan, kini Naura bisa melanjutkan ceritanya kembali.
"Nona Afita terluka"
"What!, Bagaimana bisa!, Terakhir yang kita lihat, Afita dalam keadaan baik-baik saja disana bukan?" Ucap Firman penuh heran.
"Saya juga tidak tau, Dokter dan saya datang bersama di Mansion ini, lalu kami melihat Nona Afita terbaring dengan tubuh yang terlihat begitu pucat, mereka mengatakan Racun itu sangat kuat, dan _"Naura terdiam kembali tidak melanjutkan.
"Apa, kenapa kau tidak melanjutkan?" Tanya Firman.
"Keadaan Janin di dalam tahun Nona Afita juga sangat lemah karena racun yang ada dalam tubuh Nona Afita" ucap Naura.
Firman sangat terkejut, namun lebih dirasakan lagi ketika sosok laki-laki tengah shock mendengar apa yang di bicarakan.
"Janin?" Suara itu membuat keduanya langsung menoleh serempak dengan keterkejutannya.
"Zaf?"
"Tuan Zafian?"
Ucap Firman dan Naura hampir bersamaan.
Zafian hanya terdiam menatap Firman, lalu berlari menuju lantai atas tanpa peduli apapun lagi, saat ini hanya sang istri yang ada dalam tujuannya.
Brak
Pintu terbuka sedikit kasar, sontak semua yang ada dalam kamar terkejut, Bunda Anita langsung berdiri was-was, Evan menatap Zafian dengan tatapan yang tak kuasa untuk menjelaskan, Ailina menyeka air matanya yang tak sengaja hampir menetes, sedangkan Aftan masih terdiam di tempatnya.
"Afita, apa dia hamil?" tanya lirih Zafian.
Anita masih berdiri tanpa suara, dan hanya Ailina yang akhirnya membuka mulutnya.
"Iya, ada calon penerus kak Zafian di dalam rahim kak Afita"
Bagaikan sesuatu yang menyambar keras dan menghantam jantungnya, saat Ailina dengan tegas menjelaskan, Zafian perlahan maju dan menghampiri sang istri yang tergeletak tak berdaya.
"Maaf, aku minta maaf, Maafkan aku sayang" ucap Zafian yang kini tertunduk dan menciumi tangan istrinya.
Bunda menangis, perlahan keluar kamar tak kuasa melihat luka yang begitu dalam tampak di putra satu-satunya, Naura segera menyambut sang Bunda dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk menenangkan.
Sedangkan Evan, memegang bahu Zafian yang terguncang karena tangisan, "Tenanglah Kak, kita lakukan yang terbaik, semoga Ailina bisa mengatasinya"
"Aku akan terus melakukan pemeriksaan, sejauh mana racun ini bisa aku netral kan, tapi aku tidak bisa melakukan dengan cepat, ada Anin yang masih lemah dan perlu ku jaga keselamatannya" sahut Ailina.
Zafian masih tidak melepaskan tangan Afita, menggenggamnya erat seolah tak mau terpisah, lalu perlahan mengusap perut Afita dengan lembut." Aku mohon, bertahanlah sayang, aku tau, kamu pasti sehebat Mommy mu" ucap Zafian lirih.
Aftan yang masih kesal dan ada rasa marah dengan Zafian segera keluar menerima sebuah panggilan dari ponselnya.
Rupanya Alex kuat merasakan apa yang terjadi dengan putrinya, begitu juga dengan Reyna yang sudah sesenggukan saat Aftan menjelaskan kondisi Afita saat ini.
Sambungan segera di sudahi okeh Aftan saat orang tuanya segera bersiap menuju Kota Surabaya hari ini juga.
Ailina sudah berdiri di belakang Aftan tanpa disadari.
"Daddy dan Mommy akan segera kesini?" Tanya Ailina mengagetkan Aftan yang masih berdiri membelakangi, lalu segera berbalik.
"Hem, secepatnya" jawab Aftan.
"Maaf, aku tidak bisa membantu kak Afita secepat biasanya" ucap Ailina.
"Aku tau, kamu pun masih mencari cara untuk tidak berakibat fatal dengan bayi yang ada dalam kandungannya bukan?" Sahut Aftan yang sesungguhnya masih merasakan getaran saat berdekatan dengan Ailina.
"Iya, aku masih berusaha, dan aku berharap sesuai rencanaku, cara yang aku pakai tidak melukai salah satunya, karena racun ini sangat unik, dia di buat dalam aliran darah seseorang yang juga mempunyai tenaga dalam" Ailina menjelaskan.
"Harusnya ini tidak perlu terjadi kalau saja Zafian _"
"Jangan menyalahkan kak Zafian, dia juga sangat terluka saat ini, apa yang terjadi dengan kak Afita tidak mungkin diinginkan oleh suaminya" sahut Ailina yang menyadari bahwa Aftan masih kesal dengan Zafian.
Keduanya saling menatap, namun seperti biasa, Aftan tidak akan pernah mampu berlama-lama berada dalam pengaruh mata biru nan indah milik wanita cantik yang tak lain adalah sepupunya.
"Jangan menatapku, atau aku tidak akan bisa lagi melepaskan mu!" Ucap Aftan, dan berlalu pergi untuk menghindar.
"Hehh.. lalu aku harus bagaimana saat bicara kalau tidak menatap, kenapa mataku selalu membuat repot banyak hati orang, aku bahkan bingung sendiri, ini sebuah keistimewaan atau cobaan, menyebalkan" ucap lirih Ailina yang kini juga berjalan masuk ke dalam kamar.
Dan sosok laki-laki tengah terperanjat melihat Ailina berjalan masuk dan menatapnya sejenak.
Terimakasih kepada semua readers yang sudah memberikan dukungan hingga Novel Author masuk sepuluh besar Rangking Hadiah.. jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.