
Sekitaran pukul sebelas malam, Zafian terbangun dari tidurnya, dilihatnya sang istri tercinta masih memejamkan mata dengan nyaman di sampingnya.
Zafian kembali tersenyum, merapikan rambut yang menjuntai di pelipis Afita, lalu mengecup pelan penuh kasih tepat di keningnya.
"Terimakasih sayang" ucapnya lirih.
Perlahan Zafian melangkah turun dari tempat tidur, menuju ke balkon kamar dan berdiri menikmati angin malam.
"Afita Khaira Nugraha, terimakasih ya Allah, sudah menghadirkan wanita spesial dalam hidupku" ucapnya lirih.
Bayangan yang kurang begitu jelas melintasi alam pikirannya, disaat-saat dia tidak sadar karena racun yang masuk ke dalam tubuhnya, rupanya Zafian seperti merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya, yah sesuatu yang begitu hangat, dan sekilas dapat dirasakan berasal dari telapak tangan seseorang.
"Benarkah rumor yang pernah aku dengar tentang keluarga Nugraha?, Soal kekuatan magis keturunan keluarga itu, apa memang benar adanya?" Batin Zafian bertanya-tanya.
Namun sebuah minuman yang di jelaskan oleh Afita yang digunakannya untuk menetralisir racun dalam tubuhnya, membuat Zafian ragu akan apa yang dirasakannya.
"Apa yang kamu lakukan disini sayang?"
Sebuah suara mengagetkan Zafian, ditambah dengan tangan yang sudah melingkari pinggangnya dari belakang.
"Yang, kenapa kau terbangun, tidurlah kembali, aku melihat kau lelah" sahut Zafian yang tengah menikmati hangatnya pelukan Afita dari belakang.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kenapa ada disini, udara sangat dingin, dan tubuh mu baru saja sembuh" ucap Afita lagi masih tetap diposisi.
Zafian tersenyum, menikmati sentuhan tubuh istrinya yang baru pertama kalinya memeluk dirinya lebih dahulu.
"Aku hanya ingin melihat keadaan diluar, Alhamdulillah tubuhku sudah jauh lebih baik, bagaimana denganmu, hem?"
Afita terkejut saat Zafian kini sudah membalikkan badan dan akhirnya saling berhadapan. "Aku baik yang, tiduran lebih lama tadi membuatku segar kembali" jawab Afita.
"Seharian berkelahi menguras energi mu rupanya" ucap Zafian.
"Hem, lumayan, lama tidak berkelahi" sahut Afita lagi.
"Oh ya?, jadi istriku sebenarnya wanita yang suka berkelahi?" tanya Zafian .
Afita tertawa kecil, membuat semakin sempurna kecantikannya di mata suaminya.
"Begitulah, apa tidak boleh?" Tanya Afita.
"Tentu saja tidak, aku tidak bisa melihatmu sampai terluka" jawab Zafian, lalu menyambar bibir wanitanya dengan cepat, dan sedikit lama sambil memberikan tekanan yang kuat.
"Ck, kebiasaan!" Ucap Afita setelah berhasil dilepaskan oleh suaminya.
Zafian terkekeh, membersihkan bekas saliva yang tertinggal di bibir istrinya.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa yang, aku suka ini, manis" sahut Zafian sambil membelai lembut bibir Afita.
Tiba-tiba saja hujan turun begitu deras, Zafian langsung menarik masuk Afita ke dalam kamar kembali, lalu membersihkan tetesan air yang sempat mampir di rambut indah sang istri.
"Nggak apa-apa yang, cuma air" ucap Afita ikut menyeka rambutnya.
Keduanya masih saling berhadapan, basah yang mengenai tubuh Afita terlihat begitu se-ksi dimata Zafian. Tatapan matanya kini berubah, Afita yang masih belum sadar begitu di perhatikan, masih sibuk dengan tangannya yang membersihkan tetesan air di rambut dan tubuhnya.
Zafian meraih wajah sang istri, membawanya lebih dekat dengan perlahan, Sementara Afita yang tengah terkejut mendapat perlakuan itu hanya terdiam, mengikuti tanpa protes apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Cantik" ucap Zafian.
"Hem?" Gumam Afita lirih penuh tanda tanya.
Detik berikutnya, bibir Zafian sudah menempel sempurna menikmati manis kulit lembut bibir istrinya.
sentuhan bibir yang begitu memabukkan kini terjadi, tangan Zafian berpindah ke tengkuk Afita untuk menahan posisinya yang nyaman melakukan aktivitas yang semakin panas dan menerjang.
Beberapa kali Afita harus memberikan kode untuk mengambil napas karena Zafian yang begitu memburu melu-mat habis bibirnya, begitu juga lidah sang suami yang kini saling membelit dengannya.
Satu tangan Zafian mulai tidak bisa tinggal diam, naluri alaminya berjalan begitu saja, menyusuri kulit lembut mencari sesuatu yang disukainya, saat jari jemarinya sudah sempurna berada di salah satu bukit kembar istrinya, Zafian memberikan usapan lembut dan sedikit rema-san disana.
Tubuhnya terasa tersengat aliran listrik, namun begitu nikmat membuat tubuhnya menegang seketika.
Beberapa menit melakukan hal itu, semakin terdengar suara indah Afita menikmati semuanya, has-rat Zafian semakin bangkit dan ingin lebih memanjakan istrinya.
Masih memberikan pelajaran melakukan ciu-man kepada sang istri yang rupanya sudah bisa mengimbangi, tangan Zafian berpindah, menyusuri tali baju kimono yang di pakai oleh Afita, perlahan melepaskannya begitu saja hingga terjatuh kelantai.
Afita terkejut, berusaha meraih bajunya yang terjatuh namun di tahan oleh Zafian.
"Biarkan saja"
"Aku malu" ucap Afita yang tidak terbiasa polos di depan siapapun.
Zafian hanya tersenyum, membuat istrinya menuruti apa yang diinginkannya, menyentuh kembali bibirnya hingga lupa kalau hanya memakai kain penutup di bagian tertentu saja.
Masih dengan posisi yang sama-sama berdiri, Zafian kembali menikmati, pemandangan yang begitu memabukkan dimana tubuh istrinya yang memang begitu indah, tangannya kini penasaran untuk menyusuri tempat yang lain, terus menuju ke bawa sana dan mengusapnya lembut.
"Akh.." teriak lirih Afita.
Sensasi luar biasa didapatkan nya kembali, sentuhan lembut Zafian mampu membuat sesuatu dalam dirinya semakin bangkit.
"Yang, aku_, emh" ucap lirih Afita saat merasakan tubuhnya semakin tak terkendali merasakan sebuah sensasi.
Detak jantung Afita semakin cepat, begitu juga dengan Zafian.
"Kamu menikmatinya sayang?" Lirih Zafian bertanya tepat di telinga Afita.
Afita hanya mengangguk pelan sambil sesekali memejamkan mata seperti sedang menahan sesuatu, sementara aktifitas tangan Zafian semakin gencar di bawah sana.
Melihat Afita berhasil di buat berteriak menahan nikmat beberapa kali, Zafian sudah bisa memastikan kalau saatnya sesuatu yang lebih harus dilakukan, dan selanjutnya Zafian berhasil membuat sang istri kini sudah polos tanpa kain apapun yang menutupi.
"Yang!" Teriak Afita terkejut dan langsung menutupi bukit kembarnya dengan kedua telapak tangan.
"Maaf, apa ini membuatmu tidak nyaman?" Tanya Zafian.
"Ini, Oh.. yang!" Teriak Afita kembali disaat tubuhnya kini sudah terdorong ke tembok dan merasakan bibir Zafian sudah bermain di puncak bukit kembarnya yang terlepas dari telapak tangannya ketika menahan tubuhnya ke tembok.
Lampu yang begitu terang di kamar itu berubah redup, rupanya tangan Zafian sudah menekan tombol lampu untuk merubah suasana jadi begitu syahdu.
Afita masih menahan semuanya, merasakan tubuhnya semakin menegang tak mampu dikuasai, hisapan lembut yang kadang kuat membuat tubuhnya makin tidak karuan.
"Yang, jangan!" Teriak Afita saat Zafian mulai menyusuri bagian bawahnya.
Kaki Afita seketika menutup, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, namun tangan Zafian dengan lembut mengusap kaki bagian atasnya, memberikan kecu-pan kecil begitu banyak hingga menimbulkan reaksi yang di harapkan.
Kaki Afita membuka perlahan, dibantu sedikit dorongan dari tangan Zafian, dan berakhir dengan pemandangan indah yang sudah ada di hadapan Zafian, membelai kembali bagian bawah istrinya yang kali ini tanpa penghalang sama sekali.
"Yang, emh" ucap Afita masih berusaha menahan.
Aksi berikutnya semakin membuat Afita gila, sentuhan lembut jari-jari suaminya digantikan dengan sesuatu yang lain, begitu hangat dan lebih lembut namun juga kuat menyusuri area sensitifnya.
"Yang, apa yang kau lakukan!" Ucap Afita terkejut akan sensasinya, namun begitu nikmat hingga tidak bisa di tolaknya.
Zafian tidak perduli lagi, justru teriakan sang istri membuatnya semakin bersemangat, lidahnya bermain begitu aktif, hingga merasakan lembab dan basah disana.
Afita kebingungan, tubuhnya bergerak kesana kemari, kedua kakinya entah mengapa terbuka lebar seolah memberikan akses bebas akan apa yang di lakukan sang suami, tangannya pun tanpa di perintah memegang rambut Zafian.
"Yang!" Teriak Afita saat tubuhnya bergetar hebat dan masih belum mengerti apa yang dialami.
Zafian tersenyum, segera menghentikan aksinya, lalu mengangkat dan membawa tubuh istrinya di atas tempat tidur.
"Sebentar lagi sayang, kau siap?" Ucap Zafian dengan lembut dan membuang baju tidurnya begitu saja.
Sabar dulu readers, tahan nafas, jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya, hari ini UPDATE 2 KALI.
Bersambung.