
Anita masih terdiam cukup lama dengan wajah yang sedikit panik, hingga suara lirih Zafian kembali menyadarkannya.
"Apa yang Bunda pikirkan?" Ucap Zafian pelan.
"Oh, tidak, tidak ada yang Bunda pikirkan, jangan terlalu banyak bergerak dulu Zaf, luka-luka mu belum juga kering" sahut Anita mencegah Zafian saat ingin bergerak.
"Tapi Mommy belum menjawab pertanyaan ku" ucap Zafian lagi.
"Memangnya seperti apa wajahnya?" Tanya Anita harap-harap Cemas.
"Laki-laki ini sudah Tua, namun pancaran sinar wajahnya sangat murni dan menenangkan, dia hanya menyentuhkan jari telunjuknya disini dengan diam dan senyuman" ucap Zafian sambil menunjuk ke dada tepat di area jantungnya yang sedang terluka.
"Apa laki-laki itu tidak berucap sama sekali?" Tanya Anita.
"Tidak Bunda, hanya tersenyum" jawab Zafian.
"Dia_Pasti Kyai yang pernah merawat mu dulu"
"Kyai?, Maksud Bunda, aku pernah di rawat seorang Kyai?" Tanya Zafian terkejut begitu juga dengan Afita yang sedang fokus menyimak pembicaraan.
"Iya di usiamu belum genap lima tahun, apa kau mulai mengingatnya saat ini?" Tanya Anita sambil membelai lembut kepala Zafian.
"Tidak Bun, aku hanya melihat sekilas bayangan dan merasa tidak asing saja, tatapan matanya begitu membuatku tenang" jawab Zafian.
Anita hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zafian, sesekali menarik nafas dalam untuk menenangkan hatinya dari kekhawatiran.
"Bun, kalau memang ada yang ingin disampaikan, ceritakan saja" ucap lirih Zafian kembali saat melihat Anita tampak sedang berpikir cemas.
"Maafkan Bunda, mungkin ini saatnya kamu tau Zaf" ucap Anita sambil menunduk dan meneteskan air mata.
"Bun, ada apa?" Tanya Afita lalu memeluk Anita dengan erat.
"Ada yang Bunda rahasiakan bertahun-tahun, dan ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan" ucap Bunda.
"Sudahlah Bun, kalau belum siap, jangan di ceritakan hari ini" sahut Zafian.
"Tidak, ini sudah saatnya kalian tau, Bunda siap untuk menceritakan semuanya"
Namun saat Anita akan memulai, rupanya beberapa tenaga medis yang merawat Zafian memberikan informasi, bahwa akan di lakukan pemeriksaan oleh dokter yang menangani sebelum hari ini Zafian di pindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan.
Anita dan juga Afita keluar, bersama dengan itu, Alex dan Reyna berjalan menghampiri untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa dengan Zafian?" Tanya Alex.
"Tidak apa-apa Dad, Zafian akan di pindahkan keruang perawatan lanjutan, keadaannya sudah berangsur membaik" jawab Afita.
"Syukurlah" sahut Alex.
Hanya butuh waktu setengah jam, semuanya kini kembali aman, Zafian nampak bahagia dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya saat ini, ditambah dengan ruangan perawat yang di desain apik bergandengan dengan ruang tunggu khusus untuk keluarga.
"Terimakasih Daddy dan Mommy ada disini, maaf, saya sudah merepotkan" ucap Zafian.
"Kamu ini bicara apa, suami anakku juga sudah aku anggap anakku sendiri, jangan bicara konyol lagi" sahut Alex tidak suka dengan perkataan menantunya.
"Sorry Dad"
"Yang terpenting adalah kamu segera pulih kembali Zaf" sahut Reyna sang ibu mertua.
"Iya Mom, terimakasih" jawab Zafian.
Anita tersenyum dan sangat bersyukur sudah mendapatkan orang-orang yang sangat mencintai keluarganya dengan tulus, namun senyumnya seketika berhenti saat teringat akan apa yang akan diceritakannya nanti, sebuah kisah pilu yang terpaksa harus di ungkap karena berhubungan dengan kebahagiaan sang anak.
"Maaf, mumpung semua berkumpul, saya akan menceritakan sesuatu yang selama ini saya tutupi dari semuanya, bahkan dari Zafian"
Deg.
Afita terkejut, merasakan sekali saat ini sang Bunda sedang menahan sesak karena masa lalunya.
"Ada apa ini?" Tanya Reyna segera memegang tangan sang besan.
"Ada satu rahasia dari Zafian, dan itu sudah saatnya saya ceritakan, saya tidak tau itu kabar buruk atau sebaliknya buat kalian semua, tapi tetap harus saya ungkapkan" ucap Anita.
Semuanya terdiam, Alex mendengarkan serius akan apa yang disampaikan oleh Anita, begitu juga dengan Zafian yang semakin penasaran, ditambah Afita yang sebenarnya was-was akan keadaan sang Bunda, sementara Reyna berada di dekat Anita untuk menjaganya.
"Semua diawali saat Zafian berusia 4 Tahun, sesuatu yang aneh terjadi kepada dirinya"
"Apa, maksud Bunda?" Sahut Zafian yang sangat terkejut dengan pernyataan Anita.
"Dengarkan dulu sayang, biarkan Bunda menceritakan semuanya sampai selesai" ucap Afita.
Kisah pun satu persatu bergulir, mungkin bagi Afita dan kedua orang tuanya itu adalah hal wajar, tapi tidak bagi Anita yang masih belum bisa menerima hal itu sebelum akhirnya bertemu dengan keluarga Nugraha.
Sebuah rahasia besar dari Anita dan keluarga sudah terungkap, rupanya Zafian di usia empat tahun sudah membuat geger sebuah desa dengan kekuatannya yang bisa membuat apapun terbakar dengan sentuhan tangannya.
Sang ayah yang tidak bisa menerima hal itu karena berakhir dengan dikucilkan oleh penduduk desa, menumpahkan semua kesalahan kepada Anita, bahwa dirinya telah melahirkan anak keturunan ib-lis dan bukan anaknya.
Hingga akhirnya, dengan tega meninggalkan Zafian kecil yang masih rapuh bersama dengan Anita, dan harus diusir lalu pindah ke desa lain tanpa apapun, hingga keduanya merasakan kelaparan dan tidak punya arah tujuan.
Disaat keduanya di bawah guyuran air hujan dan tengah berteduh dibawah pohon, ada sebuah mobil yang berhenti, seorang laki-laki dengan wajah yang teduh mengajaknya untuk ikut disebuah pondok pesantren, dan disanalah sang laki-laki itu yang tak lain adalah seorang Kyai, berhasil menyegel kekuatan Zafian karena sangat membahayakan.
"Itu tidak mungkin, aku tidak pernah merasakan apapun Bun" ucap Zafian terkejut.
"Tapi kami bisa" sahut Alex membuat Zafian makin kaget.
"Termasuk kamu yang?" Tanya Zafian lagi.
Anita melanjutkan ceritanya, bukannya tidak tau terimakasih dan pergi begitu saja dari pondok pesantren itu, tapi karena Anita merasa ketakutan akan kekuatan Zafian yang tanpa sengaja telah membuat salah satu murid pak Kyai terluka parah dan dalam perawatan, akhirnya Anita hidup di jalanan bersama dengan Zafian, hingga akhirnya bertemu dengan keluarga Ricardo.
"Terimakasih Bunda, dan aku masih penasaran dengan pak kyai itu, apa beliau yang mungkin hadir dibawah alam sadar mu saat kamu mengalami Coma sayang?" Tanya Afita menduga-duga.
"Aku tidak ingat kenangan kecilku dulu, mungkin bunda yang lebih tau" jawab Zafian yang masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.
"Iya, dari yang kamu ceritakan, Bunda yakin beliau yang hadir menyapamu Zaf, dan ibu sangat merasa berdosa karena tidak berpamit dengan baik-baik" sahut Anita menundukkan wajahnya dan terlihat menangis.
Reyna mengusap punggung Anita dengan lembut, " Tidak apa-apa Bu Anita, saya yakin beliau tau alasan anda melakukan hal itu, dan mungkin itu yang terbaik bagi anda, hingga beliau tidak mencari keberadaan kalian saat itu"
"Aku harap begitu, karena saya pernah sembunyi saat pak kyai dan beberapa orang yang mencari keberadaan kita waktu itu ada di pinggiran pasar" ucap lirih Anita.
"Tapi yang paling tidak aku terima, kenapa Ayah tega melakukan hal itu Bunda, laki-laki pengecut!" Ucap Zafian dengan hati yang bergemuruh.
"Sabar Sayang, jaga emosimu, keadaanmu belum sembuh sepenuhnya" sahut Afita menenangkan.
Anita hanya terisak, sungguh luka yang lama terasa terbuka kembali dan menya-yat hatinya, teringat kembali akan kenangan paling menyakitkan selama dalam perjalanan hidup yang di lakoni, sikap suaminya yang pergi dan mencampakkannya begitu saja membuat Anita tak kuasa menahan rasa sakitnya.
"Tenanglah Bu, yang penting sekarang semuanya sudah berbahagia, Bu Anita juga tau, bahwa kekuatan Zafian bukanlah kutukan atau kekuatan ib-lis seperti yang di tuduhkan, karena masih banyak orang-orang yang dikaruniai kekuatan seperti yang dimiliki oleh Zafian, termasuk semua anggota keluarga Nugraha, bukankah Ibu juga pernah melihatnya sendiri?"
"Hanya melihat ku Mom" sahut Afita.
"Oh, ya sudah, yang penting Ibu Anita pernah melihatnya bukan?" Tanya Reyna.
"Iya, dan saat itulah aku menyadari, bahwa sebenarnya Zafian bukanlah terkena kutukan ib-lis, tapi sebuah karunia kekuatan yang luar biasa, hingga saya berani menceritakan semuanya saat ini" ucap Anita.
"Syukurlah, rupanya sang pencipta selalu menempatkan orang-orang special yang memang harus ada di keluarga Nugraha" sahut Reyna.
"Dan saya sangat berterimakasih kasih karena keluarga Nugraha sangat melindungi kami" ucap Anita.
"Jangan berkata seperti itu lagi, itu sudah kewajiban kami" jawab Reyna ambil memeluk kembali Anita yang berada di sampingnya.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya, kekuatan dalam tubuhku, aku tidak mengerti sama sekali" ucap Zafian masih bingung dengan dirinya sendiri.
"Itu bagianku!" Sahut seseorang dari balik pintu.
"Aftan" ucap Zafian terkejut.
"Aku senang mendengar semuanya, aku tidak khawatir, Afita berada ditangan yang tepat" sahut Aftan.
"Terimakasih kak" ucap Afita.
"Jadi, kamu siap membantuku?" Tanya Zafian.
"Aku akan berada lama di Surabaya, sekalian mengembangkan bisnis disini, mungkin satu sampai tiga bulan ke depan, dan itu bisa kita gunakan untuk mengasah kemampuan mu" ucap Aftan.
"Tunggu, bukan karena hal lain bukan?" Sahut Afita memicingkan mata penuh curiga.
Tak
"Aw!, Kak, sakit!" Teriak Afita saat jari Aftan menyentil jidat nya.
"Mangkanya jangan berpikir yang bukan-bukan" sahut Aftan.
"Tapi kan, Ailin_"
"Hemp.."
Langsung saja mulut Afita dibungkam oleh Aftan dengan cepat.
"Kalian ini kenapa?" Tanya Zafian mulai tak suka saat melihat Afita berada dalam pelukan kakaknya.
"Sorry, dia adikku Zaf" ucap Aftan.
"Tapi ingat, dia juga istriku" sahut Zafian membuat orang yang di sana terkekeh melihat perdebatan keduanya.
"Tunggu, tadi mommy dengar, kalian menyebutkan Ailin?" Ucap Reyna.
Deg.
Seketika Zafian, Afita dan Aftan langsung terdiam.
"Oh itu, bukan Mom, salah dengar kali, maksud nya Aira, yah Aira.. ya kan kak?" Ucap Afita berusaha mengalihkan nama Ailin dari pikiran sang Mommy dengan mengarang nama perempuan lain dalam ucapan nya.
"Siapa Aira?" Tanya Reyna lagi.
"Ck, bukan siapa-siapa Mom, hanya wanita pengagum ku saja" sahut Aftan menjawab cepat.
Reyna terlihat memaklumi, Sementara tidak dengan sang suami yang sepertinya sedang berpikir keras.
"Ada apa?" Tanya Reyna merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Aku merasa kenal dengan cerita Ibu Anita" ucap Alex dengan serius.
"Maksudnya?"
"Kyai itu" sahut Alex lagi
Makin penasaran?, Yuk lanjut dulu kasih VOTE, HADIAH, LIKE,KOMEN, DAN TONTON IKLANnya.
Bersambung.