ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
150. Firman_Naura 4



Naura sedang duduk di balkon kamarnya, tatapannya menerawang menembus langit yang nampak mulai meredup menyambut malam.


"Ehem, rupanya sedang melamun" ucap seseorang dari belakang, membuat Naura kaget dan segera menoleh.


"Kak Afita?"


"Maaf masuk ke kamarmu begitu saja, aku mengetuk beberapa kali dan tidak ada jawaban sama sekali, rupanya kamu sedang ada di balkon" ucap Afita yang kini sudah berada di sebelah Naura.


"Maaf kak, ada yang ingin kakak sampaikan?" Tanya Naura.


"Hem, sebentar lagi kamu akan ulang tahun bukan?" Tanya Afita.


"Iya kak, terimakasih sudah mengingatnya"


Bagaimana kalau kita merayakan dengan makan malam di sebuah Resto dan memanggil beberapa teman dan kerabat kita?" Afita memberikan usulan.


"Tidak perlu kak, sepertinya aku akan sangat sibuk setelah ini, masih ingatkan ibu Farah menginginkanku menjadi sekretaris di perusahannya?, dan sebentar lagi beliau akan pergi ke luar negeri, kemungkinan aku akan bekerja ekstra dengan orang yang di tunjuk untuk mewakilinya menjalankan perusahaan" Naura memberikan penjelasan panjang lebar.


"Oh, jadi begitu?" Sahut Afita yang baru menyadari keadaannya.


"Iya kak" jawab Naura.


"Ya sudah, kalau begitu selamat menjalankan tugasmu Naura, aku doakan semua lancar, dan jangan segan meminta bantuanku kalau memang kamu membutuhkan" ucap Afita.


"Terimakasih kak, aku juga berharap semuanya berjalan sesuai yang diinginkan" jawab Naura.


"Apa kamu sudah berbincang dengan Dokter Firman?" Tanya Afita.


"Apa?!" Sahut Naura terkejut mendapat pertanyaan dari Afita.


"Dokter Firman, aku sarankan perbaiki hubungan kalian, kamu bekerja di perusahaan Mommy-nya, tidak menutup kemungkinan dia juga akan sedikit ikut mengawasi di sana bukan?" Ucap Afita.


"Tidak mungkin kak, dia sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya sendiri, mana mungkin sempat memikirkan perusahaan yang bukan di bidangnya sama sekali" jawab Naura.


"Bagaimana kalau tiba-tiba saja Dokter Firman ada di sana?" Tanya Afita lagi.


"Kak, itu tidak mungkin kan?" Sahut Naura.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini cantik, ingat itu, ya sudah aku keluar dulu, dan sebaiknya kamu pikirkan saranku, okey?" Ucap Afita.


"Iya kak, aku tau, terimakasih" Naura menjawab dengan senyuman, dia tau apa yang dilakukan oleh Afita adalah untuk kebaikannya.


*


*


Keesokan paginya, Naura sudah berjalan menuju Perusahaan dimana tempatnya bekerja, ada rasa khawatir yang sejenak menghampiri dirinya, apa lagi kalau bukan pertemuan dengan Firman yang sebenarnya selalu dia hindari.


"Semoga saja itu tidak terjadi" gumam Naura saat kakinya sudah memasuki gedung perusahan yang bergerak di bidang Kosmetik.


Hubungan Naura dengan Firman dulu sebenarnya masih sebatas teman biasa, jarak umur yang cukup jauh berbeda membuat Firman sangat melindungi Naura, dan Firman tak pernah berbuat lebih karena Naura begitu menjaga jarak darinya.


Bukannya Naura tidak mau, tapi dia takut akan berharap banyak pada Firman seorang dokter ternama dengan silsilah keluarga yang jauh dari Naura, bahkan Naura merasa bagai Bumi dan Langit, sangat tak pantas walaupun hanya sekedar untuk berteman saja, apalagi kalau sampai mengharap untuk menjadi kekasihnya walau dalam hatinya tak menampik ketertarikan akan sosok Firman yang banyak di gandrungi oleh kaum hawa.


"Assalamualaikum Bu?" Ucap Naura.


"Waalaikumsalam Naura, masuklah" jawab Farah yang rupanya sudah menunggunya sebelum berangkat ke luar negeri bersama dengan sang suami.


"Bu Farah tidak jadi pergi hari ini?" Tanya Naura setelah duduk di depan Farah dengan rapi.


"Dua jam lagi, dan aku akan mengenalkan mu kepada semua staf penting disini, apa kamu siap?" Tanya Farah yang sudah menerima semua berkas pribadi Naura.


"Iya Bu"


Kemudian keduanya segera keluar dari ruangan, Sarah mengajak Naura berkeliling untuk mengenalkan kepada semua pegawainya, terutama kepada orang-orang yang akan sering bersinggungan langsung dengan Naura.


Hingga di akhir kegiatan itu, Naura kini sudah berada dalam sebuah ruangan yang tertata dengan rapi dan pemandangan kota yang nampak apik dari jendela besar yang ada di sana.


"Ini adalah ruangan tempat mu bekerja Naura" ucap Farah yang kini sudah duduk di sofa yang ada di sana.


"Benarkah Bu?, Ini sangat luas dan bagus, terimakasih Bu" ucap Naura tersenyum lalu menghampiri Farah untuk duduk di sampingnya.


"Aku rasa ini sudah cukup, dan aku akan segera pulang, oh iya Naura, boleh aku menanyakan sesuatu?" Ucap Farah.


Farah menatap Naura yang kini sudah mengangguk.


"Mengapa dulu kamu menolak Firman?" Tanya Farah.


DEG


"Dokter Firman sangat baik, dan saya sudah menganggap nya seperti kakakku sendiri" ucap Naura dengan jawaban aman.


"Benarkah?, itu sangat sweet sekali, pasti Firman sangat menyayangimu, lalu, apa kau juga menyayanginya?" Tanya Farah lagi.


Kali Naura merasa terjebak dalam perkataannya sendiri, hingga tanpa terasa Naura menggigit bibirnya, tampak sekali Naura sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaan.


"Sa saya_, tentu saja" jawab Naura.


"Tentu saja apa?" Tanya Farah menunggu jawaban selanjutnya.


"Tentu saya juga menyayanginya Bu, tapi Dokter Firman memutuskan kontak, sepertinya karena terlalu sibuk" ucap Naura dengan jantung yang sudah berdetak kencang.


"Oh ya?, Selain dia memang sangat sibuk di Rumah Sakit, Mungkin dia tidak ingin mengganggu Kuliahmu, biar nanti aku yang bilang padanya" sahut Farah.


"Jangan Bu, tidak usah, saya rasa benar kata Bu Farah, Dokter Firman sudah sangat sibuk dan saya tidak mau menganggu nya" jawab Naura.


"Kamu tidak ingin memperbaiki hubungan kalian?" Ucap Farah dengan senyuman.


"Bukan begitu Bu, tapi kami sama-sama sibuk di pekerjaan masing-masing, dan saya hanya tidak mau mengganggu saja" jawab Naura tak enak hati.


"Padahal dia akan langsung datang kesini kalau aku memanggilnya" sahut Farah sengaja.


"Tidak Bu, sungguh, jangan lakukan hal itu" ucap Naura.


"Jangan memaksanya Mom, dia tau mana yang penting untuk dirinya" ucap seseorang yang kini sudah berjalan mendekat.


DEG


Jantung Naura serasa mau melompat, saat menoleh dan mendapati Firman sudah berdiri di hadapannya, keringat di tangannya bertambah banyak dan tubuhnya merasa semakin dingin.


"Terimakasih kau sudah datang kesini sayang, apa kau bersama Daddy mu?" Farah berdiri dan memeluk Firman sesaat.


"Aku sendiri Mom, Daddy memberiku tugas untuk menjemput Mommy, apa Mommy sudah siap?" Ucap Firman seolah tak memperdulikan Naura yang masih terpaku menatap dirinya.


"Kamu tidak ingin menyapa Naura?" Ucap Farah.


Firman lalu menoleh dan menatap Naura yang kini sudah berdiri di depannya.


"Apa kabar Dokter Firman?" Ucap Naura tampak begitu gugup.


"Aku baik"


Keduanya saling berjabat tangan, Firman sempat terkejut saat merasakan tangan Naura begitu dingin dan berkeringat, namun mulutnya terasa sangat berat untuk berucap mengingat bagaimana dulu Naura meninggalkannya begitu saja.


Firman mengabaikan Naura, dan kemudian menggandeng Mommy nya untuk keluar dari ruangan itu setelah Farah berpamitan ke Naura.


"Jangan sungkan untuk menghubungiku kalau kamu butuh bantuan Naura!" Teriak Farah sebelum benar-benar hilang dari pandangan.


Farah sudah berada dalam mobil Firman yang masih nampak terdiam dan malas untuk berbincang.


"Kamu ingat aku ini siapa bukan?" Ucap Farah membuat Firman mengerutkan keningnya.


"Maksud Mommy apa?" Tanya Firman.


"Ya kalau sudah tau aku Mommy kamu, paling nggak diajak berbincang dong, kok malah diam seolah aku ini Naura" sahut Farah.


"Oh My God, aku hanya ingin perjalanan cepat sampai Mom, come on" sahut Firman.


"Alasan, bilang saja kamu masih sakit hati akan penolakan Naura beberapa tahun lalu, dan masih sangat mengharapkannya bukan, apalagi Naura sekarang sangat berbeda, lebih dewasa dan pandai mengurus dirinya sendiri, lihat saja, dia begitu cantik dengan hijabnya, banyak berubah dari yang dulu bukan?"


"Mom_, please, bisa kita bicarakan yang lain?"


"Heh, oke-oke" jawab Farah akhirnya menyerah.


Sikap dingin yang di tunjukkan oleh Firman dikarenakan dirinya begitu kecewa, meskipun sebenarnya Firman tidak perlu melakukan hal itu, Tapi Firman malas untuk menutupi dan ber basa basi yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Yang Penasaran dengan Cerpen Author terbaru dan tak kalah seru, bisa mampir di Channel YouTube: Sinho Novel/Sinho Channel.


Bersambung.