ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
164. Forman_Naura 18



Firman hanya diam dan tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Naura, justru tangannya semakin erat memeluk di tengah penolakan Naura yang terus memberontak.


"Apa kamu cemburu?" tanya Firman.


"Apa?!" Naura terkejut.


"Apa kamu merasa cemburu dengan Ana?" tanya Firman sekali lagi.


"Aku tidak tahu maksudmu, tolong lepaskan!" Jawab Naura.


"Tidak akan, jawab pertanyaan ku dengan benar tanpa amarah, baru aku akan melepaskan mu" ucap Firman.


"Apa maksudmu, di sini banyak pelayan, dan jangan macam-macam, lepaskan!, kamu sudah membuatku merasa tidak nyaman!" Jawab Naura sedikit keras dan merasa cemas.


Firman terus mendekap Naura, bahkan wajah keduanya kini begitu dekat, Naura berusaha untuk berpaling dan menghindari tatapan Firman, dan kini lebih berani lagi, salah satu tangan Firman memegang dagu Naura untuk meluruskan pandangannya.


"Dokter lepaskan, apa yang sudah kamu lakukan?!" Ucap Naura yang kini mau tidak mau harus menatap mata Firman.


"Katakan padaku, kamu tidak merasakan apapun saat kita bersama?" kembali Firman bertanya.


"Tidak, jadi tolong lepaskan saya!" jawab Naura.


"Tanganmu begitu dingin, aku sekarang bahkan merasakan tubuhmu sedikit bergetar, dan detak jantungmu berkali-kali lipat dari biasanya, kamu masih ingin mengatakan tidak merasakan apapun saat ini?" tanya Firman.


Naura terdiam, rasanya tidak mungkin lagi dirinya untuk membohongi Firman, laki-laki di depannya bukan seseorang yang bodoh untuk tidak peka merasakan apapun yang terjadi pada dirinya.


"Lepaskan aku, dan semua yang kamu katakan adalah benar, namun itu tidak merubah apapun, jadi tolong, menjauh dariku dokter Firman, sebelum semuanya semakin bertambah sakit yang aku rasakan"


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Naura, dari dulu sampai sekarang, perasaan itu masih melekat kuat, tidak bisakah kau mengerti itu semua?"


"Kita jauh berbeda, mengertilah" jawab Naura yang kini semakin inten menatap mata Firman.


"Kamu yang membuat perbedaan itu, Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, bagiku kamu satu-satunya wanita spesial yang sampai saat ini masih mengisi hatiku" ucap Firman berusaha untuk meyakinkan Naura.


"Aku tidak bisa, aku sangat tidak pantas, dan itu akan menyakitkan bagimu nantinya"


"Aku bukan orang yang lemah, dan akan kubuat dunia tahu bahwa kau satu-satunya yang pantas berada di sisiku"


"Tapi_"


"Apa kamu mau menerima cintaku?" Firman memotong perkataan Naura.


Naura sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Firman, rasanya tak percaya mendengar pernyataan Firman itu lagi setelah penolakannya beberapa tahun yang lalu.


Mulai berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Afita, Naura masih berdiam dengan pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya, "mungkinkah dia pasanganku yang sudah dipersiapkan oleh sang pencipta untukku?" Batin Naura.


Sementara Firman masih menunggu jawaban yang diinginkan, tanpa memutus tatapan matanya sedikitpun ke wanita yang ada dalam pelukannya.


"AKU_"


Ting tong, Ting tong


"Sh-it!"


Terdengar suara bel pintu yang membuat seketika Firman mengumpat dalam hati.


"Maaf, bisa kita lanjutkan hal ini nanti dulu, sepertinya ada tamu" ucapan Naura yang sekarang merasa sedikit lega karena tidak harus menjawab pertanyaan Firman saat ini juga.


"Tidak bisakah kamu menjawabnya dulu?" Firman memohon.


"Masih ada banyak waktu kita bertemu bukan?" ucap Naura.


"Oh my God, ini sungguh menyebalkan, baiklah, kali ini terserah padamu" sahut Firman.


"Aku tidak bisa pergi ke bawah dan melihat siapa yang datang kalau kamu masih tetap memelukku seperti ini" protes Naura.


"Oh, Sorry, Aku hanya tidak rela" jawab Firman, lalu kemudian terpaksa melepaskan pelukannya.


Naura mengulas senyum, lalu bergegas turun, rupanya salah satu asisten rumah tangga sudah membuka pintu dan mempersilahkan seseorang itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


"Mark?!" Seru Naura.


"Hai Naura, Bagaimana kabarmu sepertinya kamu sudah tidak apa-apa"


"Tentu saja, sebentar lagi juga akan sembuh, ada apa kamu kemari?" tanya Naura.


"Aku hanya ingin memberikan ini" jawab Mark memberikan sebuah bingkisan kepada Naura.


"Kamu bisa membukanya sekarang" jawab Mark dengan senyuman yang mengembang.


Naura segera membuka tugas dan ibu dan melihat sebuah laptop keluaran terbaru, tentu saja Naura sangat terkejut dan membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang sudah ada di tangannya, karena barang itu begitu sangat diinginkan Naura Beberapa bulan yang lalu.


"Ini sangat mahal Mark" ucap Naura.


"Tidak bagi seseorang yang spesial seperti mu"


"Maksudmu ini untukku?" tanya Naura.


"Tentu saja, Kau pasti melupakan hari ulang tahunmu bukan, itu selalu terjadi di setiap tahun, dan aku selalu mengingatkan" ucap Mark.


Naura dibuat terkejut lagi, baru menyadari kalau hari ini adalah ulang tahunnya.


"Terima kasih banyak, tapi sungguh ini terlalu mahal untukku, aku rasa aku tidak pantas menerimanya" ucap Naura niat mengembalikan kado itu.


"Aku akan sangat kecewa dan terluka jika kamu mengembalikannya, susah payah aku mencarikan versi terbaru itu Naura, apa kamu akan tega pada sahabat mu ini?" Ucapkan Mark memohon.


"Tapi Mark?"


"Aku tidak mengharapkan apapun darimu, hanya ingin kamu nyaman saat bekerja dan menggunakan laptop yang aku berikan saat ini, setidaknya barang yang aku berikan sangat bermanfaat untuk seseorang" ucap Mark meyakinkan.


"Mark..." Ucap Naura yang masih sedikit keberatan.


"Naura.." jawab Mark dengan mimik lucunya, hingga membuat keduanya tertawa bersama.


Semua itu kini terlihat di mata Firman, dan tentu saja dia sangat tidak suka melihat interaksi keduanya, tapi tentunya Firman tidak bisa berbuat apapun karena Naura sudah menceritakan Bagaimana hubungannya dengan kedua sahabat laki-lakinya.


"Baiklah Naura, selamat ulang tahun, doa terbaik untukmu, Maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan hari ini, aku pulang dulu, semoga hadiahku akan sangat berguna bagimu" ucap Mark.


"Tentu saja Mark, ini akan sangat banyak membantuku, aku akan memakainya, terima kasih Mark" Naura memberikan senyuman seperti biasa yang dia lakukan sebelum akhirnya Mark pergi dari hadapannya.


Dan bagaimana dengan reaksi Firman, tentu saja hal itu sangat mengesalkan baginya, melihat Naura tersenyum manis pada laki-laki lain, merasa hatinya tidak terima.


Apalagi ucapan ulang tahun yang sebenarnya sudah dia persiapkan hari ini, ternyata sudah didahului.


Firman mengambil sesuatu di sakunya, sebuah kado mungil yang akan diberikan ke Naura dilihat lagi, kalau kemudian dimasukkan kembali ke dalam sakunya.


Naura membalikkan badan dan mendongak ke atas, hatinya menciut saat melihat Firman sudah menatap tajam padanya.


"My God, apa dia dari tadi di sana?" Fatin Naura yang merasa ketar-ketir.


Sebenarnya Naura ingin segera ke kamar dan menyimpan hadiah yang diberikan oleh sahabatnya, mengingat ada seseorang yang sedang mengawasinya, Naura mengurungkan niat dan sengaja meletakkan hadiah itu di lemari kecil yang ada di ruang tengah.


Tanpa disadari, ternyata Firman sudah turun dan kini berada di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Astagfirullah!" Naura tersingkat kaget mendengar suara Firman dari arah belakang.


"Kenapa kau sepertinya sangat terkejut, apa aku berubah wujud?" Tanya Firman dengan dingin.


Naura masih terdiam dan hanya berkata dalam hatinya, "Apa yang kau lakukan?, Aku tidak melakukan kesalahan apapun bukan?, Kenapa aku merasa sangat takut padanya?" Batin Naura merasa bingung sendiri.


"Seharusnya kamu memberitahuku jika ada seorang laki-laki yang akan datang dan berniat merayakan hari ulang tahun mu" ucap Firman sedikit ketus.


"Tidak ada yang menyuruhnya kemari" jawab Naura yang kini merasa dipersalahkan.


Firman menatap tajam mata indah Naura dengan intens, hal itu membuat Naura mengucapkan matanya beberapa kali dan salah tingkah.


"Kenapa?" Tanya Naura gugup.


"Kamu menyukainya Naura?" Tanya Firman.


Tentu saja Naura langsung menggeleng cepat.


Firman kini telah memegang tangan Naura dan tak melepaskannya.


"Siapa yang kamu sukai?" Tanya Firman lagi.


Firman yang dari tadi emosi, rasanya sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.


Sementara Naura terdiam membisu tidak menjawab pertanyaan Firman, dirinya begitu terkejut melihat tatapan mata Firman yang semakin tajam padanya.


"Jawab sekarang" ucap Firman.