ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 56



Kurang lebih satu Minggu telah berlalu, Zafian sudah mulai menjalankan rencananya secara perlahan tapi pasti, dengan membatasi akses Sekretarisnya secara diam-diam, bahkan bukti-bukti hubungan gelapnya sudah dikantongi.


Hari itu seperti yang diperkirakan oleh Zafian, ada berkas penting lagi yang dengan sengaja di limpahkan ke Cintia untuk disimpan seperti biasanya, menunggu waktu berlalu, Zafian dengan tenang berharap umpan akan berhasil di makan.


"Maaf Pak, jadi ini adalah berkas penting planning ke depan perusahaan AFIAN GROUP?" Tanya Cintia menerima berkas-berkas yang sudah ada ditangannya.


"Hem, seperti biasanya, simpan baik-baik semua berkas penting itu" ucap Zafian.


"Baik pak" jawab Cintia dengan wajah seperti biasanya.


Sepeninggalan Cintia, Zafian masih duduk terdiam, dirinya masih belum yakin akan apa yang akan dilakukan Cintia.


"Ekspresi wajahnya biasa saja, membuatku bingung, benarkah dia yang mengkhianati perusahaan?" Tanyanya dalam hati.


Dan tak lama kemudian, suara deringan handphone terdengar, Zafian segera mengangkat dan kini tengah berbincang dalam sambungan handphone.


"Ikuti terus gerak geriknya, jangan sampai lolos, hari ini sudah aku berikan umpanku" ucap Zafian.


**


Siang menjelang, sudah waktunya perut yang kelaparan harus segera diisi, dan rupanya Afita sedang melangkahkan kaki sendirian menyusuri salah satu hotel mewahnya menuju ke Resto yang ada di lantai bawah.


"Siang Bu" ucap Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya, dan seperti biasanya senyuman nan menawan tanpa sengaja tercipta begitu saja.


Sampai di dalam Resto, Afita segera mengambil tempat duduk yang disediakan, beberapa pelayan Resto segera menyambutnya dengan suka cita, karena memang selain Afita adalah pemilik Hotel dan semua yang ada didalamnya, dia juga begitu memperhatikan kesejahteraan para pegawainya.


Hampir saja hidangan makan siang masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja.


Cup.


Sebuah ciuman mampir begitu saja di pipi Afita.


"Astagfirullah, Yang!" Teriak Afita syok dan hampir saja memukul sosok laki-laki yang berani menyentuhnya, siapa lagi kalau bukan Zafian sang suami.


Makanan yang berada di sendok otomatis berserakan diatas meja, Zafian malah tertawa sambil mengambil tissue dan membersihkannya setelah duduk dengan manis disebelah sang istri yang masih kesal akan apa yang sudah dilakukannya.


"Maaf sayang, lagian kenapa makan tidak menunggu ku dulu?"


"Aku sudah lapar sekali yang, aku kira kamu masih lama sampai disini" jawab Afita.


Zafian hanya tersenyum, lalu kemudian memesan menu makan siang yang diinginkan, sementara beberapa orang di buat salah tingkah dengan kemesraan mereka.


Sudah menjadi kebiasaan, Zafian selalu merecoki makanan sang istri walaupun sudah ada miliknya sendiri.


"Yang, jangan mengambil terus makananku!" Ucap Afita pada akhirnya.


"Hehe, aku suka punya mu, rasanya lebih lezat"


"Ish, ya sudah, kita tukar saja" ucap Afita berniat mengalah kepada suaminya.


"Tidak usah yang, suapi aku saja, ada yang ingin aku bicarakan setelah itu"


"What!, mana ada, ini di tempat umum yang, jangan aneh-aneh" ucap Afita terkejut sambil memegang sendok berisi makanan yang mau dimasukkan ke dalam mulutnya.


Hap.


"Begini lebih nikmat" ucap Zafian yang langsung menyambar makanan dalam sendok Afita.


"Yang!, Dasar!" Ucap Afita hendak protes.


"Aku makan dari mulut mu langsung, atau kamu menyuapiku, pilih" ucap Zafian lalu melanjutkan kunyahannya.


Ingin sekali Afita membanting Zafian saat ini juga, namun rasanya tidak mungkin, hingga makan siang berakhir penuh kasih, dimana Zafian menerima suapan demi suapan dari sang istri yang menahan malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang.


Berbeda dengan Zafian yang hanya tersenyum bahagia menggandeng sang istri menuju ke lantai atas dimana ruangan kerja sang istri berada.


"Aku tidak akan lari kemana-mana, tidak perlu gandengan terus seperti ini yang, risih" ucap Afita kesal sendiri.


"Diamlah, tanganku tidak enak menganggur saat berjalan denganmu, yang"


"Heh, terserah" ucap Afita kembali pasrah.


"Kenapa tidak kembali ke perusahaan saja yang?" Tanya Afita melanjutkan.


"Memangnya tidak boleh aku mampir ke tempat kerjamu?" Sahut Zafian malah balik bertanya.


"Memangnya tidak ada kesibukan?" tanya Afita.


"Banyak" sahut Zafian sukses membuat Afita menoleh heran.


"Kenapa?, Terkejut kalau aku semakin tampan?" Ucap Zafian lagi.


"Ish, apa sih, dasar gak jelas, kalau kesibukan kamu banyak, kenapa juga masih mampir-mampir?" Lanjut Afita.


"Ada yang ingin aku bicarakan, penting" ucap Zafian dan kini sudah sampai di dalam ruangan kerja istrinya.


"Soal apa?" Tanya Afita lagi.


Zafian duduk, lalu menarik tangan Afita hingga kini terjatuh dalam pangkuannya.


"Jangan Aneh-aneh yang, ini ditempat kerja!" Ucap Afita yang langsung bergeser dalam duduknya.


"Aku sudah memberikan umpan ke Cintia tadi, dan sekarang dia dalam pengawasan orang-orang ku" Ucap Zafian.


"Lalu?"


"Aku melihat ekspresi wajahnya, dia begitu tenang, seperti biasanya, dan itu_"


"Membuat mu bimbang?" Sahut Afita.


"Hem, entahlah, dia bekerja cukup lama dengan ku" ucap Zafian lagi.


"Memang berat, mengingat bagaimana dia melakukan tugasnya bertahun-tahun dengan baik di perusahaan, tapi manusia mempunyai sisi kelemahan yang kadang tidak bisa di kendalikan, kita lihat saja nanti" sahut Afita.


"Benar juga, aku berharap dia tidak ikut terlibat"


"Jangan terlalu berharap ada manusia yang, kamu akan jauh lebih kecewa, pasrahkan saja semua pada sang Pencipta, aku yakin, kita akan diberi petunjuk yang terbaik" ucap Afita.


Zafian tersenyum, kembali menatap sang istri, kadang merasa tak percaya sudah memiliki kekasih hati yang begitu baik dan bisa menentramkan hatinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, baru sadar kalau aku cantik?" Ucap Afita mulai waspada dan menggeser tubuhnya.


Zafian terkekeh melihat wajah khawatir pada istrinya.


"Kamu sangat cantik, kenapa menjauh?" Tanya Zafian berusaha bergeser lebih dekat lagi.


"Jangan macam-macam yang!" Ucap Afita serius.


"Satu macam saja!"


Brug


"Akh..!" Teriak Afita.


Dengan cepat kini Zafian sudah berhasil mengungkung istrinya.


"Yang, lepas!" Teriak Afita lagi.


Lalu detik berikutnya bibir Zafian sudah begitu menyerang, melu-mat, dan membelit lidah Afita dengan agresif, Namun kemudian_


"Nona Hentikan!" Teriakan seseorang mengagetkan keduanya.


"Naura?!" Ucap Afita begitu terkejut.


Naura segera berlari menuju remote kontrol yang tergeletak dan menekannya, detik berikutnya korden otomatis ruang Afita segera tertutup, lalu menatap tajam ke arah sang atasan, seolah memberitahukan bahwa adegan panasnya sudah terlihat banyak orang.


"Yang, aku malu!" Teriak Afita yang baru saja menyadarinya.


Sementara Zafian hanya memeluk istrinya sambil tersenyum sendiri, berbeda dengan sang istri, Zafian menyikapinya hanya biasa saja.


"Sudah, tidak perlu di pikir, kita kan suami istri"


Plak.


"Aw, yang, sakit!" Teriak Zafian saat telapak tangan Afita mampir dengan keras di lengannya.


Beberapa menit kemudian Akhirnya Afita bisa kembali bekerja dengan tenang, kepergian Zafian membuatku bisa berkonsentrasi kembali.


"Nona, maaf, saya tidak bisa ikut anda di pertemuan itu, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan karena beberapa hari kemaren saya cuti" ucap Naura sambil menyerah berkas yang harus di bawa.


"Tidak apa-apa, lanjutkan saja tugasmu, toh pertemuan ini hanya sebentar saja" jawab Afita.


Waktu terus berlalu, kini Afita tengah berjalan menyusuri sebuah tempat meeting yang letaknya disebuah hotel mewah yang kebetulan milik salah satu koleganya yang ingin bekerja sama.


"Hem, lumayan, bagus juga hotel ini" batin Afita sambil berjalan mengamati sekitar.


Dengan memakai kacamatanya, Afita terus melangkah, hingga tiba di ruangan rapat dengan aksesoris yang tampak begitu mewah, kedatangan Afita disambut dengan sangat baik.


Meeting segera dimulai, Afita tidak merasa kerepotan sama sekali, menyimak dan menjelaskan kontrak kerjasama yang diinginkan, tampak yang hadir disana merasa kagum dengan pembawaan cara menyampaikan semua dengan detail.


Hingga seperti yang diharapkan, kali ini Afita sudah berhasil untuk melakukan kerjasama, saat yang tepat juga dirinya harus segera kembali ke tempat kerjanya.


Melintasi ruangan menuju pintu keluar, Afita di kejutkan dengan sosok Cintia yang berjalan cepat menuju ke lif, Afita tidak mau kecolongan untuk kali ini, hingga dia pun segera merapat ke tembok agar tak terlihat.


"Sial, di lantai berapa yang Cintia tuju" ucapan Afita bergegas menempuh jalur tangga.


Beruntung apa yang di cemaskan tak terjadi, nyatanya dia melihat kembali keberadaan Cintia sedang berjalan menyusuri lorong, sementara Afita terus membuntuti.


Sampai di sebuah kamar, Cintia membuka dengan kunci card yang ada ditangannya, dan itu pertanda Cintia yang pertama kali datang di sana.


Setelah Cintia masuk, Afita berlari hendak mendekati pintu kamar hotel, namun tiba-tiba saja Afita dikejutkan dengan kedatangan sosok Bima dari arah yang berlawanan.


"Oh Sh-it!" Teriak Afita bingung seketika.


Namun kemudian_


"Akh!" Teriak Afita ditarik oleh seseorang.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.