ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 71



Zafian sudah berada di sebuah rumah sakit pagi itu, melihat keadaan salah satu anak buahnya yang tengah Coma karena suatu insiden yang diluar dugaan.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Zafian disaat Firman sudah ada didekatnya.


"Sangat buruk untuk saat ini, tapi semua tenaga profesional disini akan mengusahakan yang terbaik, lalu apa yang akan kamu lakukan Zaf?" Ucap Firman yang cemas akan situasi sahabatnya saat ini.


"Kami masih terus mencari bukti yang sudah digandakan oleh nya, aku berharap segera di temukan dan kita bisa terus maju di pengadilan" jawab Zafian.


"Hem, aku juga berharap yang terbaik, sebaiknya sembunyikan keberadaan anak buahmu ini, beruntung tidak ditempatkan di Rumah sakit tempatku bekerja, tau sendiri bukan, disana pemegang saham terbesar adalah orang tua Eliza" ucap Firman.


"Hem, aku tau, terimakasih kamu sudah membantuku mencarikan Rumah Sakit yang aman untuk anak buahku yang perlu aku lindungi saat ini" sahut Zafian.


"Sama-sama, tapi aku berharap kau juga lebih berhati-hati, terutama Afita, dan juga Bunda Anita yang harus kamu lindungi"


"Aku tau, dan itu sudah kewajiban ku, heh.. aku rasa situasi saat ini semakin berbahaya" ucap Zafian yang kemudian berjalan menuju ruangan untuk melanjutkan perbincangan dengan sahabatnya.


*


*


Sementara di sebuah Rumah Sakit yang berbeda, nampak seorang laki-laki tengah duduk sambil mengamati pasien yang terbaring di tempat tidur.


"Akhirnya kamu datang juga, dan ini terlalu lama" ucap Edric Ricardo sedikit kesal dengan sosok disampingnya.


"Maaf Pa, aku terlalu banyak urusan yang harus segera di selesaikan" ucap laki-laki yang tak lain adalah Elonar Ricardo.


"Dan lihatlah apa yang terjadi denganku" sahut Edric.


"Maafkan aku sekali lagi Pa, dan siapapun yang melakukan ini padamu, akan mendapat balasan yang setimpal"


"Apa kau sudah tau semua persoalannya?" Tanya Edric Ricardo.


"Hem, tentu saja, aku bahkan sudah bertemu salah satu dari mereka, dan kekuatan wanita itu, sangat luar biasa, aku bisa merasakannya" ucap Elano sambil menerawang membayangkan pertemuan pertamanya dengan Afita.


"Jadi, kau sudah bertemu dengan wanitanya?" Tanya Edric terkejut.


"Hem, begitulah, dan saat ini, kita fokuskan dengan laki-laki yang bernama Zafian, aku akan memberikan pelajaran padanya!" Ucap Elonar Ricardo.


"Bagus, balaskan sakit hatiku!" Sahut Edric dengan tatapan mata penuh dendam.


"Tentu saja, Papa tenang saja"


"Tapi tunggu, apa wanita itu tidak mengetahui keberadaan mu?" ucap Edric khawatir.


"Tentu saja tidak Pa, aku memblokir kekuatanku saat menginjakkan kaki di negara ini" jawab Elonar Ricardo.


"Oh jadi bisa begitu, Hem, baiklah" ucap Edric memahami.


Tiba-tiba saja kamar perawatan terbuka, dan nampak Eliza kini berlari lalu memeluk Elonar sang kakak dengan erat.


"Kak, akhirnya kamu datang juga" ucap Eliza.


"Hem, bagaimana kabarmu?" Tanya Elonar Ricardo.


Dan tentu saja Eliza kini menceritakan kisahnya dengan sang mantan suami, berakhir dengan permasalahan Zafian yang sudah berani terhadapnya dan juga sang Papa.


"Rupanya dia benar-benar kurang ajar!" Ucap Elonar Ricardo.


"Begitulah kak, bahkan istri Zafian sudah berani menyakitiku" rengek Eliza berharap sang kakak juga membalaskan sakit hatinya akan hal itu.


"Wanita itu, siapa namanya?" Tanya Elonar Ricardo.


"Dia Afita Khaira"


"Itu saja?" Tanya Elonar menyelidik.


"Maksud kakak?" Tanya Eliza tidak mengerti akan apa yang ditanyakan kakaknya.


"Maksud ku keluarganya, apa kalian tidak mengetahuinya akan hal itu?" tanya Elonar kembali.


"Dia dari keluarga salah satu pengusaha dari Jakarta, itu saja" sahut Edric.


"Tidak ada lagi yang lain?, Ataukah kalian kesulitan mencari tau jati diri wanita ini?" Tanya Elonar merasa aneh.


Baik Eliza maupun papanya menjelaskan sejauh mana mereka bisa mengetahui siapa Afita Khaira, sosok wanita yang hanya diketahuinya dari keluarga pengusaha yang ada di Jakarta, bahkan tidak banyak kabar yang beredar tentang keluarganya.


"Ini sangat aneh.." gumam Elonar di akhir kesimpulannya.


Dan seperti yang sudah direncanakan oleh Elonar Ricardo, kini dirinya bergerak satu persatu dalam melakukan rencananya.


*


*


"Apa masih belum di temukan?" Pertanyaan Zafian disaat sore menjelang.


"Belum pak, kami masih terus mencarinya, bahkan di Apartemennya juga sudah kita susuri semuanya, tapi bukti-bukti yang kita cari tidak ada di sana" jawab salah satu anak buah Zafian.


"Hem, baiklah, lanjutkan pencarian ke tempat yang mungkin saja digunakan olehnya" sahut Zafian.


Berakhir beberapa anak buahnya keluar dari kantor, disaat yang bersamaan, datang seseorang menginjakkan kaki menuju tempatnya, dengan tatapan mata yang tegas dan dingin terus melangkah seolah tidak perduli lagi dengan sekretaris Zafian yang kini menghadangnya.


"Maaf tuan, harus ada janji temu dulu sebelum menghadap pak Zafian" ucap sekretaris itu dengan tegas.


"Jangan menghalangiku, atau kamu menyesali perbuatan mu" ucap Elonar Ricardo.


Brug.


Detik berikutnya sentuhan tangan Elonar membuat tubuh sekretaris itu kejang dan jatuh tak sadarkan diri.


"Menyusahkan!" Gumam Elonar.


yang terjadi kemudian, pintu ruang kerja Zafian terbuka lebar dengan kasar, sampai-sampai kelima jari yang tengah mendorong nya tercetak disana.


Sesaat kemudian, kini Zafian sudah berdiri dengan satu pengawal khusus yang berada di sampingnya.


"Elonar?!" Ucap Zafian terkejut melihat akan siapa yang kini mendatanginya.


"Hem, masih ingat denganku rupanya, bagus" ucap datar Elonar berjalan maju lebih dekat ke Zafian.


"Haruskan kedatanganmu dengan cara seperti ini?" Sahut Zafian melihat sekilas sang sekretaris sudah tergeletak di lantai.


"Kalau yang kau maksud adalah sekretaris mu, aku terpaksa memberi pelajaran padanya karena sudah berani menghalangi jalan ku"


"Kau benar-benar _"


Brak.


Tangan Elonar terangkat dan tiba-tiba saja satu laptop yang ada di meja kerja itu meledak dan terbakar, tentu saja Zafian sangat terkejut.


"Apa yang kau lakukan Elonar, hentikan!" Teriak Zafian memperingatkan.


"Kenapa?, Itu hanya peringatan kecil untuk mu, manusia rendah yang tidak tau terimakasih dan beraninya kau mengusik keluargaku, Ba-ji-ngan!" Ucap Elonar dengan tatapan yang berubah menjadi nyalang.


"Bukan aku yang membuat masalah, tapi Eliza dan Tuan Edric yang mengawalinya, sudah cukup selama ini aku hanya dimanfaatkan dan semakin di injak-injak oleh keluargamu!" Teriak Zafian untuk menjelaskan.


"Itu pantas untukmu karena kau memang berawal hidup dari kedua kaki papaku, bre-ng-sek!" Teriak Elonar dan kini sudah menyerang Zafian.


Sontak sang pengawal dengan sigap langsung menghadang, Elonar terkejut dengan kekuatan orang biasa yang dirasa cukup mumpuni.


"Pengawal ini mempunyai ilmu bela diri yang cukup unik dan kuat, siapa yang menempatkannya?" Batin Elonar yang terus menyerang namun masih bisa di atasi oleh Zafian dan juga pengawal khususnya.


Keadaan menjadi semakin panas, saat Elonar kembali menggunakan kekuatannya, dengan serangan yang sangat cepat, tangannya hampir saja bisa menyentuh tubuh Zafian, beruntung sang pengawal dengan cepat menghadangnya, hingga berakhir dia yang terkapar dengan luka dalam cukup serius.


"Tuan, sebaiknya anda pergi!" Ucap pengawal itu sambil memegangi dadanya.


Elonar tertawa, merasa puas dengan apa yang telah terjadi dengan lawan yang ada di hadapannya, melangkah kembali untuk menyerang Zafian dengan kilatan mata yang sangat mengerikan.


Zafian tidak gentar menghadapinya, untuk saat ini dirinya harus bisa bertahan apapun yang akan terjadi.


"Berdirilah, dan menyingkir dari sini, aku yang akan menghadapinya!" Ucap Zafian lalu membatu sang pengawal untuk berdiri kembali.


"Tapi Tuan, sebaiknya anda pergi, biara saya yang menghadangnya, dia bukan lawan yang seimbang, kekuatannya tidak bisa kita remehkan"


"Aku tau, dan pergilah!" teriak Zafian.


Zafian segera melompat berbalik menyerang Elonar terlebih dahulu, kekuatan bela dirinya juga tidak bisa di anggap remeh.


Dengan seringai diwajahnya, Elonar kini menerima serangan Zafian, tentu saja tidak bisa dikatakan seimbang karena Elonar kini menggunakan kekuatan tenaga dalamnya kembali.


"Awas!" Teriak sang pengawal yang rupanya kembali berlari sekuat tenaga menghadang serangan telapak tangan Elonar yang sedikit lagi menyentuh dada Zafian.


Brug


Sang pengawal terjatuh dengan kedua mata yang sudah terpejam di hadapan Zafian.


"Kau, Ba-ji-ngan!" Teriak Zafian melihat hal itu, dan semakin murka menyerang Elonar kembali.


*


*


Afita yang tengah disibukkan dengan sisa pekerjaannya sore itu terkejut saat merasakan sebuah kekutan yang bisa di deteksi oleh instingnya, seketika dirinya menghubungi handphone Zafian, namun tidak juga diangkat oleh sang pemilik, beralih ke telepon kantor juga tengah berada dalam sambungan sibuk.


"Oh my God, angkatlah yang!" Ucap Afita berharap, setelah berulang kali mencobanya lagi.


Tidak juga mendapati apa yang diharapkan, Afita segera melesat dengan tergesa-gesa.


"Nona Afita!, Tunggu, ada apa?" Tanya salah satu pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya.


"Ikut dengan ku!" Ucap Afita dengan terus berlari keluar dari kantornya.


Dengan cepat keduanya kini berlari masuk dan melesat menuju tempat kerja Zafian, wajah cemas begitu tampak pada Afita, berdoa yang terbaik akan suaminya dengan waktu yang tidak mungkin di pangkasnya hingga sampai disana.


"Macet Nona"


"Oh sial!" Sahut Afita semakin panik.


Menggunakan kekuatan meringankan tubuhnya untuk melompat dan berterbangan di udara rasanya tidak mungkin dilakukan di sore yang masih terang benderang seperti ini.


"Apa tidak ada jalan yang lain?" Tanya Afita.


Detik berikutnya, alat canggih pelacak jalan pun mulai bekerja, dan dengan semangat sang pengawal kini berbelok di gang sempit untuk menyusuri jalan alternatif.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA ya gaes..


Bersambung.