
Naura masih terdiam, merasakan bibirnya masih tidak mampu untuk berkata.
"Katakan Naura" ucap Firman dengan suara yang begitu tenang.
Firman tersenyum, mendapatkan ide lain untuk membuat Naura tidak merasa malu atau tertekan.
"Baiklah aku akan mengatakannya padamu lebih dulu Naura, dari dulu Aku sangat menyukaimu, sampai sekarang perasaan itu tidak berubah dan semakin kuat, saat ini aku ingin mengerti Bagaimana perasaanmu karena aku tidak ingin membuang-buang waktuku lagi, maka jika kau tidak ingin membalas perasaanku Aku akan pergi sejauh mungkin dari mu" ucap Firman dengan tenang dan berharap kali ini Naura bisa mengungkapkan perasaannya.
Naura masih terdiam, namun di dalam batinnya dia berusaha menguatkan untuk mengungkapkan semua perasaannya saat ini juga.
Naura menarik nafas panjang, lalu memejamkan matanya sejenak.
"Aku menyukaimu, sudah sangat lama" ucap Naura pada akhirnya.
Tidak tahu lagi harus bagaimana Firman mengungkapkan kebahagiaannya saat ini, seketika senyumnya terbit menghiasi bibirnya.
"Tapi_" lanjut Naura membuat senyum Firman seketika menghilang.
"Apa?" Tanya Firman was-was.
"Tidak mungkin aku menyukai mu" jawab Naura lagi dan tentu saja membuat Firman sangat terkejut.
"Apa maksudmu?" Ucap Firman seketika.
"Aku bukan hanya menyukaimu, Aku menyayangimu, mengkhawatirkanmu, dan aku rasa itu sebuah cinta bukan?" Lanjut Naura membuat Firman begitu berbunga-bunga dengan semua perkataannya.
"Of course Baby" jawab Firman dengan Rona bahagia.
"Aku benar-benar minta maaf jika dulu pernah mengecewakanmu karena menolak semua perasaanmu, aku takut hanya terobsesi saja padamu karena rasa suka yang tiba-tiba muncul saat kamu menolongku, Aku juga ingin memastikan bahwa rasa cintamu waktu itu bukan karena kasihan melihat keadaanku, dan aku sangat takut semua rasa itu akan membawaku melambung tinggi namun kemudian terhempas kembali ke bawah dan akan membuat luka yang cukup dalam" Naura masih menundukkan pandangannya saat menjelaskan semuanya.
Firman hanya terdiam dan tidak melepaskan tatapan matanya ke wajah cantik Naura yang kini sudah bisa berpikir lebih dewasa.
Naura menarik nafas panjang setelah menjelaskan semuanya, lalu dirinya ingin beranjak dari tempatnya.
"Tetaplah di sini mau ke mana?" Ucap Firman sambil menahan tangan Naura.
"Sorry, sepertinya aku terlalu banyak bicara" jawab Naura.
Firman kembali tersenyum.
"Mengapa baru sekarang kamu mengatakan semuanya, Kenapa tidak sejak dulu?, Rasanya begitu banyak waktu yang terbuang dengan percuma" ucap Firman.
"Aku sudah mengatakan semuanya tadi, Tolong jangan membuatku mengulanginya, ini benar-benar memalukan" jawab Naura menunduk dan berusaha untuk menghindari tatapan Firman.
Kembali Firman menangkup pipi Naura, dan keduanya kini saling menatap.
"Jadi kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih?" Tanya Firman.
"Pertanyaanmu seolah kita ini masih anak remaja" jawab Naura dan tentu saja membuat Firman tertawa.
Kemudian Firman segera beranjak, dan untuk hari ini sengaja menyediakan makanan untuk Naura walaupun terlihat kebingungan saat mencari sesuatu untuk membuatnya.
"Biarkan aku membantumu" ucap Naura yang hendak berdiri.
"Tidak perlu, aku hari ini ingin melayani kekasihku, kuharap kamu tidak menggagalkan rencanaku" sahut Firman dan seketika membuat Naura tertawa mengurungkan niatnya untuk berdiri.
Naura mengamati semua yang dilakukan oleh Firman dalam menyiapkan makanan yang akan disantap bersama.
"Boleh aku bertanya sesuatu, dan ini mungkin akan sedikit membuatmu untuk berpikir" ucap Firman.
Naura hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Apakah kau akan keberatan jika aku memberikan beberapa aturan dalam hubungan kita?" Firman menatap ke arah wanitanya.
"Aturan apa maksudmu?" Naura yang masih tidak mengerti.
"Aku tidak peduli kamu menganggapku posesif, tapi bisakah kamu membatasi pergaulanmu dengan pria lain meskipun mereka adalah sahabat dekatmu?" Ucap Firman.
"Maksudmu Mark dan Leon?" Tanya Naura sambil mengangkat alisnya.
"Yah begitulah" jawab Firman.
"Oh my_, kamu cemburu pada mereka?" Tanya Naura.
Firman menetap sebentar kemudian mengangguk dengan jujur akan hal itu, menurutnya itu lebih baik daripada dia harus menahan kesal saat melihat Naura begitu dekat berada di antara mereka.
"Sepertinya kau sangat menyukaiku" sahut Naura.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, Kenapa kau menyukaiku, Apa yang membuatmu begitu tertarik padaku?, Aku bahkan wanita yang bisa dikatakan dari kalangan orang biasa, hanya saja nasib baik membawaku hingga Kak Afita mengangkatku menjadi adiknya" ucap Naura.
"Yang kutahu, Kau wanita spesial, bisa menggetarkan hatiku dan membuatku bahagia saat di dekatmu" jawab Firman yang kini sudah melepaskan Naura dan kembali menyiapkan makanan.
Sementara Naura kembali duduk dan tersenyum, dalam hatinya sempat bertanya Kenapa banyak pria yang menyukainya, tentu saja Naura tidak pernah menyadari sama sekali bahwa dirinya adalah wanita yang cantik dan menarik.
Mungkin karena sejak kecil dia dibesarkan dalam keluarga yang hidup dengan pas-pasan dan dulunya hanyalah wanita biasa dengan pakaian yang sangat sederhana dan bahkan terkadang terlihat kumal.
Sebutkan penyiksaan verbal dan fisik sewaktu kecil, hal itulah yang menjadikan Naura menjadi sosok pribadi yang rendah diri dan tidak percaya diri.
Beruntung kecerdasan otaknya yang bisa diandalkan membawanya pada sekolah favorit yang memberikannya beasiswa, sehingga dia menjadi sosok wanita yang mandiri dan bekerja di perusahaan avita.
"Akhirnya, makanan sudah siap!" Ucap Firman kemudian memberikan satu ciuman di pipi Naura.
"Haruskah kamu men-cium ku setiap waktu?" Ucap Naura yang merasa kurang begitu nyaman dengan apa yang dilakukan Firman.
"Kamu kekasihku sekarang, haruskah aku mencium orang lain?"
"Kebiasaanmu itu mengerikan" jawab Naura.
"Tapi bagiku menyenangkan, aku lihat kamu juga menginginkan" ucap Firman.
"Astaga, sepertinya laki-laki yang kupilih ini sangat mesum" ucap Naura.
"Hanya padamu my sweetie" jawab Firman.
"Oh ya, kita lihat saja" sahut Naura.
"Hem, tentu saja" jawab Firman yang kini sudah siap memimpin doa sebelum menikmati hidangan.
Keduanya makan dengan hati yang sangat bahagia, Naura tidak menyangka sama sekali kalau akhirnya hari ini semua perasaannya bisa terungkapkan kepada Firman.
Begitu juga sebaliknya, Firman yang hampir saja menyerah akan Naura ternyata mendapatkan titik terang hingga hari ini akhirnya bisa mendapatkan Naura.
Saat keduanya hanya saling melempar pandang dan tersenyum, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ponsel Naura yang berdering.
"NAURA!!"
Suara teriakan mengejutkan Naura hingga hampir membuatnya tersedak.
"Kak Afita, ada apa kak?" Sahut Naura begitu takut.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan Firman!" Teriak afita begitu nyaring.
"A-Aku dengan Dokter Firman tidak melakukan apa-apa Kak" jawab Naura dengan gugup.
"Masih mau menyangkal, kamu lupa di tempatmu sekarang ini ada CCTV, dan aku melihat semuanya!" seru Afita.
Uhuk uhuk
Kali ini Naura benar-benar tersedak, dirinya lupa dan tak menyangka sama sekali, tentu saja apa yang dilakukan Firman terhadapnya pasti terekam dengan sempurna.
"Ma-maaf Kak, kami ha_"
"Aku akan bertanggung jawab kalau itu yang kamu mau, lagi pula sebuah ciuman tidak akan membuat Naura hamil bukan?" Firman sudah menyambar ponsel Naura dan menjelaskan kepada Afita.
"Oh my God, empat hari lagi aku pulang, dan kalian harus segera MENIKAH!" Teriak Afita sebelum memutuskan sambungan.
"APA?!" Naura terkejut mendengar perkataan terakhir kakaknya.
"Tenang saja" ucap Firman hanya tersenyum dan mengembalikan ponsel Naura.
"Tenang bagaimana, Kak Vita menyuruh kita menikah!" Jawab Naura yang tampak panik.
"Aku akan mengurusnya"
"Benarkah, Tolong jelaskan kita hanya berci-uman saja tidak lebih" ucap Naura.
"Bukan itu yang akan aku urus, tapi pernikahan kita" sahut Firman dengan santainya.
"APA!!"
Naura sampai melongo tak percaya.