ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 123



Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja berkecamuk di dalam hati sosok Zafian saat berada di dalam sebuah perusahaan yang baru saja di tinggalkan.


"Ada apa pak?" Tanya salah satu pegawainya yang ikut dalam pertemuan.


"Apa kalian merasakan sesuatu?" Tanya Zafian yang masih tidak mengerti.


"Maksud bapak?"


"Barangkali ada yang tertinggal?" Sahut Zafian lagi.


"Maaf pak, sepertinya tidak ada, semua sudah kita rapikan dengan baik" jawab salah satu pegawainya lagi.


"Ya sudah, aku hanya merasa ada yang tertinggal, entahlah" ucap Zafian berusaha menenangkan pikirannya.


Dalam hati ya merasakan sesuatu yang aneh, seakan tidak rela meninggalkan perusahaan JAYA ABADI karena sesuatu yang merasa tertinggal di sana, hingga kemudian, wajah sang istri melintas sekejab saat matanya terpejam.


"Afita" sebuah nama tersebut dalam kata, Zafian menghela nafas menahan begitu banyak kerinduan.


Perjalanan Zafian terhenti di sebuah Rumah mewah yang baru beberapa hari menjadi miliknya, tidak pernah di tempati memang, tapi dengan menempatkan seseorang untuk merawatnya, Rumah itu terlihat Bersih dan begitu nyaman dengan semua kemewahan yang ada di dalamnya.


Dengan beberapa pegawai yang ikut dan bertempat di lantai bawah, Zafian menempatkan dirinya di lantai atas bersama dengan sahabatnya yang tak lain adalah Firman.


Kedatangan Firman ikut dengannya bukan sesuatu yang hanya di gunakan untuk sekedar pergi berlibur, melainkan menjalankan tugas dari Rumah Sakit Pusat tempatnya bekerja untuk melihat perkembangan dari Rumah Sakit Cabang yang ada di sana.


*


*


Afita terdiam di Kantin perusahaan, makan siangnya memasuki mulutnya perlahan, alam pikirannya tidak berada di tempatnya saat ini, hingga beberapa pegawai yang lain menatap aneh ke arahnya.


"Kenapa harus perusahaan AFIAN GROUP yang bekerjasama dengan perusahaan ini, dan itu berarti, Zafian kah yang tadi datang ke perusahaan?, Atau hanya orang kepercayaannya saja yang mewakilinya?" Batin Afita dengan tatapan kosong kearah makanan yang lebih banyak di pandang dari pada di makan.


Hingga kemudian, suara cempreng seseorang membuatnya kaget dan tersadar.


"Ada apa denganmu Fita?, Tidak enak badan?" Tanya siapa lagi kalau bukan Bu Tiwi.


"Iya Bu, oh, tidak, hanya kurang berselera" jawab Afita yang berusaha menyembunyikan kegalauan.


"Tumben, tidak biasanya kamu menyia-nyiakan makanan" sahut Bu Tiwi yang kini sudah berada di depannya dan menunggu pesanan makan siangnya datang.


"Bukan menyia-nyiakan Bu, tapi masih proses memakan" shut Afita yang kini sudah kembali semangat untuk mengisi perutnya.


"Oh ya, ada yang kamu pikirkan?" Tanya Bu Tiwi lagi.


"Tidak ada Bu"


"Halah, tidak usah membohongi ibu, kelihatan dari wajah kamu Fit" ucap Bu Tiwi.


"Enggak Bu, hanya kepikiran tadi saja, maaf tidak bisa masuk dan ikut rapat bersama, apa Pak Reno mencari saya?"


"Heh, ya jelas, tapi salah sendiri juga menyuruh kamu beli sesuatu disaat yang kurang tepat"


"Lalu Bu?" Tanya Afita yang nampak cemas.


"Tidak ada lalu lalu, beruntung sekarang Bos kita itu disibukkan dengan pekerjaannya setelah meeting dengan perusahan AFIAN GROUP"


DEG


lagi-lagi jantung Afita berdegup kencang saat nam perusahan itu terdengar di telinganya, seketika wajah sang pemilik perusahaan itu memenuhi isi kepalanya, hingga apa yang dikatakan Bu Tiwi tidak ada yang masuk ke telinganya lagi.


"Ehem, fita, Afita, Fita!" Teriak Bu Tiwi lagi.


"Eh iya Bu, maaf" sahut Afita segera tersadar dari lamunannya.


Bu Tiwi melengos sejenak, lalu segera tersenyum setelah melihat pesanan makan siang sudah hadir di depan matanya, namun kemudian _


Terdengar suara pesan masuk di handphonenya, "oh ya Tuhan, tolong jangan lagi_" ucap Bu Tiwi dengan wajah berharap dengan cemas.


Afita melihat geli ekspresi wajah sang Bos wanita yang ada didepannya, lalu kemudian menghilangkan senyuman saat sorot mata tajam kini sudah menatapnya.


"Gara-gara kamu!" ucap Bu Tiwi dengan emosi yang ditahan.


"Ha, kok saya Bu?" Ucap Afita bingung sendiri.


"Lihat ini!" Bu Tiwi segera menunjukkan isi pesan dari sang penguasa perusahaannya, dimana meminta dirinya untuk segera membawa Afita ke hadapannya, karena di hubungi sejak tadi tidak bisa.


"Oh, maaf Bu, handphone saya silent di tas, hehe" sahut Afita tanpa dosa.


"Fita!"


"Iya Bu, maaf, saya akan kesana sendiri, tak perlu diantar" Fita segera melesat pergi sebelum Bu Tiwi benar-benar akan membuat telinganya jebol karena omelannya.


"Dasar!" Shut Bu Tiwi yang masih menahan jengkelnya.


Berjalan cepat dan sedikit berlari, Afita merasa jengah sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, harus menerima keadaan sebagai anak buah di perusahaan tempatnya bekerja.


Ceklek.


"Iya pak maaf" Afita langsung masuk setelah mengetuk pintu.


"Tu tunggu pak, mau kemana?" Ucap Afita dengan wajah bingungnya.


"Memberikan hukuman padamu, dan aku tunggu di mobil, cepat bereskan barangmu karena nanti kamu bisa langsung pulang"


"Hukuman?, Tapi pak, saya_"


"Cepat!" Reno sudah melanjutkan jalannya dan tak peduli dengan Afita yang sudah mangap mau berucap.


"Dasar, menyebalkan!" Ucap Afita lirih dan kini segera membereskan tas, dan barang bawaannya, lalu setelah itu segera melesat ke tempat di mana sang Bos sudah menunggu di dalam mobilnya.


Terlihat senyum tipis dari Reno saat melihat Afita tergopoh-gopoh menghampirinya dengan membawa beberapa barang yang terlihat penuh di tangannya.


"Masuk!"


"Ha, nggak usah pak, biar saya naik taksi saja, beri saja alamat dimana saya harus menyusul pak Reno nanti"


"Baik, tapi dengan syarat, aku tambah hukumanmu sampai Minggu depan, mau?!" Ucap Reno dengan wajah datarnya.


"Apa?!"


"Masuk!" Bentak Reno membuat Afita tersentak.


Terpaksa Afita masuk, dengan raut wajah yang jauh dari kata senang dan bahagia, menarik nafas dalam sejenak, berusaha menenangkan hatinya dan sorot mata itu berubah menjadi tenang kembali.


Reno nampak terkejut dengan perubahan ekspresi wanita yang duduk di dekatnya, tidak ada ucapan kata, namun terlihat begitu tenang, bahkan kepanikan yang membuatnya merasa menang, tak nampak di wajahnya.


"Apa kau tau, hukuman apa yang akan aku berikan?"


"Tidak pak?"


"Lalu kenapa kau mau saja?"


"Memangnya ada pilihan lain?"


"Ada, kau tolak dan keluar sekarang juga dari perusahaan"


"Itu merugikan saya Pak" sahut Afita.


"Bagus, berarti kamu mau melakukan semua yang aku perintahkan?"


"Selagi itu masuk akal dan tidak keterlaluan Pak"


"Okey, sepertinya kamu sudah siap, aku semakin suka memberikan hukuman itu padamu"


Afita tak menjawab, "kalau kau macam-macam, lihat saja!" Batin Afita dengan duduk lebih rileks dan tak lagi harus repot bertanya akan di bawa ke mana.


Hingga kemudian, tiba di Apartemen mewah dan Afita mengikuti langkah sang Bos dari belakang dengan jarak aman yang di sengaja.


Pintu Apartemen terbuka, dan betapa terkejutnya Afita melihat ruangan utama yang begitu berantakan, bahkan banyak botol minuman yang bergelimpangan tidak karuan.


"Apa-apaan ini?" Ucap lirih Afita dan tertangkap telinga Reno yang sudah mengeluarkan senyum sinis nya.


"Tidak perlu heran, semalam habis ada pesta, dan tugasmu hari adalah, bereskan semua kekacauan ini" ucap Reno.


"Apa?!, Ini semua pak?" Ucap Afita terkejut dengan apa yang di perintahkan.


"Cepat bereskan, kalau kau tidak ingin pulang larut malam" sahut Reno lalu segera masuk ke dalam kamarnya, tidak peduli lagi dengan Afita yang masih melongo tak percaya.


Afita memejamkan mata sekejab, rasanya ingin sekali menghajar Reno saat ini juga, namun lagi-lagi keadaan yang mengharuskan dirinya harus menerima kondisi apapun saat ini, akhirnya Afita menyingsingkan baju dan membersihkan ruangan itu dengan segenap kekuatan yang tersisa.


Jam empat sore tiba begitu cepat, Afita membereskan separoh nya dan masih ada sisa lagi yang harus di selesaikan, terdengar suara handphone berbunyi, Afita memasang headset untuk menjawab telepon dari Naura.


Dengan tangan yang masih tetap bekerja, perbincangan pun terjadi di sana.


"Jangan tertawa, aku sedang tidak enak hati Nau" ucap Afita.


"Sorry kak, kenapa tidak pakai tenaga dalam saja biar cepat selesai dan pergi dari sana"


"Hem, dan pria bre-ng-sek itu tau semua itu, begitu maksudmu?"


"Memangnya dia menunggui kak Afita?" Tanya Naura lagi.


"Tentu saja tidak, tapi Cctv di ruangan ini ada di mana-mana, aku juga takut kekuatanku akan memicu dan mudah di deteksi oleh orang-orang yang ingin aku hindari" ucap Afita begitu saja.


Tampak Naura tak menyahut lagi, sunyi tak ada suara di dalam perbincangan itu, hingga Afita memastikan lagi kalau masih terhubung.


"Nau, hallo, Naura?!"


"I iya kak, maaf, aku hanya berpikir, memangnya ada orang-orang yang ingin kak Afita hindari di kota ini?"


Afita terdiam, kekhawatirannya muncul mengingat kerja sama perusahaannya dengan perusahaan yang bisa di pastikan itu adalah milik Zafian.


Yuk jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.