My Secret Wife

My Secret Wife
Kesembilan



Tidak seperti dugaan Zella, ternyata di supermarket mereka tidak berjalan bersama. Zella benar-benar hanya berbelanja sendiri karena Remi menemui kliennya di salah satu restoran yang tidak begitu jauh. Pria itu tidak mengatakannya sejak awal dan itu membuat Zella kesal. Seharusnya ia bisa bersantai di rumah hari ini, tapi sekarang yang dilakukannya adalah mengambil satu persatu barang yang sudah ditentukan oleh daftar belanjaan dengan kesal. Sesekali Zella mengamati jam tangannya dan ia benar-benar sudah menghabiskan banyak waktu.


Dua tahun di Jakarta dan tidak pernah pergi belanja sudah cukup menjadi alasan mengapa Zella menghabiskan banyak waktu berputar-putar ditempat yang sama demi mencari satu barang. Untungnya dirinya hanya tinggal mencari satu barang; Kornet. Setelah semuanya terkumpul, dengan putus asa Zella berjalan ke kasir sambil mendorong troli yang sudah sangat maksimal.


Hari ini Zella banyak berkeringat karena mendorong troli yang penuh dan berat yang membutuhkan banyak tenaga. Remi hanya memberinya sebuah kartu tipis untuk membayar semua belanjaan yang diambil oleh Zella. Harusnya saat ini ia sudah menuju kasir dan membayar semua barang belanjaannya, namun kaki Zella membawanya belok menuju rak sampoo dan sabun. Zella terlihat serius menatap sampoo-sampoo dan sabun yang berjejer disana. Zella mengambil salah satu, mengendus aroma yang dikeluarkan oleh sampoo itu.


"Harumnya enak, kalem." komentar Zella. Ia langsung memasukkan botol sampoo itu kedalam trolinya.


Zella hendak mengambil sabun lagi dengan merek yang sama, namun gerakan tangannya terhenti saat mendengar suara berat pria yang familiar disampingnya. Maka dengan berani Zella menengok kesamping dan terkejut dengan apa yang dilihatnya..


"Mike.."


Itu Mike. Zella menganga terkejut karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan Mike di tempat dan situasi seperti ini. Mike pun sama terkejutnya dengan Zella, namun pria itu segera mengontrol dirinya agar bersikap lebih tenang.


"Zella." ucap Mike dengan suara yang halus, namun masih bisa didengar oleh Zella.


"Mike, kamu?! Kamu kemana aja? Aku sudah nyari kamu kemana-mana!" Ungkap Zella dengan serbuan pertanyaannya. Mike terlihat kikuk saat bersama dengan Zella saat ini.


"O-Oh ya?" tanya Mike dengan senyum yang canggung. "Maaf, aku ada urusan yang penting sementara aku ninggalin Jakarta dan baru balik kemarin."


"Mike.. aku mau bicara penting sama kamu, bisa kita pergi sebentar?"


**


"Jadi, kenapa Zell?" tanya Mike to the point saat mereka sudah berada di kafe depan supermarket.


Zella nampak diam sambil memperhatikan Mike. Pria itu sudah banyak berubah, ia menjadi lebih kurus dan berantakan. Berantakan dalam artian, memiliki kumis dan jenggot, sebelumnya Mike memiliki wajah yang bersih karena pria itu memang tidak suka memiliki kumis dan jenggot, aneh rasanya saat bertemu Mike dengan keadaannya yang seperti itu.


"Apa kabar? Gimana sama pernikahan kamu? Kamu bahagia kan sama suamimu? Kamu menikmati pernikahanmu?" tanya Mike lagi. Pria itu menyepurut kopi yang ia pesan begitu tiba di kafe ini. Zella tidak mengerti kenapa Mike terlihat sangat canggung didepannya. Ini bukan Mike yang seperti Zella kenal.


"Kamu tau aku sudah—"


Mike mengangguk pelan. "Aku sudah tau, bahkan jauh sebelum hari pernikahan kita dibatalkan." Ucap Mike dengan tertunduk, namun ia masih berusaha tenang.


"Mike, aku nggak ngerti sama situasi ini! Aku nggak paham kenapa tiba-tiba aku sudah nikah sama orang lain, dan itu bukan kamu! Aku juga nggak ngerti kenapa suamiku dia, bukan kamu!"


"Gimana aku bisa tenang sementara aku nggak tau apa yang terjadi sama hidupku! Tell me!"


"Zella.. kita sudah putus lama. Kamu lebih milih Remi dibandingkan aku, harusnya hari pernikahan kita adalah hari bahagia kita tapi justru kamu malah nikah sama Remi, kenapa kamu lupa? Kamu cinta sama dia, maka dari itu kamu batalin pernikahan kita dan kamu milih dia sebagai suami kamu.." Mike samasekali tidak menatap Zella saat mengatakannya, pria itu sebisa mungkin mengalihkan pandangannya kesana kemari agar matanya tidak bertemu pandang dengan mata Zella.


"Mike, no.. tolong bantu aku sadar dari mimpi ini." Zella menggeleng dengan keras, menolak jawaban yang diberikan oleh Mike, sekalipun itu adalah kenyataannya.


"Sayangnya ini bukan mimpi, Zella.. aku sudah banyak menyesal, ngebiarin kamu direbut oleh orang lain. Aku pengecut. Ini kenyataan, kenyataan pahit yang harus aku terima kalo kamu bukan lagi calon istriku."


Zella bisa mendengar dengan jelas nada penuh luka dari ucapan Mike. Pria itu masih nampak tenang menjawab semua kebingungannya, walaupun ia saat ini sedang menunduk, tapi Zella tau bahwa pria itu berusaha menahan tangisnya dengan tidak menatap Zella. Itu menyakiti hati Zella, sakit rasanya.


"Aku minta maaf kalo aku bicara ngelantur, anggap aja aku lagi mabuk."


"Mike, apa kamu makan dengan teratur?" tanya Zella hendak menyentuh wajah Mike, sayangnya pria itu menghindarinya. Ia menjauhkan wajahnya dari sentuhan tangan Zella.


"Dont worry about me, Zella. I'm okey."


Sayangnya bukan itu jawaban yang diinginkan oleh Zella. Bahkan Zella tahu jawaban yang paling benar dari pertanyaannya, Mike hanya berusaha membuatnya untuk tidak khawatir meskipun itu gagal. Mike mencoba membuang pandangannya, kemana saja asalkan tidak memandang Zella. Itu lebih baik menurutnya, karena bersamaan dengan itu pula Mike akan merelakan Zella menjadi milik yang lain.


"Zell.. kayaknya kamu harus balik sekarang, aku takut suamimu ngeliat kita disini dan dia salah paham." ucap Mike, walaupun tenang tapi Zella menangkap Mike yang mengusirnya secara halus.


"Mike masih banyak yang mau—"


"Lain kali ya, Zell. Aku nggak bisa lama-lama sama kamu, aku takut aku ngelakuin hal yang seharusnya nggak aku lakuin, aku harus ingat kalo kamu sekarang 'istri orang.'"


Melihat Zella yang samasekali tidak bergerak dari kursinya, Mike menghela nafas. Ia memilih untuk pergi duluan dari sana dan meninggalkan Zella yang masih menatapnya dengan mata yang basah. Ya, gadis itu menangis. Menangis menatap kepergian Mike yang samasekali tidak menatapnya. Berlari pergi menjauh tanpa memperdulikan Zella lagi. Mulai sini, Zella menjadi yakin bahwa pernikahannya dengan Remi adalah kenyataan. Tatapan penuh luka dan rasa sedih Mike sangat menjelaskan bahwa ini bukanlah sebuah kebohongan. Zella benar-benar sudah menjadi istri dari seorang Remi Abimana, yang awalnya harusnya ia menjadi istri dari seorang Mike Sailandra.


Zella tidak bisa melupakan saat Mike mengatakan kalau pria itu masih mencintainya dan bisa mati jika harus orang lain yang bersamanya. Ucapan Mike waktu itu memang menjadi kenyataan sekarang, Zella dimiliki oleh orang lain. Dan itu kekalahan Mike. Zella seharusnya tidak bertanya apakah Mike makan dengan teratur atau tidak, istirahat dengan cukup atau tidak. Semua sudah terjawab saat ia bertemu Mike di supermarket. Pria itu kehilangan banyak berat badannya, ia menjadi lebih kurus dari terakhir yang Zella lihat, Mike memang melakukan diet untuk pernikahannya tapi tidak sampai sekurus ini. Zella sangat mengetahui bahwa Mike benar-benar tersiksa dengan hidupnya karena harus melihat dan merelakan Zella memilih yang lain.


— Bersambung