
Zella membuka mata dan menemukan dirinya kembali tanpa pakaian, ia benar-benar shock. Kejadian ini terulang lagi padahal semalam dirinya tidak melakukan apa-apa. Seingatnya, Remi tidur lebih dulu dan Zella benar-benar menghabiskan malam dengan membaca buku. Lalu apa kali ini Remi kembali memindahkannya ke tempat tidur dan membuka pakaiannya? Zella menghela nafas pelan dan berusaha membuka matanya lebih lebar. Tapi… Astaga apa yang ia lihat? Zella segera memejamkan matanya. Ia berbalik menuju sisi sebaliknya dari tempat semula dirinya menghadap. Ia melihat Remi sedang mengenakan pakaiannya, jantung Zella tiba-tiba berdetak kencang lagi. Sebaiknya ia pura-pura tidur, itu lebih baik.
Cukup dengan bekal mengantuk semalam untuk Zella kembali tidur, tapi rencananya untuk pura-pura tidur ternyata membuatnya benar-benar terlelap. Ia kembali terbangun saat merasakan sesuatu yang hangat membelai pipinya diiringi suara Zella yang memanggil-manggilnya dengan sebutan sayang. Zella berusaha membuka mata dengan susah payah. Zella sudah rapi.
"Kamu tidur telat semalam. Hari ini nggak usah ke kantor aja!" Bisiknya. Bulu kuduk Zella meremang. Ada sesuatu yang aneh pada perasaannya saat mendengar bisikan Remi yang sangat dekat dengannya. Zella berusaha mengangguk, Remi memberikan senyum terbaiknya.
"Kamu yang mindahin aku ke tempat tidur?"
"Iya. Kayaknya kita harus ngembalikan AC ke kamar ini. Kamu kepanasan semalam jadi aku bukain pakaianmu." Wajah Zella memerah, terlebih saat Remi menyelimuti tubuhnya, ia tidur dalam keadaan seperti ini semalaman di sebelah Remi? Remi sudah puas memandangi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun dan Zella bersyukur Remi tidak melakukan apa-apa terhadapnya.
"Kamu nggak perlu ngelakuin itu!"
"Maksudmu bukain pakaianmu?" Tanya Remi. Zella menarik selimutnya sehingga setengah wajahnya tertutupi.
"Maksudku masang pendingin, kamu nggak bisa tidur dalam ruangan ber-AC, aku masih bisa tidur tanpa itu meskipun harus tanpa pakaian kayak gini." Senyuman Remi mengiringi tatapannya pada Zella yang sibuk menutupi wajahnya. Astaga Zella, mengapa kau bersikap semanis ini? Remi berujar di dalam hati.
"Apa ini? Kamu lagi malu-malu? Kalo begitu, nanti beli aja piyama tidur yang nyaman supaya nggak bikin kamu kepanasan."
Remi tertawa renyah membuat Zella merasa semakin malu. Zella menarik selimutnya lebih dalam hingga Remi hanya bisa melihat matanya saja. Walau bagaimanapun, bagi Zella, Remi tetaplah orang asing yang mendadak saja bisa menelanjanginya sesuka hati karena status pernikahan. Meskipun Remi selalu berusaha untuk menghilangkan batas di antara mereka dan selalu berusaha menunjukkan perhatiannya, Zella tetap belum bisa memungkiri kenyataan bahwa baginya, saat ini Remi adalah orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya.
"Kamu boleh ngetawain aku. Kadang-kadang aku makai gaun tidur kalo aku pengen memakainya, yaa...walaupun itu terdengar wajar buat seorang wanita.."
"Beneran?" Remi memotong dan bertanya heran. Namun tidak sedikitpun tampak raut geli di wajahnya.
"Ya. Awalnya nenek yang memberikan itu, waktu nenek belanja di pasar dia ngeliat gaun tidur warna biru dengan motif doraemom di depannya. Dia bilang itu lucu dan bikin dia ingat sama aku. Jadi dia belikan buatku walaupun aku lebih suka piyama celana."
"Terus kamu memakainya?"
"Waktu aku mencobanya itu terasa nyaman jadi aku memakainya terus."
"Menurutku itu bagus."
"Iyakah?"
"Walaupun aku belum pernah melihatnya secara langsung, kurasa kalo kamu yang pake itu bakalan tampak manis."
Entah mengapa Zella merasa pipinya memanas mendengar pujian Remi. Ia merasa malu. Kemudian Remi mengambil dompetnya dan memberikan salah satu dari koleksi kartu kreditnya kepada Zella, Remi benar-benar mengantarkan benda itu di atas telapak tangan Zella dan baru yakin untuk melepas benda itu setelah ia yakin Zella menggenggamnya dengan erat.
"Kalo begitu nanti belilah sesukamu. Aku nggak bercanda soal kamu tampak manis makai gaun tidur. Belilah beberapa kalo kamu masih belum merasa nyaman karena aku selalu ngebuka pakaianmu. Aku bisa batal berangkat ke kantor kalo setiap pagi melihatmu malu-malu kayak gini. Aku nggak bakalan bisa menahan hasratku lagi!" Remi mengedipkan matanya dan bangkit. Ia sudah berdiri dan mengambil jasnya yang masih rapi di atas sofa.
"Aku mungkin bakal pulang malam. Tidur duluan aja. Ingat, yakinkan pakaianmu cukup nyaman sehingga kamu nggak perlu ngigau minta aku membantumu melepas semua pakaianmu. Sampai jumpa besok pagi!"
Zella menelan ludahnya setelah Remi menghilang. Jadi dia yang mengigau meminta Remi membantunya membuka pakaian? Apakah ia sedang bermimpi? Mengapa harus Remi? Mengapa bukan Mike? Zella memukul kening. Berhentilah memikirkan Mike, Zella. Kamu sudah bersuami. Batinnya. Lalu apa yang akan dilakukannya sekarang? Zella sepertinya harus mencari tahu bagaimana ia harus menyikapi semua ini.
"Pak Abimana adalah anugerah untuk kantor ini, Seenggaknya semenjak dia gantiin Pak Rio, Paradise Group jadi nggak ngebosanin."
"Yep, aku jadi semangat setiap kali mau berangkat ke kantor. Nggal sia-sia punya Bos setampan dia! Ngomong-ngomong dia masih lajang atau sudah beristri?"
"Aku rasa masih lajang, dia nggak pernah nyinggung soal keluarga, Pak Abimana juga nggak pernah bilang sebelumnya. Dia masih muda dan tampan, menikah di saat sekarang adalah pilihan bodoh untuknya."
"Aku rasa begitu. Kalo begitu dengan senang hati aku bakalan menggodanya, seandainya aku yang di angkat menjadi sekretarisnya."
"Bener. Tapi Pak Abimana lebih memilih Salsha."
"Terserah kalau Pak Abimana memilih Salsha, toh mereka nggak di ruangan yang sama. Salsha tetap bersama gadis berwajah cantik itu di ruangan Administrasi. Singkatnya, ada atau nggak ada sekretaris nggak membawa pengaruh besar bagi Pak Abimana."
Zella mendengus mendengar percakapan tentang Remi di kantin kantor. Tadinya Zella merasa kesal karena Salsha memasukkan banyak saus dalam mie ayam pesanannya, karena itu sekarang ia merasa kehausan. Tapi ia bersyukur karena Salsha melakukan itu. Mie pedas itu membuatnya punya alasan untuk pergi ke kantin dan mendengarkan gosip bodoh tentang Remi Abimana. Ternyata sangat banyak orang yang menggemarinya, dan nyatanya Zella adalah orang beruntung yang terpilih menjadi istri Remi Abimana dan mengalahkan semua perempuan di kantor yang tidak begitu menanggapi keberadaannya selama ini dan hanya mengenalnya dengan panggilan 'gadis berwajah cantik itu'.
Sekurang-kurangnya ada tiga atau empat orang gadis yang berbicara dengan antusias tanpa menyadari kalau Zella berada dalam satu antrian disalah satu counter yang menjual berbagai macam minuman di belakang mereka. Mereka terus memuji Remi yang sepertinya menjadi topik pembicaraan yang hangat dan baru pergi setelah jam makan siang hampir berakhir.
Zella mulai beranjak setelah ia mendapat minuman yang diinginkannya lalu kembali ke ruangan kerjanya. Lagi-lagi yang di lihatnya adalah gadis manis yang bernama Salsha tengah memperhatikan katalog-katalognya sambil memakan mie pedas yang tadinya mereka makan bersama. Zella mengelus perutnya sambil duduk di bangku kerjanya, masih terasa panas.
"Kenapa lama banget?" Tanya Salsha, matanya masih tidak berpaling dari katalog-nya.
"Aku terjebak para penggosip di kantin. Mereka ngomongin suamiku dengan santainya, mereka bilang bakal menggodanya tanpa rasa bersalah…"
"Kamu kesal? Cemburu?" Salsha memotong. "Ini bukan pertama kalinya. Mereka selalu begitu itu semenjak Pak Abimana memimpin Paradise Group menggantikan Pak Rio. Suamimu di gemari para wanita lajang di kantor ini. Jadi kamu harusnya merasa beruntung. Dan berhentilah merahasiakan pernikahan kalian."
"Iya, harusnya begitu. Aku yang terpilih."
"Bener. Seperti film laga yang sering ku tonton, kamu lah yang terpilih untuk memelihara mutiara kehidupan yang bakalan membantu nyawa banyak orang!"
Zella tertawa mendengar kata-kata Salsha tentang film laga. Sejenak Zella teringat keberadaan Remi, dia belum kembali ke kantor juga. Padahal Salsha ada disini. Salsha sekretarisnya, kan? Zella bahkan tidak bisa mengingat tentang Salsha yang ternyata adalah sekretaris suaminya. Jika tidak berada di kantin Zella tidak akan mengetahuinya, ini juga berkat mie pedas itu. Tanpa sang mie, Zella tidak akan menginjak kantin hari ini. Zella menarik piring mie dan merampas garpunya dari Salsha kemudian memakan semuanya dengan lahap. Zella sukses membuat Salsha terperangah.
"Zell, bukannya kamu lagivdiet sehat? Kamu pengen segera punya anak kan? Kenapa terlalu banyak makan makanan berbahaya kayak gini?" Salsha kembali merampas garpunya. Zella mengusap bibirnya yang berminyak dan termenung sekali lagi.
Dia sedang diet sehat? Dia memang sedang Diet untuk pernikahannya, tapi apakah masih perlu? Bukankah dia sudah menikah? Dia sudah menjadi istri seorang pria bernama Remi Abimana, pria itu bahkan memerintahkannya untuk membeli piyama dan gaun tidur. Zella mendesah, ia akan bolos kerja hari ini untuk membelinya.
—Bersambung
Attention!
Mike muncul di episode 9.