
Kayla masuk ke toilet dan menyelesaikan hajatnya, setelah semuanya selesai, sebelum keluar Kayla merapikan seragamnya terlebih dahulu.
"Kok kayaknya gue makin kurusan ya?" ujarnya, ia berputar - putar di depan cermin toilet.
"Hufft... Capek, mari kita kembali ke kelas.." seru Kayla berjalan ke pintu toilet.
"Lah... Lah kok gak bisa?..." tanyanya.
"Perasaan tadi ni pintu baik - baik aja" ucapnya.
Kayla terus berusaha menggerakkan pintu toilet tapi hasilnya tetap sama nihil.
Tok... Tok...
"Apa ada orang di luar..." teriak Kayla
"Tolooooonggg...." teriaknya lagi.
"Aduh gimana ini, mana gue gak bawa ponsel lagi." kesalnya.
Tok... Tok....
"Toloooongg... Apa ada orang?" teriaknya
"Aish siapa sih yang ngerjain gue..." ucapnya.
"Woi buka pintunya! Gak lucu tau gak" serunya berusaha untuk membuka pintu toilet tersebut.
~
Sandra sangat khawatir dengan Kayla yang tiba - tiba menghilang begitu saja.
" Aduh elu kemana sih Kay?..." gumamnya pelan.
Sepanjang jam istirahat Sandra sudah mencari keberadaan Kayla di seluruh tempat sekolah, namun dia tak kunjung menemukan sahabatnya itu.
"Gue cari kemana lagi ya? Apa dia gak di sekolah ini? "tanya nya.
"Tapi, mana mungkin Kayla cabut? Dia kalau apa - apa pasti kasih tau gue." gumamnya lagi.
~
Sementara Di rumah
Adrian mulai menggerakkan tangannya dan dengan perlahan ia mulai membuka matanya.
"Dimana ini?" lirih nya, ia melihat sekeliling tempatnya dan baru sadar kalau dia sedang di kamar Kayla.
Ceklek
Adrian menoleh kearah pintu dan melihat mbak Titin masuk ke dalam kamar.
"Aden sudah sadar?" tanya mbak Titin saat melihat kearah Adrian. Mbak Titin dengan segera menghampiri Adrian, dan memberikan tuan mudanya itu air minum, lalu mbak Titin menghubungi Dokter sesuai dengan perintah Kayla tadi pagi.
"Apa Aden membutuhkan sesuatum? Sebentar lagi Dokternya datang untuk memeriksa keadaan Aden" seru mbak Titin, Adrian tersenyum menanggapi ucapan pelayannya itu.
"Kayla mana mbak?" tanya Adrian dengan suara pelan.
"Non Kayla, sedang sekolah Den.." jawan mbak Titin.
Tak lama mbak Titin mendengar seseorang membunyikan Bell rumah.
"Mungkin itu doternya udah dateng, tunggu saya bukain pintunya dulu ya." seru mbak Titin.
Mbak Titin pun berlalu keluar kamar dan pergi membukakan pintu rumah.
"Silahkan Dok,.." kata mbak Titin mengarahkan Dokter langsung memeriksa Adrian yang sedang berada di kamar.
Setelah memastikan dokter sedang memeriksa Adrian, mbak Titin pergi ke belakang untuk membuatkan minuman untuk sang dokter.
"Gimana apa yang Anda rasakan?" tanya Dokter saat memeriksa luka Adrian.
"Tidak ada, saya hanya merasakan lemas dan sedikit perih di sini" kata Adrian menunjuk lukanya.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk mendengarnya." ternyata anda benar, Kayla emang lebih dari cukup menjaga anda bahkan dia mampu membuat anda bisa melalui masa kritis dalam waktu semalam" tutur dokter.
"Benarkah, wah.. Aku pun nggak nyangka akan hal itu" ujar Adrian.
"Ternyata dia benar - benar merawat gue?" gumam Adrian tersenyum.
"Sepertinya, tidak hal yang harus di khawatirkan, jadi kalau gitu saya permisi." pamit dokter itu.
"Makasih ya Dok" ucap Adrian pelan, Dokter membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
Dokter pun berlalu pergi meninggalkan kamar Adrian, sesampainya di luar dokter itu ketemu dengan mbak Titin yang sedang membawa nampan minuman
"Iya, kalau begitu saya permisi dulu" pamit Dokter itu.
"Tunggu dok!" cegah Titin.
"Apa?" tanya Dokter itu menoleh kearah mbak Titin
"Ini saya kan sudah terlanjur membuatkan Dokter minuman, setidaknya di minum dulu" kata mbak Titin menyodorkan secangkir teh keoada dokter itu.
"Baiklah.." Dokter itu meraih cangkir tersebut lalu ia meminum teh itu seteguk.
"Udah, makasih" ucapnya, kemudian berlalu pergi.
~
Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua siswa dan siswi pun berhamburan keluar dari ruangan kelas masing - masing.
Sandra membereskan buku - bukunya dan ia juga membereskan buku - buka Kayla. Sampai saat ini Sandra masih bingung di mana keberadaan saabatnya itu.
Dengan langkah yang lemes Sandra membawa tasnya Kayla keluar kelas dan berjalan menghampiri supirnya yang sudah berdiri di depan gerbang.
"Sandra!.... " panggi seseorang
Sandra menghentikan langkah kakinya dan menokeh kebelakang melihat siapa yang tah memanggilnya.
"Ravi?.." gumam Sandra bingung melihat Ravi sedang berlari mendekatinya
"Ada apa?" tanya Sandra saat Ravi sudah berdiri di hadapannya.
"Mana Kayla?" tanya Ravi.
"Gue juga gak tau, tadi dia pamit ke gue untuk ke toilet tapi setelahnya dia menghilang gitu aja, dan tadi gue juga udah nyari dia di seluruh pejuru sekolah tapi gak ketemu" ujar Sandra.
Ravi membelalakan kedua matanya saat mendengar cerita dari Sandra.
"Pantesan tadi gak ada di kantin atau di perpus." gumam Ravi.
Sandra yang melihat Ravi melamun pun jadi kesal, dia kira pria ini akan membantunya untuk menemukan Kayla, tapi ini malah bengong..
"Kalau gitu gue pergi dulu.." pamit Sandra yang tidak memperdulikan Ravi yang masih asik akan pemikirannya sendiri.
Mengar ucapan Sandra, Ravi jadi tersadar dari lamunannya, ia menatap punggung Sandra yang berlalu pergi meninggalkannya.
"Dia kemana ya?" gumam Ravi mulai berlari kembali ke dalam gedung sekolah.
Ravi menyusuri semua ruangan lantai bawa yang kemungkinan di kunjungi oleh Kayla. Kemudian ia menyusuri lantai dua, namun hasilnya tetap nihil.
"Terakhir, rooftop..." gumamnya.
Dengan setengah berlari Ravi pergi ke rooftop dan ia juga tidak menemukan Kayla di sana.
"Elu kemana sih Kay.." ucapnya
Ravi memutuskan untuk pergi meninggalkan rooftop dan saat ia di lantai dua, ia tiba - tiba keingat ucapan Sandra yang mengatakan kalau Kayla awalnya pamit ke toilet.
Dengan sedikit berlari Ravi kembali turun dan pergi ke toilet perempuan yang ada di lantai dua.
Sesampainya di sana Ravi melihat ada tulisan kalau toilet itu sedang rusak, jadi tidak mungkin untuk di gunakan oleh Kayla.
Ravi pun berbalik arah untuk meninggalkan toilet itu, namun baru tiga langkah Ravi mendengar suara orang minta tolong. Walau pun suara itu sangat pelan dan lirih tapi Ravi masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Ravi sangat yakin kalau itu adalah suara Kayla, dengan gerakan cepat Ravi mendekati pintu toilet itu.
"Kayla... Kay apa elu di dalam" panggil Ravi.
"Tolooooong..." saut Kayla memukul - mukul pintu pelan, dia seakan tidak memiliki tenaga untuk bergerak.
"Kay, menjauh lah dari pintu, gue akan dobrak ni pintu." seru Ravi. Ravi mendekatkan telinganya ke pintu dan dia seperti mendengar ada gerakan .
"Gue dobrak ya..." ucapnya, dalam hitungan ketiga Ravi mulai mendobrak pintu toilet yang tengah di kunci itu.
Hanya membutuhkan tiga kali dobrakan pintu itu berhasil di bukan, dan betapa kagetnya Ravi saat melihat Kayla yang sedang ketakutan
"Kayla..." panggil Ravi,menghampiri Kayla.
Ketika melihat Ravi, Kayla langsung menghambur memeluk pria itu, dia menangis dalam pelukan Ravi.
"Elu udah aman sekarang, udah, udah.." kata Ravi menenangkan Kayla.
"Gue takut.." ucapnya lirih.
~•••~