
Hari itu SMA IDOL di gegerkan dengan datang nya para polisi ke sekolah itu. Semua murid heran dengan kehadiran polisi di sekolah mereka, seingat mereka hari ini mereka tidak ada jadwal sosialisasi dengan aparat negara itu.
Semua polisi yang datang pun langsung berjalan menuju ke taman belakang, tempat di mana Kayla dan yang lain nya berkumpul.
"Selamat pagi" sapa pemimpin dari para polisi itu
"Pagi pak" jawab mereka.
Sinta langsung pucat dan tubuhnya gemetar saat melihat kedatangan polisi itu.
"Kami dapat laporan, kalau pelaku kasus ibu Kayla sudah di tangkap, benarkah itu. Sekarang dimana pelaku nya?" tanya pak polisi.
"Iya pak benar, ini mereka berdua pelaku nya. Silahkan bawa aja pak." seru Sandra menunjuk Sinta dan Wella
Semua orang yang hadir di dekat situ pun, sangat kaget saat mengetahui kalau pelaku nya adalah sinta. Orang yang mereka kenal baik dan lembut ternyata adalah seorang pembunuh.
"Sin, ini nggak benaran kan? Elu nggak mungkin ngelakuin gal itu kan?" tanya salah satu teman sekelasnya.
Sinta hanya diam, dia nggak tau harus jawab apa. Yang bisa di lakukan nya ialah menunduk.
"Ini pakailah.."Kayla mengulurkan sebuah masker ke Sinta.
Sinta menoleh menatap Kayla dengan tatapan sinis. Dia mengambil masker yang di ulurkan Kayla tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun
"Huuu... Dasar, gak tau diri. Udah mending Kayla ngasih elu masker biar elu nggak malu. Bukan nya nya berterima kasih, ini malah kasar."gerutu Sandra tak suka melihat kelakuan Sinta terhadap Kayla.
"Udah biarin aja..." ujar Kayla.
"Ayo pak, silahkan di bawa aja."suruh Sandra
"Terima kasih atas kontribusinya, untuk adik - adik semua. Nanti sepulang sekolah, mohon datang ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan."kata pak polisi.
"Baik pak, nanti kami akan ke sana." jawab Ravi.
Polisi membawa Sinta dan Wella, sepanjang jalan begitu banyak cacian dan makian yang di dengar Sinta dari teman - teman nya. Biasanya dia yanh selalu di puji dan di agungkan, sekarang semua nya terbalik.
Kayla, Sandran, Ravi dan Adit. Menatap kepergian kedua gadis itu dengan lega.
"Kay, elu baik - baik aja kan?" tanya Sandran khawatir, dia memutar tubuh Kayla dan melihat keadaan tubuh sahabat nya itu, memastikan apakah masih utuh atau ada yang lecet.
"Gue baik - baik saja kok, San. Elu lebay ah.." balas Kayla tersenyum.
"Gue khawatir tau." ucap Sandra cemberut.
"Yaudah yuk, kita kembali ke kelas."ajak Sandra
"Kalian duluan aja, kita berdua masih ada yang harus di urus." jawab Ravi sambil melirik Adit memberi kode.
"Kita duluan ya."kata Sandra sambil mengandeng lengan Kayla berlalu meninggalkan Ravi dan Adit.
"Menurut elo, dia bakalan nyusahin nggak?"tanya Adit.
"Menurut, gue lebih buruk dari yang elo bayangin."jawab Ravi
Mereka berdua pergi menghadap ke kantor kepala sekolah. Mereka tau kalau urusan ini bakal panjang, dan mereka sudah memikirkan hal ini. Kepala sekolah adlah orang yang paling dekat dengan Sinta, karena kepala sekolah bersahabat dengan ayahnya Sinta.
Karena hal itulah, Sinta selalu lolos dari hukuman - hukuman yang menjeratnya. Sebenarnya, kalau guru - guru semuanya bersyukur dan berterima kasih kepada insiden ini. Mereka semua, memang sudah lama geram dengan Sinta. Tapi, karena dekingan anak itu kepala sekolah. Jadi, semuanya memilih untuk diam tanpa komentar.
"Elu, jangan khawatir. Dia nggak akan berani macam - macam sama kita, kali ini gue bakal gunai kekuasaan jabatan daddy gue sebagai kepala yayasan di sini." ujar Ravi, yang melihat Adit sedikit gugup.
~
Setuba nya di kamar, Adrian langsung menanyakan istrinya itu kenapa. Tapi, dia pergi ke kamar mandi terlebih dulu. Dan saat Adrian keluar dari kamar mand8, ia memperhatikan mimik wajah cemberut istrinya tersebut.
"Kamu, kenapa sih? Aku perhatiin, dari tadi lesuh, lemas, dan cemerut gitu lagi. " tegur Adrian seraya mengganti bajunya menjadi baju tidur yang sudah di siapkan oleh Kayla untuknya.
"Aku, merasa kasihan sama Sinta dan Wella. Gara - gara aku, mereka harus masuk penjara." kata Kayla
"Dasar bodoh!! Kenapa kamu masih aja mikirin mereka? Kemaren pas mereka celakai kamu, apa mereka ada memikirkan kamu."kata Adrian tak habis pikir dengan istrinya itu.
"Tapi..."
"Sudah lah, dari pada kamu mikirin mereka terus. Mending, kamu pikirin besok kita mau honeymoon kemana, dan konsepnya apa?" seru Adrian duduk di samping Kayla.
"Honeymoon?"Kayla berucap tamba tidak semangat.
"kamu kenapa?"tanya Adrian mengernyit
"Sebenarnya, aku malas sekali pergi honeymoon. Lagi pula untuk apa juga kita honeymoon. Kan sama saja." ujar Kayla. Adrian tersenyum dan fiba - tiba memegang erat pinggang Kayla
"Kamu bilang untuk apa?"Adrian bertanya dan memperhatikan bibir tipis wanita itu. Kayla menelan saliva nya dan menahan napas saat Adrian memperhatikan nya dengan jarak 2 cm itu.
"Kak? "Kayla hendak menjauhkan tubuhnya dari Adrian. Namun Adrian semakin menarik tubuh Kayla di dekapannya.
"Kenapa, kamu menghindar? Bukankah kita sudah sering melakukan ciuman?"tanya Adrian, menatap Kayla intens.
"Tapi, bisakah kita tidak melakukan nya. Saat kita hanoymoon nanti..." pinta Kayla
"Kenapa, apa yang akan kita lakukan memangnya saat honeymoon nanti?" tanya Adrian
"Itu.. Itu, bukan kah. Kita akan jalan saat itu, dan kita bisa melakukannya saat itu. Apalagi, kalau kita melakukannya dipantai saat matahari terbenam. " kata Kayla semangat, membayangkan nya.
"Hahaha...." Adrian tertawa mendengar celotehan istrinya itu.
"Kamu, terlalu banyak nonton drama."kata Adrian masih tertawa.
"Kenapa, kakak tertawa? Aku norak ya..." tanya Kayla menunduk malu
"Besok kamu akan tau, dan kau pasti akan menyukai nya."bisik Adrian hingga membuat tilinga Kayla geli di buatnya.
"Ih, geli. Apasih pake bisik - bisik segala?"Kayla kesal menggosok telingannya.
"Hehe"Adrian terkekeh
"Kamu pernah berpacaran, bukan? Apa kamu tidak tau honeymoon?" tanya Adrian
"Ya taulah, itu aja masa aku nggak tau."jawab Kayla gengsi untuk mengatakan tidak. Yang Kayla tau mengenai honeymoon adalah pergi traveling bersama pasangan mereka.
"Baguslah, kalau sidah tau. Jadi, aku nggak perlu lagi menjelaskannya lagi besok."kata Adrian.
"Tapi, ini serius kita akan pergi lusa?"tanya Kayla memastikan.
"Sudah, siapkan saja apa yang akan kita bawa besok."kata Adrian, berdiri seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Baiklah, aku akam measukkan baju kakak dan bajuku ke dalam koper." Kayla berjalan mendekati lemari pakaian dan mulai memasukkan satu persatu ke dalam koper yang baru saja ia ambil. Adrian pun tak henti memperhatikan Kayla dari belakang.
~•••~