
Brak!!!
Adrian membuka pintu dengan keras, suster Leni dan mbak Titin pun menoleh ke arah pintu karena kaget.
"Tuan.."Ucap Leni Spontan.
"Sus, udah kan cek nya. Sekarang silahkan keluar dan nikmatilah sarapan anda yang sudah di siap kan di ruang makan!"seru Adrian.
Leni melihat sebentar ke arah Kayla, kemudian mengangguk dan berlalu pergi.
"Mbak juga,"kata Adrian.
"Baik Den, permisi."balas mbak Titin.
Kini tinggalah Kayla dan Adrian di dalam kamar itu.
"Sayang sekarang, kamu bangun lah! Mereka udah pergi."kata Adrian.
Kayla pun membuka mata nya."mana apa kamu bawa susu pesanan aku?"tanya Kayla.
Adrian mengangguk dan menyerahkan sebotol kecil susu kepada istri nya itu. Kayla dengan cepat meneguk habis susu tersebut.
"Pelan - pelan, nanti tersedak"ujar Adrian memperhatikan cara minum Kayla.
Ceklek
Pintu kamar tiba - tiba di buka, Adrian dan Kayla pun saling pandang.
"Cepat pura - pura tidur lagi!"seru Adrian.
Sandra masuk ke dalam kamar, ia meletakkan nampan yang di bawa nya ke atas meja di sisi samping kepala Kayla.
"Udah nggak usah, pura - pura tidur gue udah tau kok."kata Sandra berdiri di depan Adrian sambil berkacak pinggang.
Adrian menatap Sandra penuh tanya. "Udah deh kak, gue udah tau kok, "kata Sandra seolah mengerti akan maksud dari tatapan mata itu.
Kayla membuka mata nya dan melihat ke arah sahabat nya itu.
"Gue butuh penjelasan!"seru Sandra. ia melihat kearah Kayla dan Adrian secara bergantian.
"Oke, oke gue ceritain tapi elu jangan potong !"ujar Kayla memperingatkan Sandra. Sandra pun mengangguk.
Kayla pun mulai menceritakan semua hal yang ia ketahui selama di rumah sakit. Sandra terlihat sangat geram saat mendengar kalau Suster Leni itu adalah anak buah dari orang yang sudah mencelakai sahabat nya.
Sandra dengan spontan memeluk Kayla.
"Elu kalau mau ada apa - apa itu cerita sama gue, jangan di pendam sendiri gini. Gue nggak mau kejadian seperti kemaren terulang lagi."kata Sandra.
"Shhh."desis Kayla.
Adrian yang melihat istri nya menahan sakit pun menarik Sandra menjauh.
"Isss... Apaan sih kak?"tanya Sadra kesal.
"Elu nggak lihat kalau Kayla dari tadi nahan sakit!"seru Adrian.
Sanda menoleh ke arah Kayla, benar saja kalau sahabatnya itu sedang memegang perut nya.
"Astaga, maaf maaf, gue lupa."kata Sandra.
"Nggak apa - apa kok, gue maklum kok."kata Kayla memaksakan diri nya untuk tersenyum.
~
Tanpa terasa siang pun tiba, dengan terpaksa Sandra harus pamit pulang kepada Kayla.
"Mau kemana sih San? Buru - buru gitu?"tanya Kayla.
"Mama nyuruh gue ke butik , buat fitting baju."kataSandra yang berdiri dan meraih tas nya.
"Ciee, yang bentar lagi mau nikah.."ledek Kayla.
"Apaan sih, gue nggak mood ini."balas Sandra.
"Kenapa sih, Adit kan baik dan tampan lagi. Kurang apa lagi coba, udah paket komplit gitu."kata Kayla
"Kurang cinta"balas Sandra asal.
"Kalau it mah, pekara gampang. Lama - kelamaan benih - benih cinta itu juga akan tumbuh dengan sendiri nya. Elu lihat kan gimana dulu gue sama ak Adrian, dan sekarang. Elo bisa lihat sendiri kan kita gimana."ujar Kayla.
"Iya iya, pasangan bucin, udah ah. Gue udah telat ini, ntar Adit marah lagi. Bye, hati - hati ya."kata Sandra
"Iya, elu juga."balas Kayla.
SAndra pun berlalu pergi meninggal kan kamar Kayla.
Saat di luar kamar Sandra pun diam berdiri di depan pint kamar Kayla.
"Karena di tengah cinta itu ada Elo dan Dia Kay, "gumam Sandra. Kemudian baru lah ia pergi dari sana.
~
Andrian dan keduasahabat nya Geva dan Rangga sedang duduk berbincang dengan papa Bagas dan juga teman Bagas yang berprofesi sebagai detektif itu.
"Jadi, menurut Om gimana? Apa yang harus kita lakukan? Ini nggak bisa nunggu lama - lama om, Istri aku dalam bahaya ini."kata Adrian serius.
"Om tau, tapi dalam hal ini kita nggak bisa gegabah dalam mengambil keputusan. Beri om waktu untuk menyelidiki nya."kata Firman
"Dri, elo yang sabar dong."kata Geva.
"Iya, Dri, elu tenang aja."tambah Rangga
"Man, gue raa barang bukti yang kita miliki sekarang ini, udah bisa membuat pelaku nya tertangkap."kata Bagas.
"Kamu tenang aja, Tapi aku perlu introgasi kedua orang itu."kata Firman.
"Tenang Om, mereka udah ada di tempat yang aman, kapan om pengen ketemu sama mereka?"tanya Rangga.
"Bagaimana kalau nanti malam, kita ke sana bersama usul Adrian
"Boleh juga."balas Firman.
~
Malam hari nya, setelah memberikan Kayla obat, Adrian pun menidurkan istri nya itu. Adrian memperlakukan Kayla layak nya seorang ayah yang merawat anak nya yang sedang sakit.
Adrian melepaskan pelukan Kayla dengan pelan, kemudian ia pun membenarkn selimunya dan berlalu keluar dari kamar.
Adrian berjalan menemui kedua sahabat nya papa serta sahabat papanya itu yang sedang menunggu nya di ruang tamu.
"Apa Kyla sudah tidur?"Tanya Bagas
"Udah pa, mama gimana?"Tanya Adrian balik.
"Aman, udah papa kasih CTM."jawab Bagas tersenyum.
"CTM? Obat tidur Om?"tanya Geva
"udah, jomblo mah nggak akan paham."ujar Adrian, semua orang pun tersenyum mendengar nya.
"Hmmm..."deham Geva kesal.
"Udah yuk om!"seru nya, berjalan duluan keluar rumah.
Mereka semua pun tertawa, melihat tingkah Geva.
~
Adrian dan rombongan nya pun, sampai di club malam Adit.
"Lah kita kok kesini?"tanya Bagas.
"Ya, emang di sini tempat nya. Yuk, papa ikutin kita ja, nanti juga akan tau."kata Adrian
"Tenang Om, kita nggak akan ngajak om clubing bareng kok."saut Geva.
"Kalau pun iya, juga nggak apa - apa."balas Bagas.
"Udah, jangan banyak bicara, ingat umur!"seru Adrian menarik tangan Bagas kedalam club.
Adrian pun mengajak papa dan Om Firman masuk kedalam dan menemui Adit, yang sudah menunggu mereka.
"Eh Om.."Ucap Adit, berdiri dari duduk nya dan menyalim Bagas dan Firman.
"Ini, siapa?"tanya Bagas.
"Ini orang yang aku bilang semalam pa, yang punya tempat ini dan dia juga temansekolah nya Kayla."kata Adrian menjelaskan.
Mereka semua sangat kaget saat tau kalau tempat berisik ini merupakan milik Adit.
"Serius?"tanya Geva nggak percaya, Adrian pun mengangguk.
"Kok elo nggak kasih tau kita si dan elu tau dari mana?"kata Geva
"Kalian sih bego, gue tau dari lahat cara dia manggil bodyguard semalam."balas Adrian.
Adit hanya tersenyum mendengar perdebatan itu.
"Ayo ikut saya."kata Adit. Adit pun berjalan duluan, mereka pun mengikuti Adit.
Sesampai nya di lantai 3, Adit mengajak mereka semua masuk ke dalam sebuah kamar yang berbeda dari semalam.
"Kenapa kesini, bukan nya semalam kita di kamar itu?"tanya Rangga heran
"Iya kak, tapi yang kemaren aku pindahin ke sini dan gabungin sama yang cewek. Biar kita nggak ribet."kata Adit. Rangga pun hanya mengangguk paham.
Saat mereka masuk, mereka langung di suguh kan, dengan pemandangan. sepasang manusia yang sedang berdiri dengan kedua tangan dan kaki di rantai, sementara mata mereka di tutup dengan kain.
"Dri, bukan nya ini suster nya Kayla?"tanya Bagas
"Iya, bukan nya, udah Rian ceritain ya, kalau dia ini penyusup."ujar ADrian.
"Nggak tau, papa lupa."balas Bagas.
""Wajar, udah tua."ucap Adrian pelan
Plak
Bagas menepuk bahu Adrian.
"Eh ini, kenapa malah berantem? Dasar anak dan bapak sama aja."kata Firman.
Firman pun maju ke depan dan berdiri tepat di depan Leni, dengan pelan ia membuka penutup mata gadis itu.
Leni menatap mereka dengan wajah pucat.
"Hai, neng cantik."sapa Firman. Leni hanya diam saja dan membuang muka nya.
"Saya tidak bias berbasa - basi. Kita langsung aja ke permasalahan nya."Kata Firman. Ia berbalik ke belakang dan melihat ke arah yang lain nya.
"Saya memutuskan untuk langsung introgasi di sini aja, biar cepat."kata Firman
"Terserah Om aja, kita sih emang pengen nya cepat."kata Adrian.
"Hmm... Dit, kamu Adit kan nama nya?"tanya Firman menunjuk ke Adit.
"Iya Om."
"Saya pengen kamu siapkan peralatan untuk membuat mereka bicara, kalau bisa sih ala - ala club ini ya!"suruh Firman.
"Ok, Om. Tunggu sebentar."balas Adit dan keluar dari kamar itu.
Firman kembali menghadap ke arah Leni. "Sekarang saya kasih kamu pilihan..."Kata Firman dengan sengaja menggantung perkataan nya.
"Mau ngaku sendiri atau kamu emang pengen ngerasakan kejutan yang saya laku kan kepada mu!"seru Firman berusaha berbicara dengan baik
Namun, Leni pun masih, betah akan kediaman nya itu.
"Baiklah kalau itu pilihan mu."kata Firman.
Adit pun, masuk kembali ke kamar dan meletakkan sejumlah barang di depan Firman.
"Wow ini mah, bukan nyiksa Dit. Tapi malah ngehibur mereka." kata Firman melihat semua benda yang di bawah oleh Adit itu semua nya berhubungan dengan surga dunia.
Leni menatap takut kepada semua alat itu.
"Aku.."
~•••~