
Ravi membawa Kayla meninggalkan toilet, ia menggendong gadis yang terlihat sangat itu. Dia nggak nyangka akan melihat Kayla dalam kondisi yang seperti ini, cewek yang selalu jutek kepadanya ini seakan tak punya tenaga sekarang.
"Elu aman sekarang..." bisik Ravi mencoba menenangkan Kayla yang masih bergetar ketakutan.
Kayla melihat kearah wajah Ravi. "Makasih.." ucapnya lirih.
Sesampainya di pakiran, Ravi meletakkan tubuh Kayla dengan pelan kedalam mobil. Lalu ia berlari kecil dan masuk kedalam mobil, mereka pin mulai meninggalkan pekarangan sekolah.
"Brengsek..." umpat seseorang yang melihat Ravi berhasil menyelamatkan Kayla.
"Kenapa dia gak elu bunuh aja si sekali.." bentaknya pada seseorang.
"Apa elu gila, itu terlalu beresiko.." ucap orang itu.
"Pokoknya gue gak mau tau, besok kalian harus membuat gadis miskin itu menderita" suruhnya dengan senyum devil di wajahnya.
~
Sepanjang perjalanan Kayla hanya diam saja menatap keluar jendela mobil. Sesekali Ravi melirik kearah Kayla, dia bisa melihat kalau tangan Kayla masih bergetar ketakutan.
"Kita mau kemana?" tanya Kayla yang menyadari kalau ini bukan kearah rumahnya.
"Kita kerumah sakit dulu.." jawab Ravi.
"Nggak, nggak perlu, antar gue pulang aja." kata Kayla cepat.
"Tapi kita, cek kondisi elu dulu ya.." ucap Ravi.
"Nggak, nggak perlu gue baik - baik aja kok.." balas Kayla berusaha tersenyum untuk meyakinkan Ravi.
"Baik gimana, itu tangannya aja masih getar gitu..." seru Ravi. Kayla dengan cepat menyembunyikan tangannya.
"Ah ini, ini karna gue laper, ya karna gue laper seharian gak makan.." kila Kayla.
Ravi menoleh kearah Kayla," Benarkah, kalau gitu kita makan dulu..." serunya.
"Antar gue pulang aja, gue bisa makan dirumah aja.." balas Kayla.
"Tapi gue juga laper dan ini semua karena elu.." seru Ravi.
Kayla terdiam mendengar ucapan Ravi, benarkah pria itu menahan lapar hanya karnanya.
"Sorry..." lirih Kayla, namun masih bisa di dengar oleh Ravi.
"Gue maafin tapi elu harus temani gue makan." kata Ravi menoleh kearah Kayla.
"Huft... Baiklah.."
~
Dirumah, Adrian sedari tadi menunggu kepulangan Kayla, ia berkali - kali melirik ke ponselnya berharap gadis itu mengiriminya pesan.
"Kenapa dia lama sekali? Apa di ke cafe dulu?" kata Adrian
"Tapi kata Nino, dia memberinya cuti.." imbuhnya.
Ceklek.
Adrian menoleh dengan cepat saat mendenar pintu terbuka.
"Maaf den, apa Aden membutuhkan sesuatu?" tawar mbak Titin mendekati tuan mudanya itu
"Hmm... Nggak mbak, nanti kalau aku butuh sesuatu aku akan panggil mbak..." balas Adrian kecewa.
"Baiklah kalau begitu saya permisi.." ucap Mbak Titin, berjalan hendak keluar.
"Tunggu mbak.." cegah Adrian
"Iya ada apa Den?..." tanya Mbak Titin berbalik menghadap Adrian.
"Apa Kayla biasanya emang selalu pulang sesore ini?" tanya Adrian
"Setau mbak sih nggak den, biasanya kalau Non Kayla cuti kerja dia akan pulang cepat..." jawab mbak Titin.
"Mungkin sekarang non Kayla ada urusan dadakan Den." tambak mbak Titin
"O gitu, yaudah mbak boleh pergi." seru Adrian
Setelah Mbak Titin pergi Adrian meraih ponselnya dan ia mencoba menghubungi nomor ponsel Kayla.
"Lah, kok gak di jawab?.." kata Adrian menatap layar ponselnya kesal.
"Atau jangan - jangan dia kelayapan dulu pulang sekolah."ujarnya.
~
Nino dan kedua sahabatnya sedang asik nongkrong salah satu cafe cabang baru milik Nino.
"No, keren juga nih tempatnya.." seru Geva.
"Sombong...Haha.."ledek Geva,
"Eh.. Eh liat deh itu bukannya..."Seru Rangga menepuk - nepuk lengan Geva
"Apaan?" tanya Geva, mengikuti arah pandang Rangga.
"Oh ****... Gila, foto - foto. Ini haus jadi bukti."seru Nino mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan yang ada di depan mereka.
"Benerkan dugaan gue selama ini..."kata Geva.
"Seenggaknya dulu elu gak punya bukti, sekarang baru bisa kita nyadarin tu anak." saut Nino.
~
"Makasih ya buat semuanya.." Ucap Kayla kepada Ravi.
"iya sama - sama, besok - besok elu pergi dan pulang sekolah bareng gue aja, biar aman" kata Ravi. Kayla hanya diam, tidak menanggapi ucapan pria itu.
"Kalau gitu gue masuk dulu..." kata Kayla, lalu ia keluar dari mobil Ravi dan masuk kedalam gerbang rumah keluarga Malik.
Ravi terus memperhatikan Kayla hingga gadis itu tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Gue harus cari tau siapa dalang dibalik ini semua.." gumamnya. Ravi pun berlalu meninggalkan rumah Kayla.
Kayla masuk ke dalam rumah, sebelum ke kamar ia pergi ke dapur terlebih dahulu.
"Hai mbak..." sapa Kayla, ia mengambil sebua gelas kemudian mengisinya dengan air putih.
"Non baru pulang?" tanya Mbak Titin
"Iya mbak, baru aja nyampe." jawab Kayla
"Gimana Kabarnya Adrian, apa dia sudah sadar?" tanya Kayla meletakkan kembali gelas kotornya ke atas meja.
"Udah non, Den Adrian sudah sadari dari tadi pagi sekitar jam sembilanan dan juga sudh di periksa dokter." jawab mbak Titin
"Syukurlah, terus sekarang dimana dia?" tanya Kayla.
"Dia masih di kamar nona." jawab Mbak Titin
"Kenapa dia nggak di pindahin kekamarnya?"tanya Kayla.
"Saya tadi udah menawarkannya non, tapi tuan Adrian menolaknya." jawab mbak Titin
"Huft... Berarti malam ini tidur di sofa lagi." gumam Kayla
"Sabar ya non.." ucap mbak Titin tersenyum
"Yaudah aku ke kamar dulu ya mbak..." pamit Kayla.
Mbak Titin menatap Kayla yang sedang berjalan dengan lemas menuju kearah kamarnya.
"Semoga, den Adrian cepat sadar kalau nona Kayla adalah orang yang baik untuknya." kata mbak Titin.
Ceklek
Kayla membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, sebelum masuk kedalam Kayla mengintip situasi dalam kamar terlebih dahulu.
"Apa dia tidur."ucapnya pelan.
"Sepertinya aman.." Kayla dengan pelan melangkah masuk kedalam kamar. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian gantinya terlebih dahulu, sebelum mengecek kondisi Adrian, Kayla memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Jam segini baru pulang... tc.." gumam Adrian kesal, saat melihat Kayla masuk kedalam kamar mandi.
Pip
Adrian menoleh dan meraih ponselnya saat mendengar sebuah notice masuk.
"Apa ini?" gumamnya saat melihat beberapa foto yang di kirim oleh Nino kepadanya.
"Kenapa mereka masih curiga gini sih sama Loly."katanya.
"Tapi gue juga penasaran, apa gue selidiki aja." gumamnya.
Adrian memutuskan untuk menyelidiki kebenarannya dan ia menghubungi seseorang untuk menyelidik kebenaran ini.
"Biar mereka puas dan nggak bahas ini terus." ucapnya.
Ceklek
Adrian dengan cepat menyimpan ponselnya dan kembali menutup matanya pura - pura tidur.
"Tadi gue kaya denger ada yang ngomong, tapi siapa ya?" ujar Kayla melihat sekeliling kamar yang kosong tidak ada siapa pun.
Kayla berjalan mendekati ranjang Adrian, dan mengecek kondisi laki - laki itu.
~•••~