My Secret Wife

My Secret Wife
Episode 106



Dia baru melangkah kan kaki nya masuk kembali bergabung dengan teman - teman nya, saat ia merasa sudah lebih tenang. Dan Sinta begitu kaget saat melihat Adit menyapa nya tiba - tiba.


"Sinta, elu dari mana aja?"tanya Adit, dengan menatap intens gadis cantik itu.


Raut wajah nya seketika berubah gugup, an juga pucat, saat mendapat pertanyaan itu, karena takut akan ketahuan, dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"G...gue baru saja dari bus, mengambil barang - barang yang tertinggal."kawa Sinta gugup.


"Ooo... gue kira, elu habis jalan - jalan dan melupakan tanggung jawab sebagai panitia."sindir Adit.


"Elu kira gue siapa huh kaya gitu, udah pergi sana urus urusan elu sendiri."kata Sinta berlalu pergi meninggalkan Adit yang masih merasah ada keganjilan pada Sinta.


Tatapan mata nya terus menatap Sinta, yang telah berlalu menuju teman - teman nya. Ia sangat penasaran dengan keanehan sikap Sinta itu.


"Ada apa dengan nya? Dia terlihat sedikit aneh." gumam Adit, dengan rasa penasaran.


Langkah nya begitu tergesa - gesah, akibat rasa takut yang teramat sangat. Sinta segera menduduk kan diringa di samping Wela dan menundukkan kepalanya untuk menutupi ke gugupan nya.


Napas nya terengah - engah, dan dia berusaha untuk menenang kan diri sendiri, saat sudah duduk di samping wela.


"Semoga aja, Adit nggak curiga sama gue." gumam Sinta, penuh harap.


Wela menoleh kearah Sinta, tatapan mata nya seketika menyurut. Dan terlihat begitu oenasara. Ketika melihat sikap Sinta yang sedikit aneh.


"Sintah..?" dengan menyentuh pundah teman nya itu, yang berhasil membuat Sinta terlonjak kaget, akibat rasa takut nya yang teramat sangat.


"Wel..?" dengan raut wajah, yang begitu terkejut.


"Elu kenapa? Kenapa wajah elu jadi pucat gitu? Apa elu lagi sakit?" Tanya Wela dengan tatapan intens wajah Sinta yang terlihat pucat.


Sinta menyentuh kedua tangan Wela, dengan berusaa menormal kan napas nya, yang masih terlihat memburu.


"Wel, gue berhasil nyingkirin dia, gue udah nyingkirin dia.."kata Sinta gemetar.


"Apa?..."dengan raut wajah yang begitu terkejut, saat mendebgar apa yang di sampaikan oleh Sinta barusan.


"Bagaimana kalau dia sampai meninggal, dan polisi mengetahui kalau elu adalah pelaku nya. Kita menyingkirkam dia. Bukan berarti elu harus membunuh nya, Sinta? Gue nggak mau masuk penjara."jawab nha dengan raut wajah yanh terlihat begitu gelisah.


Menghembus kan napas dalam, seraya menggenggam kedua tangan Wela, guna menenangkan sahabat nya itu, dari pada rasa khawatir nya.


"Elu nggak perlu khawatir, gue yakin tidak ada yang melihat saat gue dorong dia" jawab Sinta


"Syukurlah, Gue senang mendengar nya. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah merayu Ravi agar bisa mendapat kannya." ucap Wela


"Tentu saja..."jawab Sinta. Dengan raut wajah sumringah nya


****


Senja telah berganti malam, jarum jam terus melangkah, yang pertanda malam semakin menjemput. Adrian melangkah kan kaki nya, menuju tenda kelompok Kayla.


Ia membuka tenda itu dengan tidak sabaran, sekarang fikiran nya sudah tidak bisa tenang, setelah satu jam kepergian istri nya itu, Adrian pun mulai mencari keberadaan Kayla.


Namun ia belum juga menemukan nya, hingga tadi Adrin pun melaporkan kehilangan Kayla kepada Ravi selaku ketua panitian acara ini.


"Kamu kemana sih sayang?" gumam Adrian mengacak rambut nya.


"Gimana kak, ketemu?" tanya Sandra yang juga ikut mencari Kayla.


"Elu tenang aja, San, gue juga lagi mikir ini" seru Ravi gusar.


"Kak, gimana kalau kita cari ke hutan, mana tau Kayla ke sasar di sana." saran Sandran.


"Boleh juga tu, kita kan udah nyari ke seluruh sudut di area perkemahan, mana tau Kayla udah keluar dari area perkemahan ini dan dia lagi nyasar di hutan sana." seru Adit menyetujui.


Tampa banyak bicara, Adrian langsung berlalu begitu aja meninggalkan Mereka.


"Kak, Adrian mau kemana?" tanya Sandra.


"Nyari Kayla...."ucapnya.


"Ikut kak..." Sandra pun berlari mengejar Adrian yang sudah agak jauh dari nya.


Adit dan Ravi pun mengikuti Mereka berdua dan begitu juga dengan siswa lain nya kecuali Sinta dan Wela, mereka lebih memilih berjalan ke arah tenda mereka.


"Ngapain capek - capek nyariin dia, palingan juga, dia udah di makan saa hewan buas." kata Sinta kepada Wela.


~


suara burung hantu yang saling bersahutan dan pohon-pohon besar yang Melambaikan kesana-kemari,, akibat hempasan Angin Malam yang sedikit kencang. terdengar suara yang begitu mencengkam, tapi hal itu tidak menyurutkan niat Adrian dan beberapa orang teman Kayla lainnya. untuk mencari keberadaan Kayla, walaupun hanya dengan bermodalkan senter, untuk melengkapi perjalanan mereka.


"KAYLA... KAY....KAYLA, KAMU DI MANA?" teriak Adrian dengan terus memanggil nama istrinya, saat mereka Menyusuri hutan, di tengah malam.


Adrian terus memanggil nama istrinya, di tengah pencariannya, dan dia tidak tahu, ada sebuah tubuh yang terbaring tidak berdaya di bawah kaki bukit yang baru saja dia lewati.


Matanya perlahan terbuka, dengan pandangan yang sedikit buram, dan terlihat suasana yang begitu gelap, yang membuatnya diliputi oleh rasa takut.


taman sama Kayla mendengar teriakan seorang pria yang sedang memanggil namanya, dan dia meyakini itu adalah suara suaminya Adrian.


"Sayang...?" dengan suara yang begitu melemah, dan tidak sanggup menjawab teriakan suaminya. air mata semakin menetes, rasa takut terlihat jelas di wajahnya, saat mendengar lolongan anjing, ataupun hewan lain yang mengeluarkan suaranya di malam yang terlihat begitu mencengkam.


Apalagi suara panggilan Adrian dan teman - teman nya yang lain yang semakin terdengar jauh, membuat Kayla semakin menangis dan ketakutan karena tidak bisa berbuat apa - apa.


"Sayang..., tolong aku, aku takut,... Aku takut..." dengan deraian air mata dan hanya bisa tertidur karena tubuh nya yang tidak mampu untuk bangun.


Rasa sakit semakin mendarah, tubuh nya begitu kesakitan, terdapat beberapa goresan luka yang terlihat, dan dia semakin tak kuat menahan rasa sakit yang mendera sekujur tubuh nya, hingga akhir nya telepon pingsan tak sadarkan diri.


Adrian dan yang lainnya terus Menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Kayla, hingga tidak terasa pagi hampir menyambut mereka. Adrian terlihat begitu frustasi, dan tampak keputus asaan di wajah nya saat ini.


" Kayla...." teriak nya yang begitu menggema, di dalam hutan itu.


"Dimana istri ku San? Di mana dia..." teriak nya, seraya merosot terduduk di ke tanah, ASandra pun memegang mendekati Adrian, ia memegangan tangan pria itu dan memberikan nsemangat.


"Kakak yang sabar ya, Kayla pasti ketemu kok." jawab Sandra.


Sebenar nya tidak hanya Adrian yang khawatir, diri nya juga sedang risau dengan keadaan sahabat nya itu.


"Kakak harus kuat ya, kita akan mencari Kayla,! kita akan mencari nya." ucap Sandra menenangkan Adrian.


Ravi yang baru datang pun, menatap Adrian dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak nya.


~•••~