
Adrian sedang menonton tv sambil menunggu ke datangan papanya, ia sesekali mendesis manaha rasa nyeri di perutnya.
"Ini papa di mana sih, kok lama banget.." gumamnya.
"Nah minum dulu, biar gak kekurangan cairan."kata Kayla menyerahkan segelas air putih kepada Adrian.
Adrian menerima gelas itu dan melihat kedalam gelas.
"Tenang aja, gue gak sekejam itu buat nambah racun di sana" seru Kayla.
Kayla memilih duduk di ujung sofa, dia masih belum mau berdekatan den Adrian.
"Kenapa harus jauhan gitu..." protes Adrian
"Terserah gue, ingat ya elu punya hutang sama gue.." ucap Kayla.
"Hutang? Hutang apaa?" tanya Adrian mengerutkan dahinya.
"Ingat surat perjanjian yang kita buat bulan lalu, dan elu tadi malam udah langgar itu." seru Kayla.
"Tc... Iya nanti gue tf.." ujar Adrian kembali fokus ke tv
"Asik gue banyak uang..." seru Kayla riang.
"Dasar lebay, dapat uang segitu aja udah senangnya ampe gitu.." gumam Adrian.
Kayla tidak memperdulikan guaman Adrian, ia terlalu senang sekarang dan dengan segeran ia mengabari kepada ibu Tika kalau ia akan mengirimkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan panti.
Ting tong....
Ting tong....
"Itu kaya nya papa, buka pintu sana!"perintah Adrian kepada Kayla.
"Iya.." balas Kayla berdiri dan berlalu berjalan membukakan pintu.
Ceklek.
"Semalat siang menantu papa yang cantik.." seru Bagas saat melihat Kayla yang membukakan pintu.
"Siang pa.." blas Kayla menyalom tangan papa mertuanya itu, Bagas tersenyum melihat Kayla yang menyalaminya itu.
"Yuk pa masuk, Kak Adrian lagi di rug keluarga." ajak Kayla.
Kayla pun mengiringi papa mertuanya itu untuk masuk menemui suaminya itu.
"Adrian...." panggil Bagas saat meliht anaknya ya g sesang duduk santai di depan tv.
"Hai pa.." balas Adrian, ia berdiri dan bejalan unyuk memeluk papanya itu.
Bagas menyambut pelukan Adrian dengan hangat, ia jua menepuk punggung dan juga pinggang Adrian, seperti hal yang biasa di lakukan ya.kepada putranya itu.
"ssshhh..." desis Adrian menahan sakit.
"Ayo duduk pa, aku bikinin minum dulu ya.." seru Kayla mengalihan pandangan mertuanya itu dari Adrian.
"Iya sayang..." ucap Bagas mengelus rambut Kayla.
"Tumben jam segini kamu di rumah?" tanya Bagas sambil mendudukkan tubuhnya di sofa dan di ikuti oleh Adrian.
"Kenapa emangnya? Bukanya mama sama papa sering nyuruh aku di rumah, sekarang aku udah di rumah malah di pertanyakan gitu.." kata Adrian, ia memegang perutnya yang tiba - tiba berdenyut nyeri.
"sshh.." desisnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bagas yang melihat anaknya aneh.
"Gak kenapa - kenapa, aku baik kok pa.." jawab Adrian tersenyum.
"Tapi kamu kok pucat gitu mukanya?.." tanya Bagas.
"Nggak ah, itu perasaan papa aja kali. Orang aku baik - baik aja kok." kila Adrian mengalihkan pandangannya dari papanya.
"Ternyata dia sudah banyak berubah.." gumam Bagas dalam hati.
Ia menatap anaknya dengan senyum senang, nggak nyabgka kalau rencana istrinya untuk merubah anaknya itu dengan menikahkan anaknya itu berhasil.
Sementara di dapur Kayla menemui mbak Titin, yang baru saja selesai mengganti baju.
"Gimana mbak, susternya amankan?" tanyanya
"Aman non, tadi saya juga sudah nyuru suster itu untuk menyiapkan semua alat yang akan di butuhkan Den Adrian setelah ini." ucap mbak Titin.
"Iya mbak, tadi aku juga mau bilang itu sama mbak, karena sekarang muka Adrian udah pucat banget, kayanya lukanya itu tambah parah." seru Kayla.
"Terus gimana dong non, nanti kalau Aden pingsan gimana?" tanya Mbak Titin khawatir.
"Semoga aja, dia kuat mbak. sekarang aku buat kan air teh dulu untuk papa." ujar Kayla.
"Gak usah non, biar saya yang buatkan, non tunggu sebentar ya." ujar mbak Titin.
Kayla pin mengangguk, ia memperhatikan Mbak Titin yang sedang membuatkan teh untuk papa mertuanya itu.
"Mbak, bikinin teh madu juga buat Adrian."ujar Kayla.
"Baik non." balas Mbak Titin.
"Den Adrian beruntung banget dapat istri sebaik non Kayla ." pikir mbak Titin.
Tak lama mbak Titin menyerahkan sebuah nampan yang berisi minuman untuk Bagas dan juga Adrian.
"Makasih ya mbak.." ucap Kayla dan berlalu pergi meninggalkan dapur.
Kayla berjalan menghampiri ruang keluarga, dia melihat kalau Adrian sedang memangku kepala Bagas sambil tangannya memijit kepala papanya itu.
Adrian yang menyadari kedatangan Kayla hanya bisa meliriknya sejenak.
"Iya nak, bentar lagi, ini pijitan Adrian lagi nanggung banget." balas Bagas.
"Ayo lah pa, aku sudah capek mijitnya, sekarang papa duduklah." seru Adrian.
Jujur Adrian benar - benar sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya lagi.
"Aish dasar, mentang - mentang ada istrinya, lansung bilang capek, padahal tadi gak ada tu protes - protes" sungut Bagas.
"Ya dong, sini sayang duduk samping aku.." suruh Adrian, ia memberi kode kepada Kayla.
"Aku duduk di samping papa aja.." balas Kayla yang tidak mengerti maksud dari kode yang di berikan Adrian.
"Kamu lihatkan istri kamu aja gak mau dekat dengan mu" ucap Bagas tertawa.
"Sayangggg kamu kok gitu sih.." rengek Adrian.
Dia berdiri dan menarik tangan Kayla agar mau duduk di dekatnya.
Kayla sangat kaget saat merasakan suhu tangan Adrian yang sangat panas dan dengan terpaksa Kayla pun duduk di samping Adrian.
"Tc pemaksaan" sindir Bagas
"Bodo.." balas Adrian ia menyandarkan kepalanya di bahu Kayla.
"Sakit, kayaknya lukanya terbuka lagi" bisik Adrian sambil menunjukkan tangannya yang berdarah.
Kayla membelalakkan matanya kaget, ia menatap wajah Adrian yang sudah pucat.
"Kalian sengaja ya mesra - mesraan depan papa, biar papa iri" sindir Bagas.
"Hehe... Eh papa, maaf pa lupa kalau ada papa" seru Kayla.
"Dasar Anak muda.." balas Bagas geleng - geleng.
"Makanya siapa suruh ninggalin mama" kata Adrian.
"Untuk apa papa bawa mama, orang papa perginya juga bentar." balas Bagas.
"Emang papa pulang jam berapa?" tanya Kayla to the poin
"Kamu ngusir papa Kay?" tanya Bagas.
"huh.. Haha.. bukan itu maksud Kay pa, jangan salah paham , Kay cuma bertanya aja gak maksud lain kok" jawab Kayla
"Iya iya papa ngerti kok, yang pengantin baru tu,pengen berdua terusss" ucap Bagas.
"Yaudah deh, papa pergi sekarang aja, biar kalian lebih leluasa..." kata Bagas meminum tehnya hingga hbais kemudian ia berdiri.
"Kalian gak mau ngantar papa ke depan?" tanya Bagas menatap anak dan menantunya yang masih duduk dengan Adrian memeluk Kayla dari belakang.
"Yaelah, Yan sabar nunggu papa pergi dulu bisa gak sih.." seru Bagas.
"Papa sih gak peka - peka" balas Adrian pelan
"Yaudah yuk pa Kay antar kedan." kata Kayla.
"Kamu nggak Yan?" tanya Bagas melihat Adrian yang masih duduk diam.
"Iya.." saut Adrian pelan.
Bagas berjalan lebih dahulu, Kayla yang melihat Adrian hendak berdiri dan tanpa sengaja Kayal melihat darah yang merembes di baju Adrian.
"Darah.." ucapnya pelan.
"Huuussssttt.." ucap Adrian
"Kemarilah..." suruh Adrian.
Kayla mendekat kearah Adrian, dengan tiba - tiba Adrian memeluk tubuh Kayla dari belakang, sontak tubuh gadis itu menjadi tegang.
"Rileks dan ayo jalan kedepan, "kata Adrian
Kayla hanya diam dan mulai melangkah pelan menuju ke pintu utama.
"Astaga sampai segitunya.." kata Bagas saat melihat pasangan pengantin baru itu keluar dengan saling berpelukan.
"Cepat masuk lah ke mobil pah, aku sudah tidak tahan ini" ucap Adrian pelan.
"Dasar anak kurang aja, tega ngusir orang tuanya demi ingin bermesraan dengan istrinya." balas Bagas.
"Papa dulu juga gitukan.." balas Adrian
"Ya ya ya... Terserah kamu, papa pergi ya jaga diri kalian" seru Bagas kemudian masuk kedalam mobil sambil menggelengkan kepalanya.
Ia tidak menyaka kalau anaknya akan seperti itu kepada Kayla.
"Kemaren aja sok nolak, nah sekarang gak mau pisah deh tuh kan" gumamnya tersenyum.
Melihat mobil papanya yang sudah keluar dari gerbang rumah, dengan cepat Kayla menutup pintu rumah.
"Ayo kita kekamar.." ajak Kayla.
Namun, seketika tubuh Adrian ambruk tak sadarkan diri.
"Adrian...." teriak Kayla
~•••~
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terima kasih💜