My Secret Wife

My Secret Wife
Kelima



Duduk sendirian di bangku taman membuat Zella gelisah. Walaupun taman ini dikelilingi pepohonan yang sejuk, tapi tetap saja membuatnya tidak nyaman. Ia belum lama sampai ke tempat ini dan harus mengeluh karena menunggu Remi yang belum juga sampai. Sebenarnya Zella sangat tidak ingin pergi, tapi ia tidak ingin mengecewakan Remi. Dari pesannya tadi, sepertinya mereka berdua sering melakukan hal ini, pergi ke tempat yang jauh dari kantor hanya untuk sekedar makan siang. Seandainya Mike yang akan datang, Zella pasti akan menunggunya dengan senyuman. Tapi kali ini kepalanya masih di penuhi dengan kebingungan dan ia memutuskan untuk tetap menjalani semuanya sampai menemukan jawabannya.


"Ayo, naik!" Sebuah suara muncul dari dalam mobil yang menghampirinya. Remi menyuruhnya masuk, laki-laki itu bahkan tidak keluar untuk membukakakan pintu. Setakut itukah ia bila orang-orang tahu mereka sudah menikah?


Tidak ada pilihan lain selain patuh. Zella tidak mungkin marah hanya karena tidak di bukakan pintu. Ia cukup dewasa untuk tidak melakukan itu meskipun dirinya sebenarnya masih muda tapi ia sudah menikah dengan pria yang lebih dewasa di bandingkan dirinya.


Tiba-tiba terpikir oleh Zella untuk menanyakan umurnya, tapi Zella segera membatalkan keinginannya karena diam lebih baik. Ia terus diam dan melakukan itu sampai akhirnya mereka tiba di sebuah hotel mewah jauh dari kantor tempat mereka bekerja.


**


Hotel mewah menjadi pilihan Remi sendiri karena Zella tidak memilih tempat seperti yang Remi inginkan. Maka Remi memilih sendiri tempat yang di inginkannya dan kelihatannya tempat ini sangat sesuai dengan dirinya. Sejak awal memasuki restoran hotel, Remi bertindak sebagaimana orang terhormat pada umumnya dan beberapa orang tampak bertindak seolah-olah sudah mengenalnya. Zella sempat merasa kagum karena ia mungkin menikah dengan salah seorang bangsawan mungkin. Tapi mustahil, semua itu hanya khayalan belaka.


Makanan pembuka datang setelah Remi memesan dua porsi sup tanpa bertanya dulu kepada Zella yang hanya bisa berdiam diri. Setelah pelayan pergi, Zella hanya bisa duduk diam sambil memandangi Remi yang menyantap sup daging kental dihadapannya dengan lahap. Tidak lama kemudian makanan utama datang. Pelayan mengambil alih semua piring kosong di atas meja dan membiarkan sup milik Zella disana karena mangkuk itu masih penuh.


Mereka hanya menyingkirkan semua mangkuk dan sendok milik Remi lalu menggantinya dengan seporsi sup yang tidak begitu besar tapi terlihat sangat penuh karena di hidangkan bersama salad. Zella mulai menyantap hidangan utama, sesekali ia memandangi Remi yang menusuk daging sapinya dengan garpu. Mulai sedikit aneh karena dari tadi Remi hanya memakan daging tanpa mempedulikan hidangan yang lain. Pria itu sama sekali tidak menyentuh sayurannya.


"Kamu nggak makan sayurannya?" Tanya Zella pelan.


Remi menoleh kepadanya sambil menggeleng diiringi sebuah senyum. "Aku kan nggak suka sayur."


"Terus kenapa kamu nggak pesan yang tanpa sayur tadi?"


"Karena sayur baik buat kesehatanmu. Kamu mau cepat hamil, kan? Makanya harus ada gizi yang cukup untukmu."


Zella mendesah. "Tapi kamu bisa mesan makanan lain untukmu!"


"Gimana bisa aku ngelakuin itu? Aku harus memprioritaskan kesehatanmu. Sekarang makanlah!"


Jadi itu sebabnya mengapa Remi memakan supnya tadi dengan lahap? Ia sedang mengganjal perutnya karena Remi sudah berencana untuk memakan daging sup-nya tanpa sayur. Zella menggeleng tak menyangka. Apakah Remi mencintainya? Mengapa Zella sepertinya selalu mengesankan itu.


"Kalo begitu kamu bisa makan sup dan daging punyaku. Aku nggak mau makan itu! Dan ini!" Zella memindahkan semua daging yang ada di piringnya ke piring Remi dengan hati-hati.


"Mulai sekarang aku nggak begitu suka ini. Aku cuma suka sayur, jadi sayur punyamu kasihkan ke aku!" Remi memandanginya dengan tatapan kaku.


"Kamu serius? Maksudku, selama ini kamu bahkan nggak perduli kalo aku nggak makan seharian!" Zella tidak begitu mendengarkan keluhan Remi barusan dan mengambil sendiri sayuran yang berada di piring Remi lalu menyantapnya dengan lahap. Zella mulai teringat sesuatu.


"Kamu mau bilang apa? Di memo tadi, kamu bilang sangat banyak yang mau kamu bicarakan sama aku." Remi berhenti memandangi Zella dan kembali menyantap dagingnya pelan-pelan. Sesekali ia mengeluarkan kata-kata setelah semua makanan berhasil di kunyah dan di telannya dengan baik.


"Tadi pagi, apa yang terjadi sama kamu? Kamu ngelupain semuanya lagi? Kayaknya begitu. Aku tau karena hari ini kamu keliatan berbeda dari biasanya, kamu bahkan bertingkah seolah-olah aku adalah orang asing!"


"Berarti benar kamu nggak ngingat apa-apa!" Seru Remi yakin. "Kamu yang minta untuk merahasiakannya, bukan aku, dan kita sering bertengkar di kantor karena itu. Suasana hatiku selalu buruk setiap kali nggak bisa bebas sama istriku sendiri, setiap kali harus di batasi oleh pandangan curiga orang-orang, aku juga benci setiap kali ngelihat kamu berinteraksi dengan beberapa laki-laki dari bagian personalia!"


Dia cemburu? Zella menyunggingkan sebuah senyum tipis, entah mengapa dirinya merasa sangat senang.


"Habis ini aku boleh izin? Aku nggak bisa kembali kekantor karena harus melakukan sesuatu!"


Remi menatap Zella dengan tatapan curiga. "Kamu mau ngelakuin apa? Jangan macam-macam, Anzella." ucap Remi mengingatkan Zella.


"Aku nggak akan macam-macam, aku cuma butuh jawaban atas pertanyaanku."


"Kamu bisa tanyakan itu ke aku!" seru Remi tanpa menatap Zella.


"Tapi pertanyaan ini bukan buat kamu!" seru Zella balik dengan tatapan yang lebih kuat. "Aku cuma mau memastikan aku nggak salah!"


"Kamu mau ketemu sama Mike?"


Zella terdiam. Tidak menjawab apa-apa, Remi menghembuskan nafasnya pelan dan mendorong mangkok sup nya tanpa minat lagi.


"Bener ya mau ketemu Mike.." ucap Remi lagi. "Aku nggak bisa biarin kamu ketemu dia begitu aja."


"Memangnya kenapa? Kenapa aku nggak boleh ketemu sama Mike? Aku perlu jawaban dia! Cuma dia yang bisa pastiin pertanyaan dariku!"


Remi menatap Zella dalam, tersirat kekecewaan yang besar dimata nan tajam itu, Zella menyadarinya namun memilih acuh. Toh, ia juga melakukan hal ini untuk memberikan kepercayaan kepada Remi jika benar pria itu adalah suaminya, apa salah Zella?


"Kamu begini lagi. Okey, aku izinin kamu buat ketemu sama Mike, tapi dengan syarat."


"Apa syaratnya?"


"Aku bakalan ikut sama kamu dan aku yang bakalan ngantarin kamu ketemu sama Mike, kalo kamu mau dapat izin, ya kamu harus izinin aku juga."


"Aku mau ketemu Mike cuma sebentar, kamu nggak perlu ikut." bantah Zella.


"Iya atau nggak sama sekali."


Hanya tersisa dua pilihan yang diberikan oleh Remi, Zella harus memilih salah satunya. Jelas Zella akan memilih 'iya' karena ia juga memerlukan jawaban, masalah Remi yang mengotot ingin ikut, Zella bisa memikirkannya nanti.


—Bersambung.