
Setelah mengetahui kalau nyawa istri nya tidak aman berada di rumah sakit itu, Adrian pun memutuskan untuk membawa Kayla pulang dan dirawat di rumah saja.
"Kak, apa tidak sebaiknya, Kay kita pindah kan ke rumah sakit lain aja?"tanya Sandra.
Sandra khawatir jika nanti perawatan di rumah, malah makin memperburuk keadaan Kayla.
"Nggak, kamu tenang aja. Tadi kakak udah telpon mama sama papa dn mereka malam ini akan kembali ke sini dan mereka juga membawa dokter terbaik dari sana"kata Adrian.
"Tapi kak..."
"Udah kamu tenang aja, Kayla lebih aman di rumah dari pada di rumah sakit mana pun itu."kata Adrian, memotong ucapan Sandra.
~
Semua orang rumah jadi histeris saat mereka melihat, tubuh Kayla yang keluaar dari dalam mobil ambulance.
"Astaufirullah, nona Kay?!"mbak Titin yang sangat kaget.
"Astaga, Tin. Itu non Kayla kenapa? Kenapa dia?"tanya mbok
"Aku juga nggak tau mbok, kita sama - sama di rumahkan seharian ini. yau da yuk kita tanya sama Den Adrian aja."kat mbak Titin.
Mbok Iyem pun mengangguk dan mereka pun menghampiri Adrian yang sedang mengarah kan petugass untuk masuk kedalam kamar tamu, karena kamar mereka ada di lantai 2 jadi agak susah jika harus menggotong nya keatas.
"Permisi Den.."
"Iya mbak, ada apa?"tanya Adrian, menoleh melihat kearah kedua pelayan nya itu.
"Non Kayla kenapa Den?"tanya mbok.
"Itu tadi siang, ada yang dengan sengaja ingin mem bu nuh Kayla dengan menusuk bagin perut nya."kata Adrian ,menjelaskan.
"Masya allah, non "ucap mbak Titin.
"Mbak, tolong siap kan makanan ya. Nanti mama dan papa pulang."kata Adrian
"Baik Den."jawab mereka dan buru - buru jalan ke belakang untuk menyiapkan makanan.
Meski pun sebenar nya, mereka sangat ingin melihat dan mengetatahui keadaan Kayla.
~
Sekitar jam 12 malam Bagas dan Anita sampai di rumah. Anita langsung turun dari mobil dan memanggil Adrian
"Adriaannn..."panggila nya dengan sedikit berteriak.
Mendengar suara mama nya, Adrian pun keluar dan menemui mama nya. Anita langsung memeluk tubuh putra nya itu.
"Kamu tidak apa - apa kan nak?"tanya Anita khaatir.
"Aku baik - baik aja kok ma, yang sakit itu bukan aku tapi Kayla."kata Adrian. Anita sangat kaget mendengar nya. Karna kata suami nya tadi yang sakit itu Adrian, yang terjatuh dari motor.
"Kayla?"tanya Anita, ia menoleh kearah suaminya dengan tatapan bingung.
"Iya"
"Sekarang mana dia?"tanya Anita.
"Itu di kamar tamu.."
Belum sempat Adrian menyelesaikan ucapan nya Anita sudah berlalu pergi begitu aja.
Anita masuk kedalam kamar dan melihat Kayla yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Ya Allah, Kayla kamu kok bisa kaya gini sih sayang."kata Anita, berjalan mendekati Kayla.
"Kenapa dia belum sadar?.."tanya Anita kepada suster yang merawat Kayla.
"Nona Kayla masih dalam pengaruh obat bisu bu."jawab suster itu yang bernama Leni.
"Memang nya, kapan operasi nya ?"tanya Anita lagi.
"Tadi sore sekitar jam 5 an bu."jawab Leni.
"Udah selama itu, tapi dia juga belum sadar kan diri. Apa sebelum di bawa pulang dia udah di cek terlebih dahulu?"tanya Anita lagi.
"Udah bu, tadi dokter udah memeriks nona Kayla terlebih dahulu."
"Kalau mengenai itu saya kurang tau bu. Tadi, tuan Adrian tiba - tiba membuat keputusan seperti in."kata Leni.
Anita terdia sejenak, kemudian ia beranjak dari duduk nya.
"Tolong kamu rawat menantu saya dengan benar dan jangan ada kesalahan sedikit pun!!"seru Anita.
"Baik bu."Anita pun berlalu keluar dari kmaar itu, ia mencari keberadaan suami dan putra nya.
~
Sementara Adrian dan Bagas sedang duduk dan berbincang mengenai kasus Kayla di ruang kerja Bagas.
"Apa kamu yakin kalau pelaku nya itu berasal dari lawan kamu?"tanya Bagas.
"Rian nggak terlalu yakin juga sih pa. soal nya juga banyak orang yang nggak menyukai Kayla. Contoh nya saat hiking kemaren, Kayla di celakai oleh teman sekolah nya. "
"Maka nya aku jadi bingung."kata Adrian mengusap wajah nya gusar.
"Kamu sudah nyuruh orang buat cari tau masalah ini?"tanya Bagas.
"Udah sih pa, si Rangga lagi nyari tau pelaku nya dan ada juga teman Kayla. Nama nya Adit, dia juga kaya nya mempunyai koneksi yang kuat di bidang ini. Papa percaya nggak dalam waktu kurang dari 1 jam dia udah bisa nangkap pelaku nya serta dia juga bisa mendapat kan barang bukti sekalian." kata Adrian
"Wah hebat juga tu dia, apa kamu udah lapor polisi?" tanya Bagas lagi.
"Belum pa? Aku kurang percaya sama mereka."jawab Adrian
"Lah kenapa, bukan nya mereka itu sangat membantu?"
"Iya sih pa, tapi siap tau bos nya pelaku ini memiliki jaringan yang kuat di sana, kan bisa jadi dia bisa bebas dengan mudah."kata Adrian.
"Benar juga kata kamu, terus rencana kamu selanjutnya apa?"tanya Bagas.
"Aku masih belum tau pa,."jawab Adrian
"Kamu tenang aja, papa akan bantu kamu. Pokok nya kalau kamu dapat barang bukti cepat kabari papa. papa akan minta bantu sama teman papa yang detektif ."kata Bagas menepuk bahu Adrian.
"Makasih pa."ucap Adrian.
Ceklek ( suara pintu di buka)
Adrian dan papa nya menoleh kearah pintu, di sana mereka melihat. Anita berjalan menghampiri mereka.
"Ternyata kalian di sini mama cariin dari tadi juga."kata Anita.
"Kenapa mama nyari kita, apa Kayla udah sadar?" tanya Adrian, menatap mama nya dengan serius.
"Belum, dia belum sadar. Ada sesuatu yang mama mau tanyai sama kamu?"
"Apa?"tanya Adrian
"Kenapa kamu bawa Kayla pulang, kenapa dia nggak di rawat di rumah sakit aja?"tanya Anita.
"Nggak apa - apa ma, Adrian males aja bolak - balik ke rumah sakit." jawab Adrian, yang sengaja nggak mengatakan alasan sebenarnya kepada Anita.
Dia nggak mau membuat wanita ke sayangan nya itu khawatir.
"Ya ampun, Adrian itu bahaya lo sayang, kamu jangan egois gini dong nak."kata Anita memukul lengan Adrian.
"Kenapa sih ma, kan di rumah juga bisa? Lagian papa juga udah bawa dokter terbaik dari Amerika buat jaga Kayla. Jadi apa yang harus di takut kan?"kata Adrian santai.
Anita keget mendengar ucapan putra nya itu, pasa nya dia nggak tau kalau suami nya itu juga membawa dokter pulang ke Indonesia.
Anita menoleh kearah Bagas, Bagas yang di tatap pun hanya bisa tersenyum.
"Benar?" tanya nya, Bagas pun mengangguk kan kepala nya.
"Wahhhh.... "
Prok prok prok ( suara tepuk tangan)
Adrian dan Bagas saling pandang, meraka bisa merasakan aura tidak baik dari Anita.
"Bagus banget ya, semua nya nggak ada pake bicarain dulu sama aku. Baiklah..."Anita beranjak berlalu pergi keluar dari ruangan kerja itu.
~•••~