
Kali ini Zella bangun lebih dulu dibandingkan dengan Remi dan masih mengenakan piyama baru yang dibelinya dengan kartu kredit suaminya. Ia tidak bangun dalam keadaan tanpa busana seperti biasa. Mulai sekarang, Zella harus belajar untuk menghabiskan uang suaminya dan itu berhasil membuatnya tersenyum geli. Zella sudah memulainya dengan membeli banyak piyama dan gaun tidur.
Semalam sebenarnya Zella sudah menunggu Remi pulang. Ingin memulai kehidupan barunya dengan memperlihatkan beberapa piyama dan gaun tidur yang di belinya di depan Remi. Sayangnya ucapan Remi tentang 'sampai jumpa besok pagi' itu benar-benar terjadi. Remi bahkan tidak pulang sampai tengah malam hingga akhirnya Zella lelah menunggu dan tidur lebih dulu. Entah jam berapa Remi pulang semalam, yang jelas hari ini dia tidak akan kesiangan ke kantor karena ini adalah hari sabtu. Paradise Group tidak dibuka saat Weekend kecuali percetakannya.
Zella memandangi Remi yang menggeliat, ia sudah antusias bila Remi segera terbangun, tapi nyatanya tidak. Remi hanya berpindah posisi dan kembali terlelap dengan tenang. Sepertinya harus dibangunkan, Zella mencari ide bagaimana ia bisa membangunkan Remi dengan cara yang sopan. Bagaimana bila menciumnya dan mengatakan 'Selamat pagi sayang?' Tidak! Zella tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi mengguncang tubuh Remi dan memintanya bangun juga bukan hal yang berani dilakukannya. Pada akhirnya Zella hanya memilih untuk mengamati Remi dengan seksama sambil menunggunya terbangun. Remi Abimana adalah seorang pria berkulit putih dan halus. Zella menemukan beberapa noda seperti bekas jerawat di wajahnya, mungkin karena kebiasaannya tidak suka mengkonsumsi sayuran? Entahlah, Zella tidak tahu.
Pria itu memiliki alis yang berwarna lebih gelap di bandingkan dengan rambutnya. Bibirnya merah kissable dan hidungnya mancung. Pipinya juga kemerahan. Lehernya jenjang, bahu lebar dan dada bidang, lalu perutnya datar, Zella bisa melihat itu karena Remi tidur dengan bertelanjang dada, sebagian tubuhnya ada di balik selimut. Apa yang ada di dalam sana? Zella menggelengkan kepalanya. Apa yang sedang di fikirkannya? Mengapa ia memikirkan hal itu? Zella sedang berfikir apakah Remi tidur tanpa pakaian sama sekali seperti sebelum-sebelumnya? Perlahan ia mengangkat selimut dan mengintip ke dalam. Remi mengenakan sebuah celana pendek dari Nylon Spandex yang fit di tubuhnya. Dia tidak telanjang, tidak seperti yang Zella fikirkan.
"Apa yang lagi kamu pikirin?"
Zella mengerjap. Ia segera menoleh kesumber suara dan melihat Remi yang sedang memandangnya. Dengan cepat Zella menarik selimut yang diangkatnya dan berkamuflase seolah-olah ingin menyelimuti Remi dengan benda itu.
"Aku pikir kamu kedinginan. Makanya aku mau nyelimutin kamu. Kamu sudah bangun rupanya?"
Remi bangkit dan duduk dan meminta Zella untuk bersandar di sebelahnya. Zella melakukan apa yang diinginkannya, membuat Remi merasa mendapatkan kebahagiaan pernikahan seperti yang diimpikannya. Sebelah tangannya mendekap bahu Zella dengan santai.
"Aku lembur semalam, nyiapin bahan buat dicetak minggu ini. Apa kamu nungguin aku semalam?"
Zella mengangguk. Ia sedang mencari perhatian, ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang istri yang baik meskipun tidak mencintai suaminya.
"Aku mau ngeliatin piyama sama gaun tidur yang aku beli kemarin."
"Aku sudah ngeliat satu."
Remi lalu memandangi pakaian Zella dengan senyum. Zella sedang menggunakan piyama yang terbuat dari sutra dan berwarna biru dengan bintik-bintik putih. Motif tutul yang lembut dari perpaduan warna yang juga lembut, baby blue dan putih membuatnya tampak manis.
"Kamu beli gaun tidurnya?"
Zella mengangguk. "Ya. Meskipun bagiku celana lebih baik. Tapi kamu bilang aku harus beli gaun tidur juga, jadi aku membelinya."
"Semuanya kayak gini?"
"Sedikit banyak ya…, Aku milih warna yang beda-beda dan…"
"Nggak usah diceritakan." Potong Remi. "Biar jadi kejutan aja nanti."
"Kamu mau ngeliat?"
"Aku bakalan ngeliat setiap kali kita mau tidur, dan aku harap setiap malam aku dapat suasana yang berbeda karena itu. Kamu beli berapa banyak?"
Remi tertawa. "Baju tidur ternyata pengaruhin gairahmu haha. Kamu tau? Harusnya kamu nggak pakai apa-apa kalo sudah pakai gaun tidur. Kalo mau menggunakan pakaian dalam yang seksi juga percuma. Tanpa itu istriku juga sudah cukup menggoda."
"Begitu ya? Aku nggak tau yang satu itu. Selama ini aku pakai pakaian dalam saat tidur." Zella melirik ke dalam piyamanya.
Sukses hal itu membuat Remi tertawa lagi, Zella sedang menggodanya dengan cara yang sangat manis. Dia tidak tahu bagaimana cara menggoda laki-laki sesungguhnya. Tapi seperti yang Remi bilang, Zella sudah cukup menggoda tanpa harus melakukan apa-apa. Tentu saja begitu, karena selama ini Remi hanya bisa memandangi tubuhnya, menyentuh dan membelai tanpa melakukan hal yang lebih. Remi hampir gila karena tidak bisa melakukan apa-apa kepada Zella.
"Apa yang terjadi sama kamu?" Tanya Remi sambil menyenggol bahu Zella dengan lengannya.
"Aku cuma nyoba buat menjadi istri yang baik."
"Beneran? Gimana caranya? Dengan menggodaku? Ngomongin soal pakaian dalam yang seksi?"
"Bilang sama aku, apa yang kamu mau buat aku lakukin hari ini? apapun itu aku bakal ngelakuin." Remi menaikkan sebelah alisnya.
"Beneran? Termasuk ehm.. kamu tau maksudku kan?"
Zella menatap Remi dalam-dalam. Ia tahu Remi akan mengatakan hal itu, dan ia sudah menyiapkan kata 'tentu saja' sebagai jawaban. Tapi semangatnya kendor lagi, Zella tidak yakin dia sanggup melakukan itu sekarang.
"Termasuk yang kumau?" Remi mengulangi pertanyaannya. Tidak ada salahnya mencoba. Zella membatin. Ia mengangguk dan berusaha tersenyum penuh semangat.
"Tentu aja. Kalo kamu mau itu sekarang…"
Zella berusaha membuka piyama tidurnya dan setelah benda itu terlepas, Zella segera melemparnya jauh-jauh. Dengan susah payah ia berusaha menurunkannya. Entah benda itu tersangkut atau memang Zella yang melakukannya setengah hati. Gerakan Zella terhenti saat Remi menggenggam tangannya dan mencium pipinya mesra.
"Stop. Kamu kelihatan gugup banget." Desis Remi. "Aku nggak suka ngelakuin hal seperti itu pagi-pagi dan kalopun itu terjadi, aku nggak bakal biarin kamu buka pakaianmu sendiri."
Zella mengangguk mengerti. "Okey. Jadi apa yang kamu mau hari ini?"
"Besok waktunya nenek belanja bulanan, kan? Kita aja yang pergi belanja dan biarin nenek istirahat dirumah."
"Belanja bulanan?" Zella sejenak memperlihatkan wajah heran, tapi lagi-lagi ia mengangguk. Sebenarnya Zella masih malu karena merasa ditolak. Remi sudah menolaknya meskipun dengan cara yang sangat halus.
"Okey, Aku juga mau belanja beberapa barang lagi."
—Bersambung