
Hembusan nafas kembali keluar sekali lagi dan sangat perlahan. Zella memandangi wajahnya dicermin lalu mengamati perubahannya. Tidak ada satupun dari dirinya yang berubah, semuanya baik-baik saja dan dia terlihat seperti dirinya yang biasa. Tapi Zella masih belum bisa percaya bahwa gadis muda yang berada di dalam cermin sekarang adalah istri dari seseorang.
Pria itu, Remi adalah suaminya? Bagaimana mungkin Zella mengenal Remi, bagaimana mungkin dalam hitungan jam Zella meninggalkan Mike begitu saja dan menikah dengan pria yang mengaku sebagai suaminya itu? Apa dia sudah jatuh cinta pada orang lain? Atau dia hamil di luar nikah dan sekarang sedang mengandung anak Remi? Zella menyentuh perutnya dan tidak merasakan perubahan apa-apa. Lalu apa alasan pernikahannya? Semuanya masih tidak masuk akal sama sekali, hidupnya benar-benar berubah dalam semalam.
"Siapa di dalam?" Zella terbangun dari lamunannya saat pintu kamar mandi di gedor. Ini kantor dan seharusnya Zella tidak menggunakan toilet kantor terlalu lama seperti sekarang. Tapi kemana lagi dirinya harus bertanya tentang semua ini? Dia bahkan belum menyapa siapapun sejak pagi tadi.
"Kamu sudah selesai?" Suara itu mendesak lagi.
"Ya, sebentar!" Zella merapikan dirinya secepat mungkin dan membuka pintu toilet. Seorang gadis yang juga adalah teman sekantornya memandangnya dengan wajah kesal sebelum masuk ke kamar mandi dan Zella hanya mampu mengatakan sorry sambil tersenyum dengan ekspresi bersalah. Setelah gadis itu dan pandangan kesalnya lenyap, Zella segera melangkah secepat mungkin dan kembali ke ruang kerjanya.
**
Zella memandangi Salsha yang sedang sibuk mengamati sebuah katalog pakaian dalam dengan ekspresi yang sangat cerah.
"Aku mau beli yang ini, kayaknya ukurannya pas buatku." Gumamnya.
Zella hanya tersenyum dan kembali termenung memandangi komputernya, ia ingin menanyakan tentang pernikahannya kepada Salsha, tapi bagaimana kalau Salsha menganggapnya gila karena melupakan hal terpenting yang terjadi dalam hidupnya? Ia terbangun lagi pagi ini dan tiba-tiba ada seorang pria yang mengaku sebagai suaminya. Siapa yang percaya dengan itu? Meskipun sudah melewatinya sehari, Zella tetap saja masih tidak mempercayai bahwa pria yang terbangun bersamanya adalah suaminya, bahkan tadi pagi ia kembali membuat keributan sebelum pergi kekantor.
"Zell, kamu kenapa sih?" Zella mengerjapkan matanya dan menyadari kalau dirinya sedang memandangi layar komputer yang sama sekali tidak menyala. Maka Zella berusaha menoleh kepada Salsha secepat mungkin dan tersenyum untuk menghilangkan kecurigaan.
"Kamu bertengkar sama suamimu?"
Zella terdiam sejenak, jadi Salsha juga tahu? Jadi dia benar-benar sudah bersuami? Zella masih belum bisa percaya ini sepenuhnya, Salsha dan nenek yang merupakan orang terdekatnya mengatakan kalau ia sudah menikah. Sepertinya Zella harus menemui Mike untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Nggak, aku cuma ngerasa perutku agak aneh, aku rasa pencernaanku bermasalah." Jawab Zella. Entah darimana datangnya kata-kata itu.
"Terus kamu sedih gara-gara itu? Karena kamu belum hamil juga? Aku yakin kalian berdua lagi berusaha keras untuk itu. Jangan sedih Zella, cepat atau lambat kalian juga bakalan punya anak."
Kedua alis Zella menyatu. Pernahkah ia mengatakan kalau dirinya sangat ingin memiliki anak kepada Salsha? Dia baru sebulan menikah dan bukan hal aneh kalau dalam kurun waktu sebulan dirinya belum mengandung. Seberharap itukah Zella memiliki anak dari Remi?
"Nggak! Aku cuma lagi ngingat tentang pertemuanku sama suamiku."
"Kamu mau ceritain sama aku, Zell? Aku sering nanyain itu, kan? Dan kamu selalu merahasiakannya. Gimana bisa kalian ketemu? Kamu nggak kasih tau apa-apa tapi ngasih aku beban untuk merahasiakan pernikahanmu di kantor. Kurasa sebaiknya biarin orang-orang tau kalo kamu udah nikah, kamu nggak mungkin di demo cuma gara-gara melanggar peraturan kantor yang satu itu…"
"Anzella, kamu di panggil Pak Abimana!" Sebuah suara menyela. Suara itu berasal dari seorang wanita yang menyembulkan kepalanya di pintu dan segera pergi setelah melihat Zella mengangguk.
"Apa aku bakal di marahin karena semua file yang hilang itu?" Tanya Zella pelan. Salsha hanya mengangkat bahu dan kembali ke katalognya sambil bergumam.
"Cepat kesana. Jangan terlambat. Kalo nggak dia bisa ngamuk lagi dan kantor bisa kembali riuh."
"Lagi? Dia sering begitu?" Tanya Zella keras. Ia segera memperbaiki ekspresi bingungnya saat melihat tatapan heran dari Salsha.
Sepertinya ya, Pak Abimana sering memarahinya di balik ruangan itu sehingga semua orang tau. Seingatnya, apapun bunyi yang keluar dari ruangan itu bisa terdengar dari luar, apalagi bila Pak Abimana mengamuk. Zella menghela nafas lagi, sepertinya dia dan Pak Abimana sama sekali tidak akur karena Zella sudah menghilangkan beberapa file penting. Tapi Zella baru menghilangkannya kemarin dan Pak Abimana harusnya baru mulai bekerja hari ini.
Sepertinya dugaan Zella benar kalau ini bukan kehidupannya yang biasa, tapi kehidupan yang lain yang entah bagaimana caranya Zella bisa memasukinya. Zella meninggalkan meja kerjanya dan segera melangkah menuju ruangan orang nomor satu di kantor itu kemudian mengetuk pintu beberapa kali hingga sebuah suara mempersilahkannya masuk. Itu artinya ia harus membuka pintu itu sendiri? Rio selalu membukakan pintu untuk siapapun yang masuk keruangannya. Sepertinya Pak Abimana adalah orang yang angkuh. Perlahan Zella membuka pintu dan masuk sambil menunduk dalam. Ia akan mendapat amukan, itu yang ada di benaknya. Secepat mungkin Zella kembali berusaha menutup pintu dan berdiri tegang saat melihat seseorang yang duduk di kursi Bos. Seseorang yang tidur di sampingnya tadi pagi, seseorang yang kembali meraba tubuh-nya, menyeka rambutnya dan menatapnya dengan penuh kasih. Seseorang yang mengaku sebagai suaminya.
Zella menatap papan nama yang ada di atas meja kerja. Remi Abimana. Dia menikah dengan Bos? Itu yang membuatnya meminta Salsha untuk merahasiakan pernikahannya di kantor? Dan sepertinya kebiasaan marah-marah Pak Abimana juga dibuat-buat untuk menutupi hubungan mereka yang sebenarnya. Zella mendekat kemeja kerja dan harus berdiri di hadapan Pak Abimana yang memandanginya dengan tatapan aneh, ia merasa kikuk.
"Ada apa Pak?" Zella berkata dengan ragu, suara yang sangat pelan itupun harus di keluarkan dengan paksaan ekstra dari mulutnya.
"Duduklah." Zella mengangguk lalu duduk di hadapan Remi. Sesekali matanya bertemu pandang dengan mata pria itu dan membuat Zella membuang pandangannya ke arah lain. Pria itu tidak berhenti memandanginya, ia pun harus mendapatkan kegugupan ekstra karena itu.
"Ada yang harus saya kerjakan? Atau anda akan marah-marah lagi?" Remi menyodorkan sebuah memo kepada Zella di atas meja dan Zella membacanya.
'Kamu tunggu aku di taman belakang gedung. Untuk makan siang hari ini kamu yang pilih tempatnya. Aku nggak bisa banyak bicara tapi sangat banyak yang mau ku tanyakan kepadamu tentang kejadian tadi pagi lagi. Sekarang keluarlah dan lanjutkan pekerjaanmu!'
—Bersambung