My Secret Wife

My Secret Wife
Episode 88



Kayla tersentak kaget disuguhkan pemandangan pada bidang tanpa kain penghalang di hadapannya.


"Akhhh... Kenapa lu nggak pakai baju!..." teriaknya sambil menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.


"Eh... G-gue lupa bawa pakaian ganti, karena sebelumnya gue sudah terbiasa berganti pakaian di dalam kamar." jawabnya sekit tergagap karena sama - sama terkejut.


Ketika tiba c tiba berhadapan dengan Kayka di ambang pintu dalam keadaan belum berpakaian lengkap, secara impulsif tangan nya mengusap - usap tengkuknya karena merasa canggung.


Namun, tiba-tiba terlintas ide jahil di kepalanya, Adrian melangkahkan kakinya mendekati ke arah Kayla, membuat gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang hingga membentur tembok.


Kayla panik serta kebingungan dan merasa serba salah antara harus mendorong tubuh tinggi tegap itu atau tidak, sementara Adrian semakin mendekat kepadanya. Jika dia melakukannya, maka telapak tangannya akan langsung bersentuhan kulit dengan dada telanjang pria itu, tetapi jika tetap dibiarkan maka dirinya akan semakin terdesak dan tubuh mereka dipastikan menempel satu sama lain tanpa jarak.


"E-elu mau ngapain?" serunya galak dengan tangan tersilang di depan dadanya. Padahal sekarang ini dirinya sangat gugup setengah mati karena Adrian makin mendekat merapat padanya.


Adrian mendaratkan sebelah telapak tangannya di dinding dekat wajah Kayla, kemudian ia sedikit membungkuk dan berbisik tepat ditelinga Kayla.


"Bukankah sudah pernah melihatnya hmm? bahkan lalu menyeka dan menyentuh tubuh gue tadi malam, tapi kenapa sekarang elu malah berteriak?" godanya dengan sengaja.


"Semalam itu keadaan darurat, jadi sama sekali tak


bisa disamakan dengan sekarang! menjauhlah! lagi pula... Lagi pula seharusnya nya minta maaf sama gue tentang apa yang terjadi semalam!.." Kayla memalingkan wajahnya sambil menggigit bibirnya karena jantungnya berdetak tak karuan ditambah wajahnya yang mulai memanas saat selesai mengucapkan kalimat terakhirnya.


Dia merasa benar-benar bodoh Kenapa harus menyebutkan kejadian semalam padahal dirinya sama sekali tak ingin membahas tentang ciuman yang tidak terduga itu.


"Memangnya apa yang terjadi semalam hingga gue minta maaf sama lo? Coba sebutkan kesalahan apa yang telah gue lakuin!" Adrian berpura-pura lupa, padahal bayangan kejadian semalam itu terus berputar berulang kali di dalam kepalanya.


semburat merah sedikit demi sedikit merebak di tulang pipi nya dan dengan pasti merambat hingga ke leher jenjang nya.Adrian yang merasa berhasil menjahili nya terkekeh geli melihat Kayla yang merona.


Namun, semakin di pandang lama ke lamaan gadi itu tampak makin menggemaskan, di tambah tubuh kokoh nya yang menghimpit tubuh mungil Kayla nan hangat itu menciptakan percikan reaksi yang tak biasa, hingga mampu membangkit kan sesuatu yang selama ini selalu di tahannya.


Adrian memundurkan tubuhnya ketika di rasa ada hal yang tak seharusnya memberontak di dalam dirinya, kemudian berbalik dan dengan suara rendah ia berkata


"Maaf, tentang yang semalam, gue lepas kendali,"ucapnya dingin lalu melangkah menjauh menuju ruang ganti meninggalkan Kayla yang masih mematung di sana dengan detak jantung yang menggila.


Kayla menyentuh dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seolah tengah terjadi keributan di dalam rongga rusuknya. Dia kesal sekaligus gugup karena Adrian sengaja menggodanya teapi kemudian pergi bergitu saja mengabaikannya seplah tak terjadi apa - apa.


Akan tetapi, dia juga merasa heran dengan reaksi fisiknya, mengapa seluruh tubuhnya meremang ketika Adrian berbisik di telinganya dengan embusan napas panasnya.


Oh tidak ada apa dengan gue...


Kayla akhirnya segera masuk kedalam kamar mandi, menyalakan shower dan menguyur dirinya yang masih berpakaian lengkap. Kayla termenubg di bawah percikan air hangat yang membasahi tubuhnya,


Kemudian bayangan semalam saat bibir Adrian menyesap bibirnya tidak seperti yang biasa di lakukan oleh pria itu terus saja berlalu lalang di kepalanya, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri dan darahnya berdesir ketika mengingat akan hal itu.


Kayla dengan cepat - cepat menepis semua yang sedang berkecamuk di benaknya dan menepuk - nepuk kedua sisi wajahnya sendiri, berharap semua bayangan itu musnah dan berhenti menggodanya.


"Aish... Kenapa gue malah mandi di sini sih, mana gak bawa baju ganti lagi,.." kata Kayla yang baru ingat kalau dia sedang berada di kamar suaminya.


~


"Iya, si Adrian lagi sakit jadi, gue harus cepat pulang untuk merawat dia, tadi kata mbak Titin dia nggak mau makan kalau nggak gue sendiri yang suapin" kata Kayla pelan, karena saat ini mereka masih di dalam kelas, meski pun saat ini kelas sudah dalam kondisi sepi tapi Kayla harus tetap jaga - jaga.


"Kok makin hari gue ngerasa kayak kak Adrian udah mulai suka deh sama elu Kay..." seru Sandra.


"Ha... Itu nggak mungkin,mana mungkin dia suka sama gue, orang ceweknya cantik gitu, mana doyan dia sama gue si buluk ini" kata Kayla menyangkal ucapan sahabatnya itu.


"Kali aja Kay, dia bosan sama yang bening - bening, terus mau nyoba deket sama elu yang..." Sandra tidak melanjutkan ucapanya.


"Yang apa? Elu sahabat gue apa nggak sih.." kata Kayla pura - pura merajuk


"Eh malah merajuk... Gue cuma becanda"bujuk Sandra.


"Udah ah, gue mau cabut duluan." kata Kayla pergi berlalu gitu aja.


Sandra menatap ke pergian Kayla. " Semoga elu segera menemukan kebahagiaan elu Kay" gumamnya.


~


Kayla sedang berdiri di halte bus, saat sedang asik menunggu tiba - tiba sebuah mobik berhenti di depannya, Kayla mendongakkn kepalanya melihat siapa orang yang menghampirinya.


"Masuk Kay!" suruh orang itu.


"Gak usah Vi, gue lagi mau cepat pulang, jadi nggak bisa nemenin elu main" tolak Kayla


"Yang ngajak elu main siapa, ayo gue antar pulang."balas Ravi


"Eh... Tapi.."


"Udah gak usah banyak pikir, buruan masuk!!" suruh Ravi.


Kayla pun dengan terpaksa masuk kedalam mobil Ravi, Ravi pun mulai menjalankan mobilnya.


" Thanks ya, tebengannya." Kata Kayla membuka pintu mobil Ravi


"Iya sama - sama." sahut Ravi dengan mengulas senyum yang kemudian tancap gas pergi dari sana.


Kayla melangkah masuk ke dalam rumah megah itu sambil menghembuskan napasnya berat, sebelumnya ia pernah berharap bisa lebih dekat dengan si Ravi itu, tapi sekarang terasa berbeda mungkin dulu Kayla akan berjingkrak jika bisa berdekatan dengan Ravi, tetapi sekarang Iya malah dilanda kebingungan akan perasaannya sendiri.


Kakinya berjalan tapi pikirannya tenggelam dalam lamunannya, tanpa disadarinya Adrian sudah berdiri di ruang tengah sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam kepada-nya dengan geraham yang mengetat.


"Siapa tadi yang mengantarmu?" tanya Adrian Ketus hingga membuyarkan lamunan Kayla.


"Sejak kapan lu berdiri di situ? bikin kaget aja," Kayla bersungut-sungut mengerucutkan bibirnya


"Sejak tadi, sejak lu turun dari mobil pria asing yang tak gue dikenal. jadi Beneran ya dia pacar lu? Kalian ada hubungan kan?" tanya Adrian dengan nada sinis


~•••~