My Secret Wife

My Secret Wife
Sepuluh



"Kamu sudah selesai?"


Zella mencoba basa-basi meskipun hatinya sangat kesal. Sesekali ia memandangi Remi yang membantunya memasukkan barang-barang belanjaan tadi kedalam mobil.


"Kamu marah? Terlalu lama nunggu ya?"


"Nggak!"


Remi tersenyum kecut. Zella kecewa padanya dan itu kelihatan sekali. Tapi jika Zella mengatakan tidak, Remi sama sekali tidak ingin bergumam apa-apa lagi. Ia hanya mencoba memperhatikan Zella yang berusaha untuk tidak peduli kepadanya.


Remi dan Zella kembali ke rumah. Zella benar-benar tidak berbicara dan hanya mengatakan dirinya sangat lelah. Begitu sampai di rumah, Zella bahkan langsung masuk ke kamar tanpa membantu Remi mengangkat barang-barang yang sangat banyak itu ke dapur. Zella sudah berkeliling mencari barang-barangnya dan sekarang giliran Remi yang mengangkutnya ke dalam rumah.


Sebuah buku menjadi incaran Zella dan dikeluarkan dari rak bukunya dengan hati-hati. Sebelum naik ke atas tempat tidur dan bersandar, Zella menghela nafas lagi. Sekarang apa yang sedang Remi lakukan? Mengapa belum masuk ke kamar juga setelah mengantarkan semua belanjaan ke dapur? Padahal Zella sudah banyak menghabiskan waktu untuk memilih buku yang akan dibaca ulang.


Akhirnya Zella mengembalikan bukunya ke rak, ia tidak jadi membaca dan memilih untuk duduk di atas sofa sambil memainkan games di ponselnya. Selang dua jam kemudian Zella sudah mulai bosan. Remi belum masuk juga hingga sekarang. Apa yang dilakukannya? Zella menyesal mengatakan tidak saat Remi bertanya apakah Zella marah padanya. Jika Zella tidak mengatakan 'tidak apa-apa' Remi pasti segera menyusulnya ke kamar dan membujuknya.


Langit di luar jendela mulai mendung, sepertinya hari ini akan turun hujan yang lebat karena langit begitu gelap. Zella menghela nafas lagi, ia sudah bosan menunggu. Mengapa seharian ini ia hanya akan menunggu Remi? Ia harus menelponnya, Zella harus menelpon Remi. Tapi apa nama Remi di ponselnya? Zella memulai dengan kata Honey dan tidak ada, lalu My Husband dan Zella tidak menemukannya juga. Zella hampir putus asa lalu mencoba mencari satu persatu dengan lemah. Zella menemukan namanya, Bos? Zella menyimpan nama Remi dengan nama Bos? Seharusnya ia bisa menduganya, bukankah pernikahan mereka dirahasiakan dari kantor? Jadi seharusnya dia tidak usah marah karena Remi meninggalkannya untuk urusan kantor. Dirinya bukan sekretaris Remi sehingga tidak bisa terus terlihat bersama, bahkan Remi juga gemar meninggalkan sekretarisnya di kantor. Zella mendekatkan ponselnya ke telinga dan menunggu Jeno mengangkat telponnya.


"Kamu sudah nggak marah lagi?" Kata-kata pertama yang diucapkan Remi saat mengangkat telpon ternyata bukan 'Hallo'. Laki-laki itu menduga kalau Zella marah kepadanya dan itu memang benar-benar terjadi.


"Kalo kamu tau aku marah kenapa nggak bujuk aku? Kamu nggak ngerti perasaanku?"


"Dulu aku sering ngelakuin itu dan pada akhirnya kamu ngelemparin semua barang ke aku. Aku nggak mau hal kayak gitu terjadi lagi!"


"Sekarang kamu dimana?"


"Aku di halaman belakang, di ayunan."


Zella mendekat ke jendela dan melihat Remi yang berada di atas ayunan di bawah pohon yang sangat besar. Itu pohon Elder yang sengaja dipelihara nenek untuk membuat halaman belakang lebih sejuk. Pohon yang sudah sangat tua. Tiba-tiba hujan deras turun dan Remi tampak berlarian masuk kembali kerumah, tapi ia belum menutup ponselnya.


"Kamu basah?" Tanya Zella lagi.


"Ya, hujannya turun tiba-tiba gitu ya aku sudah basah. Apa aku sudah boleh masuk?"


"Kenapa masih tanya? Kan kamar ini juga punyamu. Masuklah!"


"Kamu sudah nggak marah lagi?"


"Masuk dulu baru kita bicara!"


Entah mengapa Zella menanti dengan senang hati. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas sofa menanti Remi datang sambil menyiapkan pakaian kering dan handuk. Setelah semuanya siap, Zella duduk di atas tempat tidur dan memandangi pintu. Remi datang, ia mengetuk pintu dan baru masuk setelah Zella mengizinkannya. Benar sekali kalau Remi basah, ia masuk ke kamar dengan air yang menyertai jejaknya. Zella mendekat begitu Remi hendak berjalan ke kamar mandi. Ia menghentikannya dan Zella tidak mengerti ada apa dengan dirinya.


"Kenapa?" Tanya Remi dengan suara parau yang tiba-tiba. Jeno segera berdeham untuk memulihkan suaranya.


"Aku sudah nyiapin pakaian dan handuk buatmu disini, terus buat apa lagi masuk ke kamar mandi?"


Zella membuka kancing kemeja Remi satu persatu dan membuang kegugupannya jauh-jauh. Ia memilih menikah dengan Remi pasti karena ada alasan yang kuat mendasarinya. Jadi walau bagaimanapun Zella harus menjaganya dengan baik. Remi hanya tertegun tidak menyangka dengan perbuatan Zella kali ini. Zella membantunya membuka pakaiannya yang basah lalu mengusap tubuhnya dengan handuk sehingga tubuhnya kering. Remi bisa melihat kalau wajah Zella memerah dan pria itu masih berusaha menahannya.


"Kamu baik-baik aja? Aku bisa ngelakuin sendiri."


"Kamu nggak takut bukain pakaianku? Gimana kalo aku nyerang kamu tiba-tiba karena aku hampir kehabisan kesabaran dengan yang ini. Aku tau kamu nggak siap Zella, jadi berhenti memaksakan diri kayak gini. Aku nggak mau nyakitin kamu."


Zella berhenti bergerak lalu menengadah memandang wajah Remi. "Ya. Aku memang belum siap. Aku cuma nggak mau ngebiarin kamu kecewa terus menerus karena pernikahan ini harus dipertahankan. Begitu kan? Kenapa kita bisa sama-sama kayak sekarang ini aku sama sekali nggak tau alasannya. Yang pasti kalo sampai ada pernikahan berarti aku bermaksud untuk hidup selamanya sama kamu."


"Pernikahan ini ada karena kamu, dan karena aku fikir cuma seorang Anzella Putri yang bisa ngelakuin dua hal ke aku, membunuhku secara perlahan-lahan karena aku nggak bisa milikin kamu atau kamu hidup sama aku dan ngembaliin seluruh kebahagiaanku. Tapi aku nggak bakal nyiksa kamu dengan paksaan kalo…"


"Terus apa kamu bakalan nahan hasrat yang selalu kamu ucapkan itu seumur hidup?"


"Aku bisa nyari cewek di bar buat yang satu itu. Bagimu hubungan fisik adalah perasaan, kan? Perasaanmu nggak bisa dipaksakan karena aku tau kamu masih berharap sama Mike."


"Soal Mike aku minta maaf. Aku nggak akan mikirin dia lagi. Tapi soal sesuatu yang lebih, kamu boleh melakukannya kapanpun kamu mau…" Kata-kata Zella tidak keluar lagi karena semuanya sudah ditelan oleh cumbuan Remi.


Zella yang semula kebingungan berusaha menikmatinya meskipun sulit. Dia dan Remi akan melakukannya sekarang juga dan kali ini Zella harus menahan diri untuk tidak menolak. Remi benar-benar meraba seluruh tubuhnya, perlahan dan pasti membuka seluruh pakaiannya dan membuat Zella meleleh sehingga ia benar-benar berakhir dalam kepasrahan di atas tempat tidur.


Zella menunggu Remi melakukan sesuatu yang lebih, ia merasakan saat Remi menghujani tubuhnya dengan ciuman. Dimulai dari bibir, dagu, leher, bahu, dada, perut dan… Akhirnya Zella mengerang, seluruh otot tubuhnya mulai mengejang untuk beberapa waktu hingga semuanya berulang dari awal lagi. Remi masih belum menyatukan dirinya dan Zella. Remi hanya ingin bermain-main dengan tubuhnya, kembali merangkak ke atas tubuhnya dan kembali memberi Zella ciuman erotis. Zella menolak, ia memalingkan wajahnya.


"Kamu cuma mau kayak gini? Ini maksudnya apa?" Desis Zella pelan.


Zella berusaha untuk menolehkan wajahnya dan kembali menatap Remi yang terus memandanginya. Untuk beberapa lama Remi mematung lalu menjauh dari tubuh istrinya saat ia tersadar. Remi berbaring di sebelah Zella dan menyimak helaan nafas Zella yang terburu-buru.


"Aku cuma mau bermesraan aja."


"Kamu bikin aku bingung. Jadi selama ini kamu cuma mau main-main kayak gini sama aku? Ini hubungan yang kamu bilang?"


"Ini bukan hubungan yang kumaksud! Aku sudah bilang, kan? Aku cuma mau bermesraanaja."


"Apa ada wanita lain?"


Remi tersentak. Zella bertanya apa? Wanita lain? Dia sedang cemburu? Remi menoleh kepada Zella yang sedang memandangi langit-langit kamar.


"Aku selalu punya hasrat sama kamu, tapi nggak cukup buat yang satu itu. Kalo kamu mau marah silahkan aja, gimana mungkin aku bisa ngelakuin itu dengan orang yang masih mikirin orang lain. Maaf tentang kejujuranku yang satu itu." Zella menggigit bibirnya.


Remi secara tidak langsung mengatakan kalau ia sedang menunggu Zella menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya. Bukan hanya tubuh, tapi juga hati.


"Seharusnya aku yang meminta maaf soal itu. Tapi percaya deh kalo aku lagi


mengusahakan yang terbaik."


"Terus?" Remi ingin mendengarkan penjelasan Zella lebih lanjut.


"Terus apa? Aku nggak bakal nyudahin semuanya sampai disini saja. Kalo memang hasratmu sebatas main-main kayak gini, kamu boleh ngelakuinnya setiap kali gairahmu hadir. Meskipun kamu sendiri tau kalo satu-satunya orang yang dapat kepuasan maksimal dalam permainanmu ini cuma aku. Kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu!"


Zella mendengus, ia menarik selimut dan membungkus tubuhnya lalu berbalik membelakangi Remi. Remi menyunggingkan sebuah senyuman. Ya, kita lihat apakah aku akan tahan dengan ini, atau aku akan menyerangmu di saat-saat kau tidak menginginkannya. Bisik Remi dalam hati.


— Bersambung.


Note : buat yang bingung sama alurnya, cerita ini ada dicampur dengan bagian masa lalu, kalau kalian cermati ada part dimana Zella mengalami kecelakaan dan semuanya berubah drastis habis itu. Nanti bakalan author rangkumin chapter nya kok supaya readers semua nggak bingung sama alurnya. Cerita ini diawal-awal memang mengisahkan Zella dan Remi. Dan alurnya tetap pada jalannya, cuma yang membuat bingung karena alurnya disambung dengan masa lalu :)