
"Kita harus mencari nya kemana, San? Kita harus mencari nya kemana? Bagaimana kalau ada apa - apa dengan nya, ini sudah hampir pagi, tapi kita belum juga menemukan dia" dengan raut wajah yang terlihat sangat frustasi, dan menyimpan ke sedihan yang teramat sangat
Sandra menghembuskan napas dalam dan dia tampak merasa iba, saat melihat keadaan suami dari teman nya itu, yang telihat begitu frustasi.
"Kak, sebaik nya kita kembali ke tenda dulu untuk beristirahat. Besok baru kita lanjut kan pencaharian nya." seru Ravi menatap Adrian.
"Tapi...."Jawab Adrian, yang enggan berhenti dari pencaharian nya."
"Ayo kak! Karena bagaimana pun, kakak juga butuh istirahat" kata Sandra.
Menghembuskan napas, dan akhir nya dengan berat hati, Adrian menyetui keinginan dari teman - teman Kayla. Karena ia juga tak mungkin egois hanya memikirkan kepentingan nya saja, sementara siswa siswa yang lain pasti sudah sangat lelah.
"Baiklah ayo kita ke tenda."Ucap Adrian.
~
Adrian melangkah kan kaki nya menuju tenda khusus yang telah di siaokan oleh panitia untuk Adrian. Kegundahan terlihat jelas dari raut wajah lelaki tampan itu.
Apakah ini yang di nama kan terlalu cinta? Entalah Adrian juga tidak tau, yang jelas ia tak sanggup berada jauh dari istri nya itu.
Ia masuk ke dalam tenda dan membaringkan tubuh lelah nya di sana, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka galery poto.
Adrian tersenyum melihat poto - poto dia dengan Kayla dan juga beberapa poto Kayla yang diambil nya secara diam - diam.
"Kamu dimana Kayla? Dimana kamu? Kemana aku harus mencari mu??!"katanya, ia terdiam sejenak dan menarik napas dalam - dalam kemudian di hembuskan nya. ia mencoba meluapkan rasa kesal dan sedih nya sejenak.
Adrian sangat kesal karena Kayla pergi tanpa memberitahu pada nya terlebih dahulu. Padahal ia jauh jauh datang ke sini hanya untuk selalu bersama nya.
Dan Adrian sangat sedih, karena Kayla hilang di tengah - tengah hutan, ia takut Kayla kenapa - kenapa, apa lagi dia sangat tau kalau Kayla itu paling takut dengan suasana gelap gulita.
"Awas aja jika kau kabur dan meninggalkan aku disini sendirian habya karena rasa cemburu mu tadi. Lihat aja aku tak akan segan - segan akan menghukummu!!"kata nya meluapkan semua kesedihan nya dan rasa kesalnya yang bercampur menjadi satu dalam diri nya.
Karena larut dalam kesedihan Adrian pun tertidur sambil memeluk ponsel yang menampilkan poto Kayla.
Di tempat lain Ravi sedang duduk sendirian di kursi yang ada di depan tenda nya. Ia masih sangat mencemaskan Kayla, tapi dia juga penasaran dengan hubungan Kayla dan Adrian.
"Apa benar dia sudah menikah?"ucap nya.
"Tapi mana mungkin, kan anak sekolah nggak boleh menikah sebelum lulus?." ucap nya lagi.
"Tapi kalau melihat ekspresi kak Adrian tadi, dia benar - benar telihat seperti suami yang kehilang istri nya."
"Ah semoga aja nggak, tapi kalau beneran gimana? Huft patah hati dong gue" kata Ravi frustasi.
"Sekarang bukan itu yang penting, keberadaan Kayla jauh lebih penting dari pada perasaan gue ini" ucap nya lagi menepis semua pikiran nya mengenai hubungan Kayla dengan Adrian.
Larut malam kesedihan yang mendalam, hingga suara langkah kaki seseorang membuyarkan lamunanya dan teralihkan ke sumber suara.
"Siapa?.."tanya Ravi, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
Menghembuskan napas dalam, dan kembali ke posisi duduk awal nya, Sinta pun berjalan mendekati Ravi.
"Ada apa?"tanya Ravi saat Sinta sudah duduk di kursi yang ada sebelah nya.
Sinta tidak langsung menjawab, apa yang di tanya Ravi. Tatapan mata nya menatap dengan intens Ravi, terutama pada bagian mata yang terlihat sedikit sembab.
"Mungkin kah dia udah benar - benar sudah jatuh cinta sama si miskin itu"batin nya yang begitu penasaran.
"Ada perlu apa, hingga elu datang kemari Sin?" tanya Ravi dengan nada yang terdengar kesal, hingga mengejutkan wanita itu dari lamunan nya.
"Gue datang hanya mau mengantarkan makanan ini untuk elu, dari tadi elu belum makan malam bukan dan ini gue juga buatin elu teh hijau, biar bisa menenabgkan sedikit pikiran elu"jawab Sinta sambil menyodorkan makanan malam dan juga sebotol teh hijau.
"Sorry tapi gue lagi nggak selerah" kata Ravi dengan dingin dan mengabaikan keberadaan Sinta.
"Sekarang mending elu kembali ke tenda!"ujar nya, Adrian berdiri dari duduk nya dan hendak masuk kedalm tenda nya. Namun Sinta dengan cepat menahan pergelangan tangan nya.
"Gue mohon Vi, jangan seperti ini, dan biarkan gue menemani elu malam ini. Gue cuma mau ngebuat elu nyaman dan kembali tenang itu aja."kata Sinta dengan tatapan penuh harap, menatap laki - laki tampan itu.
Ravi menghembuskan napas nya dalam, ia berusahan menahan rasa kesalnya pada Sinta.
Tidak tau kenapa ia benar - benar tidak menyukai wanita itu, padahal Sinta selalu berbuat baik dan perhatian kepada nya.
"Tapi gue nggak butuh bantuan elu buat nenangin fikiran gue. Elo tau dengan ada nya elu di dekat gue, fikiran gue tu bukan nya tambah tenang ,malah tambah runyam tau nggak"Kata Ravi sinis.
"Kenapa sih Vi? Elu selalu aha bersikap dingin ke gue, sementara elu selalu bersikap baik sama si miskin itu, yang udah bikin kita kerepotan malam ini. Elu tau nggak bisa saja dia pergi bersama dengan laki - laki lain, kan. Elu tau sendiri kan dia butuh lelaki kaya buat menunjang kebutuhan nya itu."ucap Sinta.
Plak...
"Tutup mulut kotor elu itu, mending elu pergi dari sini sebelum ke sabaran gue benar - benar habis"ucap Ravi dengan emosi nya yang sudah memuncak ke ubun - ubun saat mendengar perkataan Sinta mengenai Kayla.
"Pergi lah, gue mau tidur!!" ucap Ravi hendak masuk kedalam tenda namun lagi - lagi Sinta menahan nya
"Baiklah gue bakal pergi, tapi setidaknya ambil lah ini" ucap nya menyodor kan kotak bekal dan juga sebotol teh tersebut.
Ravi menatap Sinta yang tengah menatap nya dengan tatapan penuh harap, hingga membuat Ravi pun luluh dan memutuskan untuk menerima makanan dan minuman itu.
"Baik lah gue teriman, terima kasih dan sorry atas perlakuan gue tadi. Sekarang kembali lah ke tenda, karena untuk saat ini gue benar - benar hanya ingin sendiri" kata nya ,kemudian ia masuk kedalam tenda tanpa memperdulikan keberadaan Sinta yang berada di depan tenda nya.
Raut wajh nya terlihat begitu memerah, dan terselip rasa kesal yang teramat sangat pada Kayla.
"Walau pun dia tidak berada di sini, tapi tetap saja gue sangat sulit untuk menaklukkan hati Ravi." kata nya kesal
"Aw.."Sinta meringis kesakitan saat ia menyentuh pipi nya yang masih terasa panas bekas tamparan Ravi barusan.
"Aish... Karena si miskin itu, gue juga dapat tamparan dari Ravi mana sakit banget lagi." gumam nya dan mulai berjalan meninggalkan tenda Ravi.
~•••~