My Secret Wife

My Secret Wife
Kedua



"Kamu sudah bangun? Kalo gitu aku bisa pulang dengan tenang. Kamu ingat jalan pulang ke rumahmu, kan?" Zella mengangguk bingung.


"Kamu siapa?"


"Aku? Namaku Ben. Aku pergi dulu ya karena tugasku sudah selesai. Sampai jumpa." Ben tersenyum lalu pergi meninggalkan Zella begitu saja.


Zella berusaha bangkit dan duduk dengan tenang. Ia berusaha mengingat semuanya, dan beberapa ingatan terbayang. Zella baru saja mengalami sebuah kecelakaan, ia memandangi tubuhnya dan untungnya tidak terjadi apa-apa padanya. Zella hanya merasakan nyeri di beberapa bagian dan ia ragu kalau itu terjadi karena kecelakaan yang dialaminya barusan. Zella memandangi sekelilingnya. Ia kehilangan kertas-kertas penting untuk Pak Abimana. Sebisa mungkin Zella bangkit dan mencari-cari, tapi tidak satupun jejak mengenai berkas itu bisa ditemukan. Jalanan juga sudah mulai sepi dan sepertinya tidak ada seseorangpun yang mengenalnya, ia korban kecelakaan beberapa waktu lalu, secepat itukah mereka melupakannya? Waktu? Jam berapa sekarang? Zella berbisik. Ia mengangkat lengannya dan memperhatikan jam tangannya lekat-lekat. Sudah jam lima sore dan ini sudah lewat jam pulang kerja. Tubuhnya yang masih sakit mendorong Zella untuk memanggil taksi dan segera pulang. Terserah dengan apapun yang terjadi nanti, yang pasti dirinya sangat ingin istirahat.


Butuh waktu yang panjang untuknya sampai ke rumah karena rumah neneknya yang memang terletak di pinggiran kota Jakarta. Setelah membayar taksi, Zella langsung memasuki rumah dan menemukan nenek-nya sedang sibuk menyiapkan makan malam. Zella mendekat dan memeluk wanita tua itu erat-erat.


"Ada apa?" Nenek berhenti bergerak dan membelai kepala Zella dengan lembut. Zella mendesah, masih dalam pelukannya.


"Zella baru aja naik gaji. Tapi Zella pikir sebentar lagi Zella bakalan dipecat." Nenek membelai punggungnya.


"Kalau begitu gunakan waktu itu untuk beristirahat di rumah. Kamu kelihatan lagi ga sehat, jadi perlu banyak istirahat."


"Nenek tau darimana kalo Zella lagi nggak sehat hari ini?" Sekarang wanita tua itu mengubah pandangan penuh kasihnya menjadi pandangan yang penuh kebingungan.


"Kenapa masih tanya? Kamu cucuku kan?"


"Iya, benar. Nenek bisa merasakan apa yang Zella rasakan. Nenek selalu tau apapun yang terjadi pada Zella. Zella sedang dalam keadaan buruk dan sekarang sepertinya harus istirahat. Nenek, Zella tidur di kamar nenek ya?" Nenek mengangguk.


"Tapi kalo udah jam tidur nanti, kamu harus pindah kembali ke kamarmu. Nenek akan merasa aneh jika ada Zella di kamar nenek. Zella sudah sangat lama tidak tidur dengan nenek lagi, nenek sudah terbiasa tidur sendiri dan tidak nyaman jika ada orang lain di kamar nenek."


Zella mendesah kecewa, ia memang sudah lama tidak tidur bersama nenek-nya. Sejak merasa sibuk menyiapkan pernikahan, Zella bahkan nyaris tidak pulang ke rumah beberapa kali. Ya, meskipun begitu ia ingin berbaring di kamar neneknya walaupun sebentar, hanya demi bermanja-manja, hal yang sudah sangat lama tidak dilakukannya.


Lagi-lagi Zella terbangun dengan perasaan aneh. Begitu ia membuka matanya, tiba-tiba saja ia melihat banyak perubahan di kamarnya. Ranjang yang biasa ditidurinya sudah berbeda dengan yang biasa, dan ia memakai kelambu? Sejak kapan Zella suka dengan kamar bernuansa klasik begini? Kamarnya yang dulu didominasi dengan pernak-pernik minions, karakter kartun kesukaannya. Namun sekarang semua itu seolah-olah hilang tak berbekas meskipun masih ada beberapa bagian yang masih berada ditempatnya. Satu lagi, hawa yang dirasakannya sudah sangat tidak sama dengan yang biasa dirasakan sebelumnya. Kamarnya terasa lebih hangat padahal Zella suka berada dalam kamar yang sejuk.


"Mungkin AC-nya rusak." Gumam Zella pelan. Ia menggeliat dengan penuh semangat dan harus terkejut saat menyadari kulitnya sedang bersentuhan dengan kulit orang lain di dalam selimut. Zella memandangi pria yang berada di sebelahnya, sedang tertidur pulas sambil memeluknya. Zella mengerjapkan matanya untuk meyakinkan jika semua ini mungkin hanya mimpi. Ia menyentuh perutnya, lalu dada dan kembali turun hingga ke paha.


Keterkejutannya semakin bertambah karena ia sedang tidak memakai apa-apa dalam pelukan seorang pria yang tidak dikenalnya. Zella seharusnya berteriak, tapi ia masih termenung memandangi pria itu, cukup good looking dengan rambutnya yang berwarna hitam kehijauan dan terlihat sangat dewasa meskipun sedang tidur, tapi Zella tidak mengenalnya.


Pria itu di temuinya dimana? Di kantor? Ia tidak punya teman kantor setampan ini. Lalu di diskotik? Apakah semalam Zella mampir ke diskotik? Zella mengerjapkan matanya sekali lagi dan ia ingat, ia bahkan pulang sebelum makan malam dan langsung tidur di kamar nenek-nya. Lalu siapa pria ini? Bagaimana mungkin bisa ada di atas ranjangnya dan tanpa busana seperti dirinya? Zella memandang berkeliling untuk meyakinkan apakah ini benar-benar kamarnya? Meskipun banyak yang berubah, Zella yakin kalau ruangan ini adalah kamarnya. Kamar yang sudah ditempatinya dua tahun belakangan ini semenjak ia memutuskan untuk menemani neneknya dan tinggal di Jakarta. Rak buku yang berada di dekat pintu juga miliknya, Zella kenal dengan semua koleksinya dan buku-buku yang memenuhinya adalah susunannya sendiri.


Sebuah kecupan manis mendarat di bahunya disertai belaian hangat di lengannya. Zella menoleh kepada pria itu, dia baru bangun dan tersenyum semanis mungkin kepadanya. Matanya belum terbuka dengan sempurna karena baru bangun tidur, tapi Zella yakin kalau pria itu tidak salah orang, dia menyebut nama Zella dengan manis. pria itu tidak salah orang.


"Anzella sayang, kamu udah bangun duluan ya?" Zella mengangguk sambil terus memandangi pria itu dalam jarak yang sangat dekat. Keheranan sudah menyesaki benaknya dalam dosis yang sangat tinggi.


"Gimana mungkin aku bisa kayak gini? Semalam aku tidur di kamar nenek."


"Aku yang membawamu ke kamar kita. Mana mungkin aku biarin istriku tidur di kamar lain? Soal pakaian seharusnya kamu nggak perlu kaget lagi, Zella. Bukannya kita sering ngelakuinnya? Kamu tau kalo aku nggak suka AC dan kita menyingkirkannya. Semenjak kamar ini nggak punya pendingin lagi, kamu sering tidur tanpa pakaian seperti itu."


"Jadi semalam aku membukanya sendiri?"


"Aku yang membuka. Nggak salah, kan? Aku suamimu."


Semalaman ia sudah mempersiapkan batinnya jika harus dimarahi oleh Pak Abimana, bosnya yang baru. Tapi sepertinya kejadian hari ini lebih parah bila dibandingkan dengan amarah Pak Abimana di hari pertama bekerja. Dia sudah menikah? Lalu kenapa bukan dengan Mike? Lalu siapa laki-laki itu dan kenapa pria itu yang menjadi suaminya?


"Ah, aku udah terlambat. Aku harus ke kantor." ucap pria itu setelah melihat jam di nakas sebelah ranjang.


Laki-laki itu bangkit dan duduk sambil memegangi kepalanya yang pusing, ia menoleh kepada Zella dan memandangi setengah dari tubuhnya yang terbuka secara tidak sengaja dengan diiringi sebuah senyum penuh kekaguman.


"Tapi kalo ngeliat kamu kayak gini, hm kayaknya hari ini aku nggak usah ke kantor." pria itu memeluk Zella lagi dan meraba tubuhnya dalam ritme yang lembut. Zella segera menolak dan mendorong tubuh pria yang mengaku sebagai suaminya itu menjauh. Kedua lengannya segera menyilang ke depan dada dangan kuat.


"Kamu mau ngapain?" Kening pria itu berkerut.


"Kenapa kamu masih tanya? Kenapa? Bukannya ini normal buat pasangan suami istri? Kamu istriku kan, Anzella Putri? Ah, tidak Anzella Putri Abimana?"


"Kamu siapa? Gimana bisa aku nikah sama kamu? Aku punya pacar yang aku cintai dan kami bakalan menikah. Kamu bohong dengan pernikahan ini, kan? Ini cuma bercanda, atau kamu salah orang? Tapi kamu nyebut namaku tadi…"


"Kamu nggak ingat aku? Aku Remi." Laki-laki itu mendengus. "Sudahlah kalo kamu memang lagi nggak bersemangat, nggak perlu ngeluarin kata-kata aneh kayak gitu. Aku mau berangkat ke kantor aja." Zella menelan ludahnya.


Remi meninggalkan ranjang dan berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan apa-apa. Bukan pertama kalinya Zella melihat tubuh pria, tapi ini pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti ini di dalam kamarnya sendiri. Pria itu? Tadi dia mau mau ngapain? Bercinta sama aku? Tidak… Batin Zella. Lalu kata 'tidak' keluar bukan hanya sebagai gema dihatinya. Zella benar-benar berkata tidak dalam intonasi yang sangat lantang. Dia tidak mungkin sudah menikah dengan laki-laki lain selain Mike. Tidak mungkin menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Tidak mungkin…


"Nggaaak!"


Dan suasana menjadi riuh. Suara pintu diketuk dengan nada tidak sabaran membuat Zella ingin segera menghambur ke pintu, tapi sebelum itu terjadi pria bernama Remi yang mengaku sebagai suaminya itu segera mengambil celana piyamanya yang berada di lantai lalu memakainya dan membuka pintu. Nenek masuk dan memeluk Zella yang masih kebingungan. Ia membelai kepala Zella sambil bertanya ada apa.


"Nenek, siapa pria yang aneh itu?" Desis Zella dalam pelukan neneknya. Nenek memandangi Remi sekilas lalu memeluk Zella lebih erat.


"Dia Remi suamimu, sayang. Kamu sendiri yang bersikeras mau nikah sama dia sebulan yang lalu. Sekarang kenapa kamu teriak-teriak dan mempertanyakan siapa dia?…"


"Nggak mungkin," Zella memotong. "Aku mau nikah dengan Mike, bukan dengan dia!"


"Zella, apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi kayak gini? Apa kamu sudah lupa kalo Mike sudah pergi? Kamu sendiri yang mutusin hubunganmu dengan Mike dan memilih menikah sama Remi." Zella memandangi nenek-nya dengan tatapan yang semakin bingung. Kemarin ia dan Mike janjian bertemu di café miliknya, baru kemarin dan Zella masih mengingatnya dengan baik. Lalu bagaimana bisa dia menikah dengan pria bernama Remi itu bulan lalu? Kenapa harus meninggalkan Mike dan memilih orang yang tidak dikenalnya?


"Kamu kenapa? Apa kepalamu kebentur?" Remi bertanya sambil mendekat. Ia menyeka rambut Zella yang menutupi wajah. Sekilas Zella melihat kilauan di jari manisnya dan Zella spontan memandang jarinya juga. Ada cincin yang memiliki kilau yang sama disana. Cincin kawin? Pria itu benar suaminya? Zella memegangi kepalanya.


"Aku kecelakaan kemarin dan kayaknya aku melupakan banyak hal. Maaf." desisnya. Zella tidak berbohong. Ia memang kecelakaan, tapi Zella masih bisa mengingat semua kejadian sebelum kecelakaan. Ia belum menikah pada saat itu, lalu bagaimana bisa begitu terbangun ia sudah memiliki seorang suami dengan cincin kawin melingkar di jari manisnya?


"Tanggal berapa sekarang?" Remi masih memandangnya dengan tatapan heran, tapi tidak lama karena ia segera mengambil jam tangannya yang masih berada dalam jangkauannya.


"Dua puluh tiga Juni."


Dua puluh tiga…Juni… Zella terus mengulangi kata-kata itu dibenaknya. Kemarin adalah hari terakhir Rio di kantor dan kemarin adalah tanggal 22 Juni, Zella tidak mungkin salah karena sebelum masuk ke ruangan Rio, Zella sempat melihat ke kalender. Kemarin ia mengalami kecelakaan, pulang ke rumah dan terbangun pagi ini dengan status baru. Dia dan Remi sudah menikah sebulan yang lalu. Mustahil, kemarin Zella masih lajang. Tapi neneknya juga mengatakan hal yang sama. Apa yang terjadi pada dirinya? Atau lebih tepatnya, apa yang terjadi pada hidupnya? Kenapa bisa berubah secara tiba-tiba seperti ini? Atau Zella sedang melompat ke sisi kehidupannya yang lain? Apa semua ini terjadi karena kecelakaan yang kemarin itu?


—Bersambung