
"Aku ada rapat pagi ini jadi aku buru-buru harus ke kantor, aku sarapan dijalan aja nanti. Oh iya, nanti sore juga ada yang mau aku omongin sama kamu." ucap Remi pagi itu.
Pria itu sibuk dengan kegiatannya yang kesana kemari memakai kemeja, jas, memasang dasi dan mengumpulkan berkas yang akan ia bawa untuk rapatnya pagi ini. Sementara itu Zella hanya memperhatikannya dari atas ranjang, dia baru saja bangun.
"Nanti kamu jadi pergi nemenin nenek, kan?" tanyanya lagi.
Zella mengangguk pelan. "Iya, nanti jam 10. Masih lama."
"Yaudah kalo gitu, aku pergi sekarang ya. Tapi bentar, liat berkasku yang di map kuning ga?"
Remi berlari-lari kesana kemari, membuka laci mejanya, membuka lemarinya namun tidak ia temukan berkas yang ia cari.
"Pelan-pelan carinya, itu ada dideket rak sepatu kamu."
"Oh iya. Yaudah aku pergi sekarang ya,"
Remi berlari lagi keluar dari kamarnya. Salah siapa yang susah dibangunkan? Salah siapa yang sengaja tidur larut malam meski tau esoknya memiliki pekerjaan penting? Ya, salah Remi. Karena Remi seorang pria, dan pria selalu salah.
**
Zella dan neneknya sudah berada di mall. Setelah selesai menemani sang nenek ke rumah temannya, Zella mengajak neneknya pergi ke mall untuk membeli sesuatu, berhubung Remi juga memberikannya silver card untuk ia pakai berbelanja kebutuhannya. Dan disinilah mereka sekarang, berada di outlet toko pakaian. Zella yang mengajak sang nenek, karena ingin melihat-lihat dress yang cantik.
"Zella, kamu udah beli banyak. Sekarang mending kita pulang, pinggang nenek sakit."
"Satu lagi ya, Nek. Habis itu kita beneran pulang."
"Bener cuma satu?"
"Iya, Nenek. Bener cuma satu lagi."
Baru saja Zella ingin melangkahkan kakinya masuk kedalam toko. Pandangannya serasa direbut paksa oleh seseorang yang sangat Zella kenal. Itu Mike. Ia berjalan dengan gaya seperti biasanya, selalu tampan. Tapi bukan itu yang membuat hati Zella sakit, yang menjadi fokus Zella adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang menggandeng mesra lengan Mike. Pria itu juga seakan tidak risih digandeng oleh wanita itu. Mike bisa tertawa dan tersenyum bahagia dengannya. Mengapa Zella tidak tau? Siapa? Apa Zella mengenalnya? Siapa wanita itu? Kenapa Mike bersamanya?
"Nenek..."
"Ayo kita pulang,"
Tanpa basa-basi, nenek langsung menarik tangan Zella untuk pergi dari sana. Tanpa menjelaskan apa-apa, nenek meminta Zella untuk tetap fokus menyetir hingga sampai rumah. Sesampainya dirumah, Zella terkejut melihat Remi yang sudah duduk di ranjang menatapnya dengan khawatir.
"Zella?"
"Kenapa kamu udah pulang? Bukannya kamu kerja sampe sore?"
Remi tidak menjawab pertanyaan Zella, justru pria itu berjalan kearahnya dan segera memeluknya dengan erat. Maka dengan sekuat tenaga pula Zella berusaha melepaskan pelukan Remi hingga pria itu terlepas dari pelukannya.
"Zella.."
Air mata Zella mengalir tanpa ia perintahkan. Ia berlari meninggalkan Remi yang masih menatapnya dengan khawatir. Zella pergi ke taman belakang rumah dan duduk di bawah pohon.
"Zella.. maaf." ucap Remi.
"Maaf untuk apa?"
"Kamu sudah ngeliat dia kan?"
Zella tidak menjawab pertanyaan Remi. Tapi air matanya kembali mengalir, Remi sudah mengetahui alasannya karena nenek yang mengiriminya pesan, maka Remi secepat itu pula kembali ke rumah.
"Aku bakal nyeritain semuanya.. tapi kamu harus janji."
Zella menatap Remi. "Janji apa?"
"Janji buat nggak ninggalin aku."
"..."
"Zella.. janji. Aku bakal nyeritain semuanya ke kamu,"
"Okey. Aku ga akan tinggalin kamu."
"Apapun alasannya, apapun yang kuceritakan, kamu janji ga akan ninggalin aku."
"Aku janji."
Remi menarik nafas panjang sebelum ia memulai ceritanya. Seharusnya Remi menceritakannya nanti sore di sebuah tempat yang nyaman, bukan ditempat seperti ini dan keadaan seperti ini.
"Zella.. sebenarnya kamu dulu..."
*Zella hari itu sedang libur bekerja, dan ia memutuskan untuk pergi piknik bersama sang kekasih, Mike. Zella sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari makanan, minuman bahkan pakaian yang akan ia pakai. Tapi sialnya, Mike hari itu membatalkan rencana piknik mereka secara sepihak karena ia berada di luar kota dan lupa kalau memiliki janji piknik dengan Zella. Daripada menelan kekecewaan karena tidak jadi pergi piknik, akhirnya Zella memutuskan untuk pergi piknik sendirian tanpa Mike. Tempat yang Zella jadikan tempat piknik adalah taman. Disana ramai, banyak anak-anak, pasangan, dan lainnya. Banyak juga yang melakukan piknik seperti Zella.
"Enaknya kalo pergi piknik sama pacar begitu." ucap Zella iri. Ia memakan roti selainya yang sudah ia siapkan lalu menatap langit yang cerah.
"Permisi?"
Zella menoleh kesampingnya, ada seorang pria yang tersenyum tipis padanya. Zella membalas senyuman pria itu.
"Kenapa?" tanya Zella.
"Itu, aku boleh ikut duduk disini? Aku lupa bawa tikar ternyata disini ga ada yang nyewain tikar. Berhubung kamu sendirian, aku bukan orang jahat kok."
Zella pikir itu tidak buruk, daripada tidak ada teman kan?
"Boleh, duduk aja disini."
"Makasih."
Pria itu meletakkan sekeranjang makanan yang ia bawa lalu ikut duduk disebelah Zella.
"Namaku Remi." ucapnya.
"Aku Zella."
"Salam kenal, Zella. Oiya, kenapa kamu piknik sendirian?"
"Pacarku lupa kalo dia punya janji piknik sama aku. Kalo kamu?"
"Istriku juga lupa kalo punya janji piknik sama aku."
"Oh? Kamu udah nikah ya?"
Pria dengan senyum manis itu mengangguk pelan. "Tapi dia minta aku buat ngerahasiain pernikahan kita."
"Memangnya kenapa?"
"Istriku selingkuh."
Zella menatap pria disebelahnya itu dengan tidak percaya. Ia mengetahui istrinya berselingkuh tapi kenapa tetap bersikap tenang?
"Ga ada yang bisa aku lakuin, aku udah sering minta dia buat berhenti selingkuh, tapi rasanya percuma. Jadi.. aku bakal nyerah aja."
"Maaf, memangnya kamu gapapa nyeritain masalah rumahtangga mu sama aku?"
"Aku ga punya teman, aku liat kamu bukan tipe orang yang suka membeberkan masalah oranglain, makanya aku percaya buat ceritain ke kamu."
"Tapi aku kan orang yang baru kamu temuin 5 menit lalu."
Pria itu tidak menanggapi ucapan Zella. Ia malah mengalihkannya ke topik lain. "Kalo kamu gimana?"
"Aku udah ditahap serius sama pacarku, kami bakal nikah."
"Beruntungnya. Semoga bahagia ya."
"Makasih,"
"Boleh dong tukar id? Aku ga bakal ganggu kok, cuma buat nambah kontak."
"Boleh.."
"Save id aku ya. remiabimana,"
"Oke, zellaputri id ku ya."
"Oke, yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya. Udah siang banget, harus ke kantor. Makasih buat tumpangan duduknya."
Pria itu langsung pergi meninggalkan Zella dengan keranjang makanannya yang ia tinggalkan. Zella baru menyadarinya ketika pria itu sudah masuk kedalam mobil dan pergi dari area taman.
Zella yang penasaran, membuka keranjang makanan milik Remi dan hanya menemukan dua buah apel dan dua botol susu. Pria itu sepertinya tidak diurus oleh istrinya, kasihan sekali. Padahal wajahnya tampan dan menarik perhatian Zella*.
— bersambung .
maaf up nya lama karna ada kesibukan di real life.