My Secret Wife

My Secret Wife
Ketiga



Zella memilih untuk berdiam diri dirumah, tidak pergi kemanapun termasuk ke kantor. Ia masih bingung dan belum mengerti dengan situasi yang sedang dihadapinya. Zella merasa semua ini tidak masuk akal sama sekali, tapi ketika melihat respon neneknya, Zella jadi bertambah bingung. Zella yakin ia tidak hilang ingatan karena kecelakaan kecil kemarin, tetapi ketika dia bangun dari tidurnya semua telah berubah. Zella seperti merasa sedang berada di masa depan.


"Kamu kenapa melamun lagi, Zella?" tanya sang nenek yang menyendokkan makanan untuk Zella, saat Zella sudah tenang tadi, mereka memutuskan untuk sarapan karena masih pagi, Remi tidak ada disini karena pria itu sudah pergi kekantornya untuk hal yang mendesak katanya.


"Nenek, bukannya ini aneh? Nggak, maksud Zella, Zella kenal sama Remi itu dimana? Dan kapan kami nikah?" tanya Zella dengan pertanyaan yang sama lagi. Neneknya hanya mampu menghembuskan nafas pelan.


"Anzella sayang, kenapa kamu tiba-tiba jadi aneh begini? Bukannya kamu sama Remi saling cinta?"


"Zella sama Remi saling cinta? Tapi Zella saling cinta Mike!"


"Mending kamu sarapan dulu, nanti kita bahas lagi ya."


Zella mengangguk pelan. Ia mulai memakan makanannya dan menatap sang nenek yang juga tengah menyantap makanannya dengan tenang. Zella harus makan, karena berpikir membutuhkan banyak tenaga dan Zella masih harus berpikir tentang kejadian ini, memutar otaknya bagaimana pernikahan yang tiba-tiba ini bisa terjadi secara tidak disadari oleh Zella. Zella juga tidak membantah untuk tidak percaya karena bisa saja semua ini memang kejadian nyata, tapi ia tidak juga sepenuhnya percaya bahwa kejadian ini benar-benar takdir hidupnya.


**


Saat ini Zella tengah menonton tayangan di televisi, dan neneknya sedang pergi ke rumah temannya karena ada acara dan Zella tidak mau ikut, jadilah Zella sendiri dirumah dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menonton tayangan apapun yang ada ditelevisi. Tapi saat mendengar pintu diketuk, saat itulah kebingungan Zella di mulai lagi.


"Kenapa lama banget bukain pintunya? Ini aku, Remi. Bukan perampok." ucap pria itu ketika Zella sudah membukakan pintu. Pria itu langsung masuk kedalam rumah, melepas jas kerja dan melonggarkan dasinya.


"Dimana nenek? Kamu sendirian dirumah?" tanyanya lagi.


"Nenek pergi ke rumah temannya." jawab Zella pelan.


"Aku pulang karena mau makan siang, aku memang jarang pulang tapi tadi aku lagi nggak ada kerjaan makanya aku bisa pulang dan makan siang dirumah." ucapnya menjelaskan. Pria itu sudah duduk dimeja makan dan menatap Zella yang hanya diam melihatnya. "Kenapa kamu diam aja? Kamu nggak mau nyiapin makanan buat aku?" tanya Remi memandang Zella bingung.


"Aku? Nyiapin makanan buat kamu?" tanya Zella balik sambil menatap Remi yang juga sedang menatapnya.


Remi mengangguk pelan. "Kamu biasanya sering nyiapin makanan buat aku. Tapi kalo kamu nggak mau, aku nggak bisa maksa, aku bisa sendiri."


Zella tetap diam melihat Remi yang mulai mengambil makanan untuknya. Tidak berniat untuk duduk bersamanya juga tidak berniat pergi dari sana, yang ia lakukan hanya berdiri mematung menatap Remi yang mulai melahap makanannya. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan kepada pria yang mengaku sebagai suaminya itu tetapi entah mengapa suara Zella seperti tertahan ditenggorokannya, ia malah memperhatikan wajah Remi yang sedang makan.


"Kenapa kamu natapin aku kayak gitu? Ada yang aneh sama aku?" tanyanya.


Zella menggeleng pelan. "Ngg.. habis ini kamu balik ke kantor?"


"Iya, masih ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan, tapi ga bakal lama."


Lagi-lagi Zella hanya mengangguk sebagai jawabannya. Merasa kikuk, tidak tau apa yang harus ia bicarakan dengan Remi, maka dari itu ia memilih pergi dari sana dan kembali menonton tayangan televisinya, membuat Remi menatapnya bingung. Pria itu segera menyelesaikan kegiatan makannya, setelah itu memperbaiki penampilannya.


Zella hanya mengangguk, bahwa dirinya refleks menghindar ketika tangan Remi berniat untuk mengusap puncak kepalanya, Remi langsung menarik tangannya dan pergi meninggalkan Zella dirumah sendirian. Anehnya, Zella merasa bersalah karena perlakuannya tadi, terlebih ketika ia menangkap raut kecewa dari wajah Remi. Wajar kan kalau Zella menolak sentuhan dari Remi? Karena ia masih merasa tidak mengenal Remi. Entahlah, Zella tidak mengerti, tidak paham seberapa kalipun dijelaskan karena kejadian ini terlalu tiba-tiba.


"Kenapa lagi dengan wajahmu? Kusut kayak baju yang belum disetrika." tanya sang nenek yang baru saja kembali dari acaranya. "Memikirkan sesuatu lagi?"


"Nggak.. Zella cuma lagi nggak bersemangat." jawab Zella seadanya.


"Nenek tau kamu bingung, nenek juga bingung sama kamu tapi coba kamu bersikap kayak biasa Zella. Nenek nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba bertingkah aneh kayak gini."


Zella memijit pelipisnya pelan, "Zella coba nanti." Zella berdehem lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Tadi dia datang kesini buat makan siang."


"Remi maksud kamu?"


Zella mengangguk pelan, melihat sang nenek yang tersenyum tipis kearahnya. "Yaudah kalo begitu, lebih baik kamu istirahat. Nenek juga mau istirahat. Coba kamu tenangkan pikiran dan badanmu dulu, setelah itu kamu langsung mandi nanti. Nenek yakin, pikiranmu bakalan segar lagi, ayo."


Nenek mengantar Zella kekamarnya, kamar miliknya yang telah banyak berubah, tidak seperti kamar milik Zella yang dulu. Mengabaikan hal itu, Zella mulai berbaring diranjangnya, menatap langit-langit kamarnya dan perlahan memejamkan matanya. Mencoba untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.


Zella masih tidak tau apa yang akan ia hadapi nanti, yang jelas ia akan terbangun dengan keterkejutan lagi.


Zella merasakan pipinya seperti ditepuk-tepuk pelan, padahal rasanya baru saja ia tertidur. Dengan perlahan Zella membuka matanya dan melihat seorang pria tanpa baju atasan tengah tersenyum menatapnya.


“Selamat sore, Zella sayang. Ini sudah sore, waktunya kamu mandi sebelum airnya dingin karena kamu ga suka mandi dengan air dingin.” Ucapnya. Setelah Zella terbangun, pria itu memberi jarak antara Zella dan dirinya. Zella lantas memalingkan pandangannya, menatap kearah lain seakan tidak ingin melihat Remi yang duduk didepannya tanpa baju atasan.


“Kenapa lagi, Zella? Kamu sudah sering ngeliat bagian ini, kenapa masih malu-malu?”


Zella tidak menjawab apa-apa atas pertanyaan yang diajukan oleh Remi, tapi gadis itu mengalihkan pertanyaan Remi dengan pertanyaan lainnya. “Sudah jam berapa?” tanya Zella.


“Sudah jam 5 sore. Kamu sudah tidur 3 jam.” Jawabnya diiringi senyum lembut. “Mandi ya. Aku mau pergi keluar sebentar.”


“Iya..”


"Kamu mau nitip sesuatu kah?"


Zella menggeleng pelan. "Nggak ada."


"Okey."


—Bersambung.