
Anzella Putri, seorang gadis yang dikaruniai wajah cantik namun juga cenderung manis adalah seorang pegawai administrasi disebuah majalah travelling yang sudah berdiri mungkin hampir seumur Ayahnya. Tak kurang dari dua tahun yang lalu, Zella (panggilan akrabnya) melamar ke Paradise Corp. Memiliki seorang teman bernama Salshabilla Pratiwi yang sekarang duduk di meja sebelahnya dan beberapa orang lain yang tidak begitu dekat dengannya di kantor ini. Setahu Zella, di kantor ini hanya Salsha yang menganggapnya ada, berbicara dengannya secara baik-baik dan memandangnya sebagai manusia.
Sedangkan karyawan yang lain sangat acuh dan masih tidak peduli meskipun sudah bekerja di selama dua tahun. Sekarang beginilah hidupnya setiap hari, duduk di depan komputer, mengetik,mengetik, dan terus mengetik, seolah-olah keyboard adalah dirinya. Zella sangat mengantuk karena hari ini dia hampir seharian berada di kantor tanpa melakukan apa-apa, ia bahkan tidak pergi keluar untuk makan siang. Bukan karena terlalu banyak pekerjaan, tapi Zella sedang diet demi tampil sempurna pada pernikahannya yang akan berlangsung bulan depan.
Mike, calon suaminya selalu mengatakan kalau Zella tampak gemuk dan Zella tidak akan suka bila terlihat gemuk dihari pernikahannya. Ponselnya yang berada di sebelah komputer bergetar. Zella membuka matanya lebar-lebar karena matanya sudah redup sejak tadi. Ia benar-benar merasa lapar dan itu sudah membuatnya mengantuk. Tapi melihat siapa pengirim pesan diponselnya semua rasa kantuk Zella lenyap begitu saja dan tidak tersisa sama sekali.
From : Mike
Baby, hari ini pulang jam berapa? Bisa ketemu hari ini? Pulang kerja nanti mampir ke café ku ya? Aku kangen banget sama kamu.
Mike pada akhirnya mengirim pesan juga setelah seharian ini Zella menanti kabar darinya. Semenjak rencana pernikahan mereka diputuskan, Mike benar-benar berkonsentrasi bekerja seolah-olah ia akan meninggalkan cafenya untuk selamanya. Semua hal itu menyebabkan Zella mengurusi persiapan pernikahannya seorang diri dan semakin sulit untuk bertemu dengan Mike. Tapi Zella selalu merasa kalau hal itu bukanlah masalah yang harus diribut-ributkan. Zella sudah terlalu banyak menuntut kepada Mike dan dia tidak akan meminta hal yang lebih lagi. Zella sudah harus bersyukur karena Mike mengabulkan permintaannya untuk mempercepat pernikahan mereka, meskipun hal itu membuatnya repot seorang diri. Tidak, ada Salsha yang siap membantunya meskipun Zella tidak memberitahu dengan siapa ia akan menikah nanti pada Salsha, ia patut bersyukur.
Zella juga tidak pernah memperkenalkan Mike kepada siapa-siapa kecuali neneknya sehingga rencana pernikahan ini juga sama rahasianya seperti keberadaan Mike. Kedua orang tuanya juga belum tahu, hanya neneknya satu-satunya orang yang tahu dan neneknya sangat tidak setuju. Nenek pada awalnya menyukai Mike, tapi begitu tahu kalau Zella dan Mike akan melangkah ke jenjang yang lebih serius, nenek menolak keberadaan Mike terang-terangan. Terlebih sejak Zella mengatakan kalau dirinya akan pindah dan tinggal bersama Mike setelah menikah, kebencian sang nenek kepada Mike semakin menjadi-jadi.
"Zell, kamu dipanggil sama bos ke ruangannya." Salsha berdiri di depan pintu ruang kerja mereka sambil memijat dahinya. Gadis itu mendapat pekerjaan yang sangat luar biasa belakangan ini. Seringkali Salsha mengeluh kalau dirinya hampir muntah menghadapi kertas-kertas dan komputer.
"Loh? Kenapa?"
"Pokoknya cepet ke sana. Kamu tau, kan? Besok dia mau pensiun dan ini adalah hari terakhirnya di kantor."
Zella mengangguk lalu memandang kalender yang berada di sebelah komputernya, 22 Juni. Sang bos, Rio Abraham, pernah mengatakan rencana pensiunnya saat rapat terakhir mereka minggu lalu. Sama sekali tidak diduga bahwa rencana itu berlangsung secepat ini, jarang sekali ada orang yang memulai pensiunnya pada pertengahan bulan Juni, seperti yang bos Rio lakukan. Zella berusaha mengembalikan semangatnya dan berjalan menuju ruangan kerja Rio. Begitu sampai, Zella hanya perlu mengetuk pintu beberapa kali dan ia melihat bayangan Rio yang berjalan mendekati pintu lewat dinding kaca anti pecah yang berwarna keabu-abuan.
Siapapun bisa melihat bayangan dari dalam ruangan tapi tidak bisa melihat semuanya selain warna hitam yang bergerak pada dinding kaca yang menyelubungi ruangan milik Rio. Entah siapa yang punya ide untuk membuat ruangan kerja seperti ini, yang pasti ide ini membuat atasan manapun menjadi kehilangan lebih dari lima puluh persen privasinya.
"Silahkan." Rio benar-benar muncul di balik pintu dan mempersilahkan Zella masuk. Laki-laki yang sangat baik. Seandainya Rio tidak punya istri, mungkin Zella akan memaksa laki-laki itu untuk menikah dengannya.
Zella menahan tawa sambil melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu. Rio menutup pintu dan memandangi Zella sambil bertolak pinggang.
"Jadi nikah bulan depan?" Tanyanya.
"Masih merahasiakan siapa calonnya? Gimana kalo saya nggak bisa datang ke pernikahanmu bulan depan? Saya mau liburan ke Pulau Jeju sama keluarga."
"Masih belum bisa, Pak. Bahkan kedua orang tua saya sama sekali nggak tau." Rio mengangguk lalu melangkah mendekati mejanya. Ia mengambil sebuah amplop dan sebuah kantong kertas lalu memberikan keduanya kepada Zella.
"Ini adalah kiriman. Dalam satu jam lagi, kamu harus sampaikan amplop ini ke Pak Abimana yang sedang meeting di Love Hotel. Dia Bos yang baru, dan sebagai ucapan terima kasihnya amplop itu boleh dibuka."
Kedua alis Zella menyatu. Ia memandangi amplop putih itu sejenak lalu membukanya pelan-pelan. Dirinya hampir saja berteriak melihat apa yang ada di dalam sana. Sebuah pernyataan kenaikan gaji untuk bulan depan. Rio benar-benar mengabulkan permintaannya yang satu ini dalam waktu singkat. Baru dua minggu yang lalu Zella mengeluh karena kekurangan banyak biaya untuk pernikahannya dan ia berharap Rio mau meningkatkan nominal gajinya dari gaji staf junior menjadi staf senior. Dan sekarang Zella mendapatkannya. Ia kembali menoleh kepada Rio dengan pandangan penuh rasa terima kasih.
Rio menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan kalau dirinya tidak menyukai ekspresi Zella yang seperti itu. Dia tidak suka jika ada orang yang berterima kasih dengan wajah memelas.
"Sudah, sekarang pergi. Waktumu sudah berkurang sepuluh menit. Pak Abimana bakalan sampai satu jam lagi dan dia bener-bener membutuhkan semua file yang ada dalam tas kertas itu." Zella dengan cepat berdiri dari duduknya dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya ia mengambil semua barang-barangnya dan melangkah pergi menuju hotel yang Rio sebutkan.
Pak Abimana, dia yang akan menerima barang-barang itu dan Zella harus segera menemuinya dengan batas waktu yang semakin menipis. Setiap kali melihat jam Zella merasa semakin diburu waktu yang semakin sedikit sehingga Zella terpaksa turun dari taksi yang ditumpanginya karena macet. Sebisa mungkin ia memotong jalan kemana-mana sehingga menemukan jalan raya yang tanpa macet. Lampu lalu lintas menyala dan semua orang berusaha menyebrang jalan secepatnya. Beberapa orang menyenggol tas kertas yang dibawanya sehingga benda itu robek dan menumpahkan segala isinya. Sangat banyak kertas yang berserakan sehingga Zella harus mengejarnya ke berbagai arah. Jumlah orang di jalanan semakin menipis sehingga Zella semakin khawatir. Berkali-kali Zella memandangi jam tangannya dan waktunya hanya tersisa lima belas menit lagi. Ia harus cepat karena Love Hotel sudah ada di depan. Tapi selembar kertas melayang dan Zella masih berusaha mengejarnya. Sayangnya gerungan mobil-mobil yang siap berjalan membuatnya terpaksa menepi dan meninggalkan selembar kertas lagi di tengah jalan raya. Tinggal dua belas menit lagi, Zella bergerak secepat mungkin ke tengah jalan saat melihat jalanan sepi. Ia berharap setelah meraih kertas itu, Zella bisa segera menyebrang tanpa harus menunggui lampu lalu lintas lagi. Sekilas ia seperti melihat seseorang berdiri di depannya, tapi saat Zella mengerjapkan matanya, apa yang dilihatnya sama sekali tidak ada. Mungkin ia cuma berkhayal dan lebih baik kembali memunguti file-file penting itu.
Bunyi tapak sepatunya berketuk di jalan aspal dan baru berhenti setelah tangannya berhasil menyentuh kertas yang berterbangan kesana-kemari. Zella juga harus memeluk barang-barang dari dalam tas kertas yang sobek hanya dengan satu tangan karena tangannya yang lain sedang berusaha keras menggapai kertas yang sedang dikejar-kejarnya dengan susah payah.
"Sial! Tolonglah…" Bisiknya.
Zella mulai khawatir saat melihat jalanan mulai ramai kembali, ia sempat bersyukur karena kertas itu terbang ke pinggir. Tapi tiba-tiba jantung Zella seakan berhenti saat mendengar bunyi benturan keras yang datang entah dari mana. Zella berusaha menoleh, tapi ternyata matanya terpejam. Ia sudah tergeletak di jalanan dengan keadaan yang tidak diketahuinya. Beberapa bagian tubuhnya mulai terasa nyeri, semuanya seperti mimpi. Banyak orang yang berkerumunan di sekitarnya dan mengatakan kalau dirinya harus dibawa ke rumah sakit.
Zella masih tidak bisa membuka matanya. Dalam hati ia berteriak. 'Tolong aku. Aku harus ketemu sama Pak Abimana demi masa depanku dan Mike!' Zella membuka matanya perlahan, ia memandangi warna…entahlah.
Zella sendiri tidak yakin jika yang dilihatnya adalah langit. Ia menegakkan kepalanya dan memandang ke sekeliling. Zella sedang berada di sebuah taman dan ia berbaring di sebuah bangku kayu. Di sebelahnya, Zella mendapati seorang pria asing yang belum pernah dikenalnya sebelumnya. Pria itu tersenyum.
—**Bersambung
hehehe**.