
Remi baru saja keluar dari kamar mandi sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia memandangi Zella yang sibuk mendengarkan I-pod dengan penuh konsentrasi sambil bersandar di atas tempat tidur. Remi menaikkan sebelah alisnya karena heran, ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang mendengarkan musik dengan ekspresi wajah seperti sedang menghadapi soal ujian. Remi mendesah mengingat Zella yang pergi mencari Mike sore ini.
Zella tidak akan menemukan pria itu karena dia sudah benar-benar menjauh, lalu mengapa harus dicari-cari lagi? Remi menyesal mengikuti Zella sore tadi, sekarang dirinya sedang dalam keadaan tidak baik karena mengetahui hal itu. Remi melangkah mendekati istrinya di atas ranjang lalu melepaskan headset di salah satu telinga Zella dan mengenakannya untuk dirinya sendiri. Zella memandangnya dengan tatapan heran.
Sebuah musik yang sering terdengar di beberapa tempat mengalun indah, musik klasik. Remi tidak begitu suka dengan musik klasik, karena itu meskipun sering mendengarnya, ia sama sekali tidak tahu siapa komposernya.
"Sejak kapan kamu dengarin musik klasik? Selama ini kamu kan lebih suka baca buku di banding dengarin musik." Tanya Remi. Zella melepaskan headset yang masih menggantung di telinganya. Ia tahu Remi tidak suka, karena itulah Zella menon-aktifkan I-podnya dan menyimpannya di dalam laci meja nakas yang berada di sebelah tempat tidur.
Zella sedang tidak tertarik untuk mengobrol, ia beranjak ke sisi lain tempat tidur dan berbaring membelakangi Remi. Seharian ini dirinya sudah benar-benar kecewa karena tidak bertemu Mike. Mike menghilang entah kemana, meninggalkan Café-nya yang sudah berpindah tangan, rumahnya juga sudah di jual. Zella benar-benar kehilangan Mike untuk selamanya.
"Kamu nggak mau jawab pertanyaanku?" Remi bersuara lagi, ia menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidur dan duduk memandangi Zella yang membelakanginya. Desah nafas Zella terdengar samar.
"Maaf, suasana hatiku hari ini lagi jelek."
"Jelek kenapa? Karena nggak berhasil nemuin pria itu? Aku sudah bilang sama kamu kan? Aku nggak suka kalo kamu dekat sama pria manapun."
"Aku juga sudah bilang kalo suasana hatiku lagi jelek dan nggak mau bertengkar sekarang. Tolonglah biarin aku istirahat, kamu satu-satunya orang yang tau masalahku dan aku harap kamu bisa ngerti…" Remi membalik tubuh Zella dengan paksa sehingga gadis itu sudah menatapnya.
"Aku juga lagi berusaha ngerti, tapi susah untuk yang satu ini. Kamu masih harapin dia? Kamu yang ninggalin dia, Zella. Kamu yang mninggalin Mike dan milih menikah denganku, aku nggak suka kamu ngelupakan siapa dirimu sekarang!"
"Aku minta maaf, bener-bener minta maaf! Aku nggak bermaksud apa-apa. Cuma pengen memastikan dan sama sekali nggak bermaksud buat bikin kamu jadi marah!"
Zella mengalah. Ia sangat tidak suka bertengkar. Apapun alasannya, bertengkar akan menjadi pilihan terakhir atau bahkan tidak akan pernah jadi pilihan dalam hidupnya. Matanya memandang Remi dan menemukan keseriusan disana. Remi kelihatannya benar-benar cemburu. Zella berusaha untuk duduk sehingga dirinya berhadapan dengan Remi sekarang. pria itu adalah suaminya, lalu mengapa dirinya tidak bisa menempatkan diri sebagai istri?
"Aku cuma pengen tau apa yang terjadi sebenarnya. Aku janji nggak akan melakukannya lagi." Amarah Remi mulai mereda mendengar ucapan yang terakhir. Ia menghela nafas dengan lebih ringan dan nyaman. Sebisa mungkin ia memeluk Zella erat-erat dan tidak memberikan celah untuk Zella melepaskan diri.
"Aku nggak suka ada Mike lagi di antara kita. Aku nggak pernah suka karena itu selalu bikin kita bertengkar kayak gini, kamu harus ingat satu hal, Anzella Putri sudah menikah dengan Remi Abimana, karena itu nggak boleh ada orang lain dalam pernikahan ini."
"Kamu mudah emosi,"
"Karena setiap kali kamu ngingat Mike, kamu selalu nyakitin aku."
Zella mendorong dada Remi sehingga tubuh mereka memiliki celah, Remi mengabulkan permintaan verbal Zella untuk melepaskan pelukannya. Jadi selama ini Zella selalu menyakiti Remi? Satu bulan pernikahan dan tersakiti? Zella memejamkan matanya dan masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Kenapa aku ngelakuin itu?"
Remi memandangnya lama lalu angkat bahu. "Karena aku satu-satunya orang yang berharap sama pernikahan ini. Sedangkan kamu nggak, nikah sama aku cuma untuk pelarian. Karena itu meskipun kita sudah menikah, kamu selalu menganggapku seperti orang asing."
"Kenapa aku dan kamu bisa nikah? Kenapa kamu mau menikah sama aku? Kamu nggak tau kalo aku mencintai orang lain?"
"Karena…" Remi berfikir sejenak lalu tersenyum. "Karena aku berharap sama pernikahan ini, aku sudah bilang tadi." Kening Zella berkerut, jawaban Remi sama sekali bukan jawaban yang Zella inginkan.
"Sudahlah. Jangan di pikirin lagi." Desis Remi.
Zella berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Boleh aku tanya satu hal lagi?"
"Apa?"
"Apa yang bikin kamu yakin buat nikah sama aku?"
"Karena kamu maksa aku ngelakuin ini!"
"Beneran?" Desis Zella. Ia yang meminta Remi menikahinya? Kebingungannya semakin bertambah.
"Okey, terus apa yang bikin kamu menerimanya?"
"Karena waktu itu kamu memperlihatkan betapa lemahnya dirimu dan kamu membuatku berfikir cuma aku yang bisa ngelindungin kamu. Cuma aku!" Zella terperangah.
Karena ia lemah? Remi menikahinya karena mengira bisa melindunginya? Semua hal membingungkan ini sebaiknya dibuang jauh-jauh, karena Zella tidak ingin merasa aneh setiap menghadapi detik-detik selanjutnya dalam hidup. Dia tidak ingin merasa ragu untuk melakukan apapun. Ia memandang Remi sekali lagi, sekarang apa yang harus dilakukannya pada Remi? Tidak ada pilihan lain selain berusaha menjalani pernikahan yang normal. Ia akan berusaha menerima pria itu.
Semuanya sudah terlanjur seperti ini, ia sudah terlanjur menjadi istri Remi Abimana dan sudah berpisah dari Mike. Lagi pula apa lagi yang bisa dilakukannya? Ya, Zella akan menerima kenyataan ini.
Sedang berusaha menerima tepatnya, karena itu Zella menerima ciuman Remi pada bibirnya. Ciuman lembut yang lama kelamaan mulai intens dan liar. Remi mulai mendorong tubuh Zella. Membiarkan tubuhnya berbaring adalah pilihan berat bagi Zella, ia dan Remi akan segera melakukannya, mereka akan segera bercinta dan Zella akan membiarkannya. Akankah? Tidak, Zella menepis tangan Remi yang mulai bermain-main di bagian-bagian tubuhnya yang paling sensitif.
Remi melepaskan ciumannya dan memandangi Zella kecewa. Zella menggigit bibirnya dan membuang pandangannya ke arah lain. Hatinya terguncang untuk yang satu ini, bahkan Mike saja tidak pernah menyentuh tubuhnya. Mungkin dirinya dan Remi pernah melakukan ini sebelumnya, tapi apapun yang sudah mereka lakukan, Zella tetap merasa tidak bisa melakukan ini sekarang. Ia berusaha kembali menoleh kepada Remi yang masih memandanginya. Zella tidak sanggup memandang langsung ke mata Remi dan menunduk memandangi dadanya.
"Maaf, aku…"
"Sudah waktunya makan malam." Suara nenek yang tiba-tiba saja menyela membuat Remi dan Zella memandang kearah pintu serentak. Pintu tertutup rapat namun mereka merasa seperti sedang di pergoki.
"Cepat keluar!"
"Iya, Nek! Kami akan segera datang!" Jawab Remi lantang. Suara nenek tidak terdengar lagi. Tapi Remi masih belum beranjak dan masih berada di atas Zella. Matanya kembali meneliti inci demi inci wajah istrinya.
"Kamu nggak lagi nolak aku, kan?"
"Nggak!" Jawab Zella cepat. "Aku cuma belum siap."
"Okey…, tapi lain kali kamu harus siap!" Remi tersenyum.
Lalu berbisik, di telinga Zella. "Karena aku sudah sangat merindukan ini." Senyuman itu, meskipun sekilas berhasil membuat Zella merasa lebih lega. Zella mendekap dadanya saat melihat Remi turun dari ranjang dan keluar kamar. Ia menghela nafas sekali lagi, Remi menyentuhnya lagi dan Zella tahu dia tidak akan selamat. Lain kali, bisa saja Remi tidak hanya menyentuhnya, ia bisa saja melakukan hal yang lebih dan lebih.
—Bersambung.
Buat yang nungguin Mike, kapan dia muncul, sabar yahh.. Mike lg dipersiapin wkwk. Mike bakalan segera muncul.