
Setelah puas, Adrian melepaskan pagutannya dan menatap Kayla dengan tatapan tajam.
"Lain kali, elu berani pulang malam lagi, hukumannya akan lebih dari ini." ujar Adrian.
Adrian beranjak berdiri dan melihat kearah Kayla yang masih sibuk mengatur napasnya yang terasa sesak.
"Dasar paya, gitu aja udah ngos - ngosan" ledek Adrian.
"Gilaaaaaaa....." Teriak Kayla, yang di tanggapin dengan senyuman oleh Adrian.
"Udah sekarang tidur dan jangan kemana - mana lagi, gue mau keluar sebentar." pamit Adrian berlalu berjalan menuju pintu.
"Dasar gila, gak usah balik aja elu sekalian" pekik Kayla melempar bantalnya kepada Adrian.
Adrian berhasil menghindari bantal tersebut, kemudian dia berkata.
"Bener kata Elu, yang halal lebih Hot... Hahaha" Kata Adrian yang di akhiri dengan tawa puasnya.
"Brengsek..." ucap Kayla mengusap bibirnya yang sedikit terasa bengkak.
"Haaaa...... Bibir gue gak perawan lagi" teriaknya histeris.
"Apa maksudnya coba rasanya berbeda? dasar brengsek.." gumam Kayla mengumpati Adrian.
Sementara Adrian yang masih berdiri di luar kamar tersenyum saat mendengar semua ucapan Kayla.
"Gak sia - sia gue pulang cepat" gumamnya tersenyum.
Adrian memegang bibirnya yang masih terasa basa. " Ketara banget kalau dia gak pernah ciuman" ucapnya pelan.
Kemudian Adrian berlalu pergi ke kamarnya yang ada di lantai Atas. Sepanjang perjalanannya menuju kamar Adrian tidak henti - hentinya tersenyum mengingat bagaimana adegan tadi terjadi.
Sesampai di kamar Adrian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sembari tangannya masih memegang bibirnya.
"Ada apa dengan gue, kenapa gue sebahagia ini seteah mencium tu bocah" ujarnya.
"Nggak, gak. Ini udah gak benar, gue harus cepat mengatasinya." gumamnya
"Aish.... Kenapa gue bisa larut dalam permainan yang gue ciptain sendiri" ucapnya pelan
"Aduuuhhh, gimana gue ketemu sama tu bocah ntar, gue malu banget" imbuhnya menutup wajahnya dengan bantal. Adrian sangat menyesalin perbuatnya tadi.
Sedang asik - asiknya ngebayangin di antara penyesalan dan menikmati adegan yang baru saja terjadi. Tiba - tiba ponsenya berbunyi, Adrian mengeluarkan ponselnya yang di simpannya di saku celana.
"Nino?" ucapnya saat melihat nama sahabatnya Nino tertera di sana.
^^^"Apaann?" tanya Adrian to the poin.^^^
"Elu di mana?" tanya Nino
^^^"Gue lagi di rumah, kenapa?" tanya Adrian penasaran.^^^
"Gila, kita disini lagi kerepotan ngehadapi kekacauan yang udah elu bikin, dan sekarang elu dengan enaknya bilang kalau elu lagi di rumah?"seru Nino
^^^"Kekacauan apa lagi, kan pertandingannya udah!" balas Adrian.^^^
"Mending elu cepatan ke sini, ntar elu juga tau sendiri.." suruh Nino.
Setelah mengatakan hal itu Nino langsung mengakhiri panggilannya.
"Apa lagi sekarang?" tanya Adrian menatap layar ponselnya.
Sebenarnya Adrian sangat malas untuk keluar lagi, karena ia merasa benar - benar capek. Bagaimana tidak capek, ia harus bekerja di kantor papanya sampai jam delapan malam, sepulangnya dari kantor dia harus menjemput kekasihnya dari lokasih pemotretannya.
Dan sampai di rumah dia pun dapat masalah tidak menemukan istrinya berada di rumah, belum lagi di harus ikutan balapan yang cukup memakan waktunya.
Saat Kayla pulang tadi, sebenarnya Adrian juga baru pulang juga dan dia sangat marah karena bisa - bisanya Kayla tidur di dalam mobil dengan pria lain di dekat rumahnya hingga dini hari begini Kayla baru masuk rumah.
Tidak tahu kenapa dia merasa sangat marah jika melihat Kayla bersama pria lain, Apa kah dia mulai menyukai Kayla? Dia rasa itu tidak mungkin karena dia belum terlalu lama mengenal Kayla.
~
Di tempat balapan, bener kata Nino disini sangarmt kacau karena ketua geng Shawol yang tidak terima atas kekalahannya.
Mereka merasa diremehkan oleh Adrian yang setelah memenangkan pertandingan dia meninggalkan arena begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka.
"Dimana Adrian, jika kalian ingin perdamaian maka suruh Adrian ke sini!!..." seru Mark ketua geng Shawol.
"Jika tidak makan kalian bertiga yang akan menanggung akibatnya..." ucapnya.
"Songong banget elu kalo ngomong, terina kekalahan dong..." balas Geva yang masih dalam keadaan siaga, dia takut geng shawol akan menyerang mereka.
Jangankan menang dari jumlah anggota saja mereka sudah kalah telak. Geng mereka cuma terdiri dari empat anggota semetara mereka terdiri dari dua belas anggota.
"Kalian jangan lengah.." bisik rangga.
"Huh... Baru kali ini gue ketemu sama geng curut yang belagunya selangit." seru Mark.
"Udah kita habisin aja bos.." saut steve salah satu anggota Mark.
"Kita tunggu Adrian belagu itu dulu!" balasnya.
Dari jauh mereka sudah bisa mndengar suara deru motor Adrian. Nino dan teman - temannya tersenyum lega.
"Akhirnya boss curut datang juga" seru Mark meremehkan.
"Jaga mulut elu!" sanggah Nino yang tidak terima jika gengnya di katain curut.
"Kenapa marah?, hmm..." tanya Mark dengan senyum miringnya.
"Ada apa ini?" tanya Adrian ynag baru sampai di dekat teman - temannya.
"Akhirnya eku datang juga." seru Mark tersenyum lebar.
"Bukannya urusan kita sudah kelar?" tanya Adrian.
"Siapa bilang Adrian? Urusan balapan iya udah kelar tapi urusan harga diri yang belum kelar." ujar Mark.
"Harga diri? Harga diri siapa, elu?" tanya Adrian.
"Kaya punya harga diri aja.." imbuhnya sombong.
"Brengsek..." teriak Mark yang merasa terhina.
"Cepat katakan kalian maunya apa? Gue gak ada waktu buat meladenin hal - hal yang gak penting gini..." ucap Adrian
"Belagu juga elu jadi orang... Serang mereka" teriak Mark yang sudah tersulut emosi mendengar ucapan Adrian barusan.
Perkelahian pun tak bsa di elakkan lagi, Adrian dan teman - temannya merasa sedikit kewalahan menghadapi geng Shawol karena jumlah mereka yang tiga kali lipat lebih banyak dari jumlah mereka.
"Semuanya harus tetap waspda, karena mereka punya senjata" bisik Adrian saat melihat pisau di tangan salah satu lawannya.
Adrian telah melumpuhkan empat orang dari anggota Mark. Sekarang ia sedang menghadapi dua orang yang sedang berusaha mengkeroyoknya, namun dengan sekejap Adria sudah bisa mengalahkan mereka.
Dari ke jauhan Adrian melihat Steve sedang berjalan ke arah Rangga dan yang membuat Adrian kaget di tangan Steve terlihat sebuah pisau.
Dengan langkah cepat Adrian berlari kearah Rangga dan melindungi tubuh sahabatnya itu dan alhasil ia yang merima senjata tajam itu.
Rangga sangat kaget saat Adrian menarik tubuhnya, dan di tambah lagi ia dengan jelas mendengar suara tusukan.
"Adrian.." ucap Rangga kaget
~•••~
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terima kasih💜