
Kayla keluar dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu, ia sangat kaget saat melihat adegan itu lagi.
"Bisa - bisanya mereka melakukan hal itu di tempat seperti ini.." gerutu Kayla terus berjalan tak tentu arah.
Sementara itu Adrian di ruangannya juga sangat kaget saat melihat Kayla melihatnya sedang ciuman dengan Loly.
"Sepupu kamu itu gak sopan banget ya.."seru Loly memegang dadanya.
"Sudah biarkan saja,mungkin dia kaget melihat kita, lagian kamu juga sih. Sudah jelas ini tempat umum masih saja nyosor." timpal Adrian.
"Lah kamu kok nyalahin aku, kamu juga menikmatinyankan, terus kenapa pake nyalahin aku segala dasar..." kata Loly tak terima dirinya di salahkan oleh Adrian.
"Iya iya kita berdua yang salah.." seru Adrian, Loly tersenyum mendengarnya.
"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya, bye. Cepat sembuh honey.." ucap Loly hedak mencium Adrian kembali.
"Tu tuhkan nyosor lagi, sekarang udah ketahuan kan siapa yang salah.." seru Adrian.
Loly tersenyum, dia mengecup bibir kekasihnya itu sekilas. " Bodo amat, bye" ucap nya berlalu pergi meninggalkan Adrian sendiri di ruangannya.
"Aduuhhhh.... Sekarang tinggal gue deh yang pusing jeasinnya sama Kayla." gumam Adrian
"Gimana ya caranya, agar dia gak marah?..." ucapnya pelan.
"Eh tapi kenapa gue harus capek - capek mikirin dia, dia kan bukan siapa - siapa. Iya sih dia istri gue tapi kan itu cuma di atas kertas doang."ujarnya.
Adrian meraih ponselnya dan menghubungi teman - temannya. Dia menyuruh mereka untuk membuat surat izin untuknya dan di berikan kepada pihak kampus.
Setelah urusannya dengan kampus selesai, kini Adrian hatus menyiapkan alasan untuk menghadapi papanya yang super otoriter itu.
Ddddrrrrrtttt...
"Tuh kan baru aja gue mikirin dia, udah gentayangan aja..." gumam Adrian, ia menerima panggilan dari papanya itu.
^^^"Iya, hallo pa." sapa Adrian.^^^
"Kamu dimana?" tanya Bagas to the poin
^^^"Ini aku lagi di rumah, kenapa emangnya pah? kangen ya?" goda Adrian^^^
"Iya kangen, jitak kepalamu itu.." jawab Papa Bagas
^^^"Ini bapak tiri apa kandung sih? Kejam benar.." seru Adrian.^^^
"Udah ah becanda mulu, papa lagi serius ini." ujar Bagas.
^^^"Siapa juga yang lagi becanda, orang lagi curhat kok malah di bilang bacanda." kata Adrian.^^^
"Kamu di mana?" tanya papa lagi.
^^^"Udah aku bilang aku lagi di rumah papa ku sayang." jawab Adrian^^^
"Yang bener?" tanya Bagas ragu.
"Yaudah sekitar satu jam lagi papa akan mampir kerumah...."
^^^"APA PAH..."pekik Adrian^^^
"Aaa.... Kenapa kamu teriak sih, mau bikin telinga papa budeg ya?" protes Bagas mengusap telinganya yang berdengung akibat suara anaknya yang terlalu keras.
^^^"Kaget aja pa, yaudah mampir aja. Mama ikut kan pa?"Tanya Adrian.^^^
"Gak mama akan tetap disini, lagian papa cuma mampir bentar habis meeting debgan client." jawab Bagas.
^^^"Oo.." balas Adriann^^^
"Yuadah papa matikan dulu ya.." kata Bagas
^^^"Bye pa." Adrian pun mengakhiri panggilannya.^^^
Setelah panggilannya berakhir, Adrian pun mulai panik memikirkan caranya agar dia bisa sampai rumah dan dia gak ketahuan sama papanya kalaus sedang sakit.
"Lah gimana ini?" kata Adrian panik.
Dia mencoba mutar otaknya agar bisa menemukan solusinya.
"Gue panggil mbak Titin deh." ujarnya.
Adrian pun mencari nomor mbak Titin dan menghubunginya.
^^^"Mbak cepat kesini!!" peritah Adrian saat mbak Titin menerima panggilannya.^^^
"Iya den" balas mbak Titin.
Kemudian Adrian pun mematikan panggilannya. Sambil menunggu mbak Titin, Adrian pun menghubungi Kayla.
"Kenapa gak di angkat si!" kesalnya.
Dia mencoba meghubungi nomor Kayla beberapa kali dan hasilnya tetap sama.
"Aish... Kemana sih dia, disaat keadaan genting gini malah keluyuran." gerutunya.
Adrian memencet tombol darurat yang ada fi kepala ranjangnya.
Tak lama mbak Titin pun masuk kerungannya bersama Kayla. Mbak Titin langsung menghampiri Adrian sementara Kayla dia berjalan menuju sofa.
"Ada Den?" tanya mbak Titin. Adrian sejenak melirik kearah Kayla yang sepertinya sangat dingin padanya.
"Ayo siap - siap mbak, sebentar lagi kita pulang." ujar Adrian.
"Kenapa Den, bukannya Aden masih butuh perawatan?" tanya mbak Titin.
"Gak bisa mbak, sebentar lagi papa akan sampai di rumah. Bakalan ribet urusannya kalau dia tahu aku terlukan" seru Adrian.
"Kalau gitu, mbak hubungi supir dulu ya," ujar mbak Titin dan diangguki oleh Adrian.
Adrian melirik Kayla yang masih belum bergeming dari tempat duduknya.
"Elu..." ucapan Adrian terpotong dengan masuknya seorang dokter dan dua orang perawat.
"Ada yang bisa saya bantu tuan, apa anda merasakan sakit?" tanya sang dokter
"Bukan gitu dok, saya mau rawat jalan dan sekarang juga saya harus pulang. Tolong pastikan perban luka saya sudah aman atau belum!" seru Adrian.
"Maaf tuan, anda belum di perbolehkan untuk pulang sebelum luka anda benar - benar sudah membaik" balas Dokter.
"Tidak bisa, pokoknya sekarang juga daya harus keluar dari rumah sakit ini.." tegas Adrian.
"Tapi tuan, ini terlalu beresiko.." ucap Dokter
"Saya tidak peduli akan itu, akh.." erangnya karena merasakan nyeri di bekas lukanya.
"Anda lihat sendiri kan, jangan kan untuk bergerak bicara saja anda sudah merasakan sakit." ujar Dokter memeriksa bekas jahitan operasai dinperutnya.
"Tapi Dok..."
"Begini dok, ini masalah keluarga dan sangat darurat, bagaimana kalau kami bawa perawat untuk jaga - jaga." seru Kayla berjalan menghampir ranjang Adrian.
"Tapi, saya yang akam bertanggung jawab dok, jika terjadi seseuatu kepadanya maka kami tidak akan meminta pertanggung jawaban anda sama sekali" kata Kayla berusaha meyakinkan dokter itu.
"Meskipun dia mati sekali pun maka kami tidak akan menuntut pihak rumah sakit" imbuhnya.
Adrian menatap Kayla yang sedang bernego siasi dengan Dokter.
"Baiklah, saya akan menyuruh perawat ikut dengan anda, jika terjadi sesuatu tolong cepat kabari kami" kata Dokter.
"Terima kasih dok.." ucap Kayla tersenyum.
Para perawat pun mulai menyiapkan semua kebutuhan obat untuk luka Adrian
Sementara Kayla membantu Adrian untuk menukar pakaiannya. Walau pun dia masih kesal tapi dia tidak tega melihat Adrian kesusahan dalam mengganti pakaian.
"Pelan - pelan lah sedikit, kalau seperti ini elu bukannya nemgebanti, malah bikin gue makin menderita." seru Adrian
"Bodo amat, syukur gue masih mau ngebantu" ujarnya
"Tunggu di sini, gue ambil kursi rodanya dulu!"ujar Kayla. Adrian mengangguk mengiyakan
Kayla keluar mengambil meminta kursi roda kepada perawat. Tak lama kemudia iya pun datang dengan kursi roda di tangannya.
"Ayo naiklah!" suruh Kayla. Adrian hanya diam memperhatikan Kayla
"Aish..." desis Kayla, lalu ia membanyu Adrian untuk duduk di kursi roda tesebut.
"Apa semuanya sudah siap tuan, supir sudah menunggu di bawa." seru mbwk Titin yang baru datang.
"Udah mbak, ayo." jawab Kayla.
"Mbak dorong ya!" seru Kayla. Mbak Titin pun mengiyakan
Adrian menahan tangan Kayla saat Kayla melewatinya.
"Ada apa?." tanya Kayla menatap kearahnya.
"Dorong! Atau gue beritahu Nino tentang hubungan kita!" ancaman Adrian, dan hal itu sukses membuat mata kayla membulat sempurna.
"Aish selalu saja mengancam"gerutunya.
"Elu ngomong apa?" tanya Adrian menoleh kearah Kayla.
"Gak ada, salah denger kali, yaudah ayo mbak kita berangkat.
Mbak Titin pun mengangguk dan tersenyum melihat sepasang suami istri itu.
Mereka pun berlalu pergi meninggalkan rumah sakit, selama di perjalanan menuju rumah bsik Kayla atau pun Adrian mereka sama diam dan sibuk denhan pemikiran mereka sendiri.
Tak lama mereka pun sampai di rumah, Kayla mununtun Adrian untuk duduk di ruanga keluarga. Sementara barang - barang dan perawat dia menyuruh mbak Titin untuk mengantarnya ke kamar Kayla.
"Kenapa duduk disini?" tanya Adrian
"Biar elu gak perlu banyak gerak nanti, dan tolong nanti saat papa disini elu jangan terlalu banyak gerak, oke" seru Kayla.
"Iya bawel..." seru Adrian.
"Sekarang elu mau kemana?" tanya Adrian saat melihat Kayla beranjak berdiri.
"Gue mau ke kamar, bersih - bersih dulu. Kenapa mau ikut?"tanya Kayla.
"Kalau boleh.." jawab Adrian tersenyum
"Boleh tapi dalam mimpi.." seru Kayla, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Adrian di ruang keluarga.
~•••~
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terima kasih💜