My Secret Wife

My Secret Wife
Episode 142



Pagi itu, Adrian masih terlihat tidur di samping Kayla sambil memeluk satu lengan istri nya itu.


Adrian mengeliat saat ia merasakan ada tangan yang membelai wajah nya. Dengan perlahan Adrian membuka mata nya.


"Good morning"sapa Kayla sambil tersenyum manis.


"Sayang?"Adrian masih belum sadar, ia menutup kembali matanya, namun seketika terbuka kembali.


Ia menatap wajah istri nya yang ada di depan nya itu. Ia mengucek mata nya dan melihat dengan jelas wajah istri nya itu


"Kamu udah sadar?"tanya Adrian memegang pipi Kayla. Kayla mengangguk dan tersenyum.


"Sejak kapan, kenapa nggak bangunin aku? Hm.."kata Adrian


"Aku kasihan banguninya, kamu pulas banget tidurnya."Kata Kayla.


"Tunggu sebentar aku panggilin dokter dulu ya." Adrian hendak beranjak, namun di cegah oleh Kayla.


"Kenapa?"tanya Adrian bingung


"Jangan bilang sama siapa pun kalau aku udah sadar,bahaya."kata Kayla.


"Iya, tapi kenapa. Kamu itu harus di periksa, biar tahu keadaan kamu gimana!"seru Adrian.


"Nggak, aku baik - baik aja. Kamu tau suster itu adalah kaki tangan orang itu."kata Kayla dengan memelan kan suara nya.


"Tau dari mana? Jangan sembarangan nuduh, kamu tau itu suster dari rumah sakit langsung dan aku sendiri yang pilih."kata Adrian.


"Aku denger sendiri sayang, percaya deh. Pokoknya kamu harus hati - hati dalam bertindak."kata Kayla


"Seriusan? Tapi bukan nya kamu baru sadar?"tanya Adrian bingung. Dia bener - benar nggak ngerti dengan pembicaraan istri nya itu.


"Mana mungkin dia dengar sementara dia aja baru sadar. Apa ini salah satu, efek dari bius itun"pikir Adrian.


"Tc, jangan berpikir yang bukan - bukan. Aku sudah sadar 1 jam setelah operasi, kakak kira bius itu bertahan selama itu."Kata Kayla. Adrian pun mengiya kan.


"Terus apa rencana kamu ?"tanya Adrian.


Kayla pun membisikkan sesuatu ke telinga suami nya itu. Adrian tersenyum mendenger rencana istri nya itu.


"Hmm... Istri aku, emang the best."puji Adrian sepontan memeluk Kayla.


"Aww... Pelan - pelan dong kak, ini perut aku masih sakit."keluh Kayla.


"Hehe... Maaf, maaf. Aku senang kamu baik - baik aja."kata Adrian.


"Udah sana bangun, tadi ponsel kakak bunyi terus."Kata Kayla.


"Biarin aja, ntar aku liat "ucap nya kembali memeluk Kayla, tapi kali ini ia lebih hati - hati.


~


Di rumah Sandra.


"Kamu mau ke mana sayang?"tanya monica mama nya Sandra.


"Ini buat apa?"tanya nya lagi, saat meihat anak nya itu sedang sibuk memasuk kan makan ke dalam rantang.


"Eh mama, " Sandra menoleh melihat ke arah mama nya.


"Kamu mau kemana dan ngapain bawa - bawa makanan kaya gini?"tanya Monic lagi


"Ini aku mau ke rumah nya kak Adrian." jawab Sandra


"Ngapain tumben kamu suka main ke sana? Biasa nya , selalu nolak kalau di ajakin sama kakak kmau."tanya mama nya lagi.


"Itu lah mama, karena telalu lama ninggalin anak nya sendiri di rumah, jadi nggak tau kan kalau aku sekarang udah suka main ke rumah kak Adrian. Lagian aku ke sana nggak nemuuin kak Adrian nya."kata Sandra sembari asyik memasukan makanan kedalam rantang nya.


"Terus kamu mau nemuin siapa di sana, bukan nya tante Anita masih di Amerika?"tanya Monic, mencomot makanan yang ada di atas meja.


"Iiihh mama jangan di makan, ini tu aku buat khusus buat Kayla."rengek Sandra.


"Jadi, ini semua hanya untuk Kayla. Si anak panti asuhan itu?"tanya Monic dengan nada tak suka.


"Astaufirullah mama, mulut nya ya. Benar - benar deh, kapan sih mama sama papa menilai orang itu nggak dari segi materi?"ujar Sandra nggak suk dengan perkataan mama nya mengenai Kayla.


"Asal mama tau ya, berkat anak yang mama panggil anak panti asuhan itu Sandra belajar banyak hal."


"Kayla mengajar kan , aku begitu banyak hal. Bahkan dia juga yang udah ngenalin ke aku bagaimana menjadi manusia yang bermoral."kata Sadra kesal.


"Itu dia lakukan palingan cuma buat, menarik simpati kamu. Biar bisa, morotin kamu."kata Monic.


"Susah emang kalau ngomong sama orang yang nggak tau etika dan moral. yang tau cuma uang, uang dan uang."


"Bahkan demi uang, mereka rela nelantarin anak nya."sindir Sandra sambil memasukkan Rantang nya ke dalam tas.


Sandra berlalu pergi begitu aja, meninggalkan mama nya yang masih diam berdiri di meja makan


"Sandra tunggu!!!"panggil Monic


"Apa?"tanya Sandra menghenti kan langkah nya dan menoleh ke arah mama nya itu.


"Jangan lupa, nanti siang kamu fitting gaun pengantin bareng Adit di boutique tante Lucy" kata Monic.


"Itu aja?"tanya Sandra. Monic pun mengangguk mengiyakan.


Sandra pun kembali melanjutkan langkah nya untuk pergi menuju ke luar rumah.


"si mama nggak tau aja, kalau perempuan yang selalu di hina nya itu, udah berhasil memporak porandakan perasaan anak bujangnya."kata Sandran pelan, ia tersenyum sat mengingat bagaimana hancur nya sang kakak saat tau status hubungan Kayla dan Adrian kala itu.


~


Di tempat lai Rangga masih berusaha melacak pemilik dari plat nomor yang di dapat nya.


"Gimana?"tanya Geva yang baru masuk ke kamar nya.


"Belum, baru kali ini gue ke susahan untuk melacak nya. Biasanya nggak sampai 15 menit juga dapat. Tapi ini, udah semalaman lo gue nyari..."kata Rangga menoleh ke arah Geva


"Kok bisa ya, atau, apa jangan - jangan ini mobil luar?"tanya Geva.


"Nggak mungkin, Gev. Elu lihat sendiri kan, plat nya B."kata Rangga.


"Iya juga sih, lah terus kenapa elu nggak bisa di lacak?"tanya Geva.


"Nah itu, dia? Gue juga nggak tau kenapa."kata Rangga.


Geva terdiam dan terus memperhatikan layar komputer milik sahabat nya itu.


"Apa jangan - jangan ini palsu..."kata Geva tiba - tiba.


"Maksudnya, palsu gimana?"tanya Rangga.


"Iya, bisa aja di plat palsu. Ini tu cuma tempelan doang."kata Geva.


"Iya juga ya, kenapa gue nggak ke pikiran ya."ujar Rangga.


"Gue hubungin Adrian dulu, biar dia cepat ke sini."kata Rangga, meraih ponsel nya.


"Percuma, dia belum bangun. Gue dari tadi ngehubungin dia, tapi nggak di angkat."Kata Geva.


"Yaudah, kita samperin aja."kata Rangga beranjak berdiri dan hendak melangkah. Namun, dia menoleh kearah Geva yang masih diam tak bergeming.


"Lah kok, bengong si. Ayo."ajak Rangga.


"Ga, elu yakin mau pergi kaya gini."kata Geva


"Iyalah, emang kenapa. Elu malu pergi sama gue? Gue nggak mandi seminggu juga masih tetap cakep. Udah lah yok"Ajak Rangga lagi, kali ini dia sampai menarik tangan sahabat nya itu.


"Elu, yakin ya nggak nyesal ntar."kata Geva.


"Iya ayuk, ah."


"Beneran ya." kata Geva lagi.


"Lamaa."ucap Rangga, meninggalkan Geva.


Geva pun mengejar Rangga sambil tersenyum.


~•••~