My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 99 - Keberanian Untuk Menyerahkan Diri



Jam 5 subuh.


sudah 5 menit Haura membuka matanya, sudah 5 menit pula ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang masih terbuka. Keduanya masih sama-sama polos, saling memeluk didalam selimut tebal itu.


Kecil, Haura tersenyum. Kala mengingat bagaimana percintaan mereka semalam, saking malunya, Haura sampai menyembunyikan wajahnya kembali  disela-sela lengan Adam. Ia akan pura-pura tidur lagi.


Melihat tingkah istrinya yang sedari tadi gelisah sendiri, Adam pun mengulum senyum. Adam sebenarnya sudah lebih dulu bangun dibanding Haura.


Pelan, Adam semakin mengeratkan pelukan mereka, hingga kedua tubuh polos itu kembali saling menyentuh. Dapat Adam rasakan, bagaimana lembutnya kulit sang istri.


“Sayang, apa kamu sudah bangun?” tanya Adam, berbicara dengan suara serak, seolah-olah ia baru saja terbangun, bahkan berulang kali Adam pura-pura mengerjabkan matanya.


Dilihatnya Haura bergeming, dengan mata yang tertutup.


Sumpah demi apapun, saat ini Adam ingin tertawa. Namun sekuat tenaga, ia tahan. Ia tahu, istrinya sedang pura-pura tidur.


Sekilas, Adam mengecup bibir sang istri. Lalu membelai lembut wajahnya. Merapikan rambut Haura yang menempel asal di wajah dan leher.


Beberapa tanda merah yang ia buat semalam, pagi ini nampak semakin jelas. Bertebaran dileher hingga dada sang istri.


“Sayang, bangunlah, ini sudah pagi,” ucap Adam lagi, dengan satu tangannya yang terus mengelus bibir istrinya itu. Lalu kembali mengecupnya sekilas.


“Haura,”  panggil Adam yang kesekian kalinya.


Ia makin mengulum senyum saat melihat kedua pipi istrinya itu yang tiba-tiba merona, namun matanya masih setia terpejam.


“Tidurlah, aku tahu kamu lelah,” timpal Adam.


Ia lalu menarik pinggang sang istri untuk  semakin dekat, bahkan Adam pun mengelus


punggung istrinya itu dengan sayang. Dan di detik berikutnya, Haura membalas


pelukan suaminya itu, semakin erat.


Tak ada yang kembali tidur diantara keduanya, hanya saling sibuk menciumi aroma tubuh masing-masing. Hingga Akhirnya, kini giliran Adam yang pura-pura tidur. Sengaja ia mengatur napasnya agar terdengar teratur.


Wajah tampan dengan rahang yang tegas, Haura memberanikan diri membelai wajah itu. Ia bahkan sedikit bangkit dan menindih


setengah tubuh Adam. Agar lebih leluasa memandangi wajah seorang pria yang kini


menjadi suaminya.


Namun alangkah terkejutnya Haura, saat tiba-tiba Adam membuka mata bahkan juga memeluk pinggangnya erat menggunakan dua tangan, mengunci pergerakannya.


Haura tak bisa apa-apa, hanya mengigit bibir bawah, merasa malu dan gugup sekaligus.


“Mas sudah bangun?” tanya Haura, kikuk.


Dan Adam menjawabnya dengan anggukan kecil dan senyum yang lebar.


“Tetap disini, aku suka melihatmu dari bawah sini. Kamu sangat cantik,” ucap Adam, dengan tatapannya yang berubah jadi tatapan dalam.


Belahan dada istrinya itu nampak jelas, dengan rambut yang tergerai asal.


Sesaat, keduanya hanya saling tatap,  seolah sedang menyelami hati masing-masing. Menyelam hingga tenggelam.


“Aku mencintaimu Haura,” ucap Adam kemudian, dengan suaranya yang lirih. Namun dapat Haura dengar dengan jelas.


Haura tak langsung menjawab, memberi jeda untuk waktu bisa masuk diantar keduanya. Menciptakan rasa keinginan memiliki yang semakin kuat.


Daripada menjawab itu, Haura memilih mengikis jarak. Mengambil keberanian untuk menyerahkan dirinya lebih dulu. Menjangkau bibir suaminya dengan lembut dengan kedua mata yang tertutup.


Amatir yang begitu disukai oleh Adam.


Lumaatan Haura hingga membuatnya candu.


Saat Haura hendak menarik diri, Adam dengan segera menahan tengkuknya. Memperdalam penyatuan mereka. Ia tetap berada dibawah, dan membiarkan sang istri mengambil alih kendali.