My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 162 - Malam Babymoon



Siang tiba.


Setelah acara sakral pernikahan Sanja dan Shakir usai, Adam langsung mengajak keluarga kecilnya untuk masuk ke dalam hutan.


Termasuk kedua anaknya, Azam dan Azura.


Mereka berempat menuju rumah milik mereka di dalam hutan itu.


Adam, membuat jalan setapak yang lebih manusiawi dari sebelumnya. Jalan setapak yang tidak akan membuatnya bingung lagi. Jalan inilah jalan keluar masuk hutan yang jelas.


"Apa Mas yang membuat jalan ini?" tanya Haura, ia berjalan paling akhir, sementara Azam dan Azzura ditengah-tengah dan Adam memimpin.


"Iya sayang, jika seperti ini aku tidak akan tersesat kan?" tanya Adam pula membuat Haura terkekeh.


"Apa benar didalam sana ada rumah Yah?" tanya Azura, tidak percaya. Ia memegang ranting dan memainkannya, menggayun-ayunkannya dengan riang.


"Iya sayang, ada rumah kita di sana." jawab Adam seraya menoleh kebelakang, melihat kedua anaknya yang nampak antusias.


30 menit berjalan kaki, akhirnya mereka semua sampai ditempat yang dituju. Azam sudah berada di gendongan salah satu pengawal dan Azura digendong oleh Kris. Luna dan Egdar tidak ikut masuk kesini, mereka menunggu di rumah Haura.


Kedua netra Haura dan kedua anaknya membola, saat melihat bangunan indah yang ayahnya berikan.


Rumah itu tidak berdiri sendiri. Ada pula 4 rumah kecil-kecil yang mengelilingi tiap sudutnya.


"Itu rumah para pengawal, satu rumah berisi 2 orang," jelas Adam, saat melihat istrinya yang nampak tercengang.


Dulu, Adam memang tidak menunjukkan rumah-rumah kecil itu.


"Wah, benarkah ini rumah kita Yah?" tanya Azzura, bertanya lalu membuat mulutnya menganga.


Adam tersenyum, lucu sekali setiap kali melihat anak gadisnya membuat ekspresi wajah seperti itu.


"Rumah ini indah sekali, ayo kita cepat masuk!" ajak Azam pula, antusias.


Ia bahkan meminta diturunkan, lalu berlari sendiri menaiki tangga-tangga kecil dan naik ke teras rumah itu.


Azura menyusul, ia pun meminta turun lalu berlari mengejar sang kakak.


Kris dan yang lainnya mundur, mulai berjaga pada posisinya masing-masing. Sedangkan Adam langsung menarik pinggang sang istri dan memeluknya erat.


Melihat tawa bahagia kedua anaknya, membuat mereka sungguh merasa bahagia.


Sore itu, Haura masak dalam jumlah yang banyak. Memasak untuk keluarga kecilnya, juga untuk semua para penjaga.


Mereka makan bersama di teras rumah itu, menggunakan meja kayu.


Sesekali suara tawa Azam dan Azura terdengar, mereka sungguh menyukai suasana didalam hutan ini.


"Ading, saat kita dewasa nanti, kita kembali kesini lagi ya?" ajak Azam pada sang adik. Dan Azura langsung mengangguk dengan antusias.


"Iya, aku juga akan mengajak Arra," jawab Azura, tak kalah antusias.


Azam dan Azura terus berbincang, asik sendiri. Membicarakan masa depan keduanya yang masih abu-abu.


Selesai makan bersama, mereka semua beristirahat. Masuk ke dalam rumah dan Adam mulai menyalakan perapian.


Hawa dingin mulai mereka rasakan, apalagi saat matahari tiba-tiba tenggelam.


Lampu-lampu kecil mulai menyala, menciptakan suasana hangat yang membuat semua orang merasa nyaman.


Saat malam menjelang. Adam, Haura dan kedua anaknya berlindung dibawah satu selimut dan duduk di atas karpet tebal didekat perapian. Mereka saling memeluk, memberi kehangatan.


"Ibu, kapan adik kami lahir?" tanya Azura.


Ditanya seperti itu, Haura langsung menghitung jari-jarinya.


Bukan Haura yang menjawab, tapi suami dan anak laki-lakinya, kompak. Membuat Haura tersenyum dan Azura mengangguk-anggukan kepalanya.


Ya, usia kehamilan Haura, kini sudah masuk bulan ke enam. Jika sesuai dengan perkiraan tanggal lahir, maka ia akan melahirkan lebih dulu ketimbang 2 saudaranya, lalu disusul oleh Sarah dan terakhir Aida.


Tapi kelahiran 3 bayi ini, berada di bulan yang sama.


Mereka berempat terus berbincang, membicarakan banyak hal. Sampai tak sadar jika kini sudah masuk jam 10 malam.


Azam dan Azura bahkan sudah tertidur dipangkuan ayah dan ibunya.


Tinggal Adam dan Haura yang saling pandang dengan senyum di bibirnya masing-masing.


"Apa kamu bahagia?" tanya Adam, ia mengangkat tangan kirinya dan membelai wajah sang istri. Wajah yang terasa dingin. Tangan hangat Adam menyentuh wajah dingin itu. Sementara ibu jari tangannya terus bergerak lembut di atas bibir ranum Haura.


"Terima kasih Mas, aku sangat bahagia," jawab Haura, memang seperti itulah yang ia rasa.


Rasa nyaman ini, rasa hangat ini, merasa terlindungi dan sangat dicintai. Semua rasa itu Haura dapatkan sekaligus dari sang suami. Membuatnya tak bisa berkata-kata lagi untuk menggambarkan kebahagiannya.


Haura, hanya bisa berterima kasih dengan tulus.


"Kamu tahu, hanya dengan melihatmu bahagia, aku baru bisa merasa bahagia," balas Adam, membuat wajah sang istri mendadak panas dan jadi merona.


Setelah mengatakan itu, Adam mulai bergerak dan mengikis jarak. Menjatuhkan ciuman basah dibibir ranum sang istri yeng membuatnya candu.


Adam, terus melumaatnya hingga terasa ciuman itu semakin menuntut.


Pelan, Haura menahan dada sang suami agar tak menindihnya disini. Karena diatas pangkuan mereka, anak-anak sedang tidur.


Menyadari itu, Adam tersenyum, nyaris terkekeh. Namun segera ia tahan, tak ingin Azam dan azura bangun.


Saat itu juga Adan bangkit, dan memindahkan anak-anaknya secara bergantian menuju kamar Azam dan Azura. Mereka berdua tidur di kamar yang sama namun dengan ranjang yang terpisah.


Adam pun menyelimuti kedua anaknya itu, tak ingin Azam dan Azura kedinginan.


Selesai dengan anak-anak, Adam kembali menghampiri sang istri. Membantu Haura untuk bangkit dari duduknya dan mereka berjalan menuju lantai 2.


Ke tempat yang menjadi favorit Adam.


Sampai di sana, Adam langsung mematikan lampu, hanya menyisahkan cahaya rembulan yang masuk dari jendela kaca.


Haura tersenyum saat merasakan tangan sang suami mulai menggerayanginya dari arah belakang. Bahkan Azam langsung melepas hijabnya dan menciumi tengkuk yang sudah terbuka itu.


Haura meremang, merasakan tubuhnya yang bergetar.


"Mas," ucap Haura lirih, karena masih berdiri namun Adam sudah melucuti bajunya satu per satu hingga perutnya yang sudah menonjol itu terbuka dengan sempurna.


Setelah sama-sama polos, Adam mendudukkan sang istri di sisi ranjang pendek itu, sementara ia memilih bersimpuh, diantara kedua kaki sang istri yang terbuka lebar, Adam mensejajarkan tubuh mereka, lalu mulai menghujami sang istri dengan ciuman dalam.


Dari bibir turun menyusui leher jenjang Haura. Menciptakan banyak tanda merah sebagai tanda. Lalu terus turun dan menikmati buah dada yang semakin sintal itu. Bahkan kini terasa penuh di mulut dan genggaman tangannya.


Haura mendesaah merasakan tubuhnya yang terasa panas. Ia bahkan hanya mampu memejamkan mata seraya meremat kain sprei kuat-kuat.


Saat sang suami terus turun dan menenggelamkan wajah di inti tubuhnya yang sudah basah.


Memainkan lidahnya di liang itu hingga berhasil berhasil mengeluarkan cairan hangat sang istri.


Haura ambruk dengan tubuhnya yang terasa lemas. Namun Adam belum berhenti, kini ia malah mulai menenggelamkan inti tubuhnya keliang sang istri.


Membuat Haura menganga, merasakan nikmat.


"Ini baru dimulai sayang," desis Adam seraya membungkuk, dan langsung meraup pucuk yang sudah menegang itu.


Keduanya sama-sama mendesah dan melenguh pelan, bahkan di hawa yang dingin ini keduanya sampai berbagi peluh, dari gerakan naik turun yang mereka ciptakan, juga hentakan-hentakan pelan yang membuat keduanya mabuk, belum lagi saat Haura ikut bergerak, memutar pinggulnya. Adam hanya bisa memejamkan mata, seraya menikmati malam baby moon mereka.