
Drt drt drt
Ponsel Adam yang berada diatas nakas bergetar, saat ini sang pemilik ponsel tengah berada di dalam kamar mandi.
Haura yang duduk di kursi meja rias pun berdiri, dan menghampiri ponsel milik suaminya itu. Dilihatnya, ada panggilan masuk dari Luna. Tertulis dengan nama Asisten Luna.
Haura menoleh kearah kamar mandi, pintu yang masih tertutup rapat bahkan gemericik air masih mampu ia dengar. Mengisyaratkan jika sepertinya sang suami masih lama berada di dalam sana.
Namun rasanya Haura begitu enggan untuk menjawab panggilan ini. Takut jika ini adalah panggilan penting tentang perusahaan mereka.
Ragu, akhirnya Haura hanya membiarkan panggilan itu. Hingga lambat laun pun terputus dengan sendirinya.
Dan saat hendak berbalik kembali ke meja rias, betapa terkejutnya Haura saat sang suami sudah berada di hadapannya.
Berdiri dan menatapnya lekat.
Haura bahkan langsung beristigfar saking terkejutnya.
Adam tersenyum, mencubit wajah sang istri yang nampak ketakutan, “ Memangnya aku hantu?” tanya Adam, dengan nada meledek, menarik hidung istrinya sebagai penutup.
Lalu duduk disisi ranjang dan menarik sang istri untuk duduk dipangkuanya.
“Ada telepon dari siapa?” tanya Adam kemudian, setelah ia memeluk erat tubuh sang istri yang kini sudah duduk diatas pangkuannya.
“Luna,” jawab Haura singkat, membuat Adam teringat akan masa lalu mereka, kala ciuman pertama saat Haura cemburu kepada Luna.
Kecil, Adam mengulum senyum.
“Kenapa tidak dijawab?” tanya Adam kemudian, hingga membuat Haura sedikit mencebik.
“Aku tidak berani, bagaimana jika itu telepon penting, tentang perusahaan MK,” jawab Haura, jujur.
Dan Adam langsung tersenyum lebar.
“Tidak ada yang lebih penting daripada dirimu,” jawab Adam gombal dan membuat Haura makin mencebik, berada didekat Adam, mendadak Haura menunjukkan sifat manjanya, ia bahkan tak segan membuat ekspresi wajah kesal.
Sekilas, Adam mengecup bibir yang sedang mengerucut itu.
Lalu kembali mengambil jarak, agar bisa menatap wajah sang istri dengan lekat.
“Ambil ponselnya dan hubungi Luna,” titah Adam.
“Maaf Tuan, saya mengganggu waktu Anda. Tapi ini sangat penting,” ucap Luna diseberang sana setelah ia mengucapkan salam hormat pada sang tuan.
“Katakan,” jawab Adam singkat.
Dan Luna pun langsung menjelaskan dengan rinci, tujuannya menelpon sang Tuan saat jam istirahat siang seperti ini.
Luna mengatakan jika banyak media yang ingin mewawancarai Haura. Ingin mengulik kisah hidup Haura bahkan berencana membukukannya.
Haura yang ikut mendengarkan panggilan itu pun seketika terbelalak, ia bahkan langsung menatap sang suami dengan berulang kali menggeleng. Ia tidak mau.
Sementara di ujung sana, Luna terus mengatakan jika ini adalah kesempatan yang bagus untuk sang Nyonya memulai semuanya dari awal.
Bimbang, antara mengikuti keinginan sang istri atau sang asisten. Akhirnya Adam memutus panggilan itu dan meminta Luna untuk menunggu tentang keputusannya.
“Aku tidak mau, Mas,” ucap Haura langsung, setelah ia sendiri yang menekan tanda merah pada panggilan Luna.
“Kenapa? Aku akan memilih penulis yang terbaik untukmu, bahkan kita bisa melakukannya di rumah ini. Tanpa ada kamera, hanya penulisnya saja yang setia mendengarkan semua ceritamu, lalu ia yang akan membuat cerita dan menjadikannya sebuah buku,” terang Adam apa adanya. Karena iapun sudah berulang kali menjadi tokoh dalam sebuah buku.
Hal-hal seperti ini, sangat wajar bagi para petinggi yang memiliki citra baik di mata masyarakat.
Sejenak, Haura bergeming.
Jujur saja, ia masih merasa enggan.
Namun kembali teringat, akan ucapan nenek Aminah subuh tadi yang mengatakan jika kini ia sudah menjadi istri seorang Adam Malik. Maka mau tidak maupun, ia harus bisa mengimbangi suaminya itu.
“Bagaimana?” tanya Adam, sekali lagi. Ia bahkan menyentuh dagu sang istri yang tertunduk agar kembali menatap kearahnya.
“setiap kali penulis itu mewawancarai mu, aku akan ada bersamamu. Bagaimana?” bujuk Adam lagi, tak habis-habis.
Adam hanya ingin, Haura memiliki kepercayaan diri ketika bersanding dengannya. Dan menulis sebuah buku tentang biografi hidupnya adalah permulaan yang bagus.
“Baiklah,” jawab Haura kemudian.
Lalu pembicaraan keduanya ditutup dengan sebuah ciuman hangat dari Adam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Azzam : Hayo coba tebak, apa judul buku ibu Haura nanti? hihihi.