My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 45 - Percayalah Padaku



Di dalam mobil taksi, Haura duduk diantara kedua anaknya, Azzam di sebelah kiri dan Azzura di sebelah kanan.


"Kita nanti mau pergi sama ayah ya Bu?" tanya Azzura, dengan raut wajahnya yang penasaran. Diam-diam Azzam pun melirik, merasakan hal yang sama seperti sang adik.


Apalagi saat teringat, ibunya tadi mengatakan pada tante Luna untuk meminta ayahnya menjemput mereka sehabis ashar.


Haura tak langsung menjawab, ia sedikit memberi jeda, memikirkan bagaimana cara menyampaikannya. Tentang rencana mereka untuk bertemu dengan ibu Zahra, ibu Adam yang artinya nenek Azzam dan Azzura.


"Iya sayang, kita akan pergi dengan ayah."


"Kemana?" tanya Azzam lebih cepat dari sang adik, Azzura pun ingin menanyakan itu pula.


"Menemui nenek kalian, nenek Zahra. Beliau adalah ibu ayah Adam, beliau sangat merindukan kalian," jelas Haura hati-hati.


Dan benar seperti dugaanya, dilihatnya wajah kedua anaknya itu yang nampak bingung. Wajar saja, karena selama ini yang mereka tahu, nenek mereka hanyalah nenek Aminah.


Pelan, Haura menarik kedua anaknya semakin mendekat. Ia menjelaskan, jika ayah Adam juga memiliki keluarga. Bahkan kini Azzam dan Azzura tak hanya memiliki nenek baru, tapi juga tante dan om baru, tante Aida dan juga om Yuda.


Sebelumnya, Adam sudah menceritakan semua tentang keluarganya.


"Sama seperri Arra, sekarang dia juga saudara kalian kan? ayah Adam masih memiliki banyak saudara lagi, dan semua itu akan menjadi saudara kita," ucap Haura mengakhiri ceritanya.


Bagaimana pun, Azzam dan Azzura memang berhak tahu tentang kedua belah pihak keluarga ini. Tak hanya dari pihak Haura, namun Adam pula.


"Kata Arra, ayah Adam juga mempunyai istri, apa nanti kita juga akan menemui istri ayah?" tanya Azzura lagi.


Mendengar itu, Haura tersentak. Entah kenapa, ia merasa sedikit sesak.


"Ading, kan ibu sudah bilang kita hanya akan menemui nenek Zahra dan tante Aida, berarti kita tidak akan bertemu dengan tante Monic." Azzam yang menjawab.


Namun bukannya lega, hati Haura malah semakin gundah. Bahkan kedua anaknya sudah begit tahu banyak hal tentang ayahnya itu. Bahkan tahu pula jika istri Adam bernama Monica.


Haura mendadak keringat dingin sendiri.


Untunglah, saat itu mobil yang mereka naiki sudah sampai didepan gerbang rumah mereka. Haura bernapas lega, karena Azzura dan Azzam tak akan lagi banyak bertanya.


Aminah dan Jodi masih berada di toko bunga, kini hanya mereka bertiga saja di rumah. Haura memerintahkan kedua anaknya itu untuk segera mengganti baju dan beristirahat.


Di AIG School, mereka sudah mendapatkan makan siang. Juga wajib melaksanakan shalat zuhur sebelum pulang bagi yang beragama muslim. Karena di dalam AIG School juga ada sebuah masjid.


Berada di dalam kamarnya, Haura duduk disisi ranjang dan menghembuskan napasnya dengan kasar.


Seolah ada batu besar yang mengganjal di hati Haura, kala mengingat tentang pertemuannya dengan keluarga Adam.


"Tidak," gumam Haura pelan, ia bahkan menggelengkan kepalanya berulang.


Secepat kilat, ia segera menepis semua keraguan. Karena bagaimanapun, mau tidak mau, Azzam dan Azzura memang harus mengenal semua keluarganya.


Setelah yakin, Haura segera mengambil ponselnya didalam tas. Membuka kontak dan mencari satu nama, Adam Malik. Sengaja menyimpan nama ini dengan lengkap, agar ia selalu ingat.


Tak butuh waktu lama, panggilan itu langsung dijawab oleh Adam. Sedari tadi, Adam memang sudah menunggu.


"Assalamualaikum, Haura," jawab Adam dengan bibirnya yang tersenyum lebar, ia bahkan langsung menjentikkan jarinya, meminta manajer pemasaran yang sedang menghadap untuk segera keluar. Adam hanya menganggukkan kepalanya, saat manajer itu menundukkan kepala hormat.


"Walikumsalam, Mas," sahut Haura kemudian.


"Kamu sudah pulang?"


Haura mengangguk, seolah Adam bisa melihat.


"Iya Mas, aku sudah di rumah. Mas jemput kami sehabis ashar saja."


Ditanya seperti itu, Haura mengukir senyum tipis. Ia selalu heran, kenapa Adam begitu mengerti tentang dirinya.


Lalu, seperti air yang mengalir, Haura menceritakan semua kegundahan hatinya itu pada Adam. Tentang perbedaan yang begitu mencolok antara keluarganya dan keluarga Adam.


Tentang, jauhnya kasta mereka dan tentang melibatkan Azzam dan Azzura pada masalah mereka.


Adam, begitu mengerti tentang kecemasan Haura itu. Untuk menerima dirinya saja Haura membutuhkan waktu, apalagi kini, Haura dan kedua anaknya harus pula menerima keluarga Adam.


"Haura, ingatlah satu hal, Azzam dan Azzura tidak hanya memiliki kamu, tapi mereka juga memiliki aku, ayahnya," jelas Adam setelah Haura selesai bercerita.


"Aku pasti akan melindungi mereka, memastikan mereka agar selalu merasa bahagia," timpal Adam lagi.


Sementara, Haura bergeming.


"Sekarang, kamu tidak sendiri untuk memikirkan tentang Azzam dan Azzura, ada aku. Percayalah padaku Haura."


Hening, namun lambat laun Haura tersenyum. Ya, selama ini, ia memang menanggung semua beban sendiri. Tapi kini, ada tempatnya berbagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sehabis ashar, Adam langsung menjemput Haura. Membawa Haura dan kedua anaknya untuk mengunjungi mansion sang ibu, Zahra.



Sampai di depan rumah itu, Haura, Azzam dan Azzura menatap tak percaya pada bangunan yang mereka lihat ini. Rumah itu nampak seperti istana, bukan untuk menjadi rumah seperti dalam bayangan mereka.


Bahkan Haura, kembali ragu untuk masuk ketika sudah sampai di sana. Membayangkan, bagaimana reaksi Zahra ketika bertemu dengan Azzam dan Azzura.


Membayangkan, jika Zahra kelak akan memintanya untuk menyerahkan Azzam dan Azzura pada keluarga mereka.


Lamunan Haura putus, kala ia merasa tangannya digenggam oleh Adam. Menautkan jemari keduanya, seperti yang selalu Adam lakukan selama ini.


Haura menoleh, menatap Adam yang juga menatapnya dengan tatapan teduh.


"Percayalah padaku," ucap Adam, tulus.


Dan ketulusan itu begitu terasa di hati Haura, hingga membuatnya mengangguk kecil.


Adam lalu melepas genggamannya pada tangan Haura, kemudian menggendong Azzura dan menggandeng Azzam untuk segera masuk ke mansion itu.


Dan Haura, mengiringi langkah Adam.


Awal masuk, mereka sudah disambut oleh beberapa pelayan yang menunduk hormat. Hingga membuat Haura merasa tak nyaman sendiri.


Lalu terperangah kala melihat betapa megahnya mansion itu. Mereka terus berjalan melewati sebuah lorong.



Hingga sampailah disebuah ruangan, dimana semua orang sudah menunggu, Zahra, Aida dan Yuda berada di sana.



Makin takutlah Haura saat itu, ia bahkan langsung mendekat pada Adam dan memegang ujung jas yang dikenakan oleh Adam.


Namun betapa terkejutnya Haura, kala ia melihat, Zahra yang menangis saat melihat kedatangan mereka.


Zahra bangkit dari duduknya dan mulai menghampiri Haura. Ditatapnyalah, wajah Haura dengan lekat, wajah seorang wanita yang selama ini berjuang untuk membesarkan cucu-cucunya.


"Haura, maafkan Adam Nak, maafkan Adam," ucap Zahra diantara isak tangis.