
Sebelum ashar, Haura dan kedua anaknya sudah sampai di rumah.
Saat itu juga Luna pamit untuk pulang, dan meminta pada Nyonyanya itu untuk menghubunginya jika ada sesuatu yang dibutuhkan.
24 jam, Luna akan melayani.
Haura mengangguk, seraya tersenyum hangat.
Masuk ke dalam rumahnya dan langsung disambut oleh nenek Aminah.
Azzam dan Azzura masuk ke dalam kamarnya masing-masing, mandi dan beristirahat.
Sementara Haura, masih duduk di ruang keluarga bersama sang nenek. Aminah juga baru saja pulang dari toko bunga.
Meskipun ia sudah pindah kesini, namun setiap pagi, Jodi akan menjemput Aminah untuk pergi bersama-sama ke toko bunga. Dan sorenya, Jodi pun akan mengantar kepulangan Aminah.
Memiliki aktifitas seperti ini, Aminah merasa hidupnya semakin berwarna. Seindah bunga-bunga yang selalu ia rawat di toko bunga, Haura Florist.
"Bagaimana pertemuan mu dengan penulis itu? apa menyenangkan?" tanya Aminah, penuh perhatian. Ini adalah kali pertama, Haura bertemu dengan orang-orang dari kalangan elit.
Sejujurnya, Haura merasa gugup.
Namun saat ia sudah bertemu Anna, semuanya mengalir begitu saja dan terasa sangat menyenangkan.
Haura tak langsung menjawab pertanyaan Aminah, ia lebih dulu tersenyum. Senyum yang sangat lebar, mengisyaratkan, jika ia baik-baik saja. Bahkan sangat baik.
"Alhamdulilah Nek, semuanya berjalan dengan baik."
Saat mereka sedang berbincang itu, Adam tiba-tiba datang. Ia tak datang seorang diri, tapi bersama dengan Kris.
Lalu mengenalkan asisten pribadi barunya itu pada sang istri dan juga nenek Aminah.
Mengatakan, jika kelak Kris akan sering datang ke rumah ini.
Kini, Adam dan Haura sudah berada di dalam kamarnya. Haura, membantu suaminya itu untuk melepaskan baju kerjanya. Mulai dari jas, hingga kini kemeja yang memiliki banyak kancing.
"Bagaimana penulis Anna, apa kamu menyukainya?" tanya Adam, ia lalu menarik pinggang sang istri menggunakan kedua tangannya dan memeluk, mendekapnya erat.
"Iya Mas, aku menyukainya," jawab Haura apa adanya.
Dan Adam pun menghembuskan napasnya lega.
"Penulis Anna memang orang yang baik." balas Adam, ia lalu mengelus wajah sang istri dengan sayang.
"Tapi nanti, kamu akan bertemu lebih banyak orang, dan aku tidak bisa memastikan tiap orang yang menemui mu adalah orang baik. Dan saat itu terjadi, aku hanya ingin kamu kuat. Percayalah, bahwa aku akan selalu ada untuk melindungi kamu," jelas Adam, dengan tatapannya yang lekat.
Tatapan dalam yang membuat Haura merasa begitu tenang.
Tak menjawab apapun, Haura malah memeluk tubuh suaminya itu erat. Kepalanya bersandar diantara dada bidang Adam yang nyaris terbuka, kancing itu masih terlepas 3 manik. Belum sampai habis.
Adam, juga membalas pelukan itu.
Merasakan hatinya sendiri yang terasa begitu damai.
"Besok, ikut aku ke kantor ya? aku akan memperkenalkan mu secara resmi di perusahaan," ucap Adam lagi.
Dan di dalam pelukan Adam itu, Haura mengangguk.
Kini, tak ada lagi yang perlu ia takuti, selama Adam ada disisinya, semua akan baik-baik saja.
"Kita pergi bersama Azzam dan Azzura juga, aku akan meminta izin pada pihak sekolah," timpal Adam lagi.
Dan mendengar itu, Haura melerai pelukannya, hingga mereka kembali saling tatap mata.
"Iya sayang," jawab Haura singkat, namun berhasil membuat Adam melayang hingga langit ke tujuh.
Tak ingin terbang semakin jauh, Adam lalu menyesap bibir ranum istrinya itu. Melumaatnya dalam, seolah menjadikannya pegangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Azzam & Azzura : "Jangan lupa Vote!!" ucap mereka, kompak 😂