
Salma menggelengkan kepalanya, “Tidak,” gumamnya pelan.
Apalagi saat mendengar Jodi yang mengucapkan kata Talak itu dengan begitu lantang, harga diri Salma seperti terinjak-injak. Padahal dulu, Jodi sangat mencintai dirinya, bahkan rela melakukan apapun untuk membahagiakan Salma.
Salma sangat yakin, perubahan drastis sang suami ini karena pengaruh buruk dari Haura.
“Tidak Mas, kamu tidak bisa menceraikan aku begitu saja. Harusnya yang kamu lakukan sekarang itu usir Haura. Dia yang sudah jadi duri dalam rumah tangga kita Mas. Sejak Haura datang ke Jakarta, hubungan kita jadi merenggang, kamu selalu saja membela anak tidak tahu diri ini!” balas Salma dengan suaranya yang meninggi, ia bahkan terus menunjuk-nunjuk Haura menggunakan jari telunjuknya.
“Jaga bicara anda!” marah Aminah, sedari tadi, Haura terus disalahkan, terus dituduh dengan kesalahan yang tidak pernah dilakukan oleh Haura. Aminah tidak terima akan hal itu.
Sedangkan Haura, langsung memegang lengan nenek Aminah, tak ingin sang nenek terpancing oleh amarah Salma.
Melihat wanita asing itu, Salma hanya berdecih. Meremehkan, terlebih saat melihat Aminah yang nampak begitu seadanya, seperti wanita
miskin dimata Salma.
Salma, tak memperdulikan ucapan Aminah itu, ia kembali menatap sang suami.
“Usir Haura Mas, suruh dia pergi dari sini!” bentak Salma lagi.
Jodi tak langsung menjawab, dia kehabisan kata-kata untuk bicara dengan wanita seperti Salma. Bahkan Jodi sampai harus membuang napasnya dengan kasar.
“Yang seharusnya pergi itu adalah kamu, bukan Haura,” jawab Jodi setelah cukup lama terdiam.
Salma bergeming, dengan kedua netra yang membola.
“Gunakan ingatanmu baik-baik, kamu sudah menjual toko ini, bahkan surat jual beli itu masih aku simpan. Dan sekarang, Haura
sudah kembali membeli toko ini. Toko ini milik Haura, bahkan aku disini hanya
sebagai karyawan biasa, sama seperti Pandu,” jelas Jodi panjang lebar, ia ingin Salma membuka matanya lebar-lebar, bahwa dialah orang yang paling tidak berhak
ada disini.
Tersentak, Salma kala mendengar ucapan Jodi itu.
“Mas bohong, darimana Haura mendapatkan uang sebanyak itu?” tanya Salma yang masih belum mau percaya.
“Itu bukan urusanmu,” jawab Jodi sengit. Bahkan Jodi langsung masuk ke dalam toko itu dan mengambil berkas jual beli yang baru.
Lalu kembali menemui Salma dan melemparkan berkas-berkas itu di wajah sang mantan istri. Salma yang tidak terima langsung memunguti berkas-berkas itu, kedua matanya makin membola kala melihat sertifikat resmi tanah dan bangunan ini kini menjadi milik Haura.
Tertera jelas, nama Haura Almayra.
Salma, terus menggelengkan kepalanya.
“Dasar Lacur! Jadi dengan uang haram itu kamu membeli tokoku! Hah!” pekik Salma tidak terima. Geram, Jodi pun langsung
menarik Salma, menjauhkannya dari Haura,
lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur di atas aspal jalanan toko itu.
“Berhentilah, selagi aku masih mengasihanimu!” balas Jodi sengit dengan tatapannya yang tajam.
Kesabarannya sudah habis, kini ia tak bisa tinggal diam ketika Salma terus menyakiti Haura.
Salma menangis, tidak menyangka ia akan mendapatkan perlakuan sehina ini. Salma bangkit, hendak menarik Hijab yang Haura kenakan, ingin mempermalukan Haura seperti ia diperlakukan saat ini.
Mata Haura pun membola, ia begitu tahu, siapa pemilik dari kedua mobil itu, Adam Malik.
Dan benar saja, tak lama setelah terhenti, Adam turun dari dalam mobil itu. Di ikuti pula oleh Luna dan keempat bodyguardnya. Adam berjalan dengan tatapannya yang entah. Melewati Salma begitu saja lalu menghampiri Haura.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Adam penuh perhatian, dan Haura hanya mampu menganggukkan kepalanya.
Salma yang melihat pemandnagan itu, makin tak percaya. Salma tahu persis siapa pria yang mendatangi sang keponakan, Adam Malik, orang terkaya di Jakarta bahkan di Indonesia.
Salma pun tahu tentang pemberitaan akhir-akhir ini, tentang Adam yang memiliki dua anak dari
wanita lain, wanita yang bernama Haura.
Tapi selama ini Salma pikir, nama Haura itu bukanlah nama keponakannya, melainkan Haura yang lain.
Tapi ternyata, Haura itu adalah Haura keponakannya
sendiri.
Ya, itu Haura, berarti dulu, Haura hamil anak Adam Malik. Batin Salma, yang mulai yakin.
Kecil, Salma tersenyum. Merasa ia telah mendapatkan untung besar.
“Haura, maafkan tante sayang, maafkan tante,” ucap Salma kemudian, ia bahkan langsung berlari kembali menemui Haura dan menggenggam erat kedua tangan keponakannya itu.
“Tuan, ini semua hanya salah paham,” ucap Salam lagi, berucap pada Adam yang berdiri tepat disebelah Haura, sisi lain dari Aminah.
“Ini hanya masalah keluarga kecil, iya kan Mas?” ucap Salma pada sang suami, seolah urat malunya sudah putus saat itu juga.
Bahkan Jodi hanya mampu menggelengkan kepalanya, malu yang ia rasakan sampai di ubun-ubun kala melihat tingkah Salma.
“Aku adalah tantenya Haura, aku yang selama ini menjaga dia saat Haura tinggal di Jakarta,” jelas Salma lagi, karena Adam hanya bergeming.
Salma bahkan mengulurkan tangannya, berharap Adam akan menyambut itu. Namun yang Salma dapatkan bukanlah sambutan, melainkan sebuah tepisan yang membuat ia tercengang.
“Singkirkan tangan kotor Anda,” jawab Adam dengan suaranya yang dingin, menatap tajam pada Salma, hingga membuat bulu kuduk Salma
merinding.
“Anda, bukan lagi keluarga Haura. Jadi tidak perlu bicara panjang lebar, pergilah. Kami semua mengusir anda.” Jelas Adam lagi,
hingga membuat Salma menelan ludahnya sendiri.
Bahkan Salma makin merasa cemas, saat keempat Bodyguard Adam berjalan mendekat ke arah mereka.
Salma menggeleng, ia tak mau ditarik tarik layaknya seorang penjahat.
Maka sebelum para bodyguard itu melakukannya, Salma segera pergi dari sana. Lengkap dengan wajahnya yang pias dan merasa ketakutan.
“Maafkan aku Nek, maafkan aku om Jodi,” pinta Adam pada kedua orang tua itu.
Adam sadar, tindakannya sudah keterlaluan, namun hanya dengan cara inilah ia bisa membuat Salma pergi.
Jodi, menepuk pundak Adam pelan.
“Sekarang, Haura juga adalah tanggung jawabmu, kamu memliki hak untuk melindungi dia,” jawab Jodi, dan Aminah pun mengangguk.