My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 62 - Yang Tidak Bisa Dilakukan



Raut wajah Monica sudah kembali ceria, ia bahkan ingin segera menemui kedua orang tuanya untuk segera memberi tahu tentang kabar bahagia ini.


Kabar jika Adam sang mantan suami akan mencabut semua tuntutannya, dengan begitu Monica tidak akan dipenjara.


Monica tidak akan mempermalukan keluarga.


Kata Hotman, satu minggu lagi laporan itu akan resmi dicabut, beserta penyerahan semua ganti rugi sebagai tebusannya.


Dan kini, dengan wajahnya yang berseri, Monica pulang ke rumah kedua orang tuanya. Sang ayah, Aufar masih berada di kantor, perusahaan milik keluarga mereka sendiri. Hanya ada sang ibu, Marina di rumah kala itu.


"Mama!" panggil Monica, ia bahkan sedikit berlari menghampiri sang ibu lalu memeluknya erat.


"Mas Adam akan mencabut semua tuntutannya Ma, mas Adam tidak akan mempenjarakan aku," jelas Monica langsung, bahkan sebelum sang ibu mulai bertanya.


"Meskipun aku dan mas Adam sudah resmi bercerai, tapi mas Adam masih memikirkan nasibku, karena itulah dia menuntut semua tuntutannya," timpal Monica lagi, awalnya ia berwajah sendu, namun diakhiri dengan senyum yang terkembang sempurna.


Marina yang mendengar itu hanya mengerutkan dahinya, seolah tidak percaya dengan semua cerita yang diucapkan oleh sang anak.


Marina bisa merasakan, jika Adam begitu membenci Monica. Lalu kenapa Adam sampai membebaskan anaknya itu.


"Benarkah? benarkah Adam membebaskanmu saja? tanpa meminta syarat apapun?" tanya Marina, menyelidik.


"Tidak Ma, dia membebaskan aku karena aku sudah bersedia bercerai dengannya," jawab Monica lagi, yakin.


Lagipula Monica pun yakin, jika ganti rugi yang Adam minta kedua orang tuanya masih mampu membayar, jadi ia tak ambil pusing akan hal itu.


"Baguslah, mama mohon padamu Monic, jangan buat Adam marah. Dia bisa melakukan apapun, termasuk menghancurkan keluarga kita jika sampai kamu mengusiknya," ucap Marina mengingatkan.


Marina hapal betul tabiat sang anak, meskipun sudah bercerai, Marina masih yakin jika Monica akan tetap mengejar Adam, hingga membuat laki-laki itu merasa tidak nyaman.


"Iya Ma, percayalah padaku," jawab Monica yang senyumnya belum surut juga. Mengetahui jika Adam masih mencintainya, sudah cukup bagi Monica untuk tenang sekarang.


Bahkan menunggu kasusnya benar-benar dicabut, Monica hendak liburan dulu. Memanjakan dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pulang sekolah kali ini, Adam yang menjemput Azzam dan Azzura.


Adam langsung mengantarkan kedua anaknya itu ke rumah sang ibu, Haura.


Hari ini Adam sangat sangat bahagia, karena ia sudah resmi menyandang status Duda, ia sudah resmi bercerai dengan Monica.


Dan rasanya, ia begitu gatal ingin memberi tahu Haura tentang kabar ini.


"Ayah, kenapa dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Azzura, sesaat setelah mereka bertiga turun dari dalam mobil, hendak masuk ke dalam rumah.


Berjalan dengan Adam menggandeng kedua anaknya, kiri dan kanan.


Adam tidak menjawab, malah mencubit pipi Azzura dengan gemas.


"Malam ini jalan-jalan yuk? mau tidak?" tawar Adam pada kedua anaknya.


Tapi Azzam dan Azzura kompak menolak, hingga membuat Adam mengerutkan dahinya, murung dan kecewa.


Azzam dan Azzura berkilah, masih banyak tugas sekolah, jika ingin mengajak pergi maka pergi malam minggu saja, jawab Azzam dan Azzura kompak.


Adam tak bisa menjawab apa-apa, akhirnya dia hanya pasrah. Lalu menekan bell rumah Haura itu sebanyak dua kali.


"Ayo tebak siapa yang buka?" tanya Adam seraya melipat kedua tangannya didepan dada, seolah meremehkan kedua anaknya.


"Tentu saja ibu, nek Inah dan kakek Jodi pasti sedang berada di toko bunga," jawab Azzam dengan bangga, dan Azzura mendukung jawaban sang kakak.


Lalu pintu itu terbuka, dibuka oleh Haura.


Adam mendelik, merasa kalah.


Dan Haura yang berada ditengah-tengah jadi bingung sendiri.


"Mau masuk tidak?" tawar Haura pada semua orang, dan ketiga orang itu langsung menganggukkan kepalanya kompak.


"Mas sudah makan?" tanya Haura pada Adam, saat ini kedua anaknya sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing, ganti baju, mencuci tangan dan kaki.


Adam dan Haura duduk di kursi ruang tamu.


"Belum," jawab Adam apa adanya, ia memang belum makan siang. Ia terlalu bahagia dengan status baru yang ia dapat hari ini, Duda.


"Makan disini saja, ayo ke dapur," ajak Haura, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya, lalu memimpin langkah untuk menuju dapur.


Langkah Haura sedikit melambat, saat merasa salah satu tangannya digenggam erat oleh Adam.


Haura tersentak, hendak menarik tangannya kembali namun Adam tahan dengan paksa. Adam hanya terus tersenyum, membuat Haura heran sendiri.


"Mas lepas, bagaimana kalau Azzam dan Azzura lihat," pinta Haura, menarik paksa tidak bisa maka ia akan mencoba bernegosiasi.


"Jika Azzam dan Azzura melihat, aku yakin mereka akan sangat bahagia sekali," jawab Adam dengan kepercayaan diri penuh.


Tapi anehnya, Haura tak bisa membantah akan hal itu. Dan terasa lebih aneh lagi, saat iapun menginginkan ini, sentuhan hangat dari Adam.


Sampai dapur dan berdiri tepat di sebelah meja makan, barulah Adam melepas genggamannya. Lalu menatap Adam dengan tatapannya yang dalam.


"Jika aku mengatakan aku mencintaimu, apa kamu percaya?" tanya Adam dan Haura langsung menggeleng.


Tentu saja tidak, jawab Haura didalam hati.


"Lalu aku harus apa agar bisa membuatmu percaya?"


Hening, karena Haura pun tak tahu apa jawabannya.


"Aku dan Monica sudah resmi bercerai," jelas Adam langsung, tanpa memutus tatapannya pada sang wanita.


Haura bergeming, hanya hatinya yang berdebar tak karuan.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menikah sekarang, aku bahkan sudah siap menunggu dan memberimu waktu. Tapi satu yang tidak bisa aku lakukan ..." timpal Adam lagi, dengan kalimat yang menggantung.


"Menyembunyikan perasaaanku padamu," jelas Adam, ia lalu menarik tubuh Haura dan menjatuhkan sebuah kecupan di pucuk kepala sang wanita, sebagai bentuk rasa sayangnya.


Dan Haura, hanya diam terpaku.


"Aku lapar," jelas Adam lagi hingga membuat lamunan Haura buyar.


Dengan gugup, Haura menyajikan makan siang untuk ayah dari kedua anaknya.


Dan ternyata, diam-diam Azzam dan Azzura mengintip keintiman sang ibu dan sang ibu di dapur itu. Mereka menahan tawa dan hanya menyisahkan sebuah senyuman.


Bahkan Azzam langsung menarik adiknya untuk kembali masuk ke dalam kamar, memberikan waktu yang lebih banyak untuk sang ibu dan ayah saling mengenal.


"Ading, jangan minta ibu untuk menikah dengan ayah," pinta Azzam pada sang adik.


"Kenapa?" tanya Azzura tidak terima, padahal saat ini juga ia sudah siap untuk meminta hal itu.


"Biar ibu dan ayah yang memutuskan semuanya, lagipula abang yakin, jika ibu dan ayah pasti akan kembali bersama," terang Azzam dan Azzura nampak berpikir, teringat akan peristiwa di dapur tadi, akhirnya Azzura menyetujui ucapan sang kakak.


Perihal kembali bersama, biarlah itu menjadi keputusan ayah dan ibu. Azzura tak ingin, menjadi ikan yang membuat kolam menjadi keruh.