My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 112 - Ke Desa Parupay



 Hari berlalu.


Dan semuanya berjalan dengan sangat baik.


Labih dan Nanjan lulus dalam tes masuk ke perguruan tinggi, kini mereka sudah menyandang status sebagai mahasiswa di Universitas Gunadharma.


Azzam dan Azzura masih belum bersekolah, karena mereka masih libur sehabis ujian tengah semester beberapa hari lalu. Sesuai jadwal, senin 3 hari lagi, baru mereka akan mulai bersekolah seperti biasa.


Sesuai rencana, akhir pekan ini Azzura dan Azzam akan mengajak Labih dan Nanjan untuk menginap di mansion nenek Zahra. Sedangkan Adam dan Haura akan berkunjung ke desa Parupay, berbagi kebahagiaan bersama warga desa tentang status baru mereka saat ini yang sudah menikah.


Lalu masuk ke dalam hutan bersama seperti keinginan Adam,


“Kalian hati-hati di sana ya, jaga diri baik-baik,” ucap Zahra, saat ini Adam dan Haura masih berada di mansion. Mengantar anak-anak dan juga nenek Aminah yang akan menginap di mansion Zahra sampai mereka kembali


dari desa Parupay.


“Aku ingin ikut,” rengek Aida pula, hingga Adam langsung menatapnya, mendelik.


“Iya Nek, kami akan jaga diri,” jawab Haura pada sang ibu mertua, dan mengelus lengan Aida yang berada disebelahnya, memberi isyarat, bahwa kali ia tidak boleh ikut. Hanya khusus ia dan sang suami.


Adam yang tak ingin lama-lama, langsung mengajak istrinya itu untuk segera pergi. Menuju Malik Kingdom. Helikopter mereka sudah menunggu diatap sana.


Haura, masih saja merasa gugup tiap kali memasuki MK. Gedung tempat suaminya bekerja itu terlalu megah baginya.


Belum lagi ketika bertemu dengan para karyawan yang langsung menunduk hormat ketika berpapasan. Haura, sungguh merasa tak nyaman. Apalagi saat menyadari, jika ada orang yang lebih tua pun tetap menundukkan kepalanya, hormat.


Yang bisa Haura lakukan hanya satu, sedikit membungkukkan badannya, membalas setiap hormat semua orang.


Adam yang melihat tingkah sang istri hanya tersenyum kecil, dan semakin mengeratkan genggamannya pada tangan istrinya itu.


Hingga saat mereka masuk ke dalam lift, barulah Haura bisa bernapas lega.


Dan Adam, senyumnya semakin lebar.


“Nanti, aku akan mengajakmu ke ruang kerjaku, tapi nanti ya. Sekarang kita ke desa Parupay dulu,” ucap Adam, gemas melihat wajah tegang istrinya itu, ia menoel hidung Haura sekilas.


Bersama Adam, Haura memang menjadi lebih manja.


Sampai di atap gedung MK. Haura langsung memeluk lengan suaminya erat. Tahu sang istri masih merasa takut, Adam pun langsung memeluk bahu istrinya itu,. Mendekapnya erat dan  berjalan beriringan menuju helikopter mereka.


Naik, dan memasangkan pula sabuk pengaman untuk sang istri. Lalu menggenggam tangan Haura yang terasa semakin dingin.


“Apa dulu kamu juga takut?” tanya Adam, menanyakan tentang pengalaman Haura saat pertama kali naik helikopter.


“Tentu saja, aku menggenggam tanganku erat untuk mengurangi rasa takut itu, juga berulang kali menutup mata,” ucap Haura jujur.


“Maaf, dulu aku belum bisa memelukmu seperti ini,” jawab Adam, dan semakin memeluk erat sang istri.


Haura tersenyum, jika dulu Adam memeluknya pun ia tak akan sudi.


Perjalanan kali ini, perlahan Haura mulai melupakan rasa takutnya. Ia bahkan menurut saat Adam memintanya untuk melihat ke bawah, melihat indahnya pemandangan dari atas sini.


Hingga beberapa waktu kemudian, mereka sampai di desa Parupay.


Para warga yang melihat ada helikopter datang mulai menghapal, jika itu pasti keluarga Malik. Dan betapa senangnya mereka, saat melihat yang datang kali ini adalah Haura.


Satu per satu, warga desa di sana menyambut dan memeluk Haura erat, memberi ucapan selamat dan mengatakan jika mereka pun ikut bahagia.


Haura bahkan sampai menangis, kala semua teman-temannya pun datang menyambut, salah satunya adalah bidan Sanja.


“Haura,” panggil Sanja, dan tanpa menjawab, Haura langsung memeluk Sanja erat.


Keduanya sama-sama menangis, menangis Haru.


Kembali teringat, akan perjuangan mereka untuk bertahan hidup di desa terpencil ini.


Dan kini, semuanya seolah terbayar Lunas, berkat kebaikan suami Haura pula, kini Sanja sudah bisa bekerja di puskesmas desa. Obat-obatan pun dapat ia dapatkan dengan mudah, karena jalan aspal sudah terhubung sampai ke  Krayan.