
Luna, datang untuk memberi tahu jadwal sang Tuan hari ini. Kini ia sedang berdiri, melaporkan tentang jadwal-jadwal itu pada Adam, yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Meski hari minggu, namun jadwal Adam terus saja berjalan.
"Jam 8 pagi ini, bermain golf bersama para pemegang tender proyek JIS ( Jakarta Internasional Stadion)."
Adam menjadi salah satu penyumbang dana dalam pembangunan JIS itu.
"Jam 11 siang, mengunjungi Tuan Gorge, sekaligus makan siang bersama."
Gorge adalah Kolega bisnis Adam dari Singapura. Kemarin mereka sudah bertemu dan menyepakati beberapa hal. Hari ini Gorge akan kembali ke negara asalnya, Singapura.
"Jam 3 sore, menghadiri undangan potong pita pembukaan Yayasan Peduli Kasih."
Yayasan yang Adam bangun, untuk membantu para penyandang disabilitas agar memiliki keterampilan dan berkarya ditengah-tengah masyarakat.
"Jam 8 malam, menghadiri perjamuan makan malam Tuan Edgar Suryo."
"Lewatkan semua jadwal dari pagi sampai sore, hari ini aku hanya akan menghabiskan waktu bersama kedua anakku. Aku hanya akan menghadiri makan malam Edgar," jawab Adam setelah Luna selesai membacakan semua jadwalnya.
"Baik Tuan," jawab Luna patuh.
Setelah itu Luna pergi. Semua acara yang dibatalkan oleh Adam, ia yang akan datang menghadiri lalu mengucapkan permohonan maaf.
Dan setelah kepergian Luna itu. Adam segera menghampiri kedua anaknya, yang saat ini masih dikuasi oleh Zahra dan juga Aida.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini di rumah Haura.
Bell rumah Haura berbunyi.
Saat itu, ia sedang berada di dapur untuk membuat kue kering kesukaan Azzam dan Azzura. Saat ini Haura sudah memiliki satu asisten rumah tangga yang membantunya untuk mengurus rumah, bernama mbak Upik, ia sudah menikah dan semua keluarganya berada di Lampung. Baru bekerja di rumah Haura hari ini.
"Biar saya yang buka Bu," ucap Upik, saat itu tangan Haura masih penuh dengan tepung, sementara ia sedang mencuci piring kotor sehabis sarapan tadi.
Haura mengangguk, lalu Upik keluar untuk membuka pintu itu.
Dilihatnya seorang pria tampan berdiri tepat dedapan pintu, menatapnya dengan begitu ramah.
"Mbak Upik ya?" tebak Shakir, karena sebelumnya Haura sudah bercerita tentang ART barunya ini pada Shakir. Karena sebenarnya, Shakirlah yang memaksa Haura untuk memaki jasa ART.
"Iya Mas, saya pembantu baru disini, Mas cari siapa ya?" tanya Upik, ramah.
"Saya cari Haura," jawab Shakir, mendengar nama majikannya disebut, Upik segera mempersilahkan Shakir untuk masuk.
Namun Upik sedikit terkejut, saat Shakir malah mengikutinya ke dapur dan bukannya duduk di ruang tamu.
"Bu, ada tamu," ucap Upik pada Haura, namun fokus Haura sudah pada tamu itu sendiri yany muncul tak lama setelah Upik bicara.
"Bang Shakir," sapa Haura dengan tersenyum lebar. Senyum yang ditunjukkan oleh Shakir.
Melihat itu, Upik cukup tahu jika pria tampan bernama Shakir ini pasti adalah teman dekat majikannya, ibu Haura.
"Kamu sendiri? dimana nek Inah dan Om Jodi?" tanya Shakir, ia duduk di meja makan dan memperhatikan Haura yang sibuk di meja pantri.
"Nenek dan Om Jodi sudah pergi ke toko bunga, nenek malah senang sekali berada di toko itu. Selain suka melihat bunga, ia juga suka saat melihat para pembeli datang," jawab Haura antusias.
Meski jarang bertemu, namun hubungan Haura dan Shakir tetap terjalin dengan baik. Komunikasi mereka tidak pernah putus, melalui panggilan telepon ataupun pesan singkat.
Saling bertukar cerita, satu sama lain.
"Abang ada perlu apa ke Jakarta?" tanya Haura, sesaat ia berhenti mengadon dan menatap ke arah Shakir.
"Menghadiri undangan makan malam, kamu ikut ya?" jawab Shakir, sekaligus mengajak.
Usianya masih sangat muda, 29 tahun dan ia sudah mewarisi kerajaan bisnis keluarga Suryo.
Malam ini, semua orang yang berpengaruh diundang dalam acara makan malam itu, sekaligus bentuk syukur Edgar karena belum lama ini, ia mendapatkan gelar pengusaha termuda.
Adam Malik pun diundang dalam makan malam itu, Shakir tahu, namun ia tak ingin memberi tahu Haura tentang hal itu.
Shakir melihat, wajah Haura yang nampak ragu untuk menjawab.
"Aku mohon Haura, temani aku malam ini saja, aku datang seorang diri, dan rasanya itu seperti ada yang kurang," jelas Shakir dengan wajah memelas.
"Tapi aku tidak punya baju yang bagus, pasti acaranya dihadiri orang-orang penting kan?" tebak Haura, ia berpikir seperti itu karena Shakir pun diundang dalam makan malam ini, padahal Shakir, pedagang dari negeri Jiran.
"Itu bukan masalah Haura, apapun yang kamu pakai akan terlihat sempurna. Karena kecantikkanmu bukan hanya di wajah, tapi juga di hati," puji Shakir, lengkap pula dengan tatapannya yang begitu dalam.
Shakir sudah dengan lantang mengatakan bahwa ia ingin memiliki hubungan yang serius dengan Haura. Namun Haura pun juga menjawabnya dengan tegas, bahwa ia menolak.
Namun Shakir pantang menyerah, menggunakan jalan teman untuk terus berusaha mendapatkan hati Haura, dan kelak ia bisa menikahinya. Itulah harapan Shakir.
"Bagaimana?" tanya Shakir lagi, penuh harap.
Haura tak langsung menjawab, masih berpikir.
"Baiklah," jawab Haura kemudian.
Dan Shakir langsung tersenyum lebar.
"Nanti malam, sehabis isya aku akan menjemputmu. Tidak akan lama, sebelum jam 10 kita akan pulang," ucap Shakir lalu bangkit dari duduknya.
"Abang mau kemana? pergi lagi?" tanya Haura heran, bahkan minuman yang disajikan Upik saat mereka sibuk berbincang pun tak disentuh oleh Shakir.
"Iya, aku harus pergi lagi. Aku kesini memang hanya untuk memintamu pergi bersama ku," jawab Shakir, lalu ia mengucapkan salam, melambaikan tangan dan pergi.
Haura? ia hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shakir, ia tersenyum, merasa lucu.
"Siapa itu Bu?" tanya Upik, dengan wajahnya yang menggoda, Haura tahu Upik sedang menggodanya.
"Teman Mbak, Bang Shakir namanya," jelas Haura apa adanya.
Namun Upik tak percaya.
Selama ini tinggal di Lampung, Upik tidak tahu hiruk pikuk yang terjadi di Jakarta. Ia tidak tahu jika Haura adalah ibu dari dua anak sang penguasa di negeri ini.
Setahunya, Haura sudah memiliki dua anak, Azzam dan Azzura, namun berpisah dengan suaminya, namun Upik tidak tahu pasti siapa suami Haura itu.
Saat ini Upik juga tahu, jika kedua anak Haura sedang menginap di rumah neneknya. Nenek dari ayah anak-anak.
Selepas kepergian Shakir itu. Haura kembali sibuk membuat kue.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan ditempat lain.
Seorang pria terus mengukir senyumnya. Sudah tidak sabar, Darius menunggu malam ini. Malam yang akan ia habiskan bersama Luna.
Wanita yang sudah sejak lama ia incar, namun begitu sulit untuk didapatkan.
"Aku tidak peduli masalahmu, tapi tepati janjimu untuk memberikan Luna padaku," ucap Darius pada sambungan teleponnya pada Monica.
Tak menjawab, Monica langsung memutus sambungan telepon itu.
"Tidak hanya Luna, sekarang pun aku akan memberikan pelajaran pada Haura," gumam Monica dengan tatapannya yang kosong.